APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hadiah Madu Untuk Suamiku

Hadiah Madu Untuk Suamiku

Demi mengejar mimpi kuliah di luar negeri, Indana Zulfa Hewatun memilih poligami sebagai jalan keluar. Ia bahkan berencana menjodohkan suaminya, Jidan, dengan santriwati pilihan dari pesantren sang ayah. Namun, niat ini terancam berantakan ketika Jidan mencurigai adanya hubungan antara Inda dan mantan kekasihnya. Di tengah krisis kepercayaan yang melanda, akankah rencana perjodohan ini tetap berjalan? Kisah perjuangan menggapai cita-cita tanpa mengorbankan rumah tangga.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Zein... mengapa kamu meninggalkan aku? apa kamu tahu bahwa aku sangat membutuhkanmu Zein,”

ratap Inda pada pria tampan yang telah menghilang selama 2 tahun silam.

Hari itu begitu indah, cerah nan sejuk, yang terlihat hanya pemandangan alam dengan kabut putih yang

tersorot cahaya matahari.

Inda berjalan menyusuri taman bunga yang terhampar sejauh mata memandang. Ia

duduk di kursi kayu tepat di bawah pohon yang daunnya berwarna kemerahan, entah

pohon apa namanya,  hanya pohon itu yang berada di taman bunga tersebut.

Pria tampan dengan rambut sedikit panjang, bagian depan terbelah dua ala

Angga Yunanda, kulitnya putih,

tubuhnya tinggi berisi,

semakin terlihat perfect dengan outfit kaos dan celana jeans yang saat ini ia kenakan..

Pria itu menghampiri

wanita yang tengah duduk menatapi bunga, mengikutinya duduk seraya menggenggam tangan wanita di sampingnya.

Sambil menatap pria itu dalam-dalam dan membalas genggamannya. Tak terasa suaranya terdengar terisak pilu Llu merebahkan kepalanya di

bahu seorang pria yang baru saja datang menemani kesedihannya.

“Inda, aku tidak akan pernah membiarkanmu tersakiti, aku tetap bersamamu

disini. Maaf saat itu

aku harus pergi, karena cita-citaku belum tercapai. Aku selalu menyayangimu,

aku ingin terus bersamamu,” jelasnya sambil memegang tangan Inda dan tatapan

yang penuh kasih.

“Tapi sekarang aku sudah menikah Zein! Tidak ada gunanya kamu menyatakan

cinta lagi,” ujarnya, matanya menatap sendu pada Zein.

“Aku akan tetap menyayangimu!” kekeh Zein meyakinkan.

Air mata Inda terus berderai, mengingat Zein adalah pria impian yang selalu

membuatnya bahagia. Namun sayang, ia sirna, tenggelam di dalam lautan.

“Astaghfirullahal adzim!” kumandang subuh menyadarkan Inda dari mimpinya.

“Huff... memang pria impian,” lirihnya sambil menghela nafas.

Di sampingnya terlihat pria lain yang masih tertidur pulas.

Benar, aku

sudah memiliki suami, yang lebih tampan dan menawan dari Zein. Gumamnya dalam

hati sambil tersenyum

memandangi Jidan, pria halalnya.

***

Rutinitas harian mereka sangat padat, hingga membuat mereka sulit untuk

saling bercerita. Hanya menjelang

tidurlah kesempatan keduanya untuk berbagi cerita tentang hari ini, hingga hal

yang tidak penting sekalipun.

“Mas... Apa Mas

sudah mulai bicara dengan Umi dan Abi soal kita ingin melanjutkan S2 kita di

Mesir Mas?” tanya Inda yang sedang duduk di meja rias sambil menyisir

rambutnya, ia memulai

percakapan.

“Sudah. Tapi tanggapan mereka masih seperti

itu. Besok coba Mas bicarakan lagi dengan Abi,” jawabnya sambil

merebahkan diri di bad ranjang.

“Oke Mas, tapi... tolong yakinkan mereka ya Mas,” pinta Inda mulai bermanja.

“Iya Sayang... Mas akan usahakan. Sini tidur, jangan

bersolek terus,” goda Jidan sambil menepuk bad ranjang sebelahnya yang masih

kosong.

Esoknya, sepulang mengajar di pesantren milik abinya, Jidan mampir terlebih

dahulu ke rumah kedua orang tuanya atau para santri menyebutnya dengan Ndalem.

“Assalamu’alaikum Umi,” ucapnya sambil mendekatkan wajah ke sela-sela pintu

kayu.

 Tanpa mengetuk pintu, beberapa detik ia menunggu jawaban, lalu

mengulanginya sekali lagi, hingga terdengar suara yang mendekat  dari

balik pintu tersebut.

“Wa’alaikumussalam Nak, masuk Nak, kebetulan kami lagi mempersiapkan makan

siang nih,” jawab wanita paruh baya yang tengah membukakan pintu untuk

putranya.

Kemudian Jidan mencium tangan wanita paruh baya yang terlihat masih cantik di umurnya yang sudah menginjak angka

lima puluh. Harum tangannya masih tetap sama, parfum Sabaya dari Mekkah

yang selalu membuatnya

terngiang-ngiang saat di Mesir lalu.

 Jiddan berjalan menuju ruang keluarga, mendekati abinya yang sedang

duduk di sofa, Dengan pakaian sederhana, dikhiasi tasbih yang selalu berputar

di tangan kanannya, membuat aura wibawanya begitu terpancar.

Jidan mulai menyampaikan niatnya pada kyai yang berwibawa di depannya

tersebut. Setelah semua tersampaikan, tidak menunggu lama dan basa-basi, kyai

Nur langsung menanggapinya.

“Umi sudah bercerita pada Abi soal kalian ingin ke Mesir, Umi setuju, tapi

menurut Abi, tetaplah di sini Jidan, pesantren ini kamu yang kembangkan, kalau

kamu berkenan lanjutlah s2 di dekat sini saja, agar kalian masih bisa membantu

Abi, kalian tahu sendiri, Umi khususnya Abi ini kan sudah mulai tua Nak,

cobalah pikir-pikir lagi,” tutur kyai Nur santai penuh harap.

Mendengar jawaban abinya,  Jidan tidak bisa berkutik, mau tidak mau dia

harus mematuhi orang yang amat ia hormati itu, namun di sisi lain ia tidak ingin

mematahkan impian Inda yang ingin terus belajar di negri Kinanah sana.

“Baik Abi, akan Jidan pikirkan lagi. Terimakasih Bi, izin pamit pulang dulu Bi,” Jawab Jidan

kemudian mencium tangan abinya.

 Wibawa seorang kyai Nur membuat siapapun tidak mampu untuk mengelak

setiap perkataannya, termasuk dengan anak-anaknya.

***

Setelah selesai mengisi

pengajian rutinan hari rabu di masjid pesantren. Jidan berniat untuk

membicarakan apa yang diinginkan sang abi kemarin sebelum ia pulang.

“Tentang S2 kita, Abi menyarankan kita untuk melanjutkan S2 di sini, sambil

membantu Abi dan Umi. Lalu sedikit-sedikit kita bisa membangun rumah di dekat

pesantren,” jidan mulai menjelaskan maksudnya pada Inda.

“Kita kan sudah membuat komitmen Mas,” 

timpal Inda ketus.

“Kamu sudah janji Mas, bahwa pernikahan kita tidak akan mengganggu cita-cita

kita! Di sanalah cita-cita aku Mas, masih banyak yang harus aku cari di negeri

Kinanah sana, Mas pasti tau itu,” emosinya meluap, mengungkit semua komitmen

mereka sebelum menikah.

“Iya, kita cari solusinya bersama, kita pertimbangkan, mana yang terbaik dan bermaslahat di Tengah keadaan

yang diluar dugaan kita ini,” jawab sang suami dengan tenang.

DING !

Ponsel Inda berbunyi, Rena sahabatnya mengabarkan bahwa Jidan dan Inda

diterima masuk S2 dan mendapatkan beasiswa.

“Tuh kan Mas, kita diterima!” ujarnya bersemangat.

“Serius?” tanya Jidan memastikan

“Iya Mas serius, ini coba lihat,” Inda menyodorkan ponselnya.

“Alhamdulillah, kita bisa bicarakan lagi dengan Abi. Semoga dengan berita

ini, Abi bisa mengizinkan kita untuk berangkat ke sana lagi,” lanjut Inda masih

dengan wajah berserinya.

“Iya sayang, insyallah bisa,” hanya sedikit meyakinkan. Jidan amat tahu

bagaimana abinya jika sudah membuat keputusan.

***

Di balik kebahagiaan itu esoknya.

Langit pagi terlihat mendung, angin menghembus syahdu, tidak dingin tidak

juga panas, semuanya terasa tentram, tidak seperti biasanya.   Mereka

sudah bersiap untuk

menuju pesantren, bertemu abi dan umi, membantu aktifitas rumah sang ibu

mertua.

Namun tiba-tiba, seorang santri datang menaiki motor milik pesantren,

penampilannya compang-camping, sangat tergesa-gesa, wajahnya merah, bukan

karena mabuk atau ditampar, tapi terlihat juga air matanya berderai. Ia

mengucapkan salam dengan suara bergetar, dan mengabarkan bahwa.

“Ustadz... A-abi Ustadz,” kata santri itu terbata, tak kuat menahan tangis,

santri yang masih berdiri di samping motor itu tiba-tiba berlari menuju Jidan

yang berdiri di pelataran rumah bersama Inda, lalu memeluk Jidan layaknya

seorang adik yang tidak bertemu kakaknya selama puluhan tahun.

“A-abi meninggal Ustadz,” tangis santri itu pecah kembali. Perkataannya

melesat seperti tombak, tepat mengenai jantung Jidan dan Inda.

Keduanya bergetar mendengar kabar yang bak petir menyambar, air matapun

berderai cepat.

 Sesampainya mereka di rumah sang abi, di sepanjang jalan menuju

gerbang pesantren, terparkir mobil-mobil pengunjung untuk bertakziyah.

 Lapangan pesantren penuh dengan para santri dan penyelawat, mereka

semua menangis, tak menyangka kyai yang paling mereka sayangi dan hormati pergi

begitu cepat.

Ketika mereka masuk, terlihat segujur tubuh diselimuti kain batik panjang

dan kain putih menutupi kepala sang pemimpin itu.

Dengan sigap Jiddan memeluk tubuh tak bernyawa itu dengan kuat, menangis

meraung-raung, dadanya sesak, terhimpit, sakit karena perpisahan tak terduga

ini.

Ia peluk tubuh ibunya yang lemas, mereka menangis, suasana semakin kelam.

Tidak ada lagi abi, tidak ada lagi Kyai yang sangat disegani dan terhormat di

tengah-tengah mereka. Abi yang selalu bijaksana dalam mengambil tindakan, yang

selalu berbaur pada santri, yang banyak sekali mengajarkan segala hal untuk

anak-anaknya.

“Abi... semua telah usai Bi, aku tidak akan bisa sesempurna dirimu dalam

memimpin. Kenapa engkau pergi begitu cepat di saat aku masih membutuhkan

bimbinganmu untuk mengemban amanah besar ini,” hatinya berdesir, tak kuasa

menahan perih.

Beberapa hari setelah kepergian kyai Nur, langit pesantren masih kelam dan

haru, suasana terasa sunyi. Kini mereka hanya menunggu dan bertanya-tanya,

siapakah yang akan menggantikan kyai Nur, akankah seperti abi yang bagi mereka

kyai Nur adalah abi terbaik tak tergantikan.

Hati mereka tertuju pada satu nama. Bukan karena hanya ia salah satu dari 3

anak laki-laki kyai Nur yang berhasil menyelesaikan S1nya di luar negeri, tapi

juga kepribadiannya yang sungguh mirip dengan abinya, membuat santri selalu

nyaman berada dalam bimbingannya selama ia mengajar.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikahi Paman dari Tunanganku
8.8
Setelah mengetahui kebenaran pahit di kehidupan sebelumnya bahwa Samuel mengabaikannya demi mencintai adiknya sendiri, sang protagonis menolak melanjutkan kebodohan tersebut. Dalam kesempatan hidup kedua ini, ia menolak pernikahan politik dengan Samuel. Sebagai gantinya, ia memilih Jeffrey Gusmawan, paman Samuel sekaligus penguasa tertinggi di keluarga mereka. Keputusan mengejutkan ini tidak hanya membalikkan keadaan, tetapi juga membuat Samuel kehilangan akal sehatnya di hari pernikahan.
Sampul Novel Istri Kedua Tuan Gio
8.5
Demi kesembuhan ibu dan buah hatinya, Liana terpaksa meminta bantuan dana kepada Rafael. Pria berpengaruh tersebut bersedia membiayai seluruh pengobatan mereka, namun dengan satu syarat mutlak: Liana wajib menjadi istri keduanya. Terdesak keadaan yang begitu sulit, ia pun terpaksa menerima tawaran pernikahan tak terduga ini. Akankah keputusan besar tersebut membawa Liana pada kebahagiaan sejati, atau justru menenggelamkannya dalam penderitaan yang jauh lebih perih?
Sampul Novel Jangan Hancurkan Hatiku
8.2
Evelyn Carter awalnya dikagumi karena dinikahi Victor Blake, pewaris Beaumont yang berjanji menjaganya terlepas dari keterbatasan fisiknya. Sialnya, mimpi indah itu sirna ketika Evelyn tahu bahwa cacat di kakinya adalah akibat perbuatan suaminya sendiri. Merasa dikhianati oleh sosok yang paling ia percayai, ia menolak untuk terus terpuruk. Kini, Evelyn bertekad menata ulang hidupnya dan bangkit demi membalaskan semua rasa sakit hati yang telah ia lalui.
Sampul Novel Ketika Suami Membagi Cinta
7.9
Enam tahun membina rumah tangga karena kesalahan masa lalu, Arunika Selvara harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya, Davin Albrecht, menaruh hati pada Selina. Keretakan pernikahan mereka kian nyata saat putri mereka, Mireya, mulai lebih dekat dengan Selina. Meski mencintai wanita lain, Davin menolak bercerai. Di tengah rasa sakit, Arunika memilih pasrah dan menarik diri. Namun, keputusan Arunika untuk menjauh justru menyadarkan Davin bahwa ia tidak bisa hidup tanpa istrinya.
Sampul Novel Terjerat Cinta Duda Dingin
8.9
Sejak remaja hingga berumur hampir kepala tiga, Kinara Larissa Putri hanya mencintai satu pria. Impiannya terwujud saat ia dinikahi Arka, duda menawan dambaannya. Sayangnya, pernikahan itu hambar. Arka yang kaku dan egois ternyata menikahinya cuma demi sang anak, tanpa rasa cinta. Di tengah dinginnya sikap sang suami, sesosok pria lain hadir menawarkan kasih sayang yang tulus. Kinara kini bimbang, sanggupkah ia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta saat godaan baru mulai datang?
Sampul Novel The Deadly Love
9.6
Kehidupan damai Betty hancur seketika akibat insiden berdarah yang menyeretnya ke dunia Aldric, seorang pembunuh bayaran berdarah dingin. Pertemuan itu memicu obsesi mendalam pada diri Aldric untuk menguasai Betty sepenuhnya. Di tengah hubungan mereka, muncul ancaman dari masa lalu yang bertekad merebut Betty. Aldric pun bersumpah menjaga miliknya dengan segala cara. Bersama para sekutu, sanggupkah mereka melenyapkan pengganggu yang mengancam kebahagiaan mereka?