APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hasrat Dendam Suamiku

Hasrat Dendam Suamiku

Briella Moretti dianggap beruntung karena menikah dengan pewaris keluarga terpandang, Adrian Maven. Namun di balik pernikahan mewah ini, Adrian hanya ingin membalas dendam dan menghancurkan hidup Briella. Ia berniat menyiksa batin istrinya perlahan. Tak disangka, ketulusan Briella justru mulai menyentuh hatinya. Adrian kini terjebak dalam dilema besar antara mempertahankan ego dendamnya atau menerima cinta yang mulai tumbuh.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Kau paham bahasa manusia, ‘kan?” Adrian memandang Briella sambil berpikir. Tatapan seriusnya selalu membuat Briella tidak mampu bereaksi. “Cepat lakukan perintah suamimu, Briella.”

“Kita memang suami istri, tapi aku … aku belum terbiasa telanjang di depan seseorang.”

Adrian seakan memaku Briella dengan tatapannya selagi dia berpikir sambil membisu dengan wajah datar. “Maka biasakanlah mulai sekarang.”

“Di-di sini?”

Adrian mengangguk dingin. “Lepaskan sekarang. Di sini!”

Tak berdaya, Briella akhirnya mengikuti kemauan Adrian. Dia membuka satu demi satu kancing piyamanya. Sekeras mungkin berusaha menyembunyikan kegugupan. Lanjut menurunkan celana piyama. Briella tidak tahu mengapa dia belum merosot ke lantai, lututnya terasa sangat lemas saat ini. Terlebih mata Adrian merayapi wajahnya.

Briella melihat Adrian tersenyum cukup lebar sampai lesung pipitnya muncul. Cepat-cepat Briella menurunkan pandangan, berharap Adrian berubah pikiran dan memintanya berhenti. Sayang sekali, harapan Briella tidak terealisasi, Adrian justru minta Briella melucuti pakaian secepat mungkin.

“Tidak bisakah kau lebih cepat?!”

Briella hampir terkena serangan asma padahal dia tidak mengidap asma karena bentakan Adrian. Pria yang dia anggap penolong karena menikahinya saat keluarganya bangkrut, ternyata memperlakukannya dengan sangat buruk. Meskipun Adrian suaminya, tetap saja, harga dirinya seakan tak dihargai sama sekali.

“Mengecewakan,” kata Adrian sambil berdiri kemudian maju sedikit lagi. “Badanmu tidak sebagus yang kubayangkan. Kupikir putri tunggal Rudolf Moretti yang dijaga seperti berlian mahal akan memiliki tubuh menakjubkan. Ternyata ekspektasiku terlalu tinggi.” Adrian jelas berbohong, tubuh Briella sangat indah. Kulit putihnya semulus porselen, ditambah kaki jenjang, perut rata, paha ramping, bokong membulat, serta sepasang bukit kembar sintal yang tidak besar tapi tidak terlalu kecil.

Sialan, dia benar-benar tipeku. Batin Adrian yang tak bisa terucapkan.

Rambut merah Briella kontras dengan kulit putihnya, rambut itu bagai gelombang yang kemilaunya membuat siapa pun ingin membelai.

“Maaf mengecewakanmu,” ucap Briella lemah dengan kepala tetap merunduk.

Adrian sulit menelan salivanya. Kerongkongannya terasa menyempit terdesak buncah hasrat yang tiba-tiba menyambar. Dia sedang menghukum Briella, tetapi seperti sedang menghukum dirinya sendiri. Menyaksikan Perempuan itu berdiri di sampingnya dalam kondisi polos tanpa busana membuat Adrian sedikit gila.

Tidak, dia rasa dia sudah benar-benar gila.

“Apa yang kau ketahui tentang malam pertama?”

Briella tercekat mendengar pertanyaan Adrian. “Te-tentang apa?”

“Lupakan. Sejauh apa kau pernah berhubungan dengan seorang pria?”

“Berteman.”

“Berteman? Aku bukan bertanya tentang status, tapi tentang …” Adrian bingung memilih kata. “Sudahlah. Sebelum ini, apa pernah ada pria yang menyentuhmu?”

“Ayahku?”

“Ayahmu? Maksudku, bukan sentuhan biasa, tapi hal-hal berbau seksual, Briella.” Adrian mulai emosi.

“Maaf, aku … aku tidak punya pengalaman sama sekali tentang hal-hal berbau seksual. Ayahku bahkan melarang aku keluar mansion. Aku tidak memiliki satu pun teman laki-laki, jadi aku benar-benar bingung ke mana arah pembicaraanmu.” Adrian berdiri, mendekati Briella. Tangannya dengan lancang meremas dan memuntir puncak dada istrinya tanpa permisi. “Akhhhhh….”

“Apakah ini pertama kali ada yang mempermainkan dadamu?”

Briella mengangguk, dia menutup mulutnya rapat-rapat, berusaha menahan diri untuk tidak berkata kasar. Bagaimanapun yang baru saja melecehkannya adalah suaminya sendiri.

Anggukkan Briella membuat Adrian makin berhasrat, dia mencengkeram segenggam rambut Briella, menarik kepala perempuan itu ke belakang selagi Adrian mendaratkan bibirnya. Cumbuan yang awalnya lembut, manis, berangsur-angsur jadi brutal dan meliar.

“Mmmpppfff,” ronta Briella ketika paru-parunya mulai kehabisan oksigen.

Adrian melepaskan pagutannya. “Apa itu juga ciuman pertamamu?”

Briella mengangguk, kali ini ada air mata membasahi pipi putihnya.

“Kau menangis? Apa aku menyakitimu?”

Menggeleng lemah, Briella tak bisa berkata jujur kalau Adrian melukai hati dan harga dirinya. “Tidak, kau tidak menyakitiku.”

Sulit untuk mengelak bahwa Briella sangat menggairahkan, kejantanan Adrian yang mengeras seperti batu menjadi saksi bisu bahwa pria ini sangat ingin mengangkangi istrinya di atas ranjang. Sementara Adrian sibuk berpikir keras terhadap reaksi aneh di tubuhnya. Briella gugup membayangkan apa yang mungkin terjadi sepanjang sisa malam nanti. Mengingat Adrian sudah melihat dirinya luar dalam, jelas malam ini mereka akan berakhir dengan hubungan suami istri. Briella gelisah karena tidak tahu kapan Adrian akan melakukannya.

Apakah dia akan siap disentuh pria asing yang hari ini sudah berstatus suaminya? Jika Adrian menikahinya karena cinta, kenapa sikap Adrian begitu kasar? Kenapa tampaknya Adrian membencinya? Haruskah dia kabur saja? Jutaan pertanyaan muncul di dalam benak Briella.

“Aku akan segera menyakitimu,” timpal Adrian sambil melepaskan kancing kemejanya. Briella tersentak, dia kembali menatap Adrian yang sudah telanjang dada. “Kamu masih perawan, bukan?”

“A-apa yang akan kita lakukan?” tanya Briella dengan kecemasan yang jelas-jelas tak bisa lagi tertutupi. Perempuan polos itu sangat terlihat gugup.

“Sudah jelas. Kau akan segera melakukan tugasmu sebagai istri. Yakni memenuhi kebutuhan biologisku.” Melalui ekor mata, Adrian bisa tahu Briella tengah mengawasinya dengan ketakutan. Namun Adrian kagum melihat ketenangannya. Briella sanggup menahan diri meski gelagatnya mengatakan dia ingin lari dari Adrian sekarang juga. “Kau pasti sudah dengar, bahwa pertama kali melakukan hubungan badan akan terasa menyakitkan. Jadi kau harus bersiaplah, tapi tenang ini hanya sakit pertama saja. Selanjutnya yang kau rasakan bukan lagi sakit, melainkan rasa nikmat.”

Briella menatap bibir Adrian, membuat pria itu secara naluriah menggigit bibir bawah. Kaki Adrian mati rasa. Mata Briella yang tajam berubah sayu dan suaranya memelan hingga tinggal bisikan. “Kebutuhan biologismu ... akan aku penuhi,” katanya pelan menjeda, lalu melanjutkan, “Sejak pamanku menerima lamaranmu, dan sejak mengucapkan janji suci di altar, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan menjadi istri yang baik untukmu. Aku akan menuruti semua perintahmu, dan memenuhi semua yang kau butuhkan. Jadi, katakan, apa yang harus aku lakukan?”

Andai Briella tahu betapa Adrian kesulitan menyimak kata-katanya, karena yang bisa dia pikirkan hanya menebak-nebak betapa lembut dan hangat liang sempit Briella. Betapa nikmat rasanya. Betapa sempurna ketika miliknya dicengkeram ketat oleh kewanitaan Briella. Adrian berharap egonya runtuh hingga dia bisa secepat mungkin mendekatkan tubuh dan menggauli istrinya bersamaan Briella mulai hanyut dalam sebuah pelukan yang hangat.

Sial! Adrian mengumpat dalam hati.

“Jawab aku, Adrian.”

“Mmm....”

“Aku harus mulai darimana?”

“Briella.” Kata-kata itu mencelos dari rahang yang mengetat. Tangan Adrian menuruni punggung Briella dengan lembut meluncur di pinggul dan terus ke paha. Briella menggeletar di bawah sentuhan jemari Adrian. “Kita pindah ke ranjang dulu.”

“Aku memang amatiran dan tidak berpengalaman, tapi aku bisa cepat belajar. Kuharap kau bisa ajari aku, agar aku tahu cara yang benar dalam melayanimu.”

Adrian mengembuskan napas kuat-kuat, ada kekesalan turut terhempas keluar. Dia benar-benar tidak mengharapkan putri Rudolf Moretti sepenurut ini. Jika saja Briella pembangkang yang menyebalkan, dia mungkin bisa lebih kejam menyiksanya. Kenapa Briella sejinak ini? Apa dia tahu kalau Adrian menikahinya hanya untuk balas dendam? Ah, tapi tidak mungkin.

“Beri aku pemanasan.” Adrian menarik diri, rebah ke tengah ranjang masih mengenakan celananya. “Kamu tahu caranya bukan?”

Ragu-ragu Briella menggeleng.

“Cepat ke marilah.”

Perempuan itu perlahan merayap ke sisi Adrian.

“Hujani aku dengan ciuman, jilatan juga bagus. Kau bisa mengulum di beberapa area sensitif, akan kuberitahu nanti.”

Adrian spontan memejam, terkesiap ketika bibir Briella menyentuh lehernya. Briella mendaratkan kecupan ringan, tepat di bawah telinga. Entah kenapa Adrian merasa seisi kamar terjungkir balik. Perlahan-lahan bibir Briella kembali ke telinga Adrian. Dia berbisik, “Apakah seperti ini? Apa kau bisa menikmatinya?”

Adrian menggeleng, meskipun hampir mengangguk. “Pemanasanmu membuatku mengantuk.”

Kekeraskepalaan membuat Adrian menyangkal.

“Aku akan berusaha lebih keras.” Briella mendekatkan bibir, mengecup pipi Adrian. Berlanjut menjatuhkan kecupan-kecupan halus sampai telinga Adrian, di sana dia berhenti dan berbisik lagi, “Apa ini juga membuatmu mengantuk?”

Seumur hidup belum pernah Adrian merasa tidak bosan seperti ini. Briella bahkan belum mencium bibirnya, tapi dia sudah merasakan ciuman paling berkesan. Adrian menggeleng, masih memejam, karena dia suka tidak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. “Gunakan juga tanganmu, ada banyak yang bisa dilakukan.”

Tangan Adrian menarik tangan Briella mengarahkannya ke balik celana piyama hingga jemari si istri dapat merasakan milik Adrian yang mengeras. “Aaaarrghhhh … tunggu.” Briella menjerit, sadar kalau yang barusan dipegang adalah alat kelamin suaminya.

“Apa kau baru saja melihat hantu?”

“I-itu … aku tidak menyangkan itu-mu begitu besar.”

“Dan kau bereriak karena takut atau terkesan?”

Briella mencoba menghindari tatapan Adrian. Pipinya bersemu merah karena malu, jantungnya berdebar tak karuan. Adrian akhirnya menyentuh leher Briella, dan itu membuat kulit si perempuan merinding. Ternyata satu sentuhan saja mampu menimbulkan reaksi cukup besar.

“Briella, kau sangat payah. Aku tidak tahan menunggumu melakukannya.” Dalam sekejap lidah Adrian menyapu leher Briella.

Tangan Adrian naik dari pinggang Briella ke kepala. Dia mendekatkan leher Briella ke bibirnya, kali ini dia tidak menahan diri lagi. Briella membuka mata, terkejut mendapati serangan Adrian yang sangat agresif. Adrian mencium, menjilat, merayu tiap jengkal bibir hingga dada Briella dengan kepiawaiannya. Mata Briella kembali memejam. Dia berusaha keras menahan suara erangan karena terlalu malu. Bibir Adrian turun makin jauh, dari leher, dada, perut dan turun lagi ke tempat area Briellabbisa menggeletar ketika lidahnya bermain di sana.

“Aaaakkhh, Adrian, tolong singkirkan wajahmu, aku merasa seperti akan buang air kecil.”

“Kau bercanda? Jangan bilang kau tidak tahu apa itu puncak kenikmatan?”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cincin Dendam : Janji di Balik Rahasia
9.4
Akibat cemburu, Lara tak sengaja merusak hubungan adiknya dengan Leon, menyeretnya ke dalam rahasia kelam keluarga Ariatama Marten. Leon yang menyimpan rencana tersendiri justru menawarkan pernikahan kontrak demi membalas pengkhianatan itu. Demi menjaga nama baik keluarga dan perasaan cintanya yang tersembunyi, Lara pun menerima tawaran tersebut. Akankah pernikahan tanpa cinta ini menumbuhkan rasa sejati, atau justru membongkar luka lama serta misteri berbahaya yang mengancam mereka?
Sampul Novel I am Your Boss
8.2
Dulu dicampakkan karena miskin, Andra bangkit hingga sukses mendirikan imperium bisnis raksasa dalam enam tahun. Kini ia menjadi bos kejam berhati dingin dengan aturan super ketat. Namun, pertahanan kokohnya mulai goyah saat bertemu seorang pelamar wanita baru. Kehadiran perempuan tersebut perlahan mengikis kebekuan hati sang miliarder, membangkitkan kembali secercah harapan akan cinta sejati yang sempat ia kubur dalam-dalam.
Sampul Novel JODOH DEPAN RUMAH
9.5
Naura tidak pernah menyangka harus menikah dengan Bagas, tetangga depan rumahnya yang sangat ia benci. Pernikahan ini terpaksa terjadi karena Naura harus menjadi pengantin pengganti setelah calon istri Bagas tiba-tiba kabur. Seiring waktu, rasa cinta mulai tumbuh di hati mereka yang awalnya saling membenci. Namun, kesetiaan Bagas diuji saat mantan kekasihnya kembali datang. Akankah pernikahan mereka mampu bertahan, atau justru runtuh akibat kehadiran masa lalu tersebut?
Sampul Novel Kutukan Cinta Sang CEO
9.7
Khaidar Wijaya hidup dalam bayang-bayang kutukan mematikan: orang yang mencintainya dengan tulus akan celaka hingga tewas. Usai kehilangan orang tuanya, ia memilih mengisolasi diri. Namun, demi mengabulkan keinginan terakhir neneknya yang sekarat, Khaidar terpaksa menikahi Viona, mantan teman sekolah yang sangat membencinya. Pernikahan tanpa cinta ini menjadi satu-satunya jalan. Mampukah Viona bertahan tanpa rasa cinta, atau ia akan menjadi korban kutukan maut berikutnya?
Sampul Novel Pernikahan Ketiga
8.8
Kayra Angelina Atmaja, anak dari pengusaha yang kejam, dirundung duka mendalam di balik kemewahannya. Status janda muda disandangnya setelah pernikahan pertama berujung tragis dan yang kedua kandas seketika usai ijab kabul. Di tengah depresi akibat cibiran publik, Tuan Bima berjuang menyelidiki pelaku yang membongkar rahasia masa lalu Kayra di rumah sakit jiwa. Mampukah pernikahan ketiganya mengakhiri kutukan nasib dan membimbingnya ke cinta sejati?
Sampul Novel Sepupu Dan Suami: Cinta atau Dosa?
8.1
Kehidupan Nindy hancur saat Bastian, suaminya, tega berselingkuh dengan Dini yang merupakan sepupunya sendiri. Pengkhianatan keji ini terjadi tepat ketika Nindy tengah berjuang keras melawan penyakitnya, menyisakan trauma mendalam akan komitmen. Di masa sulit itu, Rangga hadir. Sahabat kuliah Nindy tersebut membawa ketulusan yang perlahan memulihkan hatinya. Saat Nindy mulai bangkit, Bastian dan Dini justru harus menghadapi karma buruk akibat perbuatan mereka.