APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hasrat Dendam Suamiku

Hasrat Dendam Suamiku

Briella Moretti dianggap beruntung karena menikah dengan pewaris keluarga terpandang, Adrian Maven. Namun di balik pernikahan mewah ini, Adrian hanya ingin membalas dendam dan menghancurkan hidup Briella. Ia berniat menyiksa batin istrinya perlahan. Tak disangka, ketulusan Briella justru mulai menyentuh hatinya. Adrian kini terjebak dalam dilema besar antara mempertahankan ego dendamnya atau menerima cinta yang mulai tumbuh.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Kau cantik sekali, Briella,” puji Signore Giuseppe, paman Briella sambil mengulurkan lengannya, siap menuntun sang keponakan menuju altar.

“Terima kasih, Paman.”

Signore Giuseppe tersenyum haru. “Siapa sangka kau akan seberuntung ini. Saat keluargamu bangkrut dan ayahmu masuk rumah sakit jiwa, Paman sedih sekali harus membawamu ke Alba untuk tinggal bersama kami, membantu kami mengurus kebun anggur. Kau yang biasa hidup mewah, tiba-tiba harus menjadi anak petani biasa.”

“Jangan bilang begitu, Paman. Aku sangat bersyukur karena kau mau menampungku saat semua yang kami kenal bahkan tidak sudi mengangkat teleponku setelah ayah bangkrut.”

“Kau tau, Briella … saat mendengar pria dari keluarga Maven melamarmu dan akan membawamu kembali ke Milan, Paman sangat senang sampai rasanya akan terbang.” Signore Giuseppe antusias menceritakan kegembiraannya.

Briella mengangguk, dia ikut bahagia jika pamannya bahagia. Tidak peduli dengan siapa dia akan menikah hari ini, yang penting Briella tidak lagi menjadi beban bagi sang paman, itu sudah cukup untuknya. “Aku juga bahagia, Paman.”

“Lihatlah, pengantin priamu, ternyata dia sangat tampan dan menawan. Kau benar-benar beruntung, Briella.”

Briella menatap lurus ke arah Signore Giuseppe mengangkat jari telunjuknya. Ada Adrian Maven berdiri dengan setelan jas putihnya, dia benar-benar jauh dari bayangan Briella. Sebenarnya kebaikan apa yang aku lakukan di kehidupan sebelumnya, kenapa tiba-tiba ada pria sesempurna ini melamar gadis menyedihkan sepertiku? Batinnya bertanya-tanya.

Pemandu acara mempersilakan Briella Moretti untuk masuk dan melangkah ke altar. Gadis itu melintasi lorong menuju altar dengan anggun, ditemani sang paman, Signore Giuseppe, yang memandanginya dengan penuh kebanggaan. Gaun putih Briella mengalir indah di belakangnya, menambah kesan menawan pada langkahnya yang ringan. Mata semua tamu terpesona pada kecantikan Briella yang alami, dan senyumnya yang hangat menyebar di sepanjang lorong gereja.

Adrian Maven, menunggu dengan wajah dingin di depan altar. Dia memandang Briella dengan tatapan penuh kebencian dan dendam. Wajahnya yang tampan terpancar dalam cahaya lembut lilin, dan seragam putih menambah kesan elegan.

Briella merasakan detak jantungnya berdebar kencang di dada saat dia mendekati altar, langkahnya seakan-akan diiringi oleh irama kebahagiaan. Dia melirik Adrian, dengan mata bersinar penuh harapan tapi tatapan Briella justru dibalas keangkuhan, Adrian membuang muka setelah sepersekian detik kontak mata dengan calon istrinya.

Signore Giuseppe menggenggam lengan Briella dengan lembut saat mereka mendekati altar. Dia memberikan senyuman penghiburan, memberikan dukungan yang tak terucapkan pada keponakannya.

Pastor meminta Briella dan Adrian bersiap-siap untuk mengikat janji suci cinta dan kesetiaan di hadapan Tuhan dan orang-orang yang mereka cintai. pastor mengenakan jubah putih yang bersinar di bawah cahaya lilin menginstruksikan pada Briella dan Adrian untuk saling berpegangan tangan, dan mengunci mata satu sama lain. Buku ibadah dibuka, pastor memulai upacara dengan doa pembuka, memohon kepada Tuhan untuk memberkati pernikahan mereka.

Setelah doa, pastor memulai pembacaan ayat-ayat Alkitab yang dipilih dengan hati-hati, menggarisbawahi makna cinta dan kesetiaan dalam pernikahan. Bunyi ayat-ayat tersebut memenuhi gereja dengan kedamaian dan harapan, menggugah hati para tamu yang hadir. Kemudian, giliran bagi Briella dan Adrian untuk menyampaikan sumpah pernikahan mereka. Dengan suara yang tegas namun penuh emosi, Adrian berjanji untuk saling mencintai, menghormati, dan mendukung satu sama lain dalam segala keadaan, baik di suka maupun duka, hingga ajal memisahkan. Briella pun mengungkapkan janji yang sama.

Pastor kemudian mengambil cincin pernikahan, lambang janji yang tak terputus, dan meminta Briella dan Adrian untuk saling menukarnya sebagai tanda cinta dan kesetiaan mereka yang abadi. Suara riuh rendah terdengar saat cincin itu dipasangkan di jari mereka masing-masing.

Setelah tanda salib yang khusyuk dan doa penutup, pastor mengumumkan dengan suara tegas, “Saya dengan senang hati mengumumkan kepada Anda semua bahwa Briella dan Adrian telah resmi menjadi suami istri menurut hukum dan agama. Apa yang Tuhan telah dipersatukan, tidak ada yang boleh pisahkan. Pengantin wanita dan pengantin pria boleh berciuman sebagai tanda kasih dari Tuhan!”

Dengan senyum terpaksa dan tatapan jijik, Adrian menempelkan bibirnya ke bibir Briella. Ciuman hambar itu membuat Briella menjadi lebih yakin, kalau ada yang tidak beres dengan sang suami.

Setelah prosesi sakral yang hanya dihadiri orang terdekat dari keluarga Briella dan keluarga Adrian, pelayan keluarga Maven mengantar Briella ke kamar paling mewah di masion milik Adrian.

“Silakan masuk, Nyonya.”

“I-ini, apakah ini kamar—”

“Ya, ini kamar Tuan Maven, yang juga kamar Anda mulai saat ini,” jelas pelayan sambil membukakan pintu dan membawa Briella ke meja rias.

“Tunggu, apa kau tahu di mana suamiku?”

“Tuan Maven masih ada tamu, beliau akan langsung ke sini begitu para tamu itu pergi. Sementara menunggu, sebaiknya Anda berendam. Saya sudah menyiapkan air seribu bunga agar tubuh Anda semerbak mewangi di malam pertama.” Pelayan bernama Aster itu juga mengeluarkan baju tidur seksi berbahan lace dan sutra dengan beberapa renda dari dalam laci. “Setelah mandi, silakan mengenakan ini. Tuan berpesan agar Anda tidak tidur sebelum Tuan kembali.”

Briella memang putri bangsawan yang segala keinginannya selalu dituruti, tapi ibunya selalu mendidik dengan cara konservatif, sehingga dia tumbuh menjadi gadis yang polos. “Baju ini terlalu terbuka, aku tidak bisa mengenakannya, aku malu. Bisakah kau memberiku baju lain yang lebih—”

“Itu permintaan Tuan Maven, saya hanya menjalankan tugas. Kalau begitu saya permisi, selamat tinggal, Nyonya.” Aster pergi tanpa memberi kesempatan pada Briella untuk bertanya lebih jauh.

Briella berendam di air hangat yang sudah dicampur essence dan kelopak seribu bunga, kekalutan dalam kepalanya yang tadi sempat mengganggu, langsung lenyap berganti rasa rileks. “Sudah lama sekali aku tidak berendam, ini benar-benar menyenangkan.”

Cukup lama berendam, Briella membilas diri dan berganti pakaian dengan gaun tidur merah minim bahan yang tadi Aster tunjukkan. “Oh astaga, ini terbuka sekali.” Briella menutup dada dan area kewanitaannya dengan kedua tangan ketika bercermin. “Pakai baju ini sama dengan telanjang. Apakah Adrian benar-benar ingin aku mengenakan ini? Apa karena ini malam pertama kami?”

Briella terus ragu dan bertanya-tanya. Dia duduk cemas di kursi depan meja rias, lalu berpindah ke sofa, dan berpindah ke ranjang. Adrian tak kunjung tiba, sampai malam meninggi. Briella merasa kedinginan. “Sepertinya, Adrian tidak akan datang.” Dia mulai gelisah.

Mencoba mencari kopernya, Briella akhirnya menemukan setelan piyama putih miliknya di dalam koper. Dengan takut-takut Briella menganti gaun tidur merah tadi dengan piyama. Tepat pukul 1.30 dini hari, Adrian datang dan mendapati Briella tertidur di sofa mengenakan piyama kumuhnya.

“Kau sangat tidak sopan, beraninya kau tidur duluan di malam pertama kita?” teguran Adrian membuat Briella seketika terbangun dan merasa bersalah.

“Ka-kau sudah kembali? Maafkan aku … aku benar-benar tidak bermaksud tidur duluan.”

“Yah, kau hanya kelelahan jadi tidak sengaja tertidur? Apa kau pikir aku akan menerima alasan seperti itu, Tuan Putri Moretti?”

Briella menggosokkan kedua tangan di depan dada, memohon pada Adrian. “Maaf, aku sungguh minta maaf. Dan … sekarang aku istrimu, aku bukan lagi Briella Moretti, tapi Briella Maven setelah tadi kita mengucapkan janji suci dan—”

“Hentikan omong kosongmu. Apa Aster tidak memberitahukan pesanku padamu? Biar aku segera memecat dia!”

Briella berlari menghadang Adrian yang berjalan ke arah pintu. “Jangan, tolong jangan pecat dia. Aster sudah menyampaikan pesanmu, dia sudah memberitahuku bahwa aku tidak boleh tidur sebelum kau datang.”

Mata Adrian menelusur dari ujung kaki sampai ujung rambut Briella. “Bagaimana dengan lingerie-nya?”

“Li-ligerie?” Briella membelalakan mata. “Ma-maksudmu gaun tidur merah itu?”

“Ya, kenapa kau tak memakainya?”

Briella gugup, otaknya mendadak kosong tak bisa menemukan alasan yang bagus untuk diucapkan.

“Kenapa diam saja? Kau bisu?”

“Ta-tadi aku sudah memakainya.”

“Lalu?” Adrian maju dua langkah untuk mengintimidasi.

Briella semakin gugup, secara reflek kakinya mundur selangkah. “Kau cukup lama tidak datang, dan aku kedinginan jadi … maafkan aku, aku akan memakainya lagi.”

“Tidak perlu, aku sudah tak menginginkannya.” Adrian menguliti Briella dengan tatapannya. “Sebagai gantinya, lepas semua pakaianmu.”

“Ma-maksudmu?” Briella langsung tergagap.

“Buka pakaianmu. Pamerkan tubuhmu di hadapanku, agar aku tertarik menidurimu.”

“Ta-tapi….” Briella tak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia sangat bingung dengan permintaan suaminya.

Adrian yang mulai kehilangan kesabaran akhirnya membentak Briella. “Kenapa kau hanya diam saja? Cepat lakukan!”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Rahasia Sang Kepala Mafia
8.8
Lima tahun mengabdi sebagai istri tak dianggap bagi pewaris dinasti mafia Dario Mahardika, wanita ini akhirnya memilih pergi. Meninggalkan mimpi senimannya demi pria yang selalu mengutamakan Arisa, ia melangkah pergi membawa surat cerai bertandatangan dan janin berusia tiga bulan. Kini, setelah sang mantan suami menyadari kehilangan besar ini dan mengerahkan seluruh kekuasaannya untuk mencari keberadaannya, ia telah bertransformasi menjadi ibu sekaligus pejuang tangguh yang tidak akan mudah menyerahkan kembali kehidupannya yang sempat hancur.
Sampul Novel Bunga Gugur, Rindu Pun Usai
8.8
Setelah 999 kali gagal menggoda Nathan yang tampak dingin, kebenaran pahit akhirnya terungkap. Di sebuah hotel mewah, sang protagonis menyaksikan tunangannya itu berciuman mesra dengan teman masa kecilnya. Sadar cintanya bertepuk sebelah tangan, ia membatalkan pernikahan dan memutuskan untuk menikahi Darius dari Keluarga Russell. Meski sang ayah memperingatkan bahwa kecelakaan masa lalu membuat Darius lumpuh dan menjadikannya janda hidup, keputusan bulat telah diambil demi meninggalkan masa lalu.
Sampul Novel Gairah Ranjang CEO Kejam
9.2
Alice Morrigan terpaksa menggantikan sang kakak kembar, Berenice, yang kabur di hari pernikahannya dengan Nicholas Chevalier. Menjadi istri pengganti, Alice justru diperlakukan kejam layaknya budak. Ia kerap menerima siksaan fisik dan cambukan menyakitkan dari sang suami saat di ranjang. Kebebasan serta raga Alice dikungkung habis-habisan oleh Nicholas yang posesif. Di tengah penderitaan tiada akhir ini, sanggupkah Alice bertahan, atau ia akan berhasil meloloskan diri?
Sampul Novel Harga Simpanan Sembilan Belas Tahunnya
9.7
Lima tahun pernikahan membuatku percaya Christoper Wijaya telah berubah. Nyatanya, saat ayahku sekarat membutuhkan donor sumsum tulang, dia malah sibuk menemani selingkuhannya, Iris, hingga ayahku berpulang. Demi melindungi perempuan itu, Christoper tega menumbalkanku dalam berbagai situasi berbahaya dan merampas warisanku. Begitu aku memutuskan pergi dan menuntut cerai, dia yang tidak tahu kematian ayahku malah mengirim pesan soal donor. Pengkhianatan ini telah dimaafkan.
Sampul Novel Jaring Kebohongan Suami Miliarderku
9.6
Menjadi istri Kian, miliarder teknologi, aku selalu menjadi penenang baginya. Namun, ia tega mengalihkan dana medis adikku demi kucing selingkuhannya. Saat kecelakaan merenggut nyawa adikku, Kian mengabaikan lukaku demi wanita itu. Saat ingin bercerai, aku baru tahu pernikahan kami palsu. Demi membalas dendam dan menghancurkan Kian, aku menghubungi pria dari masa laluku.
Sampul Novel Kontrak Cinta - Love Contract
7.8
Demi melunasi utang keluarga dan biaya medis ayahnya, Mahesa rela menunda kelulusan kuliah dan bekerja di kelab malam. Di tempat kerja, ia bertemu seorang wanita mabuk yang tengah patah hati. Secara mengejutkan, wanita itu menawari Mahesa pernikahan kontrak dengan imbalan finansial yang besar. Terdesak kebutuhan, Mahesa akhirnya menerima kesepakatan tersebut. Kini, lembaran baru kehidupan pernikahan penuh kepura-puraan di antara mereka resmi dimulai.