APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Godaan si Petani Tampan

Godaan si Petani Tampan

Mengikuti program pemuda terpelajar ke pedesaan pada era 1970-an membawa babak baru dalam hidupku. Di sana, perhatianku teralihkan oleh sosok Adri, seorang pria desa yang maskulin dan berotot. Didorong rasa penasaran, aku nekat menyelinap ke kamarnya di keheningan malam. Keputusan itu memulai hubungan intim yang penuh gairah di antara kami. Di sela-sela kesibukan menggarap ladang, kami mengukir romansa rahasia di berbagai sudut desa yang sepi dan pegunungan sunyi, meninggalkan jejak cinta yang mendalam.
Bab
Bagikan

Bab 3

Adri mengeluarkan uang kertas itu dan menatap tubuh bagian bawahku. Sentuhannya yang kasar justru membuat area itu makin basah. Dia menarik tangannya dan berkata, "Basah sekali."

"Cepat .... Aku mau ...." Aku hanya ingin melepas hasratku.

Namun, dia menggeleng dan tersenyum lebar hingga memperlihatkan gigi putihnya. "Aku akan memuaskanmu malam ini."

Setelah mengatakan itu, dia menyeka tubuh bagian bawahku dengan uang kertas. Kemudian, dia berdiri dan menarik celananya. Aku menggenggam saku celananya erat-erat sambil berujar dengan nada memelas, "Kalau kamu nggak memuaskanku sekarang, aku akan merasa sangat nggak nyaman. Berhubung begitu, aku akan cari orang lain."

Raut wajah Adri langsung menjadi kelam. Kemudian, dia membalikkan tubuhku dan menekanku ke atas kakinya. Bokongku yang empuk dipukulnya tanpa ampun sampai aku memohon ampun, "Adri, aku salah."

"Salah apa?" Pertanyaan mendadak itu membuatku tidak bisa menjawab. Dia pun memukulku lagi.

Akhirnya, aku tidak tahan lagi dan berseru, "Aku nggak akan cari orang lain. Aku cuma mau kamu!"

"Bagus." Adri tersenyum dan kembali bekerja di ladang.

Aku perlahan-lahan mengenakan pakaianku sambil menatapnya dengan penuh keluhan. Dia masih tersenyum seperti itu. Tampangnya saja terlihat jujur, tetapi dia sebenarnya sangat jahat.

Aku diam-diam memberi Adri penilaian dalam hati.

Dalam perjalanan ke kantin, seorang pemuda yang datang ke desa di periode yang sama denganku bertanya padaku, "Kamu sudah merasa baikan?"

"Emm, sudah jauh lebih baik," jawabku sambil diam-diam melirik reaksi Adri di hadapanku. Melihat dia sepertinya tidak mendengar percakapan kami, aku memberanikan diri berkata, "Aku lapar, boleh pinjam sedikit uang?"

Aku sangat pandai memanfaatkan kecantikanku. Pemuda itu pun memberiku setengah dari uangnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dia melambaikan tangannya dengan murah hati dan berujar, "Aku kuat dan bisa hasilkan banyak uang. Kamu nggak perlu kembalikan uangnya lagi."

Sebelum sempat berterima kasih, aku melihatnya menggaruk kepalanya dan telinganya juga memerah saat bertanya, "Bisa nggak kamu datang ke gunung belakang malam ini?"

Gunung belakang adalah tempat di mana pasangan muda sering berkencan. Maksudnya sudah jelas. Aku berencana untuk menolaknya secara langsung malam ini. Jadi, aku menyetujuinya sambil tersenyum.

"Ikuti aku." Adri tiba-tiba berbalik dan menatapku dengan tajam. Bokongku pun terasa makin sakit.

Malam ini, untuk pertama kalinya, aku tidak memanjat jendela kamar Adri, melainkan berencana untuk naik gunung.

Namun, tepat setelah berjalan beberapa langkah keluar dari gubuk jerami, sesosok tubuh kekar menghalangi jalanku. "Mau pergi kencan?"

"Nggak."

"Ikut aku." Adri terlalu kuat. Aku mau tak mau membiarkannya menuntunku melangkah maju. Melihat jalan menanjak yang familier, aku tiba-tiba menyadari apa yang ingin dilakukannya. Aku pun buru-buru menepis tangannya. "Aku nggak mau pergi!"

"Bukannya kamu mau naik gunung? Aku akan menggendongmu."

Ucapannya memang manis, tetapi nyatanya, dia menggendongku di pundaknya tanpa peduli pada perlawananku. Berhubung takut teriakanku akan menarik perhatian orang, dia pun menyumpalkan uang kertas ke mulutku.

Setelah melihat punggung pemuda itu, Adri akhirnya menurunkanku. Entah bagaimana, dia sudah dengan cepat menggunakan ikat pinggangnya untuk melilit pinggangku dan mengikatku erat-erat ke pohon.

"Ugh!" Aku segera menggeleng.

Adri menyeka keringat di dahinya, lalu mencondongkan tubuh ke dekatku dan berbisik, "Aku sudah bilang akan memuaskanmu malam ini. Aku akan tepati janjiku."

Celanaku yang lebar langsung mengendur dan jatuh ke lantai. Kedua kakiku yang ramping pun terekspos di udara.

Telapak tangannya yang hangat dengan terampil menggoda setiap titik sensitifku dan akhirnya berhenti di bokongku yang telah dipukulinya hingga memar. Dia meremasnya dengan kuat dan bertanya, "Kamu begitu suka merayu pria? Cuma karena aku nggak memuaskanmu? Hah?"

Aku mengerang kesakitan dan pemuda itu juga mendengar keributan yang kami timbulkan.

"Aneh, kenapa dia masih belum datang?" Pemuda itu pun duduk di samping. Aku tahu kami hanya berjarak beberapa pohon.

Menyadari hal ini, gelora hasrat di tubuhku makin membara dan bagian bawah tubuhku langsung basah. Adri menjilat dan menggigit daun telingaku. Aku pun agak gemetar. Jika bukan karena sedang diikat, aku pasti sudah lemas dan jatuh ke lantai.

Adri juga menyadari bahwa aku lebih sensitif dari biasanya. Tiga jarinya dengan mudah meraih jauh ke dalam tubuhku dan mulai bergerak.

"Coba tebak aku beli apa?"

Dia tersenyum dan menggoyangkan terong ungu di depanku. Aku menggeleng sambil mengerang.

"Nggak mau?" Raut wajah Adri langsung berubah. Dia lanjut berkata, "Kamu harus mau meski nggak mau. Siapa suruh kamu yang memprovokasiku dulu."

Tidak! Aku menggeleng untuk menunjukkan bahwa aku tidak mau terong itu, melainkan menginginkannya secara langsung. Tidak ada yang bisa menandinginya. Dia kuat, panas, dan keras.

"Santai." Bokongku dipukulinya dua kali lagi. Aku merintih dan mengikuti instruksinya untuk melebarkan kakiku. Tindakan ini sepertinya menyenangkan Adri.

Tak lama kemudian, terong yang berlumuran cairan itu digantikan oleh tubuhnya yang hangat. Gerakannya makin cepat, sedangkan aku menggeleng dengan asal dan napasku makin terengah-engah.

Di hutan yang sunyi saat ini, aku merasa suara yang sama sepertinya tersebar di mana-mana. Aku baru menyadari bahwa tempat ini bukan hanyalah tempat untuk berkencan dan berjalan-jalan, tetapi juga tempat bagi para kekasih untuk melampiaskan hasrat mereka. Itu berarti pemuda itu juga memiliki niat buruk!

Adri menggigit pelan dadaku yang montok dan aku merasa hatiku seperti disengat listrik. Aku tidak mampu bertahan lagi. Dorongan untuk melepaskan hasratku dihentikan oleh Adri. Dia bertanya sambil tersenyum jahat, "Kamu menyukainya?"

Aku mengikuti arah pandangnya dan melihat pemuda itu sedang menyentuh dirinya sambil mendengar suara-suara dari sekitarnya.

"Kamu mau aku mengajaknya bergabung?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Candu Dekapan Kakak Ipar
8.5
Menjadi bagian dari keluarga konglomerat justru menjadi siksaan bagi Djiwa. Diperlakukan buruk oleh ibu mertua tanpa pembelaan dari suaminya sendiri, ia merasa terasing di rumah megah tersebut. Namun, kehadiran Radja, kakak ipar tertua yang berwibawa dan dingin, mengubah segalanya. Tatapan intens Radja membangkitkan hasrat terlarang yang berbahaya. Djiwa pun terjebak dalam pusaran dosa manis yang tak bisa ia hindari, menyerah pada sentuhan pria yang seharusnya tidak boleh ia cintai.
Sampul Novel Dear Clarissa
7.9
Dua tahun Clarissa bertahan di kerasnya dunia malam Jakarta demi menjaga dirinya. Namun, ketenangannya terusik oleh Arga, pelanggan tetap yang sangat terobsesi padanya. Meski Clarissa benci pria dan terus menghindar, kuasa Arga membuatnya tak berkutik. Di sisi lain, perjuangan Arga meluluhkan Clarissa terhalang penolakan keras saudaranya yang memicu konflik besar. Akankah Clarissa akhirnya takluk pada pria yang kini terus membayangi hidupnya itu?
Sampul Novel Kisah Tukang Pijat Tunanetra
8.3
Himpitan ekonomi di masa pandemi memaksa seorang pria tunanetra mencari nafkah tambahan sebagai terapis pijat paruh waktu demi menghidupi keluarganya. Namun, panti pijat tempatnya bekerja ternyata menyimpan rahasia kelam berupa layanan khusus di lantai atas. Kejutan besar menantinya saat pelanggan pertama yang harus ia layani dengan teknik pijat khusus di ruangan tersembunyi itu adalah Siena Laudy, bos wanita yang sangat cantik dan berkuasa di perusahaannya sendiri.
Sampul Novel My Crazy Boss
8.6
Alexander Aimes, bos dingin yang gemar memecat asisten, dipertemukan kembali dengan Winona Kim. Perempuan itu pernah melukainya di kelab malam dan merusak mobilnya dalam sebuah kecelakaan. Demi melunasi ganti rugi dan membiayai sang ayah yang sakit, Winny, putri konglomerat yang jatuh miskin, terpaksa bekerja pada Alex di bawah ancaman penjara. Hubungan penuh ketegangan pun dimulai antara sang bos arogan dan asisten barunya yang keras kepala.
Sampul Novel Rapat Penting Itu Hanya Dusta
7.9
Saat nyawaku terancam dalam kecelakaan tragis, Roni mengabaikan tangisanku demi rapat yang ternyata bohong. Suamiku itu justru sibuk mengantar Chika, sekretarisnya, ke dokter hewan. Sakit hatiku kian mendalam ketika ia meremehkan hidupku dan menyerahkan proyek impianku pada wanita itu. Tepat di hari pernikahan kami yang kesepuluh, aku memilih menyerah. Walau Roni menertawakan gugatan ceraiku, aku bertekad bulat untuk pergi dan tidak akan pernah berbalik arah lagi.
Sampul Novel Turun Ranjang?
9.1
Kehidupan Bella berbalik arah setelah sebuah tragedi memaksanya menikahi Christopher, adik iparnya sendiri. Di tengah bayang-bayang perlakuan kasar Chiko, sang mantan suami, Bella kini harus menjalani babak baru. Meski Criss selalu berupaya melindunginya, sifat urakan pria itu membuat Bella enggan membuka hati. Mampukah pernikahan tanpa cinta ini bertahan? Ikuti pergulatan batin Bella menghadapi trauma masa lalu demi menemukan kebahagiaan sejati.