APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Pelarian Cinta

Gairah Pelarian Cinta

Kepala ku mulai naik turun mengoral penis nya yang membuatku selalu terbayang. Sementara tangan kiri ku ikut mengocok naik turun. "Oooohhhh.... Cinta Stop...! Nanti keluaarrr! Aaaahhhh.....", lenguh Robi meminta ku berhenti mengoral penisnya. Aku berhenti dan kemudian berbalik badan, kami kembali saling pandang tanpa bicara satu kata pun. Lalu tiba-tiba tubuhku dipeluknya dan segera dibaliknya hingga kini posisi kami berganti menjadi Robi diatas tubuh ku dalam posisi missionary. Robi memandang tajam mata ku bebrapa saat seakan meminta ijin pada ku, aku hanya mengangguk dan berkata. "Pelan-pelan, ya!". Robi membelai pipi ku dan sesaat kemudian ia mencium kembali bibir ku agak lama dan setelah itu ia bicara dengan suara bergetar. "Jika sakit ngomong, ya. Ini juga yang pertama bagi ku, yang!". Aku hanya memejamkan mata saat kurasakan penisnya sudah berada di depan bibir vagina ku, di gesek-gesekannya sejenak supaya aku kembali bisa mengeluarkan cairan lubrikasi ku. Sambil terus menggesekkan penisnya di bibir vaginaku, Robi kemudian menggenggam penis nya dan mengarahkan serta menuntunnya ke bibir vagina ku. "Aawww....", pekik ku sambil meringis kesakitan saat kepala penis nya mulai membuka jalan, menuju vagina ku, 1/4 batangnya sudah memenuhi vagina ku yang kurasakan sesak dan penuh. "Sakit, Rob!", keluh ku. Robi yang melihatku meringis kesakitan kemudian ia mendiamkan sejenak sambil ia mengelus rambut dan mendaratkan ciumannya ke kening ku. Aku seperti merasa nyaman dengan perlakuannya barusan, sambil tersenyum aku berbisik pada nya. "Ambillah sayang, aku ikhlas menyerahkan untuk mu". Aku kembali memejamkan mata dan berusaha pasrah dan rileks, aku tahu ini bakalan sangat sakit dan merupakan kebanggan bagi kaum perempuan tapi rasa sayang ku menutup kesadaran ku saat itu, aku menanti dengan berdebar menyerahkan kehormatan ku pada lelaki yang sudah menaklukan hati ku. Melihat aku dengan pasrah di bawah membuat Robi mantap untuk memasukkan penis nya lebih dalam lagi hingga bisa merobek selaput darah ku. Lalu ia menghentakkan pinggulnya dengan keras sehingga membuat ku menjerit kembali. "Aaaaaawwwww..... Aduh.....! Aaaaaahhhhkkkk....".
Bab
Bagikan

Bab 3

Aku ingin membuktikan pada papa bahwa aku bisa mandiri dan bisa bangkit kembali seperti dulu, dengan tekad kuat aku mesti bisa mengembalikan kejayaan suamiku.

Aku tidak pernah malu, dari dulunya seorang istri yang selalu bergelimang harta dan hidup mewah, kini harus rela hidup prihatin dan irit.

Dari hasil penjualan perhiasan itulah, aku mulai berdagang pakaian. Aku mengambil dari penyalur pakaian retail yang di impor dari luar negeri.

Pakaian itu kemudian aku jajakan kepada orang-orang yang kukenal, tetangga, keluarga, dan teman-teman. Bahkan, kepada para relasi yang dulu menjadi rekanan bisnis suamiku pun tak luput menjadi incaran untuk pemasaran barang-barang daganganku.

Aku tidak mengindahkan omongan dan pandangan iba orang-orang yang membeli barang daganganku. Aku tidak mau dikasihani.

Aku berjuang gigih, tanpa merasa malu. Bahkan sambil berdagang aku menggendong Jelita yang saat itu masih balita ke sana ke mari. Sementara Prima sudah cukup besar untuk ditinggal di rumah bersama pembantu.

Tekad dan keinginanku kuat, aku harus menyelamatkan keluarga dan pernikahanku. Anak-anak membutuhkan biaya untuk sekolah dan tidak mungkin mengharapkan suamiku yang setiap hari hanya duduk termenung di teras.

Aku sadar suami dan anak-anak bertumpu dan menggantungkan nasib serta hidup mereka padaku.

Aku bertekad, suatu saat nanti jika uangku sudah cukup, aku akan memberikannya pada suamiku sebagai modal untuk membangun perusahaan baru agar kepercayaan dirinya bisa pulih kembali.

Semula orang-orang hanya membeli karena ingin menolong, lama-lama justru menjadi pelanggan tetap.

Pakaian yang kujual berkualitas bagus dan mengikuti trend paling mutakhir yang sedang in di luar negeri.

Produknya bahkan belum dijual di pertokoan elite di Jakarta. Harganya pun bersaing dan lebih murah daripada di pertokoan elite ataupun butik-butik.

Bahkan aku juga memberi kemudahan dalam pembayaran.

Pelangganku tidak perlu membayar kontan, tetapi bisa mengangsur dengan cicilan yang ringan.

Strategi itu ternyata berhasil.

Pelangganku menjadi seperti orang kalap, memborong semua pakaian yang kutawarkan.

Pelanggan tidak perlu repot ke luar rumah, aku yang mendatangi mereka dan mengantarkan pesanannya dan juga menawarkan koleksi terbaru.

Tentu saja pelayanan seperti ini membuat pelangganku merasa dimanjakan.

Kalau pada awalnya, aku mengambil barang daganganku dari pemasok. Kini sedikit demi sedikit, aku belajar mengimpor sendiri pakaian itu.

Aku mencoba berhubungan langsung dengan para penyalur di Hongkong dan China. Bahkan, aku juga mulai pergi ke negara itu untuk memilih langsung model pakaian dan negosiasi harga.

Selera serta instingku memang cukup baik bisa menangkap keinginan pelangganku, ditambah dengan kepiawaianku mengatur cash flow membuat bisnisku makin lama semakin berkembang pesat. Hingga akhirnya, aku bisa membuka kios untuk menjual pakaian dengan harga murah.

Aku juga membuka butik ekslusif untuk koleksi yang lebih mewah.

Meskipun begitu, layanan antar ke rumah tetap aku pertahankan untuk para pelanggan setiaku yang kelebihan uang, seperti ibu-ibu pejabat, artis atau istri pengusaha.

Semangat suamiku juga mulai bangkit, setelah melihat tekad dan kesungguhanku.

Ia pun tergugah untuk mencari peluang bisnis baru.

Meniru jejakku, ia mengenyahkan harga diri dan gengsinya.

Ia menemui rekan-rekan bisnisnya yang dulu untuk menjajaki kemungkinan memulai usaha baru.

Pekerjaan apapun ia ambil. Ia menjadi penyalur alat tulis kantor, mebel dan elektronik.

Dua tahun lamanya aku menyisihkan keuntungan yang kuperoleh. Setelah terkumpul cukup banyak, aku menyerahkan pada suamiku.

Dengan terharu suamiku memelukku, saat itu aku sangat bahagia sekali, perjuanganku berhasil mengangkat dan mengembalikan harga dirinya.

"Jika aku tidak memilikimu, aku tidak tahu hidupku akan seperti apa," bisik suamiku dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih untuk tetap setia mendampingiku melewati masa-masa sulit ini, Ma."

Suamiku menggunakan uang itu untuk membangun perusahaan baru. Ia tidak mau lagi menanam modal untuk bisnis yang rumit dan terlalu tinggi tingkat persaingan dan resiko kerugian tinggi. Kali ini, ia lebih hati-hati dalam menentukan jenis usaha. Ia memilih bentuk bisnis dengan spekulasi kecil tapi mendatangkan keuntungan yang banyak.

Suamiku mendirikan perusahaan ekspor pangan dan kebutuhan pokok ke negara-negara maju. Negara-negara yang tidak memiliki cukup lahan untuk menanam sumber alam, padahal mereka tetap membutuhkan sayur-mayur dan buah-buahan segar untuk makanan mereka.

Tentu saja, suamiku tidak perlu merogoh kocek yang besar untuk membeli kekayaan alam di negeri yang subur dan permai ini, bukan? Dengan mengekspornya, ia memperoleh keuntungan yang berlipat-lipat. Modalnya bisa berputar cepat.

Meski begitu, suamiku tetap tidak meninggalkan bisnis penyaluran alat tulis kantor, mebel dan elektronik. Dari bisnis ini, ia juga memperoleh tambahan modal segar.

Suamiku menyadari kesuksesannya itu diperoleh berkat bantuanku. Ia merasa berhutang budi, karena itu ia tidak pernah berani melawanku.

Di kantor, suamiku menjadi pemimpin dan orang nomor satu, tetapi bila di rumah ia menjadi suami yang patuh dan penurut.

Ia tahu diri, jika tidak ada aku istrinya, ia tidak akan bisa sesukses ini lagi dan tidak mungkin dipandang sebagai pengusaha terhormat.

Karena itu, suamiku merasa seluruh hidupnya telah dibeli olehku, harga dirinya, gengsinya, semuanya. Tidak ada lagi yang tersisa.

Aku memugar rumah lama kami, dan membeli kebun kosong di sebelah, sehingga kami memiliki lahan untuk memperbesar rumah kami.

Aku membangun rumah ini seperti layaknya sebuah istana. Megah dan luas. Seolah dengan begitu aku ingin mengatakan kepada semua orang bahwa keluarga kami telah bangkit kembali.

Hanya perlu waktu tiga tahun untuk meraih lagi semua kehormatan dan kedudukan yang sempat hilang terenggut dari mereka.

Cinta lahir setahun kemudian, melengkapi kebahagiaan kami.

//

"Jangan nangis terus, Mbak," hibur pemuda itu serba salah. "Jangan bikin saya jadi tambah bingung."

Cinta langsung menghapus air matanya dengan jengkel.

Ia memajukan tubuhnya merapat ke kursi pengemudi, lalu menatap ke spion menantang mata si supir, tepat di saat pemuda itu tengah mengawasinya dari kaca spion .

Terpaksa pemuda itu menunduk rikuh.

"Kalau kau dipisahkan dari orang yang kau cintai, lalu dipaksa kawin dengan orang lain, apa yang akan kau lakukan?" bentak Cinta geram. "Tertawa-tawa? Berteriak-teriak senang?"

"Setidaknya beritahu ke mana tujuan kita," kata pemuda itu sambil menelan ludah keluh. "Yang paling menyiksa bagi seorang supir adalah ketika tidak tahu arah yang dituju."

Cinta menghempaskan punggungnya dengan lemah ke sandaran kursi. Ia membuang pandangannya ke luar jendela dan menarik nafas dengan perasaan tersiksa.

"Bawa saya pergi jauh...." bisiknya sambil menangis lagi.

"Jauh dari rumah itu....! Itu saja yang saya inginkan."

"Apakah mbak punya alamatnya...? Rumah keluarga, atau teman," sergah pemuda itu kebingungan.

"Semua orang yang saya kenal kini menjadi musuh saya," bisik Cinta getir. "Mereka mendukung mama saya untuk menjebloskan saya ke dalam pernikahan keparat ini..."

"Lalu ke mana saya harus mengantarkan mbak?" tanya pemuda itu sambil menyeka dahinya yang berkeringat.

Meskipun AC di mobil ini dingin luar biasa, ia merasa tegang dan kepanasan.

Sejak tadi gadis yang disupirinya ini tidak memberikan jawaban yang memuaskan ke mana sebetulnya ia harus menyetir mobil. Bikin pusing dan jadi ruwet.

"Antarkan saya ke penginapan yang bisa saya tempati untuk waktu yang cukup lama," ucap Cinta akhirnya. "Supaya saya bisa menyembunyikan diri, mengasingkan diri, sampai keributan di rumah reda, dan mereka melupakan pernikahan itu."

Pemuda itu mengambil inisiatif sendiri. Ia tidak mau bertanya apa-apa lagi, daripada malah tambah rumit. Belum tentu gadis itu tahu penginapan mana yang diinginkannya.

"Lebih baik langsung saja aku yang memutuskan," pikir pemuda itu kesal. "Kalau tidak salah, diujung jalan tol Cikampek, ada penginapan yang lumayan bersih, kubawa saja gadis ini ke sana supaya persoalan ini cepat beres. Kepala'ku sudah mau pecah!"

Pemuda itu langsung membawa limousin itu melaju di jalan tol. Selama perjalanan keduanya membisu. Sesekali pemuda itu melirik ke kaca spion dan diam-diam mengagumi kecantikan gadis itu. Ia menyusuri setiap senti yang terpatri di wajah gadis itu.

Matanya yang indah dengan bulu mata yang lentik, dinaungi sepasang alis yang tebal dan hitam. Hidungnya mancung dan bibirnya tipis memerah.

Cantik sekali, dan gadis itu semakin memukau dengan riasan pengantinnya yang sempurna.

"Sayang," pikirnya. "Cantik-cantik tapi bermasalah."

Pemuda itu mengawasi Cinta yang terpekur memandangi jalan di luar sana.

Entah berapa lama Cinta termenung, matanya memang tertuju ke luar jendela, tapi pikirannya menerawang ke mana-mana. Sampai-sampai ia tidak sadar ketika mobil berhenti di depan lobi kawasan bungalo yang asri dan teduh.

"Apa mbak tidak keberatan menginap di sini?" tegur si pemuda sopan.

Bersambung

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alisha: Wanita yang Kau Sia-siakan
9.1
Dunia Alisha runtuh akibat perselingkuhan Rama, suaminya, dengan seorang aktris terkenal. Tanpa ada penyesalan dari Rama, Alisha memilih pergi dan bekerja sebagai pengasuh anak seorang CEO muda bernama Damar. Kelembutan hati Alisha perlahan memikat sang bos. Namun, saat hubungan mereka mulai dekat, Rama mendadak kembali dan memohon untuk rujuk. Alisha kini terjebak dalam dilema antara ketulusan Damar atau penyesalan mantan suaminya.
Sampul Novel Cinta tanpa koma
9.2
Bagi Rudi, Rindu adalah cinta pertama dan terakhirnya. Namun, keyakinan itu runtuh saat Jaka, sahabat karibnya sendiri, merebut Rindu. Di tengah kehancuran hatinya, Rudi berusaha ikhlas dan tegar menerima kenyataan pahit tersebut. Meski waktu berlalu dan banyak wanita baru mencoba mendekatinya, kenangan masa kecil bersama Rindu tak pernah pudar dari benaknya. Akankah keteguhan hati dan kesetiaan Rudi berujung pada kebahagiaan? Ikuti kisah perjuangan cintanya yang penuh liku.
Sampul Novel Dipatahkan Oleh Cinta
8.6
Maaf dari suami atas kata-kata kasarnya tak lagi berarti bagi sang istri. Kepedihan hatinya kian menjadi saat sang suami membawa Charissa, selingkuhannya yang sedang mengandung, untuk tinggal serumah. Atas nama kesehatan, ia terpaksa menerima kehadiran wanita itu. Di balik sikap penurutnya, ia menangisi takdir hidupnya yang kini hancur lebur. Ia merasa tak akan pernah sanggup berbagi cinta dan tempat tinggal dengan sosok yang telah merampas seluruh kebahagiaannya.
Sampul Novel Hilang Selamanya Dari Hatiku
8.6
Sepuluh tahun menikah dengan Dennis, sang istri selalu dijadikan alasan suaminya untuk memutuskan hubungan dengan para pacar barunya. Di hari peringatan pernikahan mereka, ia justru sibuk menenangkan mahasiswi yang baru dicampakkan Dennis, sementara suaminya menonton bioskop dengan kekasih baru. Menyadari kemalangan dirinya, ia memutuskan untuk meminta cerai. Dennis yang kebingungan meminta waktu untuk berubah, namun ia memilih pergi ke luar negeri demi meninggalkan luka tersebut selamanya.
Sampul Novel Istri Memalukan
9.7
Bagi Yudha, Yasmin hanyalah istri pajangan demi gengsi jabatannya sebagai manajer. Namun, penampilan sang istri di pesta pengukuhannya dinilai sangat memalukan, hingga Yudha tega mengusirnya. Saat pernikahan mereka di ambang kehancuran, seorang wanita penggoda hadir mendekati Yudha. Apakah Yasmin akan memilih bertahan dalam rumah tangga dingin ini, ataukah orang ketiga tersebut bakal menjadi akhir dari segalanya?
Sampul Novel Kutemukan kebahagiaan ku
9.0
Keyakinan bahwa orang baik akan berjodoh dengan jiwa yang sama kini terbukti nyata dalam hidupku. Usai duka mendalam karena melabuhkan hati pada orang yang keliru, doa-doaku akhirnya dikabulkan. Sosok pria tulus kini hadir, selalu peduli dan melimpahiku dengan kasih sayang luar biasa. Penantian panjangku pun berakhir manis, menemukan kebahagiaan sejati bersama pasangan yang mampu menghargai diriku sepenuhnya.