APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Harta Tahta Kesayangan Duda

Harta Tahta Kesayangan Duda

Hidupku yang unik mendadak berubah saat seorang duda tenang mulai mengejarku. Ingin rasanya aku menghindar, tetapi pesona anaknya yang sangat menggemaskan terus membuatku ragu. Walau ada rasa takut terlihat cepat tua jika mendampinginya, gelimang hartanya tentu sulit diabaikan. Begitu dia datang melamar, aku pun menuntut syarat untuk mempunyai bayi yang lucu. Di luar dugaan, respons santainya kini membawa masa depan kami pada sebuah keputusan yang tak disangka-sangka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bian dan Era terlihat sedang bermain di depan panti sambil menunggu Ayah Bian yang akan datang menjemput. Ini pertama kalinya Era akan bertemu dengan Ayah Bian karena selama ini mereka tidak pernah bertatap muka. Era besyukur karena pada akhirnya Bian bisa kembali berkumpul bersama ayahnya. Jujur saja, pria kecil itu tampak kesepian dan selalu berhasil membohongi semua orang dengan keceriaannya.

"Nek, papa lama banget sih?" Bian tampak jenuh dengan permainannya. Dia sudah menunggu kedatangan ayahnya selama satu jam dan pria itu belum juga muncul. Era yang melihat itu juga ikut kesal dengan tingkah Ayah Bian.

"Kayanya papamu kena macet, Bian. Sabar dulu ya," ucap Bu Ratna dari teras rumah.

"Bian udah ngantuk."

Era tersenyum dan mengelus kepala Bian sayang. Dia semakin prihatin dengan anak itu. Bian masih kecil, seharusnya dia bisa merasakan kasih sayang orang tuanya secara penuh. Jika seperti ini, apa bedanya Bian dengan dirinya? Mereka sama-sama tidak mendapatkan kasih sayang orang tua.

"Era!" panggilan dari Bu Asih membuat Era berdiri.

"Iya, Buk?"

"Minta tolong ke apotek ya, obatnya Rafi habis."

Mendengar itu, Era kembali masuk untuk bersiap. Kali ini dia tidak bisa menunggu Bian dijemput oleh ayahnya, padahal ingin sekali Era melihatnya. Setidaknya dia ingin memberi sedikit petuah pada Ayah Bian agar tidak mengabaikan anaknya lagi.

***

Di perjalanan, Era berdecak saat lagi-lagi dia terjebak macet di lampu merah. Hari masih menjelang sore tapi kenapa jalanan begitu padat? Jarak panti ke apotek cukup lumayan jauh dan dia harus bergegas karena kondisi Rafi yang kembali demam.

"Ini orang-orang pada nganggur apa gimana sih? Kok pada di jalan semua," gerutu Era berusaha mencari cela untuk laju motornya.

"Eh, Buk! Kalau mau belok kiri jangan lampu kanan yang dinyalain!" teriak Era lagi saat dia terpaksa mengerem mendadak karena ulah pengendara di depannya.

Emang bener ya, kalo nyetir deket ibuk-ibuk bawaannya Istighfar mulu.

Era masih menyetir dengan hati-hati. Dia masih berusaha mencari celah di antara mobil sampai akhirnya dia dikejutkan dengan suara klakson yang memekakan telinga. Era yang sedari tadi mencoba untuk fokus, langsung terkejut dan hilang keseimbangan. Dia terjatuh dan menghantam mobil hitam di sampingnya.

"Pantat gue!" umpat Era saat dia sudah terduduk sempurna di atas tanah. Bahkan lengannya yang mengantam mobil tidak sesakit pantatnya yang mengantam panasnya aspal.

Semua orang mulai menatapnya bingung. Keadaan jalan yang macet membuat orang-orang tampak kesulitan membantu Era. Gadis itu masih meringis meratapi nasibnya. Bahkan dia tidak lagi memikirkan kondisi tubuhnya, dia semakin dibuat takut dengan mobil di sampingnya yang lecet karena ulahnya.

Era menunduk saat pemilik mobil turun untuk menghampirinya. Tanpa melihat, Era tahu jika pemilik mobil itu terdengar menghela napas kasar.

"Kita bicara di pinggir." Hanya kalimat itu yang Era dengar. Tampak begitu dingin dan menakutkan.

Kalo minta ganti rugi gimana nih? Masa jual ginjal beneran?

Dengan tertatih, Era berdiri untuk segera menepi. Dia tidak ingin karena ulahnya ini jalanan akan semakin macet. Saat masih berusaha mengangkat motornya, sebuah tangan menggantikannya dan memarkirkan motornya di pinggir jalan. Dilihat dari punggungnya, pria itu adalah pemilik mobil yang Era hantam.

"Pak, saya minta maaf," ucap Era pelan saat sudah berada di belakang si pemilik mobil.

"Mobil saya beset, tanggung jawab kamu apa sekarang?"

Mata Era membulat saat pria di hadapannya berbalik. Dia sangat mengenal pria itu. Pria yang sudah dia nobatkan sebagai musuhnya.

"Pak Aksa!" teriak Era menutup mulutnya cepat.

"Ternyata kamu," gumam Aksa kembali menghela napas lelah.

"Pak, maafin saya, Pak. Saya nggak sengaja. Tadi saya kaget makanya jatuh." Era berusaha meminta maaf dan menggenggam erat tangan Aksa.

"Nggak di sekolah nggak di luar, kenapa kamu hobi sekali buat keributan?" tanya Aksa sabar.

"Nggak kok, Pak. Saya cinta damai." Era mengangkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

"Kamu liat mobil saya." Aksa menunjuk mobilnya yang penyok dan lecet.

"Motor saya juga kena, Pak." Era mencoba membela diri.

"Itu bukan salah saya. Kalau mobil saya, itu jelas salah kamu."

Era menunduk dengan gelisah. Dia takut dengan pria di hadapannya. Sudah dua kali mereka bertemu dan semuanya terjadi dalam keadaan yang buruk. Era takut jika itu akan berpengaruh pada beasiswanya.

"Saya nggak punya uang, Pak." Era berucap lirih.

Mendengar itu, Aksa semakin menghela napas kasar. Dia sudah dipusingkan dengan masalah kantor dan sekarang saat dia berniat untuk menjemput anaknya, ada kecelakaan kecil yang menimpanya.

Melihat gadis di depannya yang masih menunduk, Aksa mulai kebingungan. Dia serba salah sekarang. Ingin marah pun rasanya percuma karena gadis di depannya adalah gadis bebal yang suka melanggar aturan. Namun Aksa juga kasihan melihat Era yang tampak memprihatinkan dengan luka di tubuhnya.

"Ayo ikut saya," ajak Aksa pada akhirnya.

Era kembali mengangkat kepalanya terkejut. "Pak, saya udah minta maaf. Jangan bawa saya ke kantor polisi." Era tampak merengek. Dia semakin ketakutan melihat raut wajah serius Aksa.

"Saya nggak ajak kamu ke kantor polisi. Lihat luka kamu, ayo ke rumah sakit."

Seolah diingatkan, seketika Era langsung merasakan nyeri di tubuhnya. Dia baru sadar saat melihat ada luka lecet dan memar di lengan dan kakinya.

"Saya nggak papa kok, Pak."

"Itu bisa infeksi. Cepet masuk!"

"Nggak mau, Pak!" Era berbicara sedikit keras, "Nanti utang saya makin banyak."

Mendengar itu, Aksa kembali mendekat ke arah Era dengan tangan yang dia masukkan ke saku celana. Aksa tidak bisa menebak isi kepala gadis di depannya dan dia juga tidak ingin berlama-lama dengan gadis pembuat ulah seperti Era. Dia melakukan ini hanya semata karena bentuk tanggung jawabanya sebagai pemilik sekolah. Dia harus mengayomi dan memberi contoh yang baik bukan?

"Katanya kamu nggak punya uang?"

Era memainkan kakinya resah, "Pak Aksa beneran minta ganti rugi? Saya nggak punya uang, Pak."

"Jangan melas kayak gitu. Saya nggak minta ganti rugi." Berat rasanya Aksa mengucapkan kalimat itu. Dia sebenarnya ingin memberikan pelajaran unuk Era tapi lagi-lagi dia tidak tega.

"Beneran, Pak? Makasih ya. Janji dulu sama saya." Era mengangkat tangannya untuk bersalaman.

"Jangan ngelunjak kamu." Aksa menempis tangan Era. Ternyata gadis di depannya memiliki watak yang luar biasa.

"Lagian kenapa kamu ada di sini? Seharusnya kamu ada di sekolah." Aksa bertanya dengan curiga. Dia semakin tahu akan sifat minus Era. Mulai dari suka melanggar aturan, membuat keributan, sampai yang terkahir suka bolos sekolah.

"Adik saya sakit, Pak. Saya yang jagain."

"Ke mana orang tua kamu?" tanya Aksa curiga. Dia menganggap alasan Era cukup biasa.

"Ibu saya juga sibuk jagain adik saya yang lain. Beneran kok, Pak. Saya nggak bohong."

Aksa berhenti menggali informasi dan mencoba menerima alasan Era. Bisa saja gadis itu telah berbohong tapi itu bukan urusan Aksa. Dia semakin bertanya-tanya, bagaimana bisa sekolahnya menerima murid ceroboh seperti Era? Ingatkan Aksa untuk melihat sepak terjang Era di sekolahnya. Dia ingin tahu seberapa banyak pelanggaran yang gadis itu lakukan selama hampir tiga tahun bersekolah.

"Kalau kamu nggak mau ke rumah sakit, terserah. Saya mau pergi." Aksa akhirnya memilih untu pergi. Dia harus segera menjemput Bian yang mungkin sudah marah karena keterlambatannya.

"Pak Aksa!" teriak Era menghentikan langkah Aksa yang akan masuk ke dalam mobil. "Makasih ya, Pak!" teriak Era lagi sambil melambaikan tangannya dengan senyuman lebar.

Melihat itu, Aksa menggelengkan kepalanya pelan dan berlalu masuk ke dalam mobil.

Dasar gadis bar-bar!

***

TBC

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Pelakor.
9.3
Hari pernikahan Nada yang dinanti justru menjadi awal kehancuran hidupnya. Di hadapan para tamu, seorang wanita muncul membeberkan kenyataan pahit bahwa calon suami Nada telah memiliki istri sah. Skandal memalukan ini mencoreng nama baik keluarganya. Kini, di balik rasa kecewa dan luka mendalam akibat dikhianati, Nada harus menghadapi kenyataan yang jauh lebih berat. Ia mendapati dirinya sedang mengandung anak dari pria yang telah menghancurkan masa depannya tersebut.
Sampul Novel GADIS PENCURI VS TUAN MUDA
9.3
Nyawa seorang pencuri wanita andal terancam setelah ia jadi buronan bernilai jutaan Dolar. Di tengah ancaman maut dari para penguasa, Martin Jakovsky justru hadir melindunginya. Padahal, tuan muda kaya raya ini mengidap alergi aneh yang membuatnya tidak bisa menyentuh wanita. Mengapa Martin rela mempertaruhkan segalanya demi menyelamatkan sang gadis dari kejaran musuh? Temukan jawabannya dalam kisah penuh aksi dan romansa ini.
Sampul Novel Kencan Buta Setelah Pulang Kampung
9.7
Tujuh tahun mendampingi Daniel Liman secara rahasia membuat Nadya, putri Keluarga Luandra, mengharapkan lamaran di hari perilisan albumnya. Namun, Daniel justru mengumumkan kerja sama dengan Yuna Fadian, cinta pertamanya yang baru kembali. Saat mencari penjelasan, Nadya mendengar obrolan menyakitkan dari luar ruang istirahat. Daniel mengonfirmasi bahwa selama ini Nadya hanyalah sosok pengganti sementara yang kini harus tersingkir setelah sang tokoh utama kembali.
Sampul Novel Keputusan Takdir
8.5
Sallyana harus merelakan impian indahnya hancur ketika Veen mengusirnya secara paksa. Butuh perjuangan keras baginya untuk menyembuhkan luka dan melupakan masa lalu. Namun, saat ia mulai bangkit, takdir justru mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang jauh berbeda. Apakah Sallyana akan kembali terpikat pada Veen, ataukah ia akan melabuhkan hatinya pada sosok baru yang menemaninya di masa-masa sulit? Keputusan takdir akan menentukan akhir perjalanan cintanya.
Sampul Novel Pernikahan Kedua: Cinta Tidak Buta
9.2
Nyawa Raisa terancam akibat rencana pembunuhan oleh suaminya sendiri. Setelah dituduh mandul, diselingkuhi, dan terus dihina, ia akhirnya bercerai demi bertahan hidup. Demi membalas dendam, Raisa memutuskan menikah kontrak dengan pria paling berpengaruh di kota tersebut. Namun, kesepakatan yang awalnya dingin itu berubah drastis ketika suami barunya justru memohon dengan sangat tulus agar Raisa bersedia mendampinginya untuk selamanya.
Sampul Novel Satu Malam Bersama Calon Besan
8.5
Setelah sekian lama menyendiri, Mira melakukan kesalahan besar akibat pengaruh alkohol di hari ulang tahunnya. Ia melewati malam yang intim bersama Rendi, lalu kabur begitu saja tanpa sempat mengenali wajahnya. Saat berusaha melupakan kejadian tersebut, Mira terkejut ketika bertemu calon besannya. Rendi ternyata adalah ayah dari calon menantu anaknya. Kini, mereka terjebak dilema untuk mengubur rapat memori itu atau malah melanjutkan hubungan terlarang di belakang anak-anak mereka.