APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Yang Terjamah

Gadis Yang Terjamah

Demi ambisi pendidikan, Marlina kehilangan kehormatan hingga terbuang ke dunia gelap narkoba sebagai pengedar. Saat berniat tobat dan berhijrah, jebakan rival justru menjebloskannya ke penjara. Di balik jeruji besi, ia memperdalam ilmu agama. Namun setelah bebas, penolakan keras masyarakat kembali menghadangnya. Kini, Marlina dihadapkan pada pilihan sulit: kembali ke jalan haram yang menjanjikan atau tetap teguh pada proses hijrahnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pelukan Ibunya Marlina melemah dan kemudian ambruk di tengah-tengah kami.

“Bu … Ibu kenapa, ayo bangun, jangan pingsan lagi!” ayah menggoyang-goyangkan tubuh ibu.

Ibu pemilik rumah memberikan minyak kayu putih dan mengusap-usap nya di kening Ibu, Ibu tetap bergeming.

“Ibu kenapa?” isak Marlina bertanya pada semua orang yang ada di situ.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun” teriak ayahnya Marlina sambil memeluk tubuh istrinya.

Semua orang hanya membisu melihat ibunya Marlina terkulai lemas. Marlina tak kuasa menahan tangis, dia merasa bahwa dialah penyebab kematian sang ibu..

Orang kampung bersama-sama membawa jenazah ibunya Marlina ke rumah Pak Maryono, ayah Marlina. Sepanjang jalan Marlina menjadi bahan pembicaraan orang, baik dari kampungnya maupun warga kampung sebelah.

Siang itu Ibu segera dimakamkan, tangis haru mengiringi pemakaman Bu Maryono. Hampir semua mata pelayat menatap jijik ke arah Marlina. Nenek Sholihati, neneknya Marlina, merasa risih dengan tatapan mereka lalu menarik tangan Marlina ke kamar.

“Gendhuk di sini saja ya, gak usah keluar kamar dulu.” belai Nenek Sholihati di dahi Marlina. Marlina hanya bisa mengangguk pelan sambil menitikkan air mata. Ketika Nenek Sholihati beranjak keluar kamar, Marlina menarik tangan neneknya, “Mar pengen nganter Ibu ke makam, Nek.”

“Nanti saja kalau Ibu sudah dimakamkan, kita ziarah yang lama ya, Sayang. Sekarang kamu di kamar dulu dan jangan keluar, demi kebaikanmu,” ucap Nenek Sholihati sambil melenggang menjauhi kamar.

Suara keramaian menjauh, menandakan para pelayat ikut turut mengantar jenazah ibunya ke makam. Marlina hanya bisa menangisi nasibnya yang telah kehilangan masa depan terlebih kehilangan ibu tercinta.

Setelah pemakaman, Nenek Sholihati kembali ke rumah bersama Pak Maryono. Nenek Sholihati langsung menutup pintu agar tidak ada lagi pelayat atau tamu yang datang. Nenek masuk ke kamar Marlina kemudian memeluk erat cucu tunggalnya. “Kita harus kuat menjalani cobaan ini sayang, jangan biarkan pengorbanan ibumu menjadi sia-sia. Kamu harus bangkit, tunjukkan ke warga sini bahwa kamu tetap kuat dengan melanjutkan sekolah di SMA sana.”

“Tidak ... tidak, Nek. Mar gak mau sekolah lagi. Mar sekolah justru kehilangan Ibu. Mar gak mau kehilangan lagi. Mar telah hancur. Mar mau di rumah aja sama Nenek” isak Marlina.

Nenek Sholihati hanya mengelus pipi cucunya kemudian tersenyum mengangguk tanda setuju.

Malam ini mereka duduk diam bertiga di ruang sempit bercahayakan lampu tempel yang redup. Makanan di meja tak tersentuh, tak ada rasa lapar, hanya ada rasa sedih, kecewa dan marah dalam hati. Sejak pemakaman istrinya tadi, tak ada sepatah kata keluar dari mulut Pak Maryono. Hanya Nenek Sholihati yang tetap sabar melayani Marlina.

Sudah beberapa hari pemakaman Bu Maryono, Pak Maryono tidak pergi ke kebun. Dia masih meratapi kepergian separuh jiwanya.

Pagi ini Nenek Sholihati mengajak Marlina keluar ke depan rumahnya untuk berbelanja sayur pada pedagang sayur keliling.

“Eh, ada Marlina. Mau cari sayur apa?” sapa pedagang sayur ramah.

“Mau cari masalah ada gak, Bang?” tanya Bu Gembrot dengan acuh, kang sayur hanya tersenyum.

“Lah iya, anak perempuan kok sengaja banget cari masalah sekolah jauh-jauh. Diganggu orang baru tau rasa dia,” timpal Bu Gendis tak mau kalah.

“Gitu caranya ngebunuh orang tua pelan-pelan.”

“Liat tuh bapaknya sampe gak berani keluar rumah karena malu menanggung aib anaknya yang sok kepinteran sekolah SMA.”

“Pak Kuncoro bos karet itu aja sekolahnya cuma SD lho, kalo sekolah sampai tinggi bisa jadi bos apa?”

“Memang kalau sudah sekolah yang tinggi, bisa langsung jadi presiden ya?”

“Bu Maryono itu kan dari dulu gak bisa dikagetin, gampang pingsan. Anaknya malah sengaja bikin ibunya cepet mati!”

“Mungkin dia sengaja uji nyali, berangkat sekolah yang jauh biar jadi jagoan ya, akhirnya ilang deh tu keperawanan.”

“Cari yang gratis lho, menu singkat, padat dan enak di air-airan.”

Gelak tawa ibu-ibu yang mengelilingi kang sayur membuat dada Marlina sesak.

“Kalo anakku ngelawan kaya gitu mending dikurung di rumah, diikat sekalian biar gak keluar rumah!”

Nenek Sholihati menjauh sambil menarik tangan cucunya.

Ternyata dari rumah, Pak Maryono mendengar apa yang ibu-ibu bicarakan tentang anak dan istrinya. Dia hanya bisa meneteskan air mata. Gagal sudah niatan untuk menjaga martabat keluarganya.

Nenek Sholihati tak kuasa melihat menantunya yang besar itu kini tampak rapuh setelah kepergian tulang rusuknya. Terlebih Marlina yang sudah berusaha menata hatinya kembali hancur akibat gunjingan tetangga.

Saudara dan tetangga yang dulu akrab kini satu per satu menjauh. Tidak ada empati sama sekali dengan keluarga Pak Maryono. Marlina menutup diri dari lingkungan. Hanya Nenek Sholihati yang memberanikan diri keluar rumah bekerja agar kebutuhan isi perut orang serumah tercukupi.

Pak Maryono lebih banyak diam dan cenderung menjauh ketika diajak bicara oleh Nenek Sholihati. Nenek Sholihati sangat memahami keterpurukan menantu dan cucu kesayangannya.

Suatu pagi Pak Maryono bersiap-siap ke kebun untuk menyadap batang karet milik bos Kuncoro. Nenek Sholihati merasa terharu melihat perubahan menantunya. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk seterusnya, ucap Nenek Sholihati dalam hati. Meski enggan mendekati putrinya, Pak Maryono tetap menyalami tangan keriput mertuanya dengan takzim.

Marlina merasa dosa yang dia lakukan tidak dimaafkan ayahnya. Ayahnya hanya diam bila diajak bicara olehnya, sedikit bicara jika ditanya Nenek Sholihati.

Matahari belum tinggi, Pak Maryono telah kembali ke rumah. Dia menaruh peralatannya, menenggak segelas air putih lalu masuk ke dalam kamarnya tanpa bicara sepatah kata pun.

Nenek Sholihati dan Marlina hanya saling berpandangan melihat tingkah laku Pak Maryono.

Pasti ada sesuatu di kebun yang menyebabkan Pak Maryono kembali ke rumah dengan cepat.

Tak lama berselang, Sodikin, seorang pegawai bos Kuncoro datang ke rumah mengantarkan beberapa rupiah sebagai upah Pak Maryono yang tak diambil dari sebelum peristiwa kematian sang istri.

“Tadi ayahnya Marlina ke kebun, kenapa tidak diserahkan langsung padanya?” tanya Nenek Sholihati.

“Dia langsung kabur waktu diajak bicara sama pak bos, tersinggungan sih dia,” jawab Sodikin sambil tertawa keras.

“Kamu bilang apa sama pak bos tentang menantuku?” cecar nenek Sholihati.

“Ya aku bilang, kalo Pak Bos mau nambah istri, ambil aja tuh si Marlina, jadi gak mahal, tapi Pak Bos gak mau sama yang seken, mau yang orisinil aja biar kerasa kinyis-kinyis, malah si Maryono langsung kabur, Aku deh yang kebagian nganter uang ini, sekalian cuci mata liat si Marlina, boleh kan Nek?” beber Sodikin.

Nenek Sholihati hanya diam sambil memandang tajam ke arah Sodikin. Merasa tersudut akhirnya Sodikin pamit undur diri.

Marlina hanya diam dari balik dinding mendengar obrolan itu, hatinya teriris jadi bahan ejekan bos tempat ayahnya bekerja.

Sore ini Bu Bos Kuncoro datang ke rumah membawa beberapa kantong plastik besar ke rumah Nenek Sholihati. “Nek, ini bahan makanan untuk Nenek sekeluarga,” ucap Bu Bos seraya menaruh kantong plastik tersebut.

“Terima kasih, Bu. Semoga Ibu dilimpahkan rezeki yang lebih banyak dan lebih berkah.” Nenek Sholihati terharu sambil menitikkan air mata karena kebaikan Bu Bos.

“Saya minta tolong jauhkan cucu nenek dari suami saya, saya tidak rela dimadu apalagi dengan anak yang sudah tidak suci lagi. Saya harap Nenek mengerti maksud dan tujuan saya datang kesini!”

Nenek Sholihati langsung terkejut mendengar ucapan Bu Bos tadi, “Cucuku tidak serendah itu, meski dibeli dengan berjuta-juta, tak akan kuserahkan cucuku itu pada siapa pun!”

“Tidak rendah tapi kok kesucian diumbar kemana-mana.”

“Baiklah, terima kasih atas bingkisannya. Saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, silahkan keluar!”

“Satu pesanku, jaga cucumu agar bau busuknya tidak mengganggu pernapasan orang lain.” Bu Bos melenggang angkuh ke luar rumah.

Bruk

Suara benda besar jatuh di kamar. Nenek Sholihati dan Marlina berlari menuju kamar ayahnya. Mereka melihat Pak Maryono tergeletak di lantai.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bodyguard I'm In Love
9.7
Sejak pandangan pertama, Jhon Christy langsung terobsesi pada Aleta Louison hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi yang gelap. Dia bahkan rela meninggalkan kehidupan lamanya yang bergelimang harta demi menjadi pengawal pribadi Aleta di Rusia. Bagi Jhon, tujuan utamanya hanyalah berada di dekat gadis itu. Dia bertekad menyembuhkan sisi psikopat dalam diri Aleta dan menuntunnya agar bisa kembali menjalani kehidupan normal seperti wanita lainnya.
Sampul Novel Geger di Bhumi Manggala
8.2
Tangisan Tadah Asih menggema di bawah langit Kilen yang memerah, menjadi awal dari ramalan kelam seorang petapa suci tentang kehancuran Bhumi Manggala. Saat sebuah kerajaan dirundung duka akibat kematian tragis seorang bangsawan agung, para prajurit setianya pun bangkit melakukan aksi bela pati. Di tengah situasi yang kian kacau dan dunia yang mulai runtuh, seorang pemuda berdiri dengan kemarahan memuncak. Ia memutuskan melangkah pergi demi menuntaskan dendam membara di hatinya.
Sampul Novel Ketika Dendam Berbicara
8.2
Demi menyembuhkan migrain bawaan istrinya setelah tiga tahun menikah, seorang suami berhasil menciptakan obat khusus. Namun, saat mengantarkan obat dan bekal ke kantor sang istri, Nadya, ia justru dituduh sebagai sopir penggoda oleh sekretaris istrinya. Di depan umum, sekretaris itu menumpahkan makanan ke kepalanya, merobek pakaiannya, dan menginjak obat berharga tersebut hingga hancur. Tanpa rasa bersalah, sekretaris itu justru dengan bangga melapor kepada Nadya bahwa dia telah berhasil mengusir sopir yang mencoba menggodanya.
Sampul Novel PANGERAN AGUNG
9.6
Kerajaan Mandala dipimpin oleh sosok luar biasa, Pangeran Agung. Penguasa ini sangat disegani berkat keadilan dan kearifannya dalam memimpin rakyat. Saat bahaya mengancam, keberaniannya yang kokoh selalu menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kisah ini menyoroti perjuangan sang raja bijaksana dalam mempertahankan kedamaian negerinya, mengandalkan keteguhan jiwa serta dedikasi tanpa batas untuk menghadapi segala rintangan.
Sampul Novel Pembalasan Dendam yang Munafik
8.4
Di Kota Silo, istri miliarder gemar menyiksa gadis muda. Sang protagonis yang tidak bisa merasakan sakit menjadi korban utama. Namun, sang suami justru mengumumkan dirinya sebagai putri mereka yang hilang demi menutupi kekejaman tersebut. Demi hidup layak, ia menerima status baru ini. Di balik topeng kebaikan itu, luka baru terus ditorehkan hingga mereka menuntut nyawanya sebagai balas budi. Kini, ia siap membalikkan keadaan demi menuntut balas.
Sampul Novel Pendekar Kristal Naga
7.9
Terdampar di pesisir Kepulauan Malaka, Gandar Maitreya yang merupakan keturunan klan Naga kini jadi buruan utama para pemburu bayaran. Musuh-musuhnya haus kekuasaan dan mengincar ingatan Gandar tentang Kristal Naga. Artefak legendaris tersebut memiliki kekuatan untuk menobatkan pemiliknya menjadi raja di tiga dunia: Manusia, Naga, dan Iblis. Demi bertahan hidup dari kepungan maut yang mengintai, Gandar harus berjuang memulihkan ingatan serta mengungkap jati diri aslinya dalam pelarian.