APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel GALERI CERPEN PANAS 21+

GALERI CERPEN PANAS 21+

Buku ini menghadirkan kumpulan kisah romansa modern yang dirancang khusus untuk pembaca dewasa. Setiap cerita pendek di dalamnya siap menemani malam Anda, mengusir sepi melalui narasi yang intens dan penuh gairah. Nikmati setiap bab yang menyajikan pelarian sempurna dengan alur memikat dan memuaskan. Koleksi ini menawarkan pengalaman membaca yang mendalam serta berani bagi Anda yang mendambakan kehangatan cinta yang membara.
Bab
Bagikan

Bab 2

Langit Jakarta murung sore itu. Mendung menggantung rendah, dan bau tanah basah mulai tercium bahkan sebelum tetesan pertama jatuh. Raka baru saja menyelesaikan satu orderan ketika WhatsApp-nya menyala.

Ara

"Mas, jemput aku sekarang. Bawa jaket yang semalam, ya."

Tak ada penjelasan lebih. Tak ada alamat. Tapi notifikasi aplikasi ojol menyusul pesan itu. Lokasi penjemputan: kampus tempat Ara kuliah. Titik tujuan: tidak dicantumkan.

Raka menarik napas dalam. Jaket yang dimaksud Ara masih tergantung di belakang pintu kontrakan. Belum sempat dicuci. Masih ada bau parfum Ara yang melekat samar, bercampur aroma tubuh, dan... memori basah dari malam sebelumnya.

Ia memakainya tanpa pikir panjang.

Langit pecah saat ia sampai di parkiran kampus. Hujan deras, mengguyur motor dan helmnya. Dari pintu lobi, Ara muncul berlari kecil, memayungi kepala dengan tas tote bag. Bajunya sudah setengah basah. Kemeja putih tipis menempel erat ke kulit, memperlihatkan lekuk payudara dan bayangan tali bra hitam yang kontras di balik kain tipis.

Ia melompat ke jok belakang. "Cepetan jalan, Mas! Dingin..."

Begitu motor melaju, Ara langsung melingkarkan kedua lengannya ke perut Raka. Tak hanya memeluk-ia menempel, menekan tubuhnya ke punggung Raka dengan napas memburu.

"Mas, aku nggak pake celana dalam..."

Raka tersentak. Tubuhnya otomatis menegang.

"Aku basah dari tadi di toilet kampus. Tapi bukan karena hujan," lanjut Ara, suaranya nyaris tidak terdengar karena angin dan suara mesin.

"Gue gila," batin Raka. Tapi motornya terus melaju.

"Aku mau tempat yang sepi," kata Ara.

Raka membawa mereka ke sebuah halte kosong dekat taman kota. Terlindung atap dan dikelilingi pohon. Hujan masih deras, membuat suasana makin sepi dan samar.

Begitu motor berhenti, Ara turun lebih dulu. Jaket Raka langsung ia tarik dari tubuhnya, lalu menyelimutkan ke tubuhnya sendiri, menyisakan kaki panjangnya yang telanjang dari lutut ke atas.

"Aku kedinginan..." katanya, lalu duduk di bangku beton halte, membuka jaket sedikit agar celah dadanya terlihat samar.

"Mas pengen?" bisiknya. "Dari kemarin kayaknya pengen banget."

Raka hanya berdiri diam. Tapi matanya bicara. Dan Ara membaca semuanya.

Ia membuka kancing kemejanya satu per satu, perlahan, sambil menatap lurus. Saat kancing terakhir terlepas, dadanya terbuka, penuh, padat, dengan puting keras yang menggoda, menggigil oleh udara dingin.

Ara menyandarkan diri ke dinding, merentangkan jaket ke depan agar menutupi mereka berdua. "Mas sini..."

Raka bergerak seperti ditarik medan magnet. Ia duduk di depannya, mencium aroma tubuh Ara yang bercampur hujan. Tangannya menyentuh paha Ara - kulit basah, hangat, bergetar. Pelan-pelan, ia naik ke bagian dalam paha, menyusuri jalan lembap yang sudah terbuka bahkan tanpa disentuh.

"Ara..."

"Ssst... Mas diem aja. Sentuh aku."

Jari Raka menyentuh bagian paling basah dari tubuh Ara, membuat gadis itu mendesah tertahan. Ara menggigit bibirnya kuat-kuat, tangannya mencengkeram leher Raka, menarik wajahnya lebih dekat ke dada yang kini berguncang pelan karena napas tak stabil.

"Aku udah lama pengen ini. Waktu di motor... aku bayangin kamu masukin jari kamu sambil aku duduk di jok belakang," gumamnya.

Raka menurut. Jarinya masuk, hangat dan licin. Ara menggeliat, satu kakinya terangkat ke bangku, membuka diri lebih lebar. Jaket masih melindungi mereka dari dunia luar, menciptakan ruang kecil dan panas di tengah hujan yang menderu.

Raka mencium dada Ara, menjilat putingnya dengan perlahan, lalu menggigitnya ringan. Ara menahan erangan, matanya terpejam rapat, tubuhnya melengkung ke depan.

"Mas..." bisiknya, "Masnya juga keluarin. Aku pengen pegang."

Tangannya masuk ke dalam celana Raka, menemukan batang keras yang sejak tadi menegang. Ia menggenggamnya dengan penuh nafsu, lalu mulai menggerakkan tangan naik turun perlahan, mengikuti irama dari tubuh mereka yang kini sudah terikat dalam satu frekuensi.

Aroma tubuh, hujan, dan suara napas yang memburu memenuhi ruang sempit di balik jaket.

"Aku mau duduk di pangkuan Mas," kata Ara.

Raka mengangguk. Ara duduk mengangkang di pangkuannya, tubuhnya basah, hangat, dan menggoda dalam cara paling mentah.

Mereka belum bersatu sepenuhnya. Tapi gesekan kulit, desahan, dan jari yang terus bermain membuat tubuh Ara gemetar. Dan di tengah derasnya hujan yang menghapus semua suara, Ara menjerit kecil-ledakan dalam diam.

Raka mengikutinya beberapa detik kemudian. Mengerang pelan, mencengkeram pinggang Ara erat, membiarkan diri larut dalam kenikmatan yang mereka ciptakan di balik jaket, di halte sepi, dalam hujan yang belum juga berhenti.

Mereka terdiam lama.

Tubuh bersandar satu sama lain, napas perlahan kembali normal. Hujan tetap turun, tapi dunia di dalam jaket mereka sudah tak sama lagi.

Ara membuka matanya, tersenyum nakal. "Mas... kita belum selesai, kan?"

Raka tersenyum. Basah. Panas. Dan jatuh semakin dalam.

***

Pintu kontrakan Raka berbunyi dua kali. Jam menunjukkan pukul 11 siang. Ia baru saja selesai mandi, hanya mengenakan celana pendek longgar, tubuh masih basah dan beruap. Ia berjalan malas ke depan, membayangkan kurir paket atau tetangga salah kamar.

Tapi begitu pintu dibuka, dunianya berhenti sebentar.

Ara berdiri di sana. Tanpa bra. Tanpa malu.

Pakaiannya sederhana-kaos hitam gombrong dan hotpants jeans belel yang lebih mirip celana dalam daripada celana jalan. Rambutnya diikat tinggi, wajahnya tanpa rias, tapi matanya... tajam, seperti sudah tahu apa yang akan ia lakukan.

"Mas kangen aku?" tanyanya sambil melangkah masuk tanpa menunggu undangan.

"Eh... gimana kamu bisa masuk gang ini? Aku nggak kasih alamat, kan?" tanya Raka sambil menutup pintu.

Ara mengangkat kunci kecil dari saku celananya, menggoyang-goyangkannya di udara.

"Kemarin pas kita di halte, kamu naruh gantungan kunci motor di meja. Aku pinjam bentar. Sekalian ke tukang kunci." Ia tersenyum nakal. "Sekarang aku bisa masuk kapan aja."

"Ra, kamu gila." Tapi Raka tidak menolak. Karena di balik kegilaan itu, ada bagian dari dirinya yang menikmatinya.

"Emang. Dan aku mau kamu ikut gila bareng aku."

Dengan cepat Ara menekan tubuh Raka ke tembok. Tangannya menyusup ke bawah celana pendek Raka, menemukan apa yang ia cari. Keras. Siap. Menginginkan.

"Aku mimpi kamu semalam," bisik Ara, sambil mengecup leher Raka. "Dalam mimpi itu, aku di atas kamu. Aku ikat tangan kamu ke ranjang. Kamu nggak bisa ngelawan. Dan aku paksa kamu buat keluar... berkali-kali."

Tangannya makin dalam, menggerayangi batang panas Raka yang kini nyaris lepas dari kain.

Raka membalikkan posisi, membanting Ara ke dinding. "Gantian," desisnya. Ia mencium Ara dengan brutal-bibir saling menabrak, lidah saling mencari, tangan meremas pinggul gadis itu dengan kuat.

Kaos hitam itu terangkat cepat. Tanpa bra, dada Ara langsung terlihat, berayun bebas dan menantang. Raka langsung menunduk, menjilat putingnya dalam putaran basah yang membuat Ara tercekik nikmat.

"Mas, peluk aku lebih keras. Sampai aku nggak bisa napas."

Ara menekan kepala Raka ke dadanya, tubuhnya mulai menggeliat. Tangannya masuk ke celana Raka dari belakang, meremas bokong keras itu sambil menggigit bahunya sendiri.

Raka mendorongnya ke kasur. Kontrakan kecil itu sempit, tapi cukup untuk satu ranjang kapuk yang sekarang jadi panggung mereka.

Ara membuka celana sendiri, melemparnya ke lantai. Tidak ada celana dalam. Tidak ada sensor. Tubuhnya kini telanjang di bawah sinar siang, keringat mulai muncul, meski hujan belum turun.

"Mas lihat aku," katanya. "Lihat tubuh yang kamu pikirin tiap malem."

Dan Raka melihat.

Kulit Ara bersih, paha berisi, selangkangan berambut tipis, dan lubang basah yang berkilat. Ia membuka kedua kakinya perlahan, seperti menyajikan hidangan panas untuk disantap. Jarinya mengelus bagian paling sensitif, memperlihatkan betapa siapnya ia.

"Jilat aku, Mas. Sampai aku nggak bisa mikir."

Raka menurut. Ia turun perlahan, membuka kaki Ara lebih lebar, lalu menjilat bibir bawahnya seperti pria lapar yang menemukan makanan favoritnya. Lidahnya menjelajahi setiap lekuk, dari atas ke bawah, melingkar, menusuk pelan, lalu cepat dan dalam.

Ara menggeliat, mencengkeram seprai, lalu kepalanya sendiri. "Mas... Mas... Mas jangan berhenti..."

Tubuhnya berguncang, kakinya meremas pinggang Raka, dan dalam beberapa detik, ia meledak di mulutnya. Cairannya mengalir, hangat dan manis. Raka menelannya semua, mata menatap langsung ke milik Ara yang kini setengah sadar.

Tapi permainan belum selesai.

Raka naik ke atas tubuhnya, mencium mulut Ara yang masih basah, membiarkan gadis itu mencicipi dirinya sendiri. Batangnya keras, menyentuh bibir bawah Ara. Gadis itu menggenggamnya, mengarahkannya ke dalam.

"Mas masukin. Aku udah nggak tahan."

Dengan satu gerakan perlahan, Raka menembus Ara. Hangat. Sempit. Lembut. Tubuh mereka menyatu. Pelan-pelan, lalu lebih cepat. Suara tubuh saling bertabrakan memenuhi kamar kontrakan kecil itu. Kasur berdecit. Dinding tipis bergetar.

"Mas, aku mau di atas."

Ara membalikkan tubuh, naik ke atas Raka, menungganginya seperti kuda liar. Rambutnya tergerai, dadanya bergoyang, tangannya di dada Raka. Ia menaikkan dan menurunkan tubuhnya, pantatnya menampar paha Raka tiap kali turun.

"Mas enak nggak? Enak nggak ngentotin aku?"

"Gila... enak banget..."

Ara menggigit bibir, mempercepat gerakan, lalu berteriak kecil saat tubuhnya kembali klimaks, mengejang di atas tubuh Raka.

Dan Raka menyusul. Ia meledak di dalamnya, panas dan dalam. Nafasnya berat. Tubuh mereka lengket oleh keringat dan sisa-sisa kenikmatan.

Ara roboh ke dada Raka, tertawa kecil.

"Aku suka kontrakan kamu, Mas."

Raka membalas pelukannya. "Tapi kamu nggak boleh pakai kunci duplikat seenaknya."

Ara mendongak. "Kenapa?"

"Karena besok kamu nggak perlu buka kunci lagi. Kamu tidur sini."

Ara tersenyum. Lalu mencium bibir Raka lagi. Panas. Dalam. Penuh janji yang belum selesai.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Dalam Balutan Tasbih
8.1
Ikrimah harus menghadapi kenyataan pahit saat Sakila, sahabatnya sendiri, mencintai Zaid, pria yang juga ia puja. Sakila bahkan rela berpindah keyakinan demi memikat hati Zaid. Meski menjadi korban fitnah kejam, Ikrimah memilih tegar dan menyerahkan takdirnya kepada Tuhan. Sementara itu, Zaid didera kebingungan besar dalam menentukan pelabuhan hatinya. Antara ketulusan Ikrimah atau pengorbanan Sakila, siapakah sosok yang akhirnya akan Zaid pilih sebagai pendamping hidupnya?
Sampul Novel GAIRAH PAPA MERTUAKU
8.5
Dua tahun membina rumah tangga, Tessa Willson didera kesepian akibat Leonil, sang suami, yang terlalu sibuk bekerja. Rasa frustrasi karena kebutuhan batinnya terabaikan kian memuncak. Di situasi rapuh ini, Arnold Caldwell, ayah tiri suaminya, datang untuk urusan bisnis. Daya tarik Tessa menyulut perselingkuhan terlarang yang membakar gairahnya. Saat Tessa ingin menyudahi hubungan gelap tersebut, ia justru terjebak dalam muslihat licik Arnold. Mampukah ia menyelamatkan pernikahannya?
Sampul Novel Hati yang Sedang Berperang
8.9
Bahar Asian menjalani hidup penuh tekanan di Midyat akibat kebencian kakeknya, Nasuh, yang memandang rendah statusnya sebagai anak luar nikah. Di tengah penderitaan itu, ia bertemu Emir Demir, pria yang bertekad membalas dendam atas kematian orang tuanya kepada keluarga Asian. Hubungan mereka rumit karena terjebak intrik perjodohan dan manipulasi, namun cinta perlahan tumbuh. Kini, mereka dihadapkan pada pilihan sulit antara loyalitas keluarga atau perasaan cinta.
Sampul Novel Hot Desire Mr. Thompson
9.4
Pernikahan perjodohan mempertemukan James dengan Elvira, sosok yang langsung membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Pesona Elvira serta kenangan malam pertama di limosin memicu obsesi mendalam pada diri James. Di sisi lain, Elvira sama sekali tidak mengetahui bahwa suaminya adalah seorang miliarder. Hubungan pernikahan mereka pun mulai diguncang prahara besar sejak kehadiran mantan kekasih James. Sanggupkah ketulusan cinta mereka bertahan melewati cobaan orang ketiga ini?
Sampul Novel Istri Simpanan Itu Akan Menyesal
8.7
Rumah tangga Nayla Azzura dan Rafka Dirgantara yang tampak sempurna hancur seketika saat rahasia tentang istri simpanan Rafka terbongkar. Alih-alih meratap, Nayla memilih merancang aksi balas dendam yang cerdik dan penuh kejutan tak terduga. Namun, situasi menjadi rumit ketika sosok pria lain hadir dan memicu percikan baru di antara mereka. Siapakah yang akan keluar sebagai pemenang dalam intrik penuh pengkhianatan dan misteri ini?
Sampul Novel Pernikahan Sebatas Status
8.0
Demi mempertahankan rumah peninggalan orang tuanya, Jingga menyetujui sebuah kesepakatan rumit. Ia bersedia menjadi istri kontrak bagi Ganendra, seorang miliarder yang butuh perlindungan dari kejaran wanita pemburu harta. Pernikahan formalitas ini awalnya dilakukan demi keuntungan pribadi masing-masing. Namun, seiring berjalannya waktu, sandiwara tersebut justru menumbuhkan perasaan tulus. Hubungan tanpa rasa kini bersemi menjadi cinta yang nyata dan mendalam di antara keduanya.