APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hukum Sang Pewaris Cacat

Hukum Sang Pewaris Cacat

Pasca kematian istrinya, Don mafia Damon Valenti frustrasi karena Enzo, bayinya, terus menolak susu formula. Di tengah situasi kritis ini, ia bertemu Isabella Moreno yang baru saja kehilangan anaknya. Damon pun menawarkan sebuah kontrak kerja dingin agar Isabella bersedia menjadi ibu susuan bagi Enzo. Namun, kelembutan Isabella justru memicu obsesi gelap dalam diri Damon. Sang penguasa mafia kini terjerat gairah berbahaya pada wanita yang seharusnya hanya menjadi pekerja.
Bab
Bagikan

Bab 2

Isabella terbangun karena suara pintu kamar yang dibuka pelan. Dia terlonjak, refleks melompat dari kasur di kamar pengasuh yang kini menjadi kamarnya.

"Siapa di sana?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar. Dia sudah tidur di Valenti Manor kurang dari dua puluh empat jam, tapi setiap bayangan terasa seperti ancaman.

"Maaf, Nyonya Moreno. Saya Lucia," suara itu milik seorang wanita paruh baya yang mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu. Wanita itu memegang nampan perak berisi sarapan yang terlihat mewah. "Tuan Valenti meminta saya memastikan kebutuhanmu terpenuhi."

Lucia meletakkan nampan itu di meja samping, gerakannya cepat dan nyaris tanpa suara. Isabella menatapnya. Wanita ini, seperti setiap staf lain yang ia temui di sini, memiliki tatapan mata yang sama: hormat, tetapi dingin, dan penuh kehati-hatian. Di rumah ini, tidak ada yang bicara lebih dari yang diperlukan.

"Terima kasih," kata Isabella. Dia melirik ke jendela. Gordennya tebal, menutupi sinar matahari pagi. Dia berjalan mendekat, ingin melihat pemandangan di luar.

"Nyonya Moreno," Lucia memanggilnya, suaranya tajam namun rendah. "Sebaiknya jangan buka gordennya."

Isabella berbalik. "Kenapa? Apa ada-"

"Tidak ada. Itu hanya... aturan Tuan Valenti. Privasi. Semua gorden di sisi ini tetap tertutup kecuali di kamar Enzo. Dia sensitif terhadap cahaya terang mendadak." Lucia menjelaskan, tetapi suaranya mengandung nada peringatan.

Itu adalah aturan pertama, sekecil apa pun, yang terasa seperti rantai yang dipasangkan padanya.

"Baiklah." Isabella kembali ke tengah kamar.

Lucia lalu menunjuk ke sebuah tombol kecil di dinding dekat tempat tidur. "Jika Nyonya Moreno membutuhkan sesuatu-air, handuk, bantuan Enzo-tekan tombol ini. Jangan berkeliaran di koridor tanpa tujuan, terutama di malam hari. Staf keamanan Tuan Valenti sangat ketat."

"Aku mengerti," Isabella mengangguk, hatinya mulai mencelos. Jangan berkeliaran. Dia bukan pengasuh biasa; dia adalah tawanan yang dibayar.

Setelah Lucia pergi, Isabella menghabiskan sarapannya dengan cepat. Pikirannya dipenuhi gambaran gerbang tinggi, dinding batu, dan mata-mata yang mungkin mengintai di setiap sudut.

Dia harus pergi ke kamar Enzo. Itulah satu-satunya alasan dia ada di sini, dan satu-satunya tempat dia merasa sedikit manusiawi.

Koridor yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Enzo terasa seperti lorong penjara. Lampu kristal mahal tergantung di langit-langit, tetapi cahaya yang dipancarkannya terasa dingin.

Ketika dia sampai di kamar Enzo, bayi kecil itu baru saja terbangun, mengeluarkan rengekan pelan yang langsung menghancurkan kekakuan Isabella.

Dia menghabiskan dua jam berikutnya hanya untuk Enzo. Menyanyikan lagu yang biasa dia nyanyikan untuk Elias dulu-nada sederhana yang penuh kerinduan-mengganti popok, dan, tentu saja, memberinya makan. Saat Enzo menempel di dadanya, rasa sakit di hatinya terasa sedikit lebih ringan. Ini adalah tujuan utamanya, tujuan yang membuat semua penderitaan di luar terasa sepadan.

Sekitar tengah hari, ketika Enzo kembali tertidur, Isabella memutuskan untuk berjalan-jalan, seperti yang biasa dia lakukan di taman kosnya yang sempit. Dia tidak berani melanggar perintah Lucia untuk "tidak berkeliaran", tetapi dia merasa sesak jika terus-menerus terkurung.

Dia turun ke lantai dasar, lalu menemukan pintu kaca ganda yang mengarah ke taman belakang. Taman itu megah, dengan air mancur dan patung-patung kuno. Sebuah labirin yang sempurna.

Saat dia menginjakkan kaki di rumput yang terawat, ia merasakan lega yang singkat, seolah-olah ia baru saja melarikan diri.

"Nyonya Moreno!"

Suara itu keras dan berat. Isabella menoleh. Seorang pria tinggi besar, berseragam hitam, seperti pengawal tadi malam, melangkah cepat mendekatinya. Wajahnya keras dan tidak ramah.

"Aku minta maaf," kata Isabella, suaranya mengecil. "Aku hanya... mencari udara segar."

"Daerah ini berada di luar batas," kata pria itu, tanpa basa-basi. "Kau harus kembali ke dalam. Tuan Valenti sangat tegas tentang personel yang berada di luar batas operasional mereka."

"Tapi... aku tidak melihat tanda larangan," balas Isabella, merasa tidak berdaya.

"Aturan di rumah ini tidak tertulis. Kau akan mempelajarinya. Kau adalah pengasuh, Nyonya Moreno. Wilayahmu adalah lantai dua dan kamar Enzo. Kembali ke dalam. Sekarang."

Pria itu tidak mengancamnya dengan senjata, tetapi kekuasaannya terasa lebih kuat dari apa pun. Isabella mundur, mundur dari padang rumput yang tampak bebas itu, kembali ke dalam sangkar emasnya.

Dia merasa air mata mulai menggenang. Bukan karena marah, tetapi karena menyadari sejauh mana dia telah menjual jiwanya. Dia tidak hanya terperangkap, dia diawasi. Setiap langkahnya, setiap keinginannya, dikendalikan.

Sore itu, Isabella sedang menyeterika pakaian bayi di kamar Enzo ketika dia mendengar suara-suara di luar. Suara berat Damon Valenti, bercampur dengan suara pria lain, yang lebih sinis dan sombong.

Isabella membeku. Damon telah mengatakan bahwa interaksi mereka sebatas Enzo. Dia tidak ingin berada di dekat Damon, terutama ketika Damon sedang berurusan dengan 'bisnis'nya.

Dia merapatkan pintu kamar Enzo, membiarkan sedikit celah terbuka karena rasa penasaran yang tak terhindarkan.

"Kau tahu, Damon, aku masih tidak mengerti," kata suara sombong itu. "Seorang babysitter dengan gaji yang lebih besar daripada gaji seorang wakil direktur di kotaku. Dan dia tinggal di sini. Bukankah itu berlebihan? Mengingat kau baru saja kehilangan Anya."

Jantung Isabella berdebar kencang. Mereka membicarakannya.

"Itu bukan urusanmu, Mateo," jawab Damon, suaranya dingin mematikan. "Fokuslah pada pengirimanmu. Aku membayar mahal agar kau tetap diam dan fokus."

"Tentu saja. Tentu saja. Tapi kau tahu bagaimana lidah di lingkungan kita ini, Damon. Mereka akan berbisik. Mereka akan bertanya-tanya mengapa Don Valenti yang baru, yang seharusnya berduka, tiba-tiba mempekerjakan seorang wanita baru di rumahnya. Seorang wanita yang... menarik, kurasa."

Isabella merasakan amarahnya naik. Dia bukan 'wanita baru' Damon. Dia hanyalah sebuah kebutuhan.

"Aku tidak peduli dengan bisikan mereka," kata Damon. "Enzo menolak formula. Enzo butuh ibu. Wanita itu adalah obatnya. Jangan pernah sebut nama Anya lagi, atau kau akan melupakan cara bernapasmu."

Hening. Isabella bisa membayangkan tatapan menusuk Damon yang membuat Mateo mundur.

"Baiklah, baiklah. Maafkan aku, Damon. Hanya saja... hati-hati. Kelemahanmu sekarang adalah rumah ini. Dan wanita ini. Ingat, musuh mencari celah."

Langkah kaki terdengar menjauh, lalu hening lagi. Isabella menunggu sampai dia yakin Damon sudah pergi.

Malam itu, Damon Valenti tidak muncul untuk melihat Enzo. Isabella hanya bertemu dengan Lucia, yang kini membawakan makan malamnya di kamar pengasuh.

"Tuan Valenti sedang sibuk, Nyonya Moreno," kata Lucia, matanya melayang ke arah koridor.

"Dia baik-baik saja?" tanya Isabella, tanpa sadar.

Lucia menatapnya dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca. "Tuan Valenti selalu baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Fokuslah pada Enzo. Itu yang terbaik."

Itu adalah peringatan halus kedua.

Setelah makan malam, Isabella mengambil buku yang dibawanya dari rumah-novel lama tentang pelarian dan kebebasan. Tapi dia tidak bisa fokus. Setiap halaman, setiap kata, terasa kosong.

Dia berdiri, berjalan ke jendela, dan sekali lagi ingin menarik gorden itu. Tiba-tiba, dia merasakan dorongan kuat untuk melanggar aturan Damon, untuk melihat apa yang ada di luar dinding batu tebal itu.

Dia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya, lalu menarik gorden itu dengan cepat.

Kegelapan. Jendela itu menghadap ke halaman belakang yang luas. Isabella tidak bisa melihat banyak, tetapi dia bisa melihat pagar tinggi dan di atas pagar itu, terpasang kawat berduri.

Itu bukan sekadar privasi. Itu adalah sistem keamanan penjara.

Dan dia melihatnya-di antara pepohonan, ada sinar kecil yang berkedip-kedip, merah dan teratur. Kamera pengintai.

Isabella melompat mundur dari jendela, jantungnya berdebar-debar liar di dalam dadanya. Dia tidak bisa melihat ke luar karena Damon tidak ingin dia tahu. Damon tidak ingin dia tahu bahwa dia benar-benar terperangkap. Setiap sudut, setiap langkah, setiap gerakan diawasi.

Dia berjalan ke pintu dan menguncinya. Lalu dia memeriksa kamar mandi, memeriksa di bawah kasur. Dia panik. Di rumah ini, yang dia pikir adalah tempatnya mencari rezeki, ternyata adalah tempat dia kehilangan semua kendali atas dirinya sendiri.

Kekuatan Valenti tidak hanya pada uang dan kekerasan. Kekuatan Valenti adalah kontrol mutlak.

Dia menyentuh dadanya. Air susunya terasa penuh, respons alami tubuhnya terhadap bayi Enzo. Ironis sekali. Hal yang paling alamiah, paling bebas, yang dimilikinya-kemampuannya untuk memberi makan-justru yang mengikatnya pada pria yang paling mengancam kebebasannya.

Isabella duduk di tepi kasur. Dia tidak menangis lagi. Air mata tidak akan membantunya.

Dia harus tenang. Dia harus fokus pada tujuannya: enam bulan. Melunasi utang. Lalu pergi.

Dia memutuskan untuk membuat daftar aturan yang tidak tertulis di Valenti Manor:

Jangan pernah buka gorden.

Jangan pernah berkeliaran di lantai dasar atau taman.

Jangan pernah bertanya tentang "bisnis" Damon.

Jangan pernah menunjukkan emosi.

Dia menambahkan aturan kelima, yang paling penting.

Jangan pernah percaya pada Damon Valenti.

Tengah malam. Isabella terbangun oleh rasa haus yang luar biasa. Dia mencoba mengabaikannya, tetapi tenggorokannya terasa kering. Dia ingat ada botol air di dapur kecil di kamar Enzo, tempat dia menyiapkan peralatan steril.

Dia bangkit perlahan, berjalan ke kamar Enzo yang bersebelahan. Bayi itu tidur nyenyak. Isabella mengambil air dan minum.

Saat dia berbalik untuk kembali ke kamarnya, matanya menangkap sesuatu di luar jendela kamar Enzo. Jendela di kamar ini tidak ditutup.

Dia mendekat. Di bawah, di halaman bebatuan, Damon Valenti sedang berdiri. Dia tidak sendiri. Dia bersama dua pria besar lainnya, dan mereka tidak sedang mengobrol.

Damon mengenakan jaket kulit yang tebal. Salah satu pria itu sedang membersihkan sesuatu dari tangan Damon dengan kain putih. Dan pria lain sedang menguburkan sesuatu di taman belakang, dengan gerakan cepat dan terampil.

Isabella menahan napas. Kain putih itu... kelihatannya merah di bawah cahaya rembulan. Darah.

Damon Valenti tidak menghabiskan malamnya dengan tidur di kamar mewah. Dia menghabiskan malamnya dengan kekerasan. Dia kembali dari 'pekerjaannya' yang pasti penuh darah.

Dan dia berdiri di sana, di bawah rembulan, tampaknya sedang menunggu dua pria itu menyelesaikan pekerjaan kotor mereka.

Tiba-tiba, Damon mendongak.

Jantung Isabella hampir berhenti berdetak. Apakah dia terlihat? Apakah Damon melihat bayangan dirinya di jendela lantai dua?

Matanya yang gelap sepertinya menusuk kegelapan, langsung menuju ke kamar Enzo. Meskipun ruangan itu redup, Isabella yakin Damon bisa merasakan kehadirannya.

Isabella bergerak mundur dengan gerakan yang sangat lambat, mundur dari jendela, kembali ke kegelapan di kamar Enzo. Dia tidak ingin Damon tahu dia telah melihat. Dia tidak ingin Damon tahu dia sekarang tahu lebih banyak.

Dindingnya tidak cukup tebal. Mansion ini tidak cukup besar. Isabella sekarang tidak hanya terperangkap, dia telah menjadi saksi, meskipun hanya sekilas. Dan itu jauh lebih berbahaya daripada sekadar menjadi pengasuh.

Dia kembali ke kamarnya, mengunci pintu, dan merangkak kembali ke kasur. Dia memeluk lututnya, berusaha mengatur napas.

Kebebasan. Uang. Bayi Enzo.

Dia sudah mengambil keputusan. Dia tidak bisa melarikan diri, belum. Dia harus memainkan perannya. Dia harus menjadi Isabella yang bodoh, yang tidak tahu apa-apa, yang hanya peduli pada bayi dan gajinya.

Kekuatan yang menekan di rumah ini begitu besar, dan dia, seorang wanita yang baru saja kehilangan segalanya, hanyalah debu di bawah kaki sang Don.

Isabella memejamkan mata, memaksakan diri tidur, tahu bahwa dia tidak bisa tidur nyenyak lagi di Valenti Manor. Dia sekarang tahu betul dia hidup di sarang serigala. Dan dia harus menjadi yang paling tenang dan paling tidak terlihat di antara mangsanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BENIH PEWARIS TUNGGAL TUAN MUDA
9.5
Demi melunasi utang mendiang ayahnya, Sofia terpaksa menikahi Yesaya, keponakan rentenir yang ternyata bos mafia kejam. Ketakutan setelah menyaksikan suaminya membunuh, Sofia yang tengah hamil memilih kabur. Setelah berbulan-bulan sembunyi, ia kembali ditemukan oleh Yesaya tepat saat akan melahirkan bayi kembar. Yesaya berusaha berubah demi cintanya, namun kebencian Sofia yang mendalam membuatnya berbohong dan mengeklaim anak-anak itu adalah darah daging pria lain.
Sampul Novel Direklamasi oleh Pewaris Mafia
8.8
Nora Yates hancur setelah lima tahun menikah karena memergoki Stefan Gordon berselingkuh dengan Izabella. Stefan bahkan mengaku pernikahan mereka hanyalah taktik balas dendam kejam untuk menyiksanya. Di tengah keputusasaan, Nora bangkit dan menolak menjadi istri yang lemah. Dunia sempat lupa bahwa sebelum sakit, Nora adalah peretas legendaris yang sangat ditakuti. Kini, peretas tangguh itu kembali ke perusahaan lamanya demi menuntut keadilan.
Sampul Novel Hati Yang Tersakiti
8.1
Linda selalu diabaikan oleh ayah dan abangnya yang lebih menyayangi kakaknya, Sanny. Ketika pemimpin mafia Fendi Sucipto hadir menyelamatkan dan menikahinya dalam pesta megah, Linda mengira ia akhirnya dicintai. Namun, saat hamil tujuh bulan, sebuah kebakaran di pesta sang ayah mengungkap kenyataan pahit. Linda mendengar Fendi mengakui bahwa pernikahan mereka hanyalah rencana demi mendapatkan sumsum tulang belakang bayinya untuk menyembuhkan leukemia Sanny. Sadar dirinya hanya dimanfaatkan, Linda memilih pergi.
Sampul Novel Jerat Cinta Mafia Kejam
8.2
Terbuang dari rumah sendiri akibat keserakahan kerabatnya, Kinanti memilih mengasingkan diri ke Amerika demi kedamaian. Namun, takdir justru menyeretnya kembali ke hadapan Brian, pemimpin mafia kejam yang sejak lama terobsesi padanya. Jika dulu ia bisa lari, kini Kinanti tak berkutik di bawah dominasi mutlak Brian. Di tengah ancaman keluarga pamannya yang terus mengusik, mampukah ia lolos dari cengkeraman cinta sang mafia?
Sampul Novel Nafsu Liar Putra Mafia
9.3
Melanjutkan kisah Wanita Pemuas di Ranjang, narasi ini menyoroti generasi penerus dinasti mafia besar, Hansen dan Maxwell. Mereka harus mengelola takhta bisnis ilegal warisan orang tua sambil menghadapi lika-liku romansa yang rumit. Pembaca akan diajak mengikuti perjalanan emosional putra-putra mafia ini dalam menentukan pilihan hati dan mencari pasangan hidup yang tepat di tengah dunia mereka yang keras.
Sampul Novel Sugar Baby Milik Mafia Tampan
8.0
Max tidak pernah menduga bahwa keputusannya membawa pulang Ella dari tempat pelelangan akan mengubah hidupnya. Meski mulanya Max membenci gadis polos berpenampilan kurang gizi itu, kehadiran Ella perlahan membawa kehangatan di kediamannya yang dingin. Berbagai kejutan dari Ella menumbuhkan benih cinta di hati Max. Kini, hubungan mereka harus menghadapi ujian berat, mulai dari konflik internal hingga pertaruhan hidup dan mati. Sanggupkah cinta mereka bertahan?