APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel HILANGNYA JASAD KEMBARANKU

HILANGNYA JASAD KEMBARANKU

Kematian Micail menyisakan duka hebat bagi kembarannya, Mecca. Namun, situasi menjadi mengerikan saat jasad sang saudara mendadak hilang tanpa jejak. Kejadian ganjil ini mulai mengikis kewarasan Mecca. Di tengah cekaman teror yang kian pekat, ia terobsesi memecahkan misteri hilangnya jenazah tersebut. Mecca pun nekat menelusuri berbagai petunjuk samar demi menemukan jasad sang kembaran sekaligus memberikan ketenangan bagi arwahnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Di satu malam yang kelam, semilir angin menggoyangkan dahan pepohonan, gesekan dedaunan mengeluarkan suara yang khas, remang cahaya bulan diiringi suara burung hantu yang bertengger di dahan pohon itu.

Dari sebuah rumah, di sebuah pedesaan terpencil, berdekatan dengan rumpun bambu terdengar teriakan seorang gadis, menjerit, memekik, menahan sakit.

"Ampuuun, Ibu, jangan, sakit—" Begitulah samar-samar terdengar rintihan gadis itu.

Semakin larut dan gelap sendu malam, semakin terdengar jelas hingga kejauhan jeritan tangis itu. Sudah bukan menjadi hal tabu, bagi warga sekitar. Warga pun seakan tak mau tahu lagi.

*

“Sial!” gerutu gadis yang sedang asyik di depan layar laptopnya.

Lantas, gadis berkuncir kuda itu, membenarkan kacamata yang melorot.

“Kenapa otak aku tumpul sekali, mentok terus.” Lagi, dia bermonolog.

Tak lama kemudian dengan mata yang masih terpaku pada layar laptop gadis yang mengenakan kaos oblong longgar itu meraih cangkir yang ada di meja, dia mendekatkan cangkir itu ke bibirnya. Nahas, kopi di dalamnya telah tandas, dan membuatnya semakin kesal.

“Astaga, gini amat nasibku,” rutuknya, lantas mengembuskan napas berat.

Gadis bermata bulat dengan manik cokelat muda itu meletakkan kembali cangkirnya, kemudian mengusap wajah dengan kasar. Tak lama kemudian, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan tempatnya tinggal.

Manik mata itu, tiba-tiba membesar menyadari kekacauan yang entah telah berapa lama dia buat. Sampah-sampah berserakan, lantai berdebu, bau tidak sedap pun begitu memenuhi ruangan tersebut.

“Apa!?” teriaknya seraya beranjak dari duduk.

“Astaga Mecca, udah berapa lama kamu mati sebenarnya?” umpatnya pada diri.

Dia masih terkesima melihat ruang tempatnya tinggal sudah seperti tempat pembuangan akhir dari satu komplek selama satu minggu. Tak ingin membiarkan kekacauan itu terus berlanjut, Mecca pun hendak membersihkan semuanya.

Dia mulai dari membuka gorden dan jendela, agar udara baru menggantikan udara lama yang telah terperangkap di ruangannya. Saat cahaya matahari menembus kaca jendela, merambat lalu kemudian mengenai wajah pucat itu, dengan spontan telapak tangannya menjadi perisai untuk menghalangi rasa silau yang dirasakan.

“Waaah, ternyata dunia masih berputar pada porosnya,” decaknya, senyum simpul pun terulas dari bibirnya yang tipis.

Sejenak dia berdiri di tepi jendela, kebetulan kamarnya berada di lantai atas sebuah rusun. Mecca menghirup udara segar yang menerobos bebas ke lubang pernapasannya. Hal itu seakan membuat dia merasa mendapatkan energi baru setelah beberapa waktu mengurung diri.

Setelah itu, Mecca mencoba merogoh ponsel yang ada di saku celana jogger yang dikenakan. Lantas, dia mengaktifkannya. Setelah itu, Mecca meletakkan ponselnya di nakas dekat jendela. Sementara dia beranjak dan berniat untuk membersihkan kamarnya itu.

Bilah notifikasi pada ponsel Mecca terus menyala dan menampakkan beberapa pemberitahuan, baik pesan maupun hal lainnya. Banyak orang yang mencarinya, terutama sebuah kontak yang bernamakan Boy, puluhan pesan yang dikirim runtun selama beberapa hari terakhir ini.

Macca masih tak mengacuhkan ponselnya, gadis yang penampilannya sudah tidak karuan itu begitu fokus pada sesi bersih-bersih, dan membereskan kekacauan di kamarnya.

Hingga setelah seharian pertempurannya dengan sampah. Kini, ruangan itu layak disebut sebagai kamar tidur.

“Fyuh,” lenguhnya, seraya tersenyum simpul.

“Akhirnya!” Gadis itu tampak lega, lantas dia meraih handuk dan bergegas ke kamar mandi.

“Sudah berapa lama aku tidak mandi, ya? Badanku sampai bau sampah.” Lagi-lagi dia bermonolog.

“Ini, apa? Shampo? Conditioner? Ini makenya yang mana dulu? Duh, sampe lupa.”

Mecca pun memilih untuk menggunakan shampo saja, lantas dia mulai membasuh seluruh tubuh dengan air yang mengalir dari shower, setelah seluruh tubuhnya basah dia mencoba meraih shampo yang ada di rak di sudut kamar mandi tanpa menoleh. Namun, tiba-tiba saja botol shampo itu tidak dapat diraihnya. Ternyata tidak ada botol apa pun di atas rak itu. Tanpa dia sadari botol-botol tersebut sudah berpindah tempat dengan sendirinya.

Mecca menoleh dan menyadari kejanggalan itu, tetapi dia memilih untuk acuh tak acuh dan tidak mau ambil pusing. Hingga dia pun menyelesaikan ritual membersihkan diri tanpa basa-basi lagi.

Drt! Drt!

Saat Mecca keluar dari kamar mandi, terdengar getar pada ponselnya, kali ini dia mencoba mengacuhkan dan menghampiri nakas tempat menyimpan ponsel tersebut.

“Sudah kuduga, Boy," desisnya.

Tak lama kemudian, dia membawa ponselnya ke arah tempat tidur. Mecca pun menelepon balik Boy, lalu menghempaskan badannya ke kasur dengan menempelkan benda pipih itu di telinga.

Sesaat setelah panggilannya dijawab, Mecca berucap, “Hei, Boy! Kau merindukanku?”

“Hei, Bodoh! Berhentilah membuat orang khawatir, kau ini selalu begitu, setiap menulis kau melupakan segalanya!" umpat seseorang bernama Boy di seberang telepon.

“Hahaha!” Mecca tergelak, mendengar kemarahan Boy.

“Dasar gadis gila!” umpat Boy sekali lagi.

“Berhentilah, memarahiku, kamu cerewet banget, seperti nenek-nenek,” ledek Mecca.

“Sudahi saja novelmu itu, atau kau akan benar-benar gila dibuatnya!” tukas Boy di seberang sana.

“Baiklah, baiklah, aku mengerti.” Tidak ingin berdebat lagi, Mecca pun memilih mengiakan apa yang dikatakan Boy.

“Tidak, kau tidak mengerti, aku yang harus selalu ngertiin kamu.” Sekali lagi Boy meluapkan kekesalannya.

“Aish, ya udah, besok jemput aku, kita ketemu, oke!” ucap Mecca.

Setelah ucapan itu Mecca pun memilih menyudahi percakapannya, karena tidak ingin terus menerus mendengarkan umpatan Boy. Lalu, untuk mengisi kekosongan dalam otaknya dia mencoba membaca berita-berita di internet. Beberapa hari ini, Mecca memang hanya fokus pada dunianya.

Ketika dia menulis, dia akan pergi dari dunia nyata. Memilih mengurung diri di kamar dan mematikan ponsel, fokusnya benar-benar tersita. Hingga dia akan lupa merawat diri sendiri, seperti kali ini. Akan tetapi, saat dia mulai kehilangan ide, dia akan kembali menjadi manusia biasa yang hidup normal. Hanya Boy yang mengerti kebiasaannya itu.

Saat asyik membaca berita-berita faktual minggu ini, fokusnya tertarik pada sebuah judul berita yang mengabarkan kematian seorang jurnalis di desa terpencil yang ada di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Mecca membacanya dengan saksama, hingga rasa penasaran pun menghampiri.

Ketika dia sedang fokus pada layar ponselnya, tanpa dia sadari sesosok bayangan hitam mengawasinya dari sudut kamar.

Brugh!

Sejurus kemudian pintu kamar mandi terbuka dan tertutup kembali dengan sendirinya. Lagi-lagi, Mecca tak mengindahkan dan masih fokus pada layar ponselnya.

“Mereka terlalu dekat hingga kita mengabaikan. Padahal, bisa saja mereka peduli atau mungkin ingin mencelakai.”

*

Setelah beberapa saat memikirkan tentang berita tersebut, Mecca memilih untuk beristirahat. Dia mengingat janjinya untuk bertemu Boy esok hari. Tepat sesaat sebelum mata Mecca terpejam sempurna. Bayang hitam itu kembali keluar dengan menembus pintu kamar mandi dan perlahan menghampiri Mecca yang sedang terbaring.

Bayang hitam itu duduk di tepi ranjang dan menatap lekat ke arah wajah gadis manis tersebut. Dengan mata yang hendak terpejam, Mecca seolah mampu melihat sosok tersebut.

Seulas senyum terukir, lantas dia bergumam, “Micail, maafkan aku ....”

Mecca pun terlelap, sosok hitam itu pun lenyap.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku, Musuhku dan Para Pemburu
9.0
Kehidupan tenang Jamie hancur total sejak ia berumur lima belas tahun. Kini, gadis penakut itu mampu melihat makhluk-makhluk gaib yang mengerikan. Di tengah ketakutannya, ia malah diganggu oleh Josh, seorang penyihir yang selalu menaruh curiga dan terus membuntutinya. Namun, ancaman yang jauh lebih mengerikan datang saat sesosok misterius mulai memburu Josh dan mengintai setiap gerak-gerik Jamie. Takdir misterius apakah yang sebenarnya menghubungkan mereka berdua?
Sampul Novel BILIK LAIN DI RUMAH SUAMIKU
8.6
Kecurigaan langsung menyelimuti hatiku begitu menempati rumah Mas Yusuf. Suamiku menyimpan rahasia besar di balik satu kamar yang selalu terkunci rapat. Kejanggalan kian nyata saat aku melihatnya mengendap-endap setiap malam, membawa baki berisi makanan dan minuman ke ruangan misterius itu. Apa yang sebenarnya Yusuf sembunyikan dariku? Misteri di balik bilik terlarang tersebut kini mulai mengancam ketenanganku.
Sampul Novel Escaping The Madhouse
9.7
Alana, seorang gadis yang dijual oleh ibu tiri dan pacarnya ke sebuah pasar gelap yang menjual wanita-wanita muda untuk dijadikan budak seks. Beruntungnya, sebelum naik ke tempat pelelangan, Lana kabur dengan mengelabui para penjaga meskipun pada akhirnya dia tetap ketahuan. Mereka mulai mengejar Lana yang berlari dengan pakaian yang sangat terbuka dan juga bertelanjang kaki. Dia berlari dan menemukan sebuah rumah yang sangat mewah, kemudian menaiki pagarnya untuk menghindari kejaran orang-orang itu. Sayangnya, Lana tidak tahu rumah seperti apa yang dia masuki. Sekali dia masuk kedalam, dia tidak akan pernah bisa keluar lagi dari rumah itu. "Apakah ini adalah malam keberuntunganku? aku mendapatkan wanita tanpa membuang uangku. Diaz, Charlotte, bawa dia ke kamarku dan persiapkan semuanya." "Bantu aku untuk membalas dendam, sebagai bayarannya kau bisa menggunakan tubuhku sesukamu." "Lana, aku akan membantumu pergi dari tempat ini dan lepas dari cengkraman Jeffrey. Kamu tidak pantas diperlakukan sebagai alat pemuas oleh Jeffrey, malam iuni kau harus pergi setelah aku memberi tanda padamu. Jangan khawatirkan aku."
Sampul Novel Ganjaran Nafsu
7.8
Terperangkap dalam kondisi antara hidup dan mati, aku mengalami eksistensi yang mengerikan tanpa kebutuhan biologis seperti makan atau tidur. Meski kesadaranku sepenuhnya pulih, tubuhku lumpuh total di tengah kegelapan pekat yang sunyi. Tanpa interaksi, kewarasanku perlahan terkikis oleh waktu yang tidak lagi terasa. Namun, tepat ketika keputusasaan hampir merenggut segalanya, keheningan abadi itu mendadak pecah oleh suara ketukan misterius dari luar.
Sampul Novel Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku
8.1
Di hari pernikahan mereka, Bradley tega mengurung Beatrice di ruang bawah tanah yang gelap selama sepuluh hari hingga tewas membusuk. Tragisnya, Bradley justru menikahi Michelle dan memfitnah Beatrice berselingkuh, memicu serangan jantung fatal yang merenggut nyawa ibu Beatrice. Pria itu mengabaikan semua permohonan Beatrice demi membela sahabat masa kecilnya. Namun, saat Bradley akhirnya menemukan jasad Beatrice yang mengenaskan, penyesalan mendalam perlahan menyeretnya ke dalam kegilaan.
Sampul Novel PEMBALASAN DENDAM SANG PUTRI SINDEN
7.8
Tujuh belas tahun berlalu sejak kematian tragis Jernih Suminar. Sang putri, Lintang Prameswari, bertekad membalas dendam dengan mencari dalang ruwat sakti. Namun, ia terkejut saat mengetahui bahwa Ki Narendra, pria awet muda itu, adalah ayah kandungnya sendiri. Narendra tega menumbalkan jiwanya demi kekuasaan dan menelantarkan Lintang. Kini, di tengah intrik klenik dan mitos, Lintang harus menghadapi pembunuh ibunya dengan bantuan sosok misterius bernama Wage.