APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hukum Sang Pewaris Cacat

Hukum Sang Pewaris Cacat

Pasca kematian istrinya, Don mafia Damon Valenti frustrasi karena Enzo, bayinya, terus menolak susu formula. Di tengah situasi kritis ini, ia bertemu Isabella Moreno yang baru saja kehilangan anaknya. Damon pun menawarkan sebuah kontrak kerja dingin agar Isabella bersedia menjadi ibu susuan bagi Enzo. Namun, kelembutan Isabella justru memicu obsesi gelap dalam diri Damon. Sang penguasa mafia kini terjerat gairah berbahaya pada wanita yang seharusnya hanya menjadi pekerja.
Bab
Bagikan

Bab 3

Isabella sudah berada di Valenti Manor selama empat hari. Empat hari penuh dengan keheningan mencekik, pengawasan ketat, dan ketegangan yang tidak pernah mereda. Dia sudah mulai terbiasa dengan rutinitas: bangun, merawat Enzo, makan di kamar sendirian, melihat sekilas Damon Valenti yang dingin di koridor, lalu kembali ke Enzo.

Hari ini seharusnya tidak berbeda.

Saat Isabella mengambil Enzo dari buaiannya di pagi hari, dia merasakan kelegaan yang biasa: kehangatan tubuh bayi itu menenangkan jiwanya yang bergejolak. Enzo mulai terbiasa dengan aroma Isabella, dan proses menyusui berjalan lancar. Isabella bahkan sempat tersenyum kecil ketika Enzo menggenggam jarinya dengan erat, sebuah tindakan yang murni tanpa paksaan.

"Anak baik," bisik Isabella, menyandarkan dagunya di atas kepala Enzo yang lembut.

Setelah selesai sarapan, Isabella membawanya keluar dari kamar bayi, menuju ruang duduk kecil yang berdekatan yang dirancang untuk bermain. Ruangan itu penuh dengan mainan mahal, boneka beruang berukuran manusia, dan playmat yang empuk.

Isabella meletakkan Enzo perlahan di playmat itu. Dia duduk di sebelahnya, mulai menggoyangkan mainan rattle berwarna cerah di depan wajah Enzo.

Tapi hari ini, Enzo tidak bereaksi.

Enzo biasanya akan mengikuti mainan itu dengan matanya yang gelap. Kali ini, Enzo hanya berkedip, lalu wajahnya mulai memerah.

Isabella mencoba lagi, tersenyum dan membuat suara-suara aneh yang biasa dia lakukan. "Lihat, Nak. Indah, kan?"

Enzo menggerakkan kepalanya menjauh dari mainan itu, dan mulai merengek.

Rengekan itu dengan cepat berubah menjadi tangisan yang keras dan panik. Bukan tangisan lapar atau tangisan biasa, tapi tangisan yang penuh penolakan.

Isabella terkejut. Dia segera menarik Enzo ke dalam pelukannya. "Ssst, ada apa, Sayang? Ibu di sini."

Tangisan Enzo bukannya mereda, malah semakin menjadi-jadi. Bayi itu meronta di pelukan Isabella, menendang-nendang. Matanya basah oleh air mata dan dipenuhi kepanikan.

Isabella mencoba mengayunnya, menyanyikan lagu. Tidak berhasil. Dia mencoba menenangkannya dengan suara lembut. Enzo hanya semakin keras menangis, wajahnya kini merah tua.

Dia panik. Ini adalah kali pertama Enzo menolak dirinya secara fisik.

"Kenapa, Nak? Jangan begini," bisik Isabella, keputusasaan mulai terasa.

Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka. Damon Valenti berdiri di ambang pintu, kemejanya sudah rapi, tetapi tatapannya seperti badai.

"Apa yang terjadi?" tanyanya, suaranya rendah dan mengancam. "Mengapa dia menangis?"

"Aku... aku tidak tahu," kata Isabella, suaranya tercekat. "Dia tiba-tiba panik. Aku hanya mengajaknya bermain."

Damon melangkah masuk. Aura kekuasaan dan kemarahannya langsung memenuhi ruangan. Isabella merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Kontraknya tergantung pada kemampuannya untuk menenangkan dan memberi makan anak ini.

Damon mengambil langkah mendekat. Saat dia berdiri di samping Isabella, Enzo bereaksi.

Tangisan Enzo mereda seketika.

Isabella terkejut. Enzo mendongak ke arah Damon, air mata masih membasahi pipinya, tetapi tangisnya berhenti. Bayi itu hanya terisak kecil, menatap wajah ayahnya.

Damon mengulurkan tangannya. "Berikan dia padaku."

Isabella ragu sejenak, tapi dia tidak berani menolak. Dia menyerahkan Enzo pada Damon.

Begitu berada di pelukan ayahnya yang kaku, Enzo bersandar dengan kepala di bahu Damon, dan tangisannya hilang sepenuhnya. Bayi itu hanya mengeluarkan desahan kecil, napasnya tersengal-sengal.

Keheningan kembali ke ruangan, tetapi kali ini, keheningan itu menghakimi.

Damon menatap Enzo, lalu mengalihkan pandangannya yang tajam ke Isabella. Matanya kini penuh tuduhan yang diam.

"Apa yang kau lakukan padanya?" tanyanya, dingin.

"Aku bersumpah, aku tidak melakukan apa-apa," bela Isabella, rasa tidak berharga menyerangnya dengan keras. "Dia baru saja bangun dan... entahlah. Dia menolakku."

Damon mengayun Enzo perlahan, yang kini terlihat jauh lebih tenang.

"Kontrak kita, Isabella," kata Damon, suaranya tanpa emosi, "berdasarkan premis bahwa kau bisa memberikan kenyamanan yang dia tolak dari orang lain. Jika dia tidak tenang bersamamu, kau tidak berguna bagiku."

Kalimat itu-kau tidak berguna-menampar Isabella lebih keras daripada tamparan fisik. Dia datang ke sini untuk melarikan diri dari perasaan tidak berguna setelah kehilangan Elias. Kini, dia diberitahu lagi bahwa dia gagal, bahkan dalam tugas yang paling mendasar.

"Mungkin dia hanya butuh ayah, Tuan Valenti," kata Isabella, berusaha terdengar profesional. "Dia pasti merindukan kehadiranmu."

"Aku tidak membayar mu untuk menjadi terapis bayi," Damon membalas dengan kejam. "Aku membayarmu untuk menjadi ibunya, di saat aku tidak bisa. Aku harus bekerja."

Dia mengembalikan Enzo kepada Isabella. Begitu sentuhan Damon terlepas, Enzo kembali merengek, meskipun tidak sekeras tadi.

"Selesaikan ini," perintah Damon. "Aku memberimu waktu sampai sore. Jika dia terus menolakmu, kita harus mengevaluasi ulang nilaimu di rumah ini."

Damon berbalik dan pergi, meninggalkan Isabella sendirian bersama rasa takut yang dingin. Ancaman Damon jelas: jika dia gagal, dia akan diusir, dan utangnya akan menenggelamkannya.

Sisa hari itu adalah perjuangan yang melelahkan.

Setiap kali Isabella mencoba melakukan kontak fisik selain menyusui, Enzo merengek. Ketika Isabella menggendongnya sambil berdiri, dia tenang. Tetapi ketika Isabella mencoba duduk dan bermain, Enzo akan panik lagi.

Dia mencoba membayangkan dirinya sebagai Enzo. Bayi kecil yang baru saja kehilangan ibu kandungnya, dikelilingi oleh orang asing yang dingin di rumah yang sunyi. Mungkin dia hanya merindukan kehangatan yang benar-benar akrab.

Isabella membawa Enzo kembali ke kamar bayi. Dia mulai mengayunnya sambil berbisik, tidak lagi menyanyi, tetapi berbicara tentang Elias.

"Kakakmu, Nak... Elias, dia dulu juga suka rewel. Tapi dia selalu tahu, Mama di sini. Mama akan menjagamu. Walaupun Mama harus pergi nanti, Mama ingin kamu tahu, kamu kuat. Kamu harus makan, kamu harus tumbuh."

Dia berbicara tentang kesedihannya, tentang betapa hancurnya dia. Dia tidak berbicara kepada Enzo, dia berbicara kepada dirinya sendiri, mengeluarkan semua kesakitan yang terpendam.

Enzo tidak berhenti merengek, tetapi rengekannya mulai berubah. Ada jeda, seperti dia mendengarkan nada suara Isabella yang penuh rasa sakit.

Isabella duduk di kursi goyang dan menempatkan Enzo di dadanya, membiarkan kulit Enzo menyentuh kulitnya, berharap kehangatan yang lebih pribadi bisa meredakan kepanikan anak itu.

Enzo terisak di dadanya, mencengkeram kain kemejanya. Lalu, tanpa diduga, Enzo mulai bergerak. Dia tidak lagi meronta, tetapi mencoba mencari kenyamanan.

Perlahan, tubuh Enzo mengendur. Tangisannya berhenti. Dalam beberapa menit, Enzo tertidur di pelukan Isabella, napasnya teratur, wajahnya damai.

Isabella tidak bergerak. Dia takut sentuhan sekecil apa pun akan membangunkan panik Enzo lagi. Dia menyadari, Enzo tidak menolak 'makanan' darinya, tapi Enzo menolak 'peran' darinya. Enzo tahu Isabella bukan ibunya, dan dia tidak mau Isabella mencoba bertindak seperti pengasuh biasa. Enzo hanya ingin koneksi, kehangatan yang nyata.

Dia menatap wajah Enzo yang tertidur. Bayi itu sangat mirip dengan Damon-garis wajah yang tajam, rambut gelap.

Saat senja tiba, Damon Valenti kembali ke kamar Enzo. Dia tidak mengetuk. Dia hanya membuka pintu dan masuk.

Isabella masih duduk di kursi goyang, Enzo tertidur pulas di pelukannya. Pemandangan itu, Isabella dengan Enzo yang tertidur lelap, adalah gambaran damai yang kontras dengan suasana gelap di Valenti Manor.

Damon berhenti, melihat pemandangan itu. Keheningan berlangsung lama, hanya dipecahkan oleh suara napas Enzo yang lembut.

"Dia baik-baik saja," kata Isabella, suaranya lelah. "Dia hanya perlu waktu. Dia masih berduka."

Damon tidak menjawab. Dia berjalan mendekat.

Isabella merasakan jantungnya berdebar. Dia bersiap untuk kata-kata kasar Damon, kritiknya, atau bahkan ancaman untuk memotong gajinya.

Tapi Damon hanya berdiri di sana, menatap Enzo, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.

"Kau berhasil menenangkannya," katanya, nada suaranya datar, tetapi bukan lagi mengancam. Itu adalah fakta yang diakui.

"Aku... aku hanya membiarkannya tahu bahwa dia tidak sendirian," kata Isabella, menghindari tatapan Damon.

"Sendirian," ulang Damon, suaranya mengandung nada ironi pahit. "Aku dikelilingi oleh orang-orang, Isabella. Tapi aku sendirian."

Itu adalah kalimat paling pribadi yang pernah diucapkan Damon kepadanya. Isabella mendongak. Di mata Damon, ia melihat kelelahan dan kesedihan yang sama, yang sering ia lihat di matanya sendiri di cermin.

Mereka berdua adalah orang-orang yang kehilangan, dipaksa untuk berpura-pura kuat di tengah puing-puing hati mereka.

"Kau tidak akan dipecat," kata Damon, mengalihkan pembicaraan, kembali ke persona mafianya yang dingin. "Kau akan terus merawatnya. Tetapi aku ingin kau tahu, aku mengawasi."

Dia mencondongkan tubuh, sangat dekat, dan menatap Isabella dengan matanya yang gelap.

"Kau mendapatkan Enzo untuk tenang. Itu yang penting. Tapi jangan pernah berpikir kau bisa menenangkan aku, Isabella. Jangan pernah mencoba menjalin hubungan denganku. Itu akan mengakhiri kontrak, dan mengakhiri hidupmu dengan damai."

Itu bukan hanya ancaman. Itu adalah peringatan dari seorang pria yang takut dengan keintiman dan rentan.

"Aku tahu tempatku, Tuan Valenti," jawab Isabella, mengangguk sedikit.

Damon menegakkan tubuh. "Bagus. Mulai besok, kau akan diberikan pengawal baru. Dia akan menemanimu saat kau di luar kamar. Aku tidak mau mengambil risiko."

"Pengawal? Kenapa?" tanya Isabella, kaget.

Damon menyentuh bahu Enzo dengan ujung jarinya, lalu menariknya. "Karena kau adalah sumber kehidupan anakku. Dan bagi musuhku, kau adalah kelemahan baru yang sangat berharga. Aku harus menjagamu. Seperti menjaga aset yang paling penting."

Dia tidak menjaganya karena dia peduli padanya. Dia menjaganya sebagai properti. Kata-kata itu, aset yang paling penting, membuat Isabella merasa dingin dan kecil.

"Tidurlah. Enzo aman sekarang. Aku akan mengurusnya sampai tengah malam."

Damon Valenti mengambil alih kursi goyang, mengambil Enzo ke dalam pelukannya. Isabella tidak lagi melawan. Dia hanya berdiri, melihat pemandangan itu: Raja Kejahatan, seorang Don yang penuh darah, dengan lembut mengayun bayi kecil di tengah mansionnya yang dingin.

Isabella kembali ke kamarnya, mengunci pintu. Dia tidak lagi merasa tidak berguna. Dia tahu dia adalah satu-satunya yang bisa memberikan apa yang Enzo butuhkan.

Tapi dia juga tahu, dengan keberhasilannya menenangkan Enzo, dia telah mengikat dirinya lebih erat ke dalam sarang laba-laba Damon Valenti. Kontraknya tidak hanya berlanjut, tetapi pertaruhannya kini jauh lebih tinggi. Keberhasilannya kini menjadi bahaya terbesarnya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Black Eagle
9.0
Hidup Fattan yang hampa berubah total setelah mengagumi ambisi Cantika. Gadis pintar itu terancam kehilangan beasiswanya akibat masalah sang kakak. Meski awalnya saling membenci, benih cinta perlahan tumbuh di antara keduanya. Sayang, sebuah konspirasi jahat menghancurkan hubungan mereka dan menyisakan dendam di diri Cantika. Dalang konflik ini pun menyeret paksa sepasang kekasih tersebut ke dalam kejamnya dunia mafia yang penuh bahaya.
Sampul Novel Budak di atas Ranjang - Season 2
8.8
Demi melunasi utang judi sang ayah dan menyelamatkannya dari sekapan, Izabelle terpaksa menyerahkan kesuciannya kepada Jordan Heron. Bos mafia yang kejam itu merebut kehormatannya dalam sebuah transaksi dingin demi mencegah keluarganya menjadi gelandangan. Terjebak bersama pria keji yang baru ia temui, Izabelle kini harus menjalani takdir kelam penuh penderitaan dan kehinaan. Bagaimanakah kelanjutan nasib malangnya di tangan sang bajingan?
Sampul Novel Budak Nafsu
7.9
Lepas dari jerat nafsu bejat sang mertua, Ayu kini merajut asa baru bersama Alfons, kekasih sejatinya. Namun, jalan mereka terjal akibat dendam membara dari Maharani. Di tengah kejamnya dunia mafia berseragam yang sarat intrik, kekuatan cinta mereka diuji. Demi melindungi ketulusan rasa yang dimiliki, keduanya harus bertualang ke berbagai penjuru dunia, bertahan hidup dari kejaran musuh yang tak kenal ampun.
Sampul Novel Darah Sang Mafia
8.9
Dastan, pembunuh bayaran berjuluk The Black Wings, menyandera Dara di rumahnya sebagai jaminan utang. Ia sempat membenci Dara karena mengira gadis itu wanita simpanan ayahnya. Namun, sikap Dastan melunak saat kebenaran terungkap. Meski kerap diperlakukan kasar, Dara tetap mencintai Dastan. Di tengah kejamnya dunia mafia, akankah Dara berhasil menyelamatkan Dastan dari kegelapan, ataukah maut justru memisahkan mereka?
Sampul Novel Dibiarkan Mati: Dosa Gembong Mafia
8.6
Suamiku, bos mafia Jakarta, enggan punya anak denganku. Rahasia kelamnya terbongkar: ia punya putra dari musuh kami. Kebengisannya membuatku keguguran, lalu selingkuhannya melempar jasadku ke jurang. Berhasil selamat, aku bangkit sebagai arsitek ternama dunia. Saat aku tampil di televisi, sang gembong mafia yang dulu menghancurkan dan membiarkanku mati kini bersujud memohon maaf di kakiku.
Sampul Novel Jatuh Cinta Pada Luka
7.9
Pascapengkhianatan perebutan wilayah yang nyaris merenggut nyawanya, bos mafia kejam Damian Verano hanyut di sungai selama tiga hari. Ia diselamatkan oleh Alira, gadis desa sederhana berusia delapan belas tahun. Walau bayang-bayang Sierra masih menghantui Damian, kepolosan Alira justru menumbuhkan benih cinta baru di hatinya. Mampukah sang penguasa dunia bawah tanah bersatu dengan gadis polos yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu kelamnya?