APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hasrat Terlarang Janda Tujuh Kali

Hasrat Terlarang Janda Tujuh Kali

Sarboah kembali menjanda untuk ketujuh kalinya, membuat sang ayah lelah menjadi wali nikah. Di tengah kegagalan itu, ia berjuang keras meredam hasrat biologisnya yang meluap-luap. Takdir lalu mempertemukannya dengan Adrian, pria penderita impotensi yang mendambakan kesembuhan. Akibat sebuah insiden tak terduga, keduanya terpaksa menikah. Mampukah rumah tangga unik ini bertahan di tengah perbedaan kondisi fisik mereka yang begitu kontras?
Bab
Bagikan

Bab 2

Harus,  aku harus mencari pria asing itu, menanyakan apakah dia berbohong dan meminta pertanggung jawaban atas semua perkara ini. Karena dia aku bercerai  dengan Mas Dewo. 

"Kenapa kau meminta tidur dengan Mas Dewo, Ah?"

"Hah?" Aku tersentak,  Turinah menyadarkan aku dari lamunan dengan pertanyaan tidak masuk akal. 

"Aku tahu kau sangean tapi tidak gini juga kali," cerocosnya. 

"Eh, bege!" Aku usap wajahnya dengan kasar. "Siapa yang minta tidur?" 

"Lha, tadi. Dewo sampai teriak kamu minta ditiduri?" 

"Aku tidak meminta dia tidur denganku!" 

"Tapi jawaban Dewo itu seakan-akan kau tadi meminta dia menidurimu!" 

Aku hanya menghembuskan napas kasar, percuma menjelaskan, buang-buang tenaga. Biarkan saja mereka berpikir seperti itu, toh namaku sudah sangat buruk di kampung ini. Aku pun berjalan meninggalkan pesta yang mewah itu. Aku penasaran dari mana Mas Dewo mendapatkan uang untuk acara pesta, hingga aku bertanya pada Turinah. 

"Nah?" 

"Iya, apa, Ah?" 

"Kamu tau gak, Mas Dewo dari mana dapat uang untuk menyelenggarakan pesta?" 

"Aku dengar istrinya kaya dan dia juga membuat toko kelontong di kampung sebelah." 

Aku menghentikan langkah, duduk di tepi jalan dan Turinah ikut duduk. Bayangan itu kembali hadir, kupejamkan mata. Tidak kuasa aku memendam rasa sakit. Teringat kenangan bersama Mas Dewo dan mimpi kecil kita yang hanya ingin membuka toko kelontong. Mas Dewo selalu mengatakan itu setelah kita bercinta, bahkan aku sering bermanja-manja di dadanya yang berbulu. Hingga aku nekat berkencan dengan pria asing guna mewujudkan mimpi sederhana kita. Namun, jangankan terwujud aku bahkan kehilangan Mas Dewo untuk selamanya. 

    Aku mulai  meraba setiap kejadian yang terjadi tiga bulan lalu. Sangat aneh, karena pria asing itu tidak mungkin datang tiba-tiba dan mengajakku berkencan. Dan, istri baru Mas Dewo juga dari Jakarta? Apakah semua ini saling berhubungan? Banyak tanya yang bersarang di pikiran, hingga aku memutuskan untuk mencari tahu dan pergi ke Jakarta. Aku beranjak dari duduk dan meninggalkan Turinah yang sibuk berbicara dengan seseorang di seberang sana. 

 Esok pagi saat mentari baru saja datang menyapa bumi, aku sudah keluar rumah. Niatku hanya satu pamit pada bapak dan ibu.   Namun, rumah mereka masih sangat sepi. Sejak Mas Dewo menceraikanku dan dari sana ibu dan bapak sudah tidak sudi berbicara denganku. Meski rumah kita bersebelahan, mereka tak pernah keluar rumah saat aku berada di luar. Tidak bisa dibayangkan perasaan aku seperti apa dan tidak ingin pula aku membayangkan. Apalagi cemoohan orang-orang, aku mencoba abai. Hari ini memberanikan  diri mengetuk pintu rumah orang tuaku. 

"Assalamualaikum, Buk, Pak." Aku memanggil dengan mengetuk pintu tapi tak ada yang menjawab, apalagi membuka pintu. 

Merasa percuma, aku kembali ke rumah dan menuliskan sepucuk surat untuk aku berikan pada ibu dan bapak. Kukatakan pada mereka bahwa aku akan ke Jakarta dan membuktikan semua pada orang-orang kampung, bahwa aku tidak bersalah. 

Ya, aku akan mencari pria asing itu, meminta dia menjelaskan pada semua orang bahwa kencan itu atas izin Mas Dewo.  Setelah  menyimpan kertas di kolong pintu, aku kembali  ke rumah untuk mengambil koper yang sudah disiapkan dari semalam. Tanpa diduga saat aku pergi ibu memanggilku dan memberikan kertas kecil. Kubuka kertas itu dengan perlahan dan di sana tertulis sebuah alamat. Aku mendongak menatap ibuku. 

"Itu alamat rumah Hanum, Masmu. Mungkin dia bisa membantu," ucap ibu. Aku terharu, ibu masih peduli. 

"Ibu percaya pada Aah?" tanyaku dengan mata yang berkaca-kaca. 

"Buktikan jika kau memang merasa benar," ucapnya dengan berbalik dan berlalu. 

Ingin rasanya aku memeluk tubuh ibu, hanya sekedar meminta kekuatan sebelum aku pergi meninggalkan rumah. Namun aku tidak memiliki keberanian. Hanya Turinah yang menangisiku saat aku naik kereta. Bagai film India legendaris, dia memberikan selendang dari bahan sifon saat aku melambaikan tangan di depan pintu gerbang. Dia menangis dengan mengejar kereta. Terasa berlebihan tapi aku suka tingkahnya yang bodoh dan lucu. Beginilah jika berteman dengan orang yang kebanyakan nonton drama india. 

***

Kuresapi setiap tetes air hujan yang membasahi wajah, sengaja aku mendongak menatap langit gelap. Aku berjalan santai saat turun dari halte bus. Semua orang berlari menghindari hujan, tetapi aku tidak melakukan itu. Biarkan saja air hujan mengguyur tubuh yang rapuh ini. 

Namun, aku berpikir lebih jernih, tidak ingin sakit di hari pertama menginjakkan kaki di Jakarta. Aku berdiri menunggu hujan reda dengan memegang erat koper hitam berukuran sedang. Aku mulai heran dengan tatapan banyak pria yang seakan menelanjangiku, bingung sendiri. Tanpa sengaja pandanganku bersirobrok dengan seorang pria yang baru saja berdiri disampingku dengan menutup kepala dengan jaket. Dia membiarkan motornya kehujanan. 

Dia pun melakukan hal yang sama, melihat ke arahku, tepatnya di bagian dadaku, kesal karena sejak tadi dia menatap tidak berhenti hingga aku menegurnya. 

"Apa yang kau lihat!" bentakku. 

"Sepertinya besar," ucapnya asal. "Ambilah, kau tidak ingin membuat semua orang berpikir kotor dan membayangkan tubuhmu kan?" ucapnya dengan menyerahkan jaket.

"Tidak usah!" tolakku angkuh dengan membuang wajah ke satu sisi. 

Pria asing itu terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala. "Dalaman dadamu  berwarna hitam, tercetak jelas dibalik kemeja putih. Apa kau tidak malu memamerkannya?" 

Aku menundukkan kepala.  Oh, Shit! Benar yang dikatakan pria itu. Malu rasanya aku, pantas saja semua pria menatapku. Aku merampas jaket dan Kukenakan pada tubuhku. 

"Aku akan kembalikan, jika kita bertemu lagi!" 

"Percayalah.  Jika bertemu lagi, tandanya kita berjodoh!" ucapnya. 

Aku tidak menanggapi, kubuka kertas yang diberikan ibu dan melanjutkan langkah menuju tempat dimana Mas Hanum tinggal. Aku hanya memiliki sedikit uang, entah apa yang kulakukan agar bisa bertahan di kota yang besar. 

Dengan bermodalkan alamat dan bertanya pada tukang ojek yang ada di pengkolan, akhirnya aku bisa berdiri di rumah minimalis dua lantai. Entah seperti apa rupa Mas Hanum sekarang, aku tidak tahu. Terakhir kita bertemu saat aku berusia sepuluh tahun, kami tidak lagi bertemu karena dia tinggal di Bandung. Aku mengetuk pintu gerbang tapi tidak ada satupun orang yang menjawab.  Hingga aku memutuskan untuk berdiri saja di depan rumah. Jakarta tidak seramah  di kampung. Banyak yang lewat tetapi mereka abai. 

Lama aku menunggu hingga mobil sedan hitam berhenti tepat di depan rumah ini. Bunyi klakson membuat aku yang sedang duduk di depan pintu gerbang tersentak. Seorang pria turun dan menghampiriku. Sesaat aku terpesona dengan ketampanan dan wajahnya yang oriental, apalagi tubuh yang atletis di balik kemeja putih. Aku diam termangu mengagumi ketampanan pria itu. 

"Hello, Mbak, cari siapa?" 

"Ha Hanum." Aku menjawab dengan reflek. 

"Hanum itu namaku, Mbak," jawabnya. 

"Dia Mas Hanum? Ganteng, banget," batinku. 

"Mbak siapa, ya?" Dia mengangkat alisnya yang tebal. 

"Aku Sarboah, Mas. Lupa ya? Anak Pak Subroto dan Ibu Juminten." 

"Sarboah? Sarboah parawan centil?" ucapnya dengan terkekeh pelan. 

Aku merenggut, "Kenapa coba harus berkata seperti itu." 

"Haha, kau cantik dan seksi sekali sekarang." Dia mengguncang kedua bahuku. 

Aduh, duh. Aku tidak tahan dengan sentuhan pria tampan. Darahku berdesir, jantungku berdebar dan hasratku mulai datang. Ini hal yang paling aku takutkan saat bersentuhan dengan pria. 

"Ah, hey, ko melamun?" tanyanya padaku. 

Aku tersadar dari hasrat yang nyaris menyesatkan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Cinta, Ternyata Dusta!
8.3
Setelah mengorbankan kakinya demi sang suami, wanita ini hanya mendapatkan kebencian dari mertua dan pengabaian dari orang tuanya sendiri. Ia mengira suaminya tulus mencintainya, hingga menjelang ajal menjemput saat pria itu membunuhnya demi uang hasil menjual drama kesedihan mereka di internet. Kini, ia terlahir kembali tepat sebelum kecelakaan tragis itu terjadi. Alih-alih menyelamatkan sang suami seperti di kehidupan lalu, ia memilih diam dan menyaksikan segalanya dengan dingin.
Sampul Novel Dersik: Begu Ganjang Telah Kembali
9.1
Dersik kembali ke Desa Mangpusu demi menuntaskan dendam masa lalu. Meski puluhan tahun berlalu, parasnya tetap awet muda dan memikat. Sunarni, sang mantan majikan yang didera rasa bersalah, kini tak berdaya saat keluarganya dihabisi satu demi satu. Di tengah teror Begu Ganjang yang mencekam, seorang dukun sakti bernama Surya curiga bahwa Dersik adalah mantan kekasihnya. Rumitnya, putra Sunarni malah jatuh hati pada sosok misterius yang berniat menghancurkan mereka.
Sampul Novel Edoraded Distance
9.0
Pernikahan formal antara Kevin dan Sekar terasa begitu dingin dan hampa tanpa kehangatan nyata. Walau hubungan ini hanya sebatas status di atas kertas, Kevin yang sudah lama memendam rasa cinta pada Sekar enggan menyerah. Di tengah bayang-bayang keluarga Son dan Atmaja, ia berjuang keras meruntuhkan dinding pemisah di antara mereka. Kevin bertekad meyakinkan Sekar bahwa ikatan mereka adalah awal kebahagiaan sejati, bukan sekadar kontrak tanpa perasaan.
Sampul Novel Istri Kedua Tuan Gio
8.5
Demi kesembuhan ibu dan buah hatinya, Liana terpaksa meminta bantuan dana kepada Rafael. Pria berpengaruh tersebut bersedia membiayai seluruh pengobatan mereka, namun dengan satu syarat mutlak: Liana wajib menjadi istri keduanya. Terdesak keadaan yang begitu sulit, ia pun terpaksa menerima tawaran pernikahan tak terduga ini. Akankah keputusan besar tersebut membawa Liana pada kebahagiaan sejati, atau justru menenggelamkannya dalam penderitaan yang jauh lebih perih?
Sampul Novel LOVE BETWEEN TWO BELIEFS
9.3
Kehancuran melanda Stenly Sebastian Miller setelah Kimberly mengakhiri cinta dua tahun mereka karena rumor kebangkrutan. Bertekad pulih, ia berjanji menemukan sosok yang lebih baik. Saat terluka, Stenly menyelamatkan Seruni dari kejaran Dante yang obsesif. Walau terluka parah demi melindunginya, kejadian itu menumbuhkan rasa tertarik di hati Stenly. Kini, ia dihadapkan pada pilihan: terjebak bayang masa lalu atau meraih bahagia baru bersama Seruni.
Sampul Novel MENGEJAR CINTA GADIS BERCADAR
9.3
Sekembalinya dari Arab Saudi, Dhafa Akmarul Dzauri siap memimpin bisnis travel sang ayah. Namun, ambisinya terusik oleh kehadiran Salma Azzahra, mantan teman SMA yang dulu sering merundungnya sampai menangis. Walau kini Salma telah berhijrah dan mengenakan cadar, luka lama Dhafa belum juga sembuh. Didorong rasa sakit masa lalu, ia berniat melancarkan aksi balas dendam kepada gadis yang pernah menjadi mimpi buruknya itu. Akankah kebencian mendalam ini perlahan terkikis menjadi cinta?