
Hadiah Menginjak Usia Dewasa
Bab 3
"Ingat nggak dulu waktu kecil? Ayah sering gendong kamu sambil makan begini. Hari ini kamu duduk di pangkuan Ayah saja, seperti dulu lagi, ya?
Aku duduk menyamping di atas paha tegapnya, membuat dadaku berada tepat di depan wajahnya, sementara area di antara kedua kakiku menempel pada gairahnya yang mulai bangkit.
Sambil bicara, ayah mengambil gelas dan mulai menyuapiku minum perlahan-lahan.
Aroma alkohol itu menyengat indra penciumanku. Begitu seteguk cairan panas itu melewati kerongkongan, sisanya mengalir dari leher hingga ke dadaku. Aku pun bergidik dibuatnya.
"Sudah besar kok minumnya masih berantakan begini? Nggak apa-apa, biar Ayah yang bersihkan."
Ayah pun mendekat. Dia menempelkan wajahnya di tulang selangkanganku, lalu dengan teliti menjilat tetesan minuman yang mengalir di sana. Sensasi geli yang menjalar membuat seluruh tubuhku gemetar.
Gerakannya terasa lembut. Namun, aku bisa merasakan kekuatan otot tubuhnya yang seolah ingin memaksa kedua kakiku terbuka.
"Aduh ... Ayah, pelan-pelan. Aku ada janji kencan nanti, nggak boleh minum terlalu banyak."
Aku menggeliatkan pinggangku yang ramping, mencoba melepaskan diri dari dekapan hangatnya. Namun, gerakanku justru membuat tubuh kami semakin menempel rapat. Aku hanya berharap bisa mengendalikan hasrat ini, tapi sensasi ini benar-benar terlalu nikmat.
Kemudian, begitu mendengar perkataanku, ayah langsung mengerutkan kening. Kilatan kesal tampak melintas di matanya.
Satu tangannya merangkul pinggangku, sementara tangan yang lain langsung meremas dadaku, memelintir ujungnya yang menegang seolah sedang mengancam.
"Sudah selarut ini masih ada janji kencan? Mau ketemu cowok mana, ha?" Suaranya merendah, menyisipkan nada amarah yang samar.
Aku mulai panik dan menjawab dengan terbata-bata, "Ngg ... nggak ada ...."
"Kamu masih ingat 'kan pesan Ayah? Sebelum Ayah kasih pelajaran biologi, kamu nggak boleh biarkan laki-laki mana pun menyentuhmu. Chika sudah nggak mau nurut lagi sama Ayah?"
Jemari ayahku mulai menjelajahi bagian sensitifku, membuatku hampir tak kuasa menahan desahan.
Wajahku memerah padam seperti apel. Aku mengatupkan rahang rapat-rapat, berusaha sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Namun, dia seolah tidak puas dengan sikap diam dan usahaku untuk bertahan. Sambil terus mempermainkan dadaku, dia mulai merenggangkan kedua kakiku dengan lembut.
Rasanya tubuhku seperti sedang dipanggang di atas tungku api. Akhirnya aku tidak tahan lagi dan mendesah manja.
"Ah ... Yah ... mhh ... aku salah .... Aku selalu tunggu Ayah buat ajarkan ... haah ... hal-hal itu. Makanya aku ... mhh ... belum pernah disentuh siapa pun ...."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Aku sendiri terkejut mendengarnya dan langsung menutup mulut dengan tangan.
Di bawah belaian ayahku yang bertubi-tubi, aku akhirnya benar-benar kehilangan kendali. Aku memekik pasrah sementara tubuhku mendadak lemas tak bertulang. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata saat aku menatap tubuhku sendiri yang kini pasrah dalam perlakuan memalukan ini.
Kilat penuh arti melintas di mata ayah saat mendengar eranganku. Suaranya terdengar serak dan berat, penuh dengan nada bujuk rayu yang menyesatkan.
"Chika, hari ini kamu sudah dewasa. Gimana kalau Ayah kasih pelajaran biologi sekarang?"
Bibirnya mendarat di tulang selangkanganku, sementara ujung lidahnya menyapu permukaan kulitku. Dia lalu mengulum putingku yang menegang di balik kain baju, sedangkan tangan lainnya mulai mengusap area bawahku dari balik celana dalam yang sudah basah kuyup tak karuan.
Aku mendongak dengan pandangan kabur. Sensasi nikmat yang merambat serentak dari dada dan bagian bawah tubuhku seketika melumpuhkan logikaku untuk sejenak.
Ponsel yang tergeletak tak jauh dariku tampak bergetar, mungkin itu pesan dari pacarku yang menanyakan keberadaanku.
Tanganku yang sempat terangkat kini terkulai lemas, sebelum akhirnya aku justru menekan kepala ayah tiriku yang sedang asyik menjilati dadaku. Aku membiarkannya melepaskan celana dalamku, hingga jemarinya amblas masuk ke dalam lubang bawahku yang sudah basah.
Anda Mungkin Juga Suka





