APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Harta, Tahta, Anak Tungal Kaya Raya

Harta, Tahta, Anak Tungal Kaya Raya

Ella terjepit perasaan rumit pada William, sahabat kecilnya yang kini jadi pewaris tunggal nan kaya raya. Walau menganggap Ella sangat berharga, hati William justru tertambat pada Camelia. Situasi Ella kian menyiksa saat dituding merusak hubungan mereka, sementara William abai pada kepedihan batinnya. Akankah William tetap menjaga Ella, ataukah kehadiran Camelia akan menghancurkan persahabatan masa kecil mereka selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Suasana kantor sangat sunyi, tapi diruangan besar divisi promosi agaknya lebih mencekat. Ella duduk menunduk di kursi cubiclenya, sambil memainkan jemarinya ketakutan.

Salah seorang senior pun mendekatinya dengan langkah penuh amarah.

"Kamu itu betul-betul nggak tahu diri ya? Kamu udah bikin malu satu divisi. Senin pagi kita kacau gara-gara kamu, ngerti?" bentak senior jangkung bernama Lucy sambil menunjuk-nunjuk Ella yang semakin menunduk. Air mata mulai menggebang di pelupuk matanya, tak tertahan lagi.

Semua pandangan orang-orang tertuju padanya, mereka semua memaki dengan tatapan sinis. Ella bersumpah, ia ingin pergi dari ruangan itu saat itu juga.

"Kamu, kalau nggak becus itu nggak usah sok pinter! Lihat kan gimana jadinya?" teriak seniornya yang lain. Kali ini sambil menoyor kepalanya berkali-kali.

Pagi itu semua orang dikejutkan dengan batalnya perjanjian dengan salah satu stasiun TV untuk acara iklan berskala besar karena adanya miss komunikasi.

Proposal kerjasama yang sudah dibuat ternyata tak sampai ke tangan partner. Semua tangan menunjuk ke arah Ella yang memang bertugas menyelesaikan PR itu.

Tapi demi Tuhan, Ella sudah menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Ia juga dibuat keheranan dengan kabar pagi itu.

"Kak, udah. Ella butuh istirahat, dia juga kaget," ucap Kinan, rekan kerja Ella satu-satunya yang mau membelanya, namun lagi-lagi segera ditampik oleh senior Lucy.

"Mau ditaruh mana muka kita nanti siang waktu meeting sama direktur? Harusnya hari ini kita udah clear, bisa bawa bahan ke atasan. Tapi apa? cewek nggak becus ini malah cari masalah."

"Kak, maaf. Tapi aku udah selesaikan proposal itu, aku pun udah konfirmasi ke bidang eksternal, partner harusnya sudah terima, Kak. Masalah nanti siang, aku akan bilang ke ayah Will-maksudku Pak Sandy." Ella masih berusaha membela diri.

Ia beranikan menatap seniornya satu-satu meskipun tangannya masih bergetar. Ia bersumpah dalam hati, pasti ada yang menusuknya dari belakang, entah siapa dan bagaimana.

"Nggak usah ngeles deh. Sekarang iklan kita batal total disana, slot tayang udah keduluan orang lain. Bego itu jangan dipelihara dong."

"Dan berani-beraninya kamu pamerin kedekatan kamu sama Pak Sandy disini, hah?" Kali ini tangan Lucy mendarat tepat di pipi kiri Ella.

Perempuan itu terkejut bukan main. Rasanya benar-benar menyesakkan, seakan tak bisa bernafas ia disana.

"Kak Lucy, please stop!" Kinan melerai, menarik lengan Ella hingga ia terduduk lagi di bangkunya.

"Jangan ikutan bela dia, Kinan. Susah kalau kamu nanti ikutan digoda juga sama cewek gatel ini," lanjut Lucy pada Kinan.

Mendengar kalimat keji itu, Ella tak lagi dapat membendung air matanya. Pipinya masih sedikit panas, dan kini gantian hatinya yang merasakan perih tak tertahan. Ia mulai menangis, tak peduli lagi dengan tatapan sinis senior-seniornya.

Ella berlari keluar ruangan, satu-satunya tempat yang terpikirkan olehnya hanyalah rooftop. Dan satu-satunya manusia yang terlintas di benaknya hanyalah William. Ia ingin berkeluh kesah pada sahabatnya itu.

Tapi tepat sebelum pintu lift terbuka, suara tawa dari koridor di sebelah kanan menarik atensinya. William dan Camelia tengah berjalan menjauh menyusuri koridor dengan penuh canda tawa.

Tangan William merangkul hangat pundak perempuan itu, tangan Camelia pun juga melingkar mesra di pinggang kekasihnya.

Mereka benar-benar seperti pasangan kekasih yang tengah dimabuk cinta. Bagaimana bisa Ella mengusik itu? Pikir Ella kalut.

Ia akhirnya hanya duduk terdiam di rooftop kantor yang sepi sambil menyelesaikan tangisnya. Ada beberapa pot tanaman bougenville kering karena kekurangan air yang menemani.

Otaknya memutar kembali raut wajah bahagia William dan kekasihnya.

"Ah, kamu benar-benar bahagia ya, Will," gumam Ella pada angin yang berlalu.

Ella tak tahu kenapa disaat seperti ini ia justru merindukan kehadiran William disisinya? Jian yang masih berstatus sebagai pacarnya justru tak ia rindu sama sekali, bahkan sekedar numpang lewat di fikirannya pun jarang.

Ella merebahkan dirinya di lantai semen yang kotor, masa bodoh dengan jas kerjanya. Ia pusing memikirkan kelanjutan hidupnya di kantor. Ia tentu tak akan betah jika setiap hari menerima perlakuan keji dari rekan-rekannya, bisa-bisa mati muda jika dilanjutkan. Begitu pikir Ella.

Tapi ia tidak bisa resign semaunya, karena ayah William sudah berjasa besar sekali untuknya. Ayah William lah yang menggantikan sosok kedua orang tuanya semenjak mereka menetap di luar negeri.

Tak mungkin ia merengek minta pindah kantor dengan alasan konyol seperti itu.

"Oke, bertahan ya, Ella. Semangat bertahan hidup, Aku. I can do it. C-can't I?" tanya Ella pada dirinya sendiri.

"Of course you can do it," celetuk sebuah suara dari arah pintu, mengejutkan Ella yang langsung menengok.

William, lengkap dengan senyum lesung pipi manisnya.

"Kamu ngapain sih sampai sini, Ell? Aku cari ke ruangan nggak ada, tapi feelingku bener kan kamu ada disini," ucap William yang langsung ikut duduk disamping Ella.

"Wait kamu abis nangis? Kok ingusan?" tanya lelaki itu sambil mengusap sisa air mata di pipi kiri Ella yang sedikit memar.

Sentuhan tangan William benar-benar menenangkan, ia hanya bisa memejamkan mata menikmatinya.

"Enggak, abis nguap aja tadi" dustanya.

"Kamu beneran dari ruangan aku?" tanya Ella yang seketika penasaran.

Apa William benar-benar tidak tahu dengan apa yang baru saja terjadi, atau ia hanya pura-pura saja didepannya?.

"Iya, denger-denger tadi ada yang bikin masalah ya? Kamu kenapa malah menyendiri ngga jelas di sini, sih?" jawab William polos.

Ternyata benar, lelaki itu memang tak tahu apa-apa. Calon pewaris tahta direktur utama di perusahaan ayahnya itu benar-benar terlalu polos.

"Hmm" Niat Ella untuk bercerita tiba-tiba saja lenyap. Ia tak ingin menambah beban sahabatnya itu, apalagi nampaknya William sedang bahagia karena kisah asmaranya dengan Camelia. Ella tak tega mengusik bahagia itu.

"Hm doang nih? Oh iya by the way besok malem aku mau adain party kecil-kecilan di pub sebelah," ujar William sambil tersenyum lebar, menampakkan lesung pipinya.

"Dalam rangka?"

"Camelia yang minta, dia mau ngumpul sama temen-temen kantor sekalian announcing hubungan kita, hehe."

Ella tak yakin dengan Camelia, tapi saat ia melihat William tersenyum dan tertawa bersama perempuan itu, Ella rela. Ia sadar bahwa Camelia memang pantas mendapatkan William disisinya. Meskipun menurutnya sangat berlebihan untuk mengumumkan hubungan Camelia dengan William secara terang-terangan saat pesta.

Mereka hanya berpacaran, kenapa harus melakukan perayaan yang tak perlu? Kekanak-kanakan sekali. Begitu kira-kira isi hati Ella.

"Congrats ya, seingetku kemarin aku belum bilang selamat," ucap Ella dengan senyum di wajahnya. William hanya mengangguk sambil menatap perempuan didepannya itu.

"Iya, Thanks. Kamu cantik banget kalau hidungnya lagi pengar gini."

DEG

Jantung Ella berdegup kencang. Pujian William tak pernah membuatnya berdebar sebelumnya. Tapi kali ini kenapa ia benar-benar terusik dengan ucapan manis itu? Entahlah, Ella tak mau berspekulasi apa-apa.

"Ini bukan pengar. Kan udah dibilang, aku abis nguap."

"Yaa, sama aja. Intinya hidungnya merah, lucu."

CUP

Lelaki itu mencium pipi Ella tanpa permisi. Bukan sekali, dua kali di pipi kanan dan kirinya.

"William ih... ini di kantor, astaga William...!" gerutu Ella, disambut tawa manis William dan cubitan di pipinya.

"Iya iya... kamu gemes kalau marah."

"William, stop. My heart keep fluttering hearing that," protes Ella dalam hati tentunya.

Kalimat-kalimat itu sering William lontarkan sejak dulu, tapi entah kenapa semuanya kini terasa berbeda. Seakan sudah berbumbu manis ditelinga Ella.

"Oh iya, Jian gimana? Udah ada kabar?" Tanya William tiba-tiba.

"Hehe"

"Hehe? Kamu gimana sih, Ella? Putusin gih cepet," tuntut William, disambut pandangan masam perempuan itu. Ella pun langsung terdiam, pikirannya masih amburadul dengan hidupnya sendiri sampai agak lupa dengan hubungannya dengan Jian.

"Oke" entengnya kemudian, membuat William mengerutkan keningnya.

----

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Kembar Rahasia Milyader
9.2
Akibat kekeliruan kecil di depan Ben Clayton, CEO New York yang sangat berkuasa, hidup Ivy Anderson kini terancam. Ben yang terobsesi mulai melancarkan siasat licik untuk menjebak Ivy, bahkan mendekati anak kembar Ivy, Terra dan Terry. Demi melindungi buah hatinya, Ivy terpaksa menyerah pada ancaman kejam pria tersebut. Mampukah Ivy melarikan diri dari jeratan berbahaya ini, atau ia akan selamanya terjebak dalam kendali dominasi Ben yang gelap?
Sampul Novel CEO & Sekretaris
8.0
Dengan penuh keyakinan, Tasya mendatangi kantor pusat Adityaswara demi mengadu nasib. Sambil menepis rasa gugup, ia langsung bertanya ke resepsionis tentang peluang kerja yang ada di sana. Tasya sangat berharap dewi fortuna membantunya agar bisa bergabung dengan perusahaan ternama ini. Keputusan berani tersebut akan menjadi titik awal yang sangat menentukan kelanjutan karirnya di bawah arahan sang CEO yang terkenal sangat berpengaruh.
Sampul Novel Dikhianati Suami, Diremehkan Mertua
9.1
Demi melindungi putranya, Alena bersembunyi selama tujuh tahun dari kejaran Keluarga Whitmore. Namun, kedamaiannya sirna ketika ia diculik dan disekap di sebuah kastil tua terpencil. Di tempat itu, sang mantan suami, Dorian Whitmore, menuduh Alena menyembunyikan anak laki-laki mereka yang lain. Alena menegaskan hanya Julian Ezra Callahan yang hidup, sementara kembarannya telah tiada. Kini ia harus menghadapi Dorian demi mengungkap misteri masa lalu.
Sampul Novel Hamili saya, tuan !
8.3
Chereena Kayona Albern adalah putri kesayangan Bobby Albern yang tumbuh dalam pengawasan ketat sejak ibunya tiada. Meski hidupnya sangat dilindungi, ia berhasil menjadi gadis cerdas yang dikagumi banyak orang. Namun, sebuah langkah tak terduga diambil oleh Chereena. Tanpa diduga, ia justru mendekati seorang CEO asal Rusia bernama Chaiden Barnard dan memintanya untuk menghamilinya. Apa sebenarnya alasan di balik keputusan nekat gadis pintar ini?
Sampul Novel Meninggalkan Pengkhianatan Maut, Merangkul Kehidupan Baru
7.9
Sepuluh tahun pengabdianku sia-sia ketika Bramanta menikahi Hana di altar rancanganku. Demi selingkuhannya itu, ia tega memaksaku donor darah, membiarkan kucingku mati, bahkan nyaris menenggelamkanku. Puncaknya, ia membiarkanku sekarat karena syok anafilaksis demi drama Hana. Sadar nyawaku terancam, aku pun menerima tawaran ayah untuk menikah kontrak dengan CEO Arga Hadinata. Di titik terendah ini, aku memilih bangkit dan memulai hidup baru bersama Arga.
Sampul Novel Never Ending Pleasure
8.3
Kehidupan biasa mahasiswi bernama Becca Willson berubah total setelah takdir mempertemukannya dengan Derren Lambert, CEO perdagangan besar di Chicago yang juga bos mafia ditakuti. Walau bahaya dari musuh-musuh Derren terus mengintai nyawanya, Becca menolak pergi. Ia memilih bertahan di sisi sang penguasa demi gairah membara yang mengikat mereka. Kisah penuh risiko dan hasrat dewasa ini menguji kesetiaan mendalam Becca di tengah dunia gelap.