APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu

Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu

Niat tulus Rheina menyelamatkan sahabatnya dari tuan tanah malah berujung pelik. Sang ayah justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat, menyeret Rheina ke dalam lingkaran konflik keluarga yang kelam dan merusak hidupnya. Di tengah kerasnya tekanan hidup yang dipenuhi kata kasar dan adegan dewasa, gadis lugu ini terjebak dalam cinta segitiga yang rumit. Saksikan perjuangan emosional Rheina menghadapi takdirnya yang sarat liku.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Ayo!” katanya seraya berjalan lebih dulu di depanku.

“Dasar setan!” Aku bersungut-sungut, kesal.

“Auch!” Aku menubruk sesuatu yang keras dan basah yang ternyata lelaki itu berhenti mendadak dan aku menubruk punggungnya.

“Kamu bilang apa tadi? Setan?” tanyanya dengan wajah yang sedikit menoleh ke belakang.

“Iya, kamu setan!” kataku menegaskan.

“Mulutmu itu ya, minta dibungkam,” katanya. “Belum aja aku bungkam bisa megap-megap kamu nanti,” katanya lagi menambahi.

“Coba aja kalau berani,” tantangku.

Lelaki itu tertawa mengejek. “Nanti nangis terus ngadu ke ayahmu, bisa habis aku dihajar sama para bodyguardnya,” ujarnya dengan tertawa miring, mengejek.

“Sembarangan! Aku bukan anak kecil yang suka mengadu,” dengusku sebal.

Lelaki yang tidak aku ingat namanya itu masih tergelak, entah apa yang lucu.

“Di mana Sarah?” tanyaku lagi.

“Ck! Cerewet sekali kamu!” omelnya.

“Aku ke sini nyari Sarah bukan buat nemenin kamu mandi!” ketusku lagi saking kesalnya.

Lelaki itu kembali berjalan dengan bertelanjang dada, membuatku semakin tak karu-karuan.

Kami tiba di belakang rumahnya, aku masih bersungut-sungut karena lelaki itu tidak mau memberi tahu di mana adiknya berada.

“Sana pulang!” usirnya.

“Lalu, Sarah?” tanyaku yang masih tetap kekeh ingin bertemu dengan adiknya itu.

“Besok kamu ke sini lagi, nanti aku antar ketemu dia,” janjinya.

“Ugh! Menyebalkan. Awas aja kalau bohong!” ujarku sembari berjalan ke arah motorku yang masih terparkir di depan rumahnya.

***

Esoknya di kampus, beberapa teman mengerubungiku mereka ingin tahu dengan keadaan Sarah yang mana aku sendiri pun tidak tahu.

“Lho, bukannya kamu kemarin ke rumah Sarah, Rhein?” tanya Ayu.

Aku mengangguk. Tetapi bingung mau menjawab apa, masa aku bilang kalau aku ke sana nemenin kakaknya Sarah mandi. Kan, tidak lucu.

“Kakaknya bilang kalau Sarah sudah mati dan mereka sudah menguburnya,” ucapku spontan.

“Hah?!” Beberapa teman terkejut mendengar ucapanku barusan. Aku yakin mereka tidak akan percaya.

“Yang benar, Rhein?!” tanya salah satu dari mereka.

Aku gelagapan. Aku sendiri pun tidak yakin dengan apa yang lelaki itu katakan.

Sepulang dari kampus aku kembali mendatangi rumah Sarah, dan berharap lelaki sialan itu mau memberi tahu di mana adiknya berada. Demi sumpah aku penasaran! Setelah mematikan mesin motor, bergegas aku berjalan ke teras rumah dan mengetuknya.

Tok! Tok! Tok!

Tidak ada sahutan, aku mencoba mengintip ke jendela barangkali lelaki itu tertidur.

“Ngapain kamu ngintip-ngintip? Mau maling?!”

Aku menoleh ke arah suara teguran ketus di belakang. Di sana lelaki sialan dengan segala ucapan sinisnya berdiri. Sepertinya dia baru saja pulang. Lelaki itu memakai kaus putih dengan celana jeans panjang berwarna biru yang sudah pudar warnanya.

“Kamu yang nyuruh aku ke sini, kemarin,” kataku membela diri, seraya melirik ke arahnya yang berjalan melewati ku untuk membuka pintu rumahnya.

“Gak harus ngintip-ngintip juga, kan. Kalau ada apa-apa yang hilang kamu mau ganti?!”

Astaga! Orang ini benar-benar minta dipukul. Padahal aku hanya mengintip bukan mencuri.

“Hei! Aku cuma ngintip bukan mau mencuri!” ucapku kesal.

“Hai! Hei! Hai! Hei! Gak sopan kamu!”

Mataku melotot menatapnya marah. Benar-benar sialan lelaki ini. Hampir saja ingin ku getok kepalanya dengan kepalan tangan, tetapi aku urungkan. Aku mengikutinya masuk ke dalam rumah, lelaki itu langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa lusuh berwarna merah pudar. Matanya terpejam, kaki panjangnya dia biarkan memanjang di atas lantai berkeramik putih. Sementara aku berdiri di depannya, bingung hendak melakukan apa.

“Ngapain kamu berdiri di situ!” ketusnya lagi.

Aku berjalan menuju sofa dan duduk di sebelahnya. Aku akan mencoba untuk berbicara baik-baik padanya.

“Di mana Sarah?” tanyaku dengan nada yang selembut mungkin.

“Aku bakal kasih tau kalau kamu mau kocokin penis ku dulu,” ujarnya santai.

Kembali mataku melotot marah ke arahnya. Sialan! Lelaki ini benar-benar sudah gak waras!

“Peduli setan! Aku udah gak berminat lagi sama adik kamu, biarlah dia mati dengan tenang seperti yang kamu bilang kemarin.” Aku berdiri dari duduk hendak melangkah ke luar.

Tiba-tiba dia menarik tanganku.

“Apa lagi?!” tanyaku ketus.

“Yakin, gak mau?” katanya.

Aku menelan ludah saat pandangan mataku mengarah pada gundukan di tengah selangkangannya.

“Sini,” katanya lagi, seraya menarik tanganku. Aku jatuh berlutut dengan kaki menekuk tepat di hadapannya. Aku lebih mirip kerbau yang dicucuk hidungnya, mau mau saja menurutinya.

Lelaki itu menurunkan retsleting celana jeans-nya dan memundurkan celana hingga menampilkan celana boxer hitam di sana. Lalu, tiba-tiba sesuatu yang panjang menyembul keluar.

Napasku naik turun, jantungku berdegup kencang menatap benda panjang berwarna cokelat gelap dan berurat itu berdiri tegak tepat di depan wajahku.

“Hisap, Rhein!” titahnya, seraya menempelkan kejantanannya ke bibirku. Dan, bodohnya aku diam saja tidak pergi dan tidak juga mengelak. Mau marah pun aku tidak bisa. “Rhein!” panggilnya lagi dengan suara menggeram.

Mata kami saling bertatapan langsung. Tanpa sadar lidahku mulai menjilat kepala penisnya yang berwarna coklat muda kemerah-merahan itu. Lalu, dengan semangat memasukan batang kemaluannya ke mulutku perlahan hanya setengah, lama-lama sepenuhnya kejantanannya memenuhi mulutku sampai mentok ke tenggorokan.

“Ahh, Rhein ... sudah kuduga kau pasti mahir melakukan itu,” racaunya dengan mata terpejam.

Ya! Ini memang bukan blowjob pertamaku. Aku sering dipaksa melakukan itu oleh Raka, kakakku, setiap kali pria bangsat itu sedang horny. Bila menolak dia akan mengancam memperkosaku. Untung saja dia masih waras untuk tidak memperkosa adiknya sendiri.

Aku terus mengulum batang kemaluannya dengan sangat cepat. Tangannya menjambak rambutku dan memaju- mundurkan dengan cepat.

“Ahh, Rheina ... gadis pintar ...,” erangnya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

Lelaki itu duduk tegak, dan mulai menaikan kausku mencari payudaraku dan meremasnya kuat. Kedua tangannya meremas dan memilin putingku hingga membuatku bergelinjang.

Aku merasakan kejantanannya menegang di mulutku dan menembakan cairan kental yang langsung tertelan ke tenggorokanku.

“Uhuk!” Aku mengeluarkan batang kemaluannya secara paksa karena tersedak dengan cairan spermanya yang memenuhi mulutku.

Aku mengusap mulutku yang belepotan cairan lelaki itu yang saat ini terlihat puas dengan permainan blow job-ku.

“Kau hebat, Rhein. Aku tidak menyangka kau mahir melakukannya. Apa Raka sering menyuruhmu melakukan itu atau ... ay-”

“Bangsat!” Aku langsung menerjang naik menindih tubuh lelaki itu untuk memukulinya membabi-buta.

“Rhein!” Lelaki itu mencoba mengelak dari pukulan-pukulan yang aku layangkan. Kurang ajar dia, berani menghinaku dan keluargaku walau faktanya sedikit benar tetap saja aku marah.

Lelaki sialan itu berhasil menahan tanganku dan berbalik menindih tubuhku. Sekarang aku berada di bawahnya, dengan nafas yang naik turun dan emosi masih menyelimuti, aku berusaha membebaskan diri dari cengkeramannya.

“Lepasin aku, Brengsek!” teriakku dengan suara tertahan. Walaupun aku yakin tidak akan ada orang yang mendengar bila aku berteriak sekencang pun.

“Kamu brutal, Rhein,” katanya. Tanpa aba-aba bibirnya langsung membungkam bibirku, lidahnya melesak masuk ke dalam mulut mencari-cari lidahku dan membelitnya.

Memang sialan lelaki ini!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 15 + (Lima Belas Tahun Ke Atas)
8.5
Kisah masa SMA di sekolah 15 menyuguhkan keseruan tiga sahabat yang penuh aksi konyol dan tawa. Setiap hari, mereka menghadapi berbagai peristiwa absurd yang mewarnai fase remaja. Menariknya, petualangan jenaka ini diadaptasi langsung dari kisah nyata sosok Vlomontleus. Melalui dinamika persahabatan yang tulus dan penuh kejutan, cerita ini menghadirkan potret kehidupan anak muda masa kini yang sangat nyata dan dekat dengan keseharian pembaca.
Sampul Novel Bidadari Pembawa Luka
8.3
Menjadi istri kedua Zayn, posisi saya hanya untuk memberi keturunan. Di balik pernikahan mapan Zayn dan Alysa, keberadaan saya tak pernah dianggap. Alih-alih dikasihani, saya justru dituduh sebagai perusak kebahagiaan mereka, padahal sayalah yang paling terluka akibat pengabaian ini. Kini, dalam kesendirian tanpa kepastian status, saya harus memilih: terus bertahan dalam pernikahan yang hampa atau mundur demi mengakhiri semua rasa sakit ini.
Sampul Novel Bukan Cinta Yang Kandas
8.7
Demi Damian, Aveline rela memendam bakat arsitekturnya selama tiga tahun pernikahan yang dingin. Namun, pengkhianatan sang suami di depan umum menjadi titik balik hidupnya. Aveline memutuskan bercerai lalu bangkit mendirikan firma de la Fontaine. Kini, ia terlahir kembali sebagai arsitek elite dunia yang sukses meruntuhkan dominasi bisnis Blackwood. Di tengah kesuksesan besar ini, mampukah ia membuka kembali pintu hatinya untuk cinta yang baru?
Sampul Novel KUTEBUS TALAKKU
9.7
Indah berjuang keras mengumpulkan uang demi menebus talak dari Raqeef, yang justru bertekad mendapatkan kembali hatinya. Sementara itu, amarah Hairi memuncak akibat jebakan kamera tersembunyi di klub malam. Ketegangan keluarga kian memanas karena Lovena menolak keras anggota keluarga baru dan mengancam mengusirnya. Di sisi lain, Teddy mendesak agar sosok misterius itu segera dihadirkan dalam pertemuan keluarga besar guna menyelesaikan konflik.
Sampul Novel LEBIH BAIK MUNDUR
8.3
Kehidupan Melani hancur setelah mendapati Robin, sang kekasih, ternyata telah menikahi wanita lain secara rahasia. Kendati telah berkhianat, Robin menolak melepasnya. Saat berusaha menjauh dari mantan pacarnya yang obsesif itu, Melani justru bertemu Yudha, dosen tampan yang bersikap sangat dingin. Kini ia berada di persimpangan jalan. Haruskah ia kembali ke pelukan Robin, atau berjuang mendekati Yudha yang kaku demi menyembuhkan lukanya?
Sampul Novel Miliarder Misterius dan Pengantin Penggantinya
8.6
Demi membiayai pengobatan pelayan tercinta, Julita terpaksa menggantikan saudara angkatnya untuk menikah dengan Erwin, pria yang dicap tidak berguna. Erwin sendiri setuju menikahi Julita hanya demi memenuhi wasiat ibunya. Namun, di balik penindasan yang dialami Julita, Erwin ternyata menyimpan rahasia besar tentang kemiripan dirinya dengan miliarder terkaya di kota. Akankah pernikahan penuh kebohongan identitas ini bertahan, atau justru berujung pada bencana?