APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hello, My Husband

Hello, My Husband

Mahligai rumah tangga yang dibangun demi kewajiban kini retak. Sang istri memohon agar suaminya tak lagi menunjukkan perhatian semu yang kerap memicu harapan kosong. Namun, permintaan itu justru memicu perselisihan dingin di antara mereka. Keheningan mencekam pun tercipta saat sang suami pergi tanpa memberi kejelasan tentang perceraian. Meninggalkan sang istri dalam kebimbangan, ia kini bertanya-tanya apakah perpisahan ini batas akhir ataukah awal dari derita baru.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kenapa kamu kembali?" tanyaku saat derit pintu mengalun nyaring.

"Kamu, tak ingin aku kembali?" Dia bertanya balik.

"Dari setahun lalu, ini pertama kalinya kamu ke sini?" Dia pergi untuk 'berpura-pura' mengurus bisnisnya di negeri Jiran. Aku tahu betul, dia pergi hanya untuk menghindar dariku. Keterlaluan. Dia kira, hanya dia yang tak ingin kontak langsung? Aku juga sama. Melihat wajahmu saja membuatku mual.

"Ke sini? Itu ... seolah-olah aku hanya sekedar berkunjung. Aku pulang, bukan hanya mampir dan pergi lagi," katanya yang seketika membuatku memutar badan, menghadapnya.

"Kenapa?" Pria itu berdiri angkuh di ambang pintu.

Maksudnya apa dengan 'bukan hanya mampir, dan pergi lagi', pernyataannya mengandung banyak pertanyaan. Apa artinya dia bakal menetap? Tapi kenapa? Bukankah perjanjiannya dia akan kembali hanya untuk mengurus perceraian satu tahun lagi?

"Apa ... sudah saatnya kita berpisah?" Tak ada jawaban, hanya helaan napas yang disusul suara pintu ditutup rapat.

Kuremas ujung piyama yang kukenakan, apa sekarang saatnya? Benarkah tak ada harapan untuk hubungan yang sempat dipaksakan ini? Tak adakah bakal cinta untukku walau secuil?

Sebelum kita saling membenci, bukankah kita pernah saling menitipkan hati? Giandra Putra Gunawan, nama yang dahulu sering terucap saat tanganku menengadah ke langit.

Entah kenapa, hatiku sakit saat memikirkan perpisahan sudah semakin dekat. Aku sudah tak mencintainya, tapi kenapa ada rasa tak rela saat tanganku ingin dia lepaskan.

Aku beringsut, saat ponsel di atas nakas berpendar, memutarkan musik untuk membangunkan orang yang tertidur. Kuraih benda pipih berlayar sentuh di sana, waktu sudah menunjuk angka lima lebih tiga puluh menit. Gegas aku keluar kamar, memasuki kamar mandi sebelah dapur, hendak membasuh muka dan menyikat gigi.

Mataku memindai ke segala sudut rumah, pria itu tak nampak batang hidungnya. Mungkin masih di kamar sebelah, kamar yang disulap menjadi ruang kerjanya. Terserahlah aku tak ingin peduli apapun yang dia lakukan.

Kududukan diri di sofa ruang tamu, menyandarkan punggung seraya membuang napas berat. Sebenarnya, apa tujuan dia pulang? Tak ada kabar apapun sebelumnya. Mendadak, aku teringat perkataannya dahulu ....

"Kita nikah aja," seruannya membuatku membelalakkan mata.

"Kamu gila?! Kita tak pada hubungan yang mengharuskan kita untuk menikah!" Kutatap nyalang laki-laki berpakaian formal yang sedang duduk di hadapanku, dengan meja kayu berbentuk persegi sebagai pemisah.

"Kompromi. Kita menikah, tapi tidak menikah," ungkapnya membuatku membuang napas kasar dengan sudut bibir terangkat sebelah. Dia kira, menikah adalah sebuah lelucon yang bisa dipermainkan? Konyol.

"Nggak!" tolakku tegas.

"Dua tahun, hanya dua tahun. Selama itu, aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan, dan keluargamu butuhkan. Aku bisa menjamin kesejahteraan itu padamu. Hanya dengan satu syarat ...." Dia seperti negosiator handal. Ck! Keterlaluan, dia kira semuanya bisa dibeli dengan uang? Keluargaku memang sedang kesulitan ekonomi, tapi tak seharusnya dia memanfaatkan kelemahanku itu.

"Akan kubayar seluruh hutang keluargamu, bahkan kuberikan modal untuk ayahmu menjalankan bisnisnya kembali. Bukankah ini sangat menggiurkan?" Memang tak bisa diragukan lagi kemampuannya dalam berbisnis, pantas saja cabang perusahaannya yang hampir saja bangkrut di kota sebelah langsung maju pesat setelah diambil alih olehnya. Dia pandai membuat kesepakatan.

Aku mulai goyah. Lima belas miliar ialah jumlah sisa yang harus kami bayar untuk menutup hutang. Jumlah yang sangat besar untuk kami yang tak berpenghasilan tetap. Baginya, itu bukanlah perkara sulit, tapi haruskah aku menggadaikan status pernikahan untuk itu?

"Kita hanya perlu menikah, dan kamu berpura-pura menjadi istriku, itu saja. Mudah bukan? Dan tunggu sampai ayah memberikan seluruh kuasa atas perusahaannya padaku. Ya ... sekitar dua tahun." Dia menyandarkan punggungnya, tangan bersedekap, dan kaki kiri berada di atas kaki kanannya.

"Apa ... kamu masih ....," Aku sengaja menggantung kalimat.

Dia mendengus seraya memutar bola matanya. "Jangan salah paham, hanya rasa benci yang tersisa untukmu sekarang. Dan murni karena sebuah wasiat konyol peninggalan mendiang kakek." Wajah dan sorot matanya sulit ditebak saat dia berucap.

Emosi macam apa yang dirasakannya sekarang? Jujur, aku biasa saja. Gemuruh jantung tak biasa yang dulu ada saat berada didekatnya, kini sudah lama mati.

"Ah ...." Memalukan sekali aku bertanya begitu. Jika tak ada cinta dalam sandiwara ini bukankah sangat menguntungkan untukku? Aku hanya perlu menjadi istri di atas kertasnya, dan semua inginku bakal kudapatkan kembali, seperti dulu. Bukannya matre, tapi hidup itu butuh uang. Aku hanya realistis.

"Baiklah, aku ikuti permainanmu. Tapi ...."

"Nggak usah bertele-tele, cepat katakan syarat darimu." Dia masih sama seperti dulu, tidak sabaran.

"Tidak ada kontak fisik. Kita menjadi suami istri hanya di hadapan orang-orang, selain itu anggap saja kita tak pernah saling mengenal," ucapku membuatnya tertawa terbahak-bahak.

"Lihat saja dirimu ...." Manik matanya bergerak dari kepala hingga dadaku. Sontak kusilangkan tangan di depan dada. Nggak sopan. "Bagaimana mau kontak fisik, melihatmu saja aku mual, tak ada gairah sama sekali." Dia menyeringai.

Ocehannya membuatku benar-benar naik pitam. Yakin tak bergairah? Jika kamu benar-benar normal, tak perlu banyak tingkah untukku membuatmu kepanasan.

Aku tersentak saat tiba-tiba pria itu bangkit dari duduknya.

"Aku tak ingin ada perjanjian hitam di atas putih, cukup perjanjian lisan. Aku tak mau, secarik kertas hitam putih membuatku kesulitan dikemudian hari," pintanya, dan langsung mendapatkan anggukan kepala dariku.

"Oke." Ibu jari kananku terangkat.

Tubuhku mendadak membeku di tempat saat pria itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya.

"Jadilah istri penurut, maka uangku akan menjadikanmu ratu," bisiknya tepat di samping telinga, hingga aku kesulitan meneguk saliva, dia terlalu dekat.

Dua tahun, hanya dua tahun, aku pasti sanggup bertahan. Demi keluarga dan kebahagiaanku sendiri. Lepas darinya, aku akan menjadi wanita mandiri yang tak butuh sosok laki-laki.

Ting!

Suara bel berbunyi, menarikku kembali dari lamunan. Gegas aku bangkit, pesanan makanan online-ku sepertinya telah sampai. Benar saja, saat pintu terbuka seorang kurir berseragam hijau berdiri di sana. Lekas kuambil bingkisan itu saat pria paruh baya itu menyerahkannya padaku.

"Terima kasih, Pak," kataku yang langsung mendapat anggukan dan senyuman ramah darinya. Segera aku menutup pintu setelah pengantar makanannya pergi.

"Sarapan?" Aku kaget bukan main, bahkan bungkusan plastik yang kutenteng hampir saja terlempar.

"Astaga ....! Bisa nggak kalau ngomong pakai aba-aba dulu!" kesalku seraya berjalan menuju dapur. Pria yang baru saja keluar dari ruangannya itu tidak menggubris, malahan mengekoriku menuju dapur.

"Ngapain sih?" sewotku melirik tajam ke arahnya.

"Makan," katanya singkat, melirik dua bungkusan styrofoam yang baru saja kuletakkan di meja granit dekat kompor.

"Enak aja! Ini milikku! Kalau lapar, beli sendiri!"

"Itu dua loh. Buat aku satu, 'kan?" Kepercayaan dirinya benar-benar bukan main.

"Nggak! Ini bubur ayam belinya di tempat favoritku. Bahkan, beli lima bungkus sekalipun tidak akan pernah merasa cukup!" Aku melengos saat dia menatapku dengan binar-binar di matanya.

"Rakus!" Seketika aku langsung menoleh padanya dengan mata membola sempurna, beraninya dia berkata begitu pada seorang wanita? Mulutnya sungguh melukai harga diriku.

Dengan langkah lebar aku berjalan menuju lemari pendingin yang tingginya lebih sedikit daripada aku, membuka pintunya, meraih sebotol air mineral ukuran sedang. Lalu berbalik, kembali ke tempat semula.

"Ini milikku, terserahku mau diapakan. Mau dimakan semua, mau dibuang satu, ataupun dibuang semuanya, itu urusanku!" Kuraih plastik berisi dua bungkus bubur ayam, memeluknya, lalu membawanya menuju kamar.

Kita sepakat untuk tak saling mengenal, kenapa dia malah melewati batas? Menyebalkan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dibuang oleh Keluarga
9.7
Hari pernikahan Cindy Marissa berubah menjadi mimpi buruk saat Thomas Samono membatalkan upacara demi Yana Amerta yang baru kembali. Tak hanya kehilangan calon suami, kakak kandung Cindy pun tega meninggalkannya di altar dengan alasan Yana lebih membutuhkannya. Pengkhianatan mereka semakin nyata saat Yana memamerkan foto dirinya mengenakan gaun pengantin dan kalung yang seharusnya menjadi milik Cindy. Merasa hancur dan ditinggalkan sendirian oleh orang-orang terdekatnya, Cindy akhirnya memutuskan untuk menyerah dan memilih pulang kepada kedua orang tuanya.
Sampul Novel Kesalahan Semalam : Manisnya Suami Miliarder
9.0
Dikhianati tunangan dan sahabat membuat hidup Alina runtuh. Demi melunasi utang keluarganya, ia terpaksa menyerahkan kesucian kepada pria asing. Kini ia terikat pernikahan tanpa cinta dengan Nathaniel, miliarder dingin yang misterius. Di tengah ambisi balas dendam dan perjuangan harga diri, keteguhan hati Alina mulai goyah oleh perlakuan sang suami. Akankah ia tetap menuntut balas, atau justru jatuh cinta pada pria masa lalu kelam itu?
Sampul Novel Ketika Cinta Tak Mendapat Musimnya
8.7
Tujuh tahun mendampingi Navish sebagai sekretaris sekaligus kekasih rupanya tidak menjamin kebahagiaan Cassia. Pengkhianatan Navish yang bertunangan dengan wanita lain membuat Cassia hancur dan berniat mundur. Meski Navish tiba-tiba membatalkan pertunangan itu secara publik, kejutan pahit menanti Cassia di sebuah acara lelang. Alih-alih dilamar, Cassia harus menghadapi kenyataan pahit saat sosok cinta sejati Navish muncul dengan wajah yang sangat mirip dengannya. Cassia pun tersadar bahwa selama ini dirinya hanyalah pengganti.
Sampul Novel Ketika Dendam Berbicara
8.2
Demi menyembuhkan migrain bawaan istrinya setelah tiga tahun menikah, seorang suami berhasil menciptakan obat khusus. Namun, saat mengantarkan obat dan bekal ke kantor sang istri, Nadya, ia justru dituduh sebagai sopir penggoda oleh sekretaris istrinya. Di depan umum, sekretaris itu menumpahkan makanan ke kepalanya, merobek pakaiannya, dan menginjak obat berharga tersebut hingga hancur. Tanpa rasa bersalah, sekretaris itu justru dengan bangga melapor kepada Nadya bahwa dia telah berhasil mengusir sopir yang mencoba menggodanya.
Sampul Novel Mengungkap Hati: Istriku Seorang Miliarder?!
9.7
Demi membalas budi, Melanie rela menikahi Ashton. Namun, ia hanya mendapat derita, bahkan sang suami tega berniat memeras darahnya tanpa empati. Kecewa dengan kekejaman itu, Melanie pun menuntut cerai demi harga diri. Di tengah proses perpisahan, rahasia besar terbongkar; Melanie ternyata seorang miliarder, memicu kehebohan publik. Saat situasi memanas, ia baru menyadari bahwa paman Ashton, Derek, selalu melindunginya secara diam-diam.
Sampul Novel Wrong Marriage
9.3
Hidup Angel Matthew berubah total setelah menyerahkan kesuciannya kepada Erick Cullen, mahasiswa baru yang ternyata seorang vampir. Situasi kian pelik dengan kemunculan Jack Wild, sesosok werewolf yang juga mulai memburunya. Angel kini menyadari dirinya adalah Gadis Suci yang diperebutkan oleh kedua kubu. Terjebak di tengah perseteruan abadi antara klan vampir dan werewolf, ia tidak lagi memiliki jalan untuk melarikan diri dari takdir mistis ini.