APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hasrat Liar Istri Salihah

Hasrat Liar Istri Salihah

Lima tahun menikah, seorang istri salihah rupanya menyimpan rahasia besar. Di balik status pernikahan yang sudah berjalan lama, ia ternyata masih mempertahankan kesucian dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan intim mereka? Kisah romansa dewasa ini mengupas tuntas gejolak hasrat yang terpendam, serta alasan mengejutkan di balik dinginnya hubungan suami istri yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.
Bab
Bagikan

Bab 2

Shakila sedang duduk santai di ruang tengah seraya menonton televisi, dia langsung menoleh ketika mendengar suara denting khas dari pintu depan yang terbuka, disusul bunyi langkah yang berat. Samar, tapi masih bisa dia dengar. Sontak, perempuan itu mengangkat alis.

“Mas Justin?” Shakila memanggil, tapi sama sekali tak ada jawaban.

Perempuan itu berdecak, berniat beranjak untuk mengambil ponselnya yang berada di meja. Namun, belum sampai Shakila memainkan ponselnya, Justin tiba-tiba saja masuk ke ruang tengah dengan ekspresi yang bisa Shakila tebak; bermasalah.

Kali ini masalah apa lagi yang sedang dialami oleh pria itu?

Justin berdiri di sana, terlihat lelah, juga agak marah. Shakila batal untuk memainkan ponselnya, dia lanjut duduk seraya meluruskan kakinya di bawah meja dan menatap Justin dengan tatapan bertanya.

“Udah pulang?”

“Jelas, kan aku udah di rumah.”

Shakila tertawa menanggapi jawaban ketus itu, dia meraih gelas berisi jus buah. Justin mendekat, lantas duduk begitu saja di samping Shakila. Perempuan itu tidak protes meskipun bau yang tercium dari badan suaminya terasa berbeda dari pertama kali Justin ke luar.

“Kayaknya kamu capek banget, kenapa gak langsung mandi aja? Berendam di bathtub gitu. Biar rileks,” kata Shakila seraya mencomot brownies yang terhidang di depannya.

“Jangan banyak tanya, aku capek.” Justin memejamkan mata. Punggungnya menempel pada sandaran sofa. “Kalau kamu nyuruh aku mandi sekarang, siapkan air panas untukku.”

“Gak sekalian minta mandiin?” tanya Shakila sarkastik.

Justin tidak banyak tanya, dia membiarkannya. Tidak protes ataupun melarang. Mereka telah menyandang status sebagai suami-istri selama hampir empat tahun, jadi melihat satu sama lain telanjang bukan sesuatu yang baru.

^*^

“Kalau marah sama pacar kamu, jangan dilampiasin ke aku.”

Shakila memainkan gelas berisi jus buah di tangannya. Dia melirik sang suami lewat sudut mata. Justin tampak mengembuskan napas panjang, kemudian meraih gelas dari tangan Shakila. Dia menyesap isinya.

“Ini jus dari buah-buahan yang kubeli waktu itu?”

“Yang mana lagi?”

“Suka nggak?”

Shakila mengernyitkan dahi. Sejak kapan apa yang Shakila suka atau tidak suka jadi penting untuk Justin? Shakila tidak mengerti, dia pikir suaminya tidak akan pulang malam ini seperti malam-malam sebelumnya.

Justin melepas jas hitam miliknya. Seluruh tubuhnya pegal seharian ini, ditambah harus menjemput Nabila yang notabenenya adalah kekasih Justin. Lalu Shakila? Dia istri sah, tapi keduanya sama sekali tak saling menginginkan.

Mereka menikah karena perjodohan semata. Meskipun begitu, mereka sepakat untuk tidak bercerai, saling membebaskan satu sama lain. Sejauh ini, hanya Justin yang membagi hatinya dengan wanita lain,

Shakila? Tentu saja tidak.

“Kenapa menatapku begitu? Kamu jangan ikut-ikutan rese. Aku lagi gak minat buat ribut sama kamu. Hari ini aku bener-bener capek.”

Bukan hal baru kalau Justin dan Shakila bertengkar.

Empat tahun hidup bersama, hanya pertengkaran dan amarah yang mendominasi rumah tersebut. Tak ada cinta dan kebahagiaan, tapi anehnya, Shakila masih tetap bertahan.

Justin sempat berpikir kalau Shakila bertahan dengannya karena menginginkan harta semata. Padahal tanpa menikahi Justin pun, Shakila sudah kaya raya sejak lahir.

“Benar, pernikahan itu butuh ilmu. Ilmu untuk memahami, ilmu untuk mengelola ego, ilmu untuk tidak banyak menuntut, tapi bagaimana jika dia yang kamu nikahi enggan untuk berjalan bersamamu?”

“Kenapa lagi? Kamu berantem sama dia? Bukankah ini bukan pertama kalinya? Kalau dia ngajak kamu berantem mendadak pasti ada sebabnya.”

“Dia nyuruh aku ketemu orang tuanya. Kamu sendiri juga tahu, Sha. Posisiku sekarang gimana, aku cuma belum bisa ngebuktiin aja. Terus kayaknya dia kecewa.”

Shakila menganggukkan kepala, seolah mengerti ke mana arah pembicaraan pria itu. Justin dan Shakila tidak terlihat seperti suami istri, tapi teman yang menumpang hidup.

“Dia bilang, kalau aku gak mau datengin orang tuanya, berarti aku gak peduli sama hubungan ini. Apakah aku peduli atau nggak sama perasaan dia. Coba kamu pikir, ya, kalau aku nggak peduli sama dia, aku nggak akan bertahan satu tahun ini sama dia?”

Justin bercerita tanpa merasa bersalah ataupun risih. Shakila pun sudah begitu terbiasa mendengar suaminya membahas hubungannya dengan wanita lain.

“Kalau aku jadi dia, sih, sudah dari lama aku buang kamu,” kata Shakila cepat.

“Shakila!”

“Aku mau nyiapin air buat kamu mandi dulu.” Shakila mengotong ucapan Justin seraya bangun sofa yang sejak tadi dia tempati. Padahal kalau bisa memilih, lebih baik Shakila bersantai saja ketimbang melayani Justin.

Dia santai saja melangkah menuju kamar mandi, di sana dia menghidupkan kran air panas dan menampungnya pada bathtub. Hanya sekejap, tidak sampai dua menit, bathtub tersebut sudah terisi oleh air hangat. Tidak lupa Shakila menambahkan busa khusus dan menyalakan lilin aromaterapi.

“Maksud kata-kata kamu tadi apa?” Justin akhirnya bertanya, pria itu membuntuti istrinya ke kamar mandi.

“Menurutmu apa?”

Justin tak tahan lagi. Setiap kali berdebat dengan Shakila, wanita itu akan dengan cepat membalikkan ucapannya. Dia sama sekali tak merasa bersalah sudah menyinggung perasaan Justin.

“Menurutku, wajar kalau dia ngerasa kamu nggak peduli sama perasaannya.” Shakila meraih handuk di gantungan khusus dan menyodorkannya pada Justin. “Kalau kamu peduli sama perasaannya, kamu nggak akan menempatkan dia dalam posisinya yang sekarang.”

Justin tidak menjawab pun tidak menerima uluran handuk Shakila, akhirnya Shakila melipat tangan di dada, memandang dengan sorot mata menusuk.

“Tumben nggak jawab. Baru sadar kalau kata-kataku benar?” Shakila mulai menyudutkan Justin. “Kamu ngerti nggak, posisinya yang sekarang yang kumaksud tuh apa?”

“Kurasa aku nggak mau ngomongin ini lebih jauh sama kamu.”

“Posisi yang kumaksud ya itu, jadi orang ketiga dalam pernikahan orang lain. Kalau mau diibaratin pake kasta, buat sebagian besar perempuan, dia ada di kasta terendah, kasta paling hina. Sebab mana ada perempuan baik-baik yang pacaran sama suami orang?”

Emosi Justin jelas tersulut saat Shakila dengan lantang mengatai kekasihnya sebagai orang paling hina. Pria itu jelas tidak terima jika ada orang yang menghina kekasihnya, sekalipun itu istrinya sendiri.

“Kamu jelas tau gimana situasinya buat kita. Semuanya rumit. Makanya kita sepakat soal ini kan? Aku bebas mau jalan sama siapa pun sesukaku, dan kamu juga bebas mau jalan sama siapa pun sesukamu. Selama ini nggak pernah ada masalah. Kenapa sekarang tiba-tiba kamu ikut marah sama aku?” Justin menaikkan oktaf.

“Dulu memang aku percaya sama kata-kata kamu itu, tapi sekarang, kayaknya tidak lagi masuk akal.”

Shakila berdecih, menatap suaminya dengan tatapan tajam. Mansion ini mulai terasa bagai neraka. Sang Nyonya tak lagi merasa betah tinggal di dalam bangunan yang hampir menyerupai penjara, tempat di mana ia mesti menahan diri dan berpura-pura terlihat baik dalam kondisi hati yang berantakan.

Mahira Shakila, nyonya sekaligus istri Justin yang menjadi satu-satunya ratu di mansion itu nyaris ingin melarikan diri. Empat tahun usia pernikahannya sama sekali tidak meninggalkan kesan yang baik. Dia harus menghadapi suatu kerumitan yang mau tidak mau harus dilewati sendirian.

Shakila dan Justin memang sepakat untuk tidak melibatkan perasaan apa pun. Jangankan memiliki anak, berpelukan saja mereka tak pernah. Justin begitu menjaga jarak darinya, tidak seperti Nabila yang bebas memeluk pria itu kapan saja.

Sebagai seorang istri, sebenarnya Shakila bisa saja membeberkan fakta busuk yang selama ini Justin lakukan di belakangnya. Namun saat ini, wanita itu memilih untuk diam sejenak sambil menikmati permainan.

“Kamu masih sepengecut itu, karenanya kamu nggak punya cukup kebeNabilan buat memperjuangkan orang yang kamu sayang, nggak punya cukup kebeNabilan untuk nemuin orang tuaku dan orang tuamu, terus bilang kalau selama ini kita nggak pernah hidup dalam rumah tangga yang normal, dan karenanya aku ngerasa lebih baik kalau kita pisah aja.”

Justin meminta Shakila untuk berhenti mempermasalahkan hal ini, sampai kapan pun Justin tidak akan pernah menceraikan Shakila. Dia juga yakin bahwa wanita itu tidak akan berani mengatakan keretakan rumah tangga mereka pada orang tuanya, tapi Mahira Shakila, tidak semudah itu mengalah untuk sesuatu yang menurutnya tidak adil.

Melihat keterdiaman Justin. Akhirnya Shakila menghela napas. “Oke, kamu gak mau pisah sama aku, berarti selama ini kamu mulai jatuh cinta padaku. Makanya kamu tidak bisa memaksa dirimu untuk melepaskanku.”

Shakila menatap Justin dengan tatapan mengintimidasi. Empat tahun jelas bukan waktu yang sebentar bagi keduanya membangun rumah tangga. Setidaknya Shakila berharap ada setitik rasa di hati Justin, meskipun hanya sedikit saja.

Spontan, Justin langsung terbungkam. Shakila mendekat, kali ini tubuh mereka saling berhadapan.

“Jadi yang mana kemungkinan yang benar, Mas Justin?”

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Lain Hanyalah Tamu
8.7
Tujuh kali menikah dan diceraikan oleh pria yang sama demi wanita lain membuat perasaan wanita ini mati rasa. Dari mencoba mengakhiri hidup hingga belajar pergi tanpa suara, ia telah melewati semua kepedihan. Kini, saat kekasih lama suaminya kembali, ia memilih menyodorkan surat cerai atas inisiatif sendiri. Sang suami mengira ini hanyalah bagian dari siklus pernikahan kembali yang biasa mereka lakukan, tanpa menyadari bahwa kali ini istrinya benar-benar pergi selamanya.
Sampul Novel Anak Rahasia Sang Presdir
8.2
Kehidupan Ariana hancur akibat pengkhianatan ibu tirinya, memaksanya menjadi ibu pengganti bagi miliarder berhati dingin. Usai melahirkan, sang presdir dengan kejam merebut bayinya agar tidak perlu terikat pernikahan. Namun, seiring berjalannya waktu, kebekuan hati pria itu mulai mencair. Di tengah kepedihan dan perpisahan paksa tersebut, benih cinta tak terduga perlahan tumbuh di antara mereka, perlahan mengubah dendam menjadi kehangatan.
Sampul Novel Brondong Bucin
8.3
Kehilangan suami membuat dunia Aira hancur. Sebagai ibu tunggal, ia sempat tenggelam dalam kesedihan hingga mengabaikan ketiga anaknya. Sadar harus bertahan hidup, Aira berjuang bangkit demi masa depan buah hatinya. Di tengah badai kehidupan tersebut, takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda yang mencintainya dengan sangat ugal-ugalan. Namun, sanggupkah hubungan mereka bertahan ketika rintangan baru kembali datang menguji keteguhan hati Aira?
Sampul Novel Hidden Baby Girl
9.1
Ketika David memintanya menggugurkan kandungan, Laras memilih pergi demi melindungi sang calon bayi. Namun, pelariannya tak pernah tenang karena terus dibayangi masa lalu. Setelah bertahun-tahun berlalu, takdir justru mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang jauh berbeda. Kini, di tengah sisa-sisa perasaan cinta yang masih terpendam, akankah mereka memilih bersatu demi buah hati mereka, atau justru tetap melangkah di jalan masing-masing?
Sampul Novel Kakak Iparku, Pengagum Rahasiaku
8.1
Niat seorang istri memberi kejutan intim untuk suaminya di asrama proyek konstruksi berubah menjadi situasi menegangkan. Setelah melepas pakaian dan bersembunyi di lemari, bukan suaminya yang datang, melainkan tiga rekan kerjanya. Ketiga pria itu justru terangsang oleh pakaian dalam yang tertinggal dan melampiaskannya pada bibi koki di sana. Menyaksikan adegan panas tersebut, sang istri ikut terangsang hingga tanpa sadar mendesah. Seketika, pandangan ketiga pria itu langsung tertuju ke arah lemarinya.
Sampul Novel Kau Tak Menyadari Disaat Aku Pergi
9.6
Adrian sangat dimanja oleh Bianca, istrinya yang penyayang. Namun, kehangatan itu sirna seketika saat sebuah pesan misterius mengungkap perselingkuhan Adrian. Bukannya meluapkan kemarahan, Bianca justru membalasnya lewat sikap diam yang sangat dingin tanpa aba-aba. Sikap ini membuat Adrian terjebak dalam kebingungan besar. Ia pun lambat laun menyadari bahwa tersiksa akibat kehilangan cinta secara perlahan jauh lebih menyakitkan.