APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel HILANGNYA JASAD KEMBARANKU

HILANGNYA JASAD KEMBARANKU

Kematian Micail menyisakan duka hebat bagi kembarannya, Mecca. Namun, situasi menjadi mengerikan saat jasad sang saudara mendadak hilang tanpa jejak. Kejadian ganjil ini mulai mengikis kewarasan Mecca. Di tengah cekaman teror yang kian pekat, ia terobsesi memecahkan misteri hilangnya jenazah tersebut. Mecca pun nekat menelusuri berbagai petunjuk samar demi menemukan jasad sang kembaran sekaligus memberikan ketenangan bagi arwahnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Tok! Tok! Tok!

“Ca, bangun, ini aku, Boy!” teriak pria berbadan atletis di balik pintu.

“Mecca! Ca! Mecca! Kamu enggak mati 'kan?” Boy berteriak kembali.

Sudah cukup lama Boy berada di depan pintu kamar Mecca, tetapi belum mendapatkan jawaban dari dalam sana. Bahkan, sempat Boy ditegur oleh salah satu tetangga Mecca, sebab dia begitu berisik dan mengganggu.

“Astaga, jauh-jauh datang ke sini, yang disamperin malah molor,” gerundel Boy Kesal.

Mendapati dirinya seperti orang setengah waras yang terus menggedor pintu tanpa mendapat jawaban, Boy pun memilih menyerah, lalu dia duduk di depan pintu kamar Mecca dan menyandarkan punggung lebar itu pada daun pintu yang masih tertutup rapat.

“Belum puas kamu ngerjain aku, Ca? Bukankah ini keterlaluan?” gerutu Boy, lalu dia mengeluarkan ponselnya dan mencoba membangunkan Mecca dengan panggilan telepon.

Setelah beberapa kali pria berlesung mata itu melakukan panggilan. Terdengar langkah malas yang diseret di lantai di ruangan tujuh kali lima meter persegi tersebut.

Ceklek!

Suara kunci dibuka dari dalam, gagang pintu pun ditarik Mecca sekuat tenaga. Tanpa dia sadari, hal tersebut membuat Boy yang sedang bersandar di daun pintu terjengkang. Sontak hal tersebut membuat Boy semakin kesal.

“Aish! Enggak bisa, ya, kalau gak bikin masalah?” Seraya bangkit Boy mengomeli Mecca.

Dengan polos Mecca mengucek mata yang masih lengket dan seolah enggan terbuka itu.

“Kenapa kamu rebahan di lantai? Apa perjalanannya cukup melelahkan?” tanya Mecca, tanpa merasa berdosa.

“Waaah, lihat si biang kerok ini, pertanyaan macam apa yang dilontarkannya,” omel Boy.

Boy pun menerobos masuk dan mencari sesuatu untuk diminum. Lagi-lagi dia kecewa saat membuka lemari es mini yang ada di kamar itu, ternyata kosong. Hanya gumpalan bunga es yang sudah lama tidak dibersihkan.

“Yang benar saja? Manusia macam apa kamu ini, Ca?” cercanya.

“Berhentilah menggerutu, kau benar-benar seperti kakek tua, Boy!” protes Mecca seraya menggaruk kepala yang tidak gatal.

Sejurus kemudian, gadis bermata bulat itu kembali menghempaskan diri ke kasur dan membungkus tubuh dengan selimut.

Melihat tingkah sahabatnya, Boy pun hanya bisa menghela napas panjang beberapa kali. Dia benar-benar tidak habis pikir. Gadis itu menjadi hancur. Seolah tidak memiliki semangat hidup. Hingga membuat keadaannya berantakan.

Tak tinggal diam, Boy pun memilih untuk keluar dan pergi berbelanja. Namun, sesaat sebelum dia keluar, pria tampan itu menyempatkan diri untuk melihat wajah Mecca yang saat ini sudah tertidur pulas kembali.

Boy duduk di tepi ranjang, kemudian membenarkan selimut Mecca. Lalu, dia menatap Mecca lekat-lekat. Terdengar dengkuran halus dari gadis itu. Boy terlihat sangat menikmati pemandangan di depannya. Hingga sekelebat bayangan tiba-tiba melintas, yang membuat fokusnya terbagi.

“Siapa di sana?” Boy yang merasakan kehadiran seseorang selain dirinya dan Mecca pun mencoba mencari tahu.

Boy mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan itu. Akan tetapi, tidak didapatinya siapa pun. Terlebih ruangan itu kecil, mustahil seseorang untuk bersembunyi di tempat itu.

Prang!

Tiba-tiba sebuah bingkai poto jatuh ke lantai. Sontak hal itu membuat Boy merasa kaget. Gegas dia menghampiri benda yang terjatuh itu. Berharap di menemukan seseorang. Namun, sayang, Boy tidak menemukan siapa-siapa. Herannya, Mecca sama sekali tak terganggu. Padahal, suara itu cukup kencang.

Boy mengambil bingkai yang terjatuh itu. Dilihatnya poto tersebut. Ternyata itu poto Mecca dan adiknya Micail. Lebih tepatnya saudara kembar. Micail telah wafat tiga tahun yang lalu, hal itulah yang membuat Mecca hidup berantakan seperti ini.

“Jika memang itu kamu, katakanlah pada Mecca agar bisa hidup normal seperti dulu, jelaskanlah jika semua itu bukan salahnya,” gumam Boy, seraya memindai seluruh ruangan seolah mencari seseorang.

Boy meletakkan kembali bingkai itu, lalu membereskan pecahan kaca yang berserakan. Tak lama setelah itu, Boy pun melakukan rencananya yang sempat tertunda. Namun, sebelumnya Boy pun memeriksa semua kebutuhan Mecca yang telah habis. Setelah itu, Boy mengunci pintu dari luar dan membawa kunci agar tak kesulitan untuk masuk lagi.

Boy pergi berbelanja bahan makanan dan kebutuhan lainnya di toserba terdekat. Akan tetapi, pikirannya terus melayang jauh. Hingga tanpa sadar dia menabrak seseorang dengan troli yang sedang didorongnya.

“Aw, hati-hati, dong! Jalan kok sambil melamun!” bentak seseorang yang Boy tabrak.

“Maaf, Mbak, gak sengaja!” sesal Boy.

“Untung kamu cakep, kalau enggak, aku mau minta ganti rugi,” rengek si gadis yang tertabrak itu.

“Maaf, Mbak, sekali lagi, saya nyesel,” ucap Boy, benar-benar penuh penyesalan.

Tanpa menimpali ucapan Boy, gadis itu pun berlalu begitu saja. Boy pun pergi menuju kasir untuk membayar.

Sejurus kemudian, saat dia mengantre di kasir. Dia melihat sosok seorang pemuda berlumuran darah, dengan kemeja planel kotak merah dan berpadu hitam tepat di sebelahnya. Boy pun termangu.

“Ka–Ka–mu–”

Boy masih menatap kaget ke arah pria misterius yang berlumuran darah itu. Perasaannya mengatakan, sosok itu tidak asing. Akan tetapi, Boy tidak mampu mengingatnya.

Mata itu semakin menatap tajam ke arah Boy, lalu pria berwajah hancur itu menyeringai menampakkan deretan gigi yang penuh dengan darah.

Boy semakin terpaku, dia mencoba berteriak, tetapi lidahnya kelu, bibir pun membeku. Bahkan, sulit rasanya untuk memalingkan pandangan dari tatapan si pria berwajah hancur itu. Keringat dingin mulai membasahi pelipis pria berahang tegas tersebut.

“Lindungi Mecca, lindungi Mecca, lindungi Mecca,” gumam pria berlumuran darah itu.

Sontak Boy tersentak mendengar ucapan si pria yang masih belum Boy ingat. Saat Boy tersita oleh rasa heran tentang ucapan itu. Pria itu menghilang begitu saja. Tentu saja hal itu membuat Boy celingukan dan mencari keberadaan pria itu, untuk menanyakan maksud dari ucapannya.

Namun, niatnya terhalang oleh seseorang yang mengantre di belakangnya. Sejak tadi Boy hanya melongo tidak jelas dan membuat orang-orang dalam antrean itu merasa kesal. Menyadari diri telah membuat keributan, Boy pun meminta maaf. Lantas, bergegas menuju kasir yang telah kosong sejak beberapa saat tadi.

Terlihat sesekali Boy pun masih kehilangan fokusnya dan memikirkan ucapan pria itu. Untuk mengobati rasa penasaran Boy pun mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada kasir di hadapannya.

“Mbak, maaf, Mbak lihat pria yang penuh darah, enggak? Tadi dia berdiri di sini," tanya Boy sedikit ragu seraya menunjuk tempat pria tadi berdiri.

“Enggak, Mas,” jawab si kasir sekenanya.

“Oh, gitu, ya, emh, anu–" Boy masih penasaran.

“Apa, Mas?” sela si kasir.

“Di sini ada cctv kan, Mbak? Kalo saya lihat, boleh enggak, ya?” pinta Boy dengan ragu.

“Silakan Mas bicara sama atasan saya saja, ya, karena saya cuma kasir,” jawab perempuan muda yang masih fokus menghitung belanjaan milik Boy.

Boy menemui petugas keamanan setelah selesai membayar, lalu dia diantar untuk menemui atasan yang dimaksud si kasir. Kini, dia sampai di sebuah ruang sempit di bagian terdalam toserba. Di sana ada seorang pria paruh baya yang tengah sibuk dengan berkas di meja kerjanya.

“Ada yang bisa saya bantu, Mas?” sapanya pada Boy.

“ Begini, Pak, apa boleh saya melihat cctv?” ucap Boy.

“Memangnya ada masalah apa? Apa Mas ini kehilangan sesuatu?” selidik pri paruh baya itu.

“Tidak, tapi saya harus memastikan sesuatu, Pak,” tutur Boy.

“Bisa dijelaskan, apa yang akan dipastikan tersebut?” Ternyata untuk menlihat rekaman tersebut begitu sulit.

“Begini, tadi saya lihat seseorang yang enggak dilihat orang lain. Dia benar-benar nyata, tapi sayangnya enggak ada yang percaya sama saya. Jadi, saya hanya ingin membuktikan keberadaan orang tersebut dari cctv,” jelas Boy.

“Maaf, Mas, cctv itu kamera keamanan, bukan untuk main-main!” tegas si pria menolak permintaan Boy.

Boy merengek dan memohon, tetapi pria itu justru menganggap Boy aneh dan meminta petugas keamanan yang mengantarnya untuk membawa Boy dan menyuruhnya pulang. Boy menolak dan bersikeras. Namun, tak berhasil, dia tidak bisa menonton rekaman itu.

“Sial!” umpatnya.

*

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dokter Tampan dan Pasien
8.9
Han Jang Woo adalah dokter berbakat yang dikagumi di rumah sakit. Salah satu pasiennya, Kim Ae Jin, selalu melarikan diri setiap kali pemeriksaan payudara karena merasa sangat malu di depan Jang Woo. Di balik kecanggungan tersebut, ada sejarah kelam yang tersembunyi dari publik. Perlahan, rahasia masa lalu mereka mulai terungkap, membuktikan bahwa hubungan keduanya jauh lebih rumit dan mendalam daripada sekadar ikatan profesional antara dokter dan pasien.
Sampul Novel Istriku Disiksa Sampai Gila
9.4
Kepulanganku dari Taiwan ke kampung halaman yang semula kuharapkan membawa kebahagiaan, justru berubah menjadi mimpi buruk. Aku mendapati istri tercinta telah kehilangan kewarasan, sementara anak kami dikabarkan telah meninggal dunia. Di tengah kepedihan mendalam ini, muncul keraguan besar atas apa yang sebenarnya terjadi. Benarkah kesaksian keluargaku sendiri jujur? Kini, aku harus bergerak mencari kebenaran dan mengungkap misteri gelap di balik tragedi memilukan ini.
Sampul Novel Pramugari Seksi dan Klinik Misterius
8.4
Berada di bawah sorotan lampu yang terang benderang, seorang wanita diminta berbaring di atas ranjang oleh seorang pria misterius. Pria tersebut mulai memegang pinggangnya dari arah belakang dan memberikan tekanan perlahan demi mencari titik sensitif. Merasa ada yang tidak beres dengan situasi ganjil tersebut, sang wanita berteriak meminta agar tindakan itu segera dihentikan. Namun, bukannya menyudahi perbuatannya, pria itu justru menarik ikat pinggangnya dengan kasar tanpa memedulikan penolakannya.
Sampul Novel Sasaeng Is Me
9.0
Daniel, seorang pewaris takhta kekayaan, kembali ke Korea untuk mencari adik kandungnya yang telah lama lenyap. Setibanya di sana, ia mendapati kenyataan pahit bahwa adiknya telah meninggal secara tidak wajar dalam sebuah acara jumpa penggemar dua tahun silam. Curiga ada yang tidak beres, Daniel memulai penyelidikan mandiri. Pencariannya menuntunnya pada Rachel, seorang putri konglomerat. Bersama Rachel, konspirasi kelam yang melibatkan sang idola serta keluarga Rachel mulai terkuak. Daniel pun bersiap menuntut balas.
Sampul Novel Suamiku Pura-pura Mati Demi Menipu Uangku
9.4
Setelah suaminya dikabarkan meninggal dan meninggalkan utang, seorang ibu rela menjual rumah warisan serta bekerja keras demi putranya. Namun, saat sekarat, ia mendapati fakta bahwa kematian suaminya hanyalah rekayasa untuk mencuci uang bersama selingkuhannya. Lebih kejam lagi, sang putra sengaja membiarkannya tewas demi klaim asuransi miliaran rupiah. Kini, ia terbangun kembali tepat di hari sandiwara kematian suaminya dimulai untuk mengubah takdirnya.
Sampul Novel Terjun Bebas Di Antara Api dan Cinta
8.0
Saat balon udara bocor di ketinggian seribu meter, seorang pilot justru menyelamatkan mantan kekasihnya, Erika, menggunakan parasut ganda. Ia mengabaikan tangisan calon istrinya yang sedang hamil dan menuduhnya berbohong karena cemburu. Setelah melepas paksa pegangan sang tunangan, pilot itu melompat pergi. Ia tidak tahu bahwa Erika telah melubangi parasut yang tersisa, membiarkan wanita hamil itu terjun bebas dalam bahaya maut.