APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Liar Perselingkuhan

Gairah Liar Perselingkuhan

Pernikahan Kaindra dengan Tanika, seorang sosialita, terasa hambar karena dugaan pengkhianatan. Dibanding melabrak sang istri, Kaindra memilih membalas dendam lewat hubungan gelap yang membara bersama rekan kerjanya, Fiona. Ia pun mendekati Isvara, sahabat karib istrinya yang licik, untuk membongkar rahasia Tanika. Kini, di pusaran dusta dan hasrat, Kaindra harus memilih: terus mencari kebenaran yang merusak atau mundur sebelum semuanya hancur.
Bab
Bagikan

Bab 1

Aku Kaindra, pria 32 tahun yang dulunya hanyalah seorang karyawan biasa di perusahaan besar milik Desmond Wijaya. Empat tahun lalu, hidupku berubah drastis. Pak Desmond, bos sekaligus ayah mertuaku, memperkenalkanku kepada putri tunggalnya, Tanika. Saat itu aku sudah mulai meniti karier di perusahaan beliau, bekerja keras hingga aku diakui sebagai salah satu aset perusahaan. Mungkin itu yang membuat Pak Desmond melihatku sebagai pasangan yang cocok untuk Tanika.

Tanika, di mataku waktu itu, adalah wanita yang berbeda dari kebanyakan. Dia anggun, ceria, menarik meski sedikit tertutup, dan memiliki aura yang sulit dijelaskan—seperti seseorang yang menyimpan banyak cerita di balik senyumnya. Aku, yang awalnya hanya merasa beruntung dikenalkan pada putri bos, perlahan benar-benar jatuh cinta.

Namun, selama masa perkenalan itu, aku mulai melihat sisi lain Tanika. Dia bukan wanita yang biasa mengurus bisnis atau tertarik dengan pekerjaan seperti ayahnya. Sebaliknya, dia lebih menyukai gaya hidup bebas bersama teman-teman sosialitanya. Ketika aku sedang bekerja keras di kantor, Tanika lebih sering terlihat di acara-acara brunch mewah atau foto-foto di tempat yang instagramable. Tapi aku tak pernah mempermasalahkan itu. Bukankah setiap orang punya dunianya sendiri?

Segala keraguan yang ada seolah sirna setelah kami pacaran selama setahun dan kami memutuskan untuk menikah. Pak Desmond terlihat sangat bahagia saat kami memberi kabar itu. Aku yakin beliau berpikir pernikahan kami adalah langkah besar karena melihat potensiku yang bisa meneruskan warisan bisnisnya. Aku tak tahu apa yang sebenarnya Tanika rasakan, tapi aku sendiri benar-benar percaya bahwa pernikahan ini akan membahagiakan kami berdua.

Beberapa hari sebelum hari besar itu, aku mengalami kejadian yang sulit kulupakan. Aku tak sengaja melihat Tanika di sebuah mall, bersama seorang pria yang tak kukenal. Awalnya aku pikir itu hanya teman biasa, tapi saat mereka berbincang di kafe, aku melihat tangan mereka saling menggenggam. Bahkan Tanika menangis, dan pria itu mencoba menenangkannya dengan menyentuh wajahnya.

Hatiku rasanya jatuh ke lantai. Aku ingin menghampiri mereka, ingin menanyakan apa yang sedang terjadi. Tapi aku hanya berdiri di kejauhan, mengamati, dan mengambil foto mereka dengan ponselku. Aku menyimpan foto itu di galeri tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Malam itu aku pulang dengan pikiran bercampur aduk. Apakah ini hanya salah paham? Atau apakah Tanika sebenarnya menyembunyikan sesuatu?

Aku memilih untuk diam. Aku tidak pernah menanyakan hal itu pada Tanika, tidak pernah mengungkitnya. Dalam pikiranku, aku ingin percaya bahwa hubungan kami lebih kuat daripada hal-hal kecil yang mungkin terjadi di masa lalu. Lagipula, aku berpikir, pernikahan kami akan menjadi awal baru yang indah, bukan?

Hari itu aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku mencintai Tanika. Bahwa dia juga mencintaiku. Dan dengan keyakinan itu, aku melangkah menuju hari pernikahan kami dengan penuh harapan, meskipun ada kerikil kecil yang terus menghantui pikiranku.

Pesta pernikahan kami berlangsung dengan kemegahan yang hampir tak masuk akal. Sebuah ballroom hotel bintang lima dipenuhi oleh lebih dari 1.500 undangan. Sebagian besar dari mereka adalah undangan keluarga Tanika dan rekan-rekan bisnis Pak Desmond. Hanya sedikit dari undangan itu yang benar-benar kukenal—rekan kerjaku di perusahaan milik Pak Desmond dan beberapa teman lamaku. Sisanya adalah dunia Tanika: lingkaran sosialita, tokoh-tokoh bisnis, serta pejabat tinggi yang tampaknya menjadikan pesta ini lebih seperti pameran kekuasaan dibandingkan perayaan cinta.

Aku mendengar selentingan di antara rekan kerja yang menyebutku mokondo—modal kon*** doang. Seolah-olah aku menikahi Tanika semata-mata untuk harta dan koneksi keluarga besar Desmond Wijaya. Aku tidak peduli. Materi? Status? Bukan itu alasanku. Aku benar-benar percaya, saat itu, bahwa aku dan Tanika saling mencintai. Bahwa hubungan kami dilandasi oleh rasa yang tulus, bukan sekadar kontrak sosial atau ambisi keluarga. Dengan keyakinan itu, aku mengucap janji suci di hadapan ribuan tamu dan memulai hidup baru sebagai suami Tanika.

Tahun pertama pernikahan kami seperti mimpi yang menjadi nyata. Tanika, yang sebelumnya tampak begitu sibuk dengan dunianya sendiri, tiba-tiba menjadi istri yang perhatian. Dia mendengarkan ceritaku, mencoba memahami beban kerja yang kutanggung di perusahaan keluarganya, bahkan sesekali memberiku kejutan kecil. Kami sering menghabiskan malam bersama, bercinta dengan gairah yang kurasa adalah bukti cinta sejati kami.

Namun, tidak semuanya terasa wajar. Ada hal-hal kecil yang mengganggu pikiranku—sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Tanika, misalnya, selalu mematikan lampu saat kami bercinta. Dia hampir tidak pernah menatapku, bahkan di saat yang paling intim. Sesekali aku menangkap sorot matanya, bukan dengan cinta atau gairah, tapi dengan sesuatu yang lebih mirip rasa bersalah atau kehampaan. Aku mencoba mengabaikan perasaan itu, berpikir mungkin aku hanya terlalu sensitif. Lagipula, aku merasa bahagia. Bukankah itu yang terpenting?

Waktu berlalu. Di tahun ketiga pernikahan, tekanan dari Pak Desmond mulai terasa. Beliau ingin Tanika segera hamil. Sebagai putri tunggal, Tanika adalah penerus garis keturunan keluarga Wijaya, dan Pak Desmond sudah tak sabar menimang cucu. Namun, hubungan kami justru semakin dingin. Kehidupan seksual kami perlahan memudar, dan Tanika semakin jarang berada di rumah.

Aku pulang dari kantor, berharap menemukan istri yang menyambutku dengan senyum, tapi rumah itu sering kosong. Hanya ada beberapa pembantu yang bertugas memastikan segalanya berjalan dengan sempurna. Sementara itu, Tanika sibuk dengan hidupnya sendiri. Jika tidak sedang bepergian ke luar negeri dengan teman-teman sosialitanya, dia pulang larut malam dengan aroma alkohol yang menyengat.

Aku penasaran dengan siapa saja dia menghabiskan waktu. Pernah beberapa kali aku mencoba mencarinya di tempat-tempat yang dia kunjungi, seperti karaoke atau klub malam. Tapi yang kutemukan hanya dia bersama teman-teman wanitanya, tertawa tanpa beban. Aku merasa seperti orang bodoh yang hanya menjadi pelengkap dalam hidupnya, tapi aku tetap menahan diri untuk tidak mengkonfrontasikan.

Suatu hari, kami berencana untuk menghabiskan waktu berdua. Aku bahkan sengaja pulang lebih cepat, ingin menepati janji kami untuk sejenak melupakan kesibukan masing-masing. Tapi saat aku masuk ke rumah, Tanika tampak tergesa-gesa. Dia merapikan tasnya dengan canggung, menghindari mataku, dan segera pergi tanpa banyak penjelasan.

Ada sesuatu yang janggal dalam tingkah lakunya malam itu. Rasa penasaran menguasai pikiranku, dan tanpa berpikir panjang, aku memutuskan untuk mengikutinya dari jauh. Mobilnya meluncur menuju hotel bintang lima di pusat kota. Aku memarkir mobilku di kejauhan, menunggu dan mengamati.

Malam itu, aku menyaksikan dunia runtuh di depanku. Dari balik jendela lobi hotel, aku melihat Tanika dengan pria itu. Senyum di wajah pria itu, tangan yang menggenggam erat... dan kemudian lift yang menutup, membawa mereka pergi. Aku diam, tidak berani maju, tidak sanggup mundur. Aku hanya berdiri, merasa seperti orang asing dalam hidupku sendiri.

Hatiku hancur sehancur-hancurnya. Aku ingin menghadapinya, ingin menuntut penjelasan. Tapi, setelah beberapa waktu duduk sendirian di dalam mobil, aku memutuskan untuk diam. Apa gunanya? Dengan segala kenyamanan dan materi yang sekarang kumiliki, meninggalkan Tanika bukanlah pilihan yang realistis. Aku tidak siap kembali ke kehidupan lamaku yang penuh perjuangan tanpa jaminan.

Aku menelan luka itu bulat-bulat, dan sejak malam itu, aku mulai memikirkan sesuatu yang mengubah segalanya. Jika Tanika bisa mempermainkanku, kenapa aku tidak bisa melakukan hal yang sama? Jika dia bisa berselingkuh di belakangku, maka aku juga bisa lebih gila darinya.

Dan begitulah, malam itu menjadi awal dari petualangan baruku. Aku mulai mencari cara untuk mengisi kekosongan ini. Apa pun yang bisa membuatku merasa hidup lagi, meski untuk sementara. Jika cinta tak lagi menjadi alasan untuk bertahan, maka biarlah kebencian yang mengisi ruang kosong di hatiku, dan petualangan perselingkuhanku pun dimulai.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dimanjakan suami kontrak
9.1
Sama-sama dikhianati di masa lalu membuatku sepakat menikah kontrak tanpa cinta dengan seorang duda kaya. Rencanaku hanya melahirkan, mengambil bayaran, lalu pergi demi masa depan adikku. Namun, aku justru terjebak dalam konflik para penguasa. Saat aku menegaskan hubungan kami tidak berarti apa-apa, dia malah meresmikan pernikahan kami secara nyata. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, sang suami kontrak justru berdiri paling depan untuk melindungiku.
Sampul Novel Look At Me
8.7
Kehidupan SMA Maya Rehana hancur seketika setelah ia mengetahui dirinya tengah berbadan dua. Bukannya bertanggung jawab, Jordan yang merupakan pacarnya malah menuduh Maya tidak setia dan langsung mencampakkannya. Saat Maya didera ketakutan akan kemarahan orang tuanya namun tetap ingin mempertahankan kandungannya, Raka Pratama hadir. Sahabat sekaligus adik kelasnya ini bersedia menjadi sosok ayah bagi sang bayi. Maya pun kini bimbang antara memilih ketulusan Raka atau berharap Jordan kembali.
Sampul Novel My Mysterious Husband
9.7
Dua kali gagal menikah membuat Elsa Anindita menutup rapat hatinya. Saat putus asa, ia menerima tawaran kawin kontrak dari Alvaro, pria difabel yang sebenarnya adalah CEO sukses yang sedang menyamar. Elsa bersedia menikah demi mahar 500 juta rupiah. Namun, pernikahan ini menyimpan rahasia besar. Alvaro ternyata adalah Dika, pria dari masa lalu yang dulu meninggalkannya di pelaminan. Akankah cinta mereka bersemi kembali di tengah rahasia ini?
Sampul Novel Pesona Gadis Camilan
9.4
Kehidupan keras Nathalie Benoit, primadona dunia malam Santa Marie di Los Angeles, berubah drastis setelah bertemu Adam Connor. Pertemuan dengan miliarder yang diisukan impoten tersebut memicu skandal luar biasa yang mengancam reputasinya. Di tengah pusaran rumor dan kekacauan media yang kian memanas, Nathalie kini dihadapkan pada pilihan sulit. Ia harus menentukan sikap: terus bertahan menghadapi badai sendirian atau menyerah pada takdirnya bersama Adam.
Sampul Novel Selir Harem Memelihara Monster Perkasa
7.9
Di tengah dinginnya harem karena Kaisar yang jarang berkunjung, keanehan justru terjadi saat para selir tampak begitu bahagia dan berseri-seri setiap hari. Rasa penasaran sang protagonis akhirnya terjawab ketika ia berhadapan langsung dengan sesosok makhluk misterius berekor yang menyerupai manusia. Keberadaan entitas aneh inilah yang ternyata menjadi rahasia besar di balik kegembiraan para wanita harem, yang kini selalu menantikan datangnya malam dengan penuh harap.
Sampul Novel Tulisan, Basket, & Piano
9.2
Aura Latisha, seorang gadis penulis yang asing dengan dunia asmara, tak pernah punya keberanian untuk menyatakan cintanya. Kehadiran pemuda asal Bandung di hidupnya membawa perubahan besar. Bukannya berjuang mendekat, Aura justru meminta pemuda itu menolaknya secara langsung. Keputusan tidak biasa ini menjadi titik balik bagi Aura yang selalu menutup diri dari romansa. Inilah kisah unik tentang pilihan hati dan keberanian.