APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel GADIS PENCURI VS TUAN MUDA

GADIS PENCURI VS TUAN MUDA

Nyawa seorang pencuri wanita andal terancam setelah ia jadi buronan bernilai jutaan Dolar. Di tengah ancaman maut dari para penguasa, Martin Jakovsky justru hadir melindunginya. Padahal, tuan muda kaya raya ini mengidap alergi aneh yang membuatnya tidak bisa menyentuh wanita. Mengapa Martin rela mempertaruhkan segalanya demi menyelamatkan sang gadis dari kejaran musuh? Temukan jawabannya dalam kisah penuh aksi dan romansa ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Ku harap kamu senang bekerja di sini," ucap Pierre Bastien, pemilik cafe Limoncello kepada Camille yang baru saja diantarkan Dylan ke sana.

Camille mengangguk dan tersenyum tipis, “Terima kasih, Mister Bastien!” sahutnya sambil menundukkan sedikit kepalanya memberikan hormat.

Pierre tertawa kecil melihat kepolosan dan keluguan gadis muda di depannya. Dylan juga ikut tersenyum bangga pada putrinya yang bisa bersikap sopan terhadap orang lain meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan formal.

“Panggil aku, Pierre, Tidak perlu sungkan. Kita semua rekan kerja di sini,” ucap Pierre kepada Camille sambil melirik ke arah Dylan yang mengangguk padanya.

Dylan segera pamit pergi untuk berbelanja keperluan jualan di cafe kecil-kecilannya bersama Solenne, setelah berjanji akan menjemput Camille pulang kerja nanti sore.

Pierre sudah beberapa kali bertemu dengan Dylan yang menurutnya memiliki kepribadian baik dan tentu saja dia langsung menerima Camille bekerja di cafe miliknya yang hanya terdapat dirinya dan Luca di bagian bartender serta beberapa Bibi di bagian dapur.

“Camille, sudah pernah bekerja sebelumnya?” tanya Pierre sambil mengajak Camille mengitari cafenya yang terdapat dua lantai.

Cafe milik Pierre selain menyediakan menu sarapan, makan siang, dan camilan sore juga menjual berbagai macam minuman yang bisa di pesan pada bartender. Selain menjadi pemilik, Pierre juga bergantian dengan Luca di bartender. Biasanya ada pekerja sambilan yang membantu menjadi pelayan di café Pierre, namun sejak beberapa hari terakhir mereka berhalangan datang dengan alasan berlibur.

“Belum pernah. Ini adalah yang pertama. Oh, panggil saja aku, Cammie. Camille terlalu formal untukku,” sahut Camille seraya tersenyum tipis dan lesung pipinya cukup manis terlihat di mata Pierre yang diam-diam memperhatikannya.

Camille memiliki kulit cerah, hidungnya mancung, matanya bulat dengan netra berwarna hitam pekat dan tatapannya tajam namun sangat indah di naungi alis tebal yang seperti semut berbaris rapi pada wajahnya. Lalu bodynya sangat seksi dan Pierre memperkirakan tinggi Camille yang mencapai telinganya, memiliki tinggi 170cm. Camille Sama sekali tidak mirip dengan Dylan dan Solenne yang sudah pernah bertemu dengan Pierre sebelumnya.

"Apakah aku memiliki kesempatan untuk belajar? Aku adalah pembelajar yang cepat jika kamu mau memberikanku kesempatan dan tidak keberatan mengajariku," sahut Camille ceria seperti ciri khasnya dan lesung pada kedua pipinya semakin terlihat sangat manis.

"Tentu saja, Cammie!" cetus Pierre cepat, membalas senyum Camille dengan senyum terbaiknya.

"Mari kita turun. Pria itu adalah Luca! Juga ada beberapa Bibi yang membantu di dapur, nanti akan ku perkenalkan." ucap Pierre yang langsung merasa akrab dengan Camille di hari pertama pertemuan mereka tersebut.

Luca di balik meja bartender, mengangkat tangannya menyapa Camille sambil tersenyum lebar, "Welcome Camille!" ucapnya yang menyimak pembicaraan Pierre dan Camille karena kedua orang itu duduk tepat di depan tempatnya berdiri sedang memeriksa persiapan stok kopi juga hal lainnya.

“Cammie,” ralat Camille berdiri dan mengulurkan tangannya ke depan Luca sambil tersenyum sopan.

“Luca,” sahut Luca mengulangi namanya berkenalan dengan Camille.

Menjelang siang, banyak pengunjung datang ke cafe Limoncello untuk sarapan, bersantai atau makan camilan dan minum kopi. Diantara para tamu tersebut juga ada Martin bersama Patrick yang masuk ke dalam café dan memilih duduk pada sofa di teras luar karena udara cukup sejuk untuk berjemur.

Camille langsung bisa bekerja melayani para tamu dengan ceria dan langkahnya lincah tetapi sama sekali tidak genit ataupun terlihat murahan. Beberapa tamu pria berusaha menarik perhatian ingin mengajaknya berkenalan dan mengobrol, tetapi Camille bisa mengatasi memberikan alasan yang tepat untuk mereka.

Pierre memperhatikan Camille dari balik meja bartender, bibirnya tersenyum melihat Camille yang tanpa canggung langsung bisa bekerja dan sigap melayani para pelanggan cafe di hari pertama gadis itu bekerja.

"Kamu sudah sangat profesional, Cammie! Aku tidak percaya jika dirimu baru pertama kali bekerja di cafe!" celetuk Pierre memuji Camille yang menghempaskan bokongnya duduk pada kursi di balik meja bartender.

Pierre memberikan segelas air lemon segar untuk Camille, yang di seruput gadis itu hingga tandas. Senyum senang terbit pada bibir Pierre yang semakin menyukai gadis polos, lugu juga sangat gesit dalam bekerja itu.

"Aku ada meeting dengan pria yang duduk di sana, nanti kamu bawakan mereka kopi dan camilan. Tunggu Luca untuk membuat kopinya, dia sedang mengantarkan pesanan ke lantai dua," ucap Pierre mengarahkan tatapannya ke meja tempat Martin dan Patrick sedang duduk ke Camille yang berdiri di sebelahnya.

Mata Camille terbelalak sekejap karena terkejut melihat Martin yang juga sedang menatapnya. Sudut bibir Camille bergerak naik dan mengulum senyum jahil pada wajahnya.

"Kau sudah mencuri ciuman pertamaku, lihat aja apa yang akan kulakukan padamu nanti!" gumam Camille geram, apalagi ketika dia ingat rasa bibir pria itu yang dia cium semalam.

Camille menyesali ciuman pertamanya di berikan kepada pria yang tidak dia suka. Camille terpaksa mencium bibir pria itu karena kuatir dia akan berteriak dan dirinya bukan hanya tidak bisa melancarkan misinya di lain kesempatan tetapi juga bisa tertangkap, lalu di gondol ke kantor polisi. Kan tidak lucu, gadis cantik montok aduhai seperti Camille di masukkan ke kantor polisi hanya karena dia masuk kediaman orang tanpa ijin di malam hari.

Di sisi lain, Martin sedikit mengernyitkan keningnya melihat tatapan mata Camille padanya. Martin merasa belum mengenali gadis yang memelototinya tersebut.

“Karyawan baru?” tanya Martin pada Pierre saat pria itu baru saja duduk di depannya.

“Yeah, baru masuk hari ini.” sahut Pierre pendek.

Martin yang tidak pernah tertarik pada wanita sebelumnya, membuat Pierre merasa sedikit kurang senang melihat pria itu kini menatap Camille seakan tidak berkedip.

Patrick, asisten pribadi Martin yang datang bersamanya dan duduk diantara Martin dan Pierre yang memiliki hubungan kerjasama tersebut juga ikut merasa aneh dengan sikap serta cara Martin memperhatikan seorang wanita. Tidak ada yang mengetahui mengenai penyakit alergi aneh Martin selain Patrick, Gabriel-Papa Martin dan Lili-Ibu tiri Martin yang sering menggoda dan terobsesi padanya.

Camille datang membawakan minuman dan camilan ke meja tempat Pierre sedang duduk bersama Martin dan Patrick membicarakan bisnis mereka. Perkebunan Martin mengalami gagal panen buah lemon dan Pierre termasuk salah satu customer regular di perkebunan Martin.

“Kami akan memberikan diskon padamu dan mengganti produk yang tidak layak dengan yang jauh lebih baik! Tetapi saat ini stoknya masih terbatas tidak seperti sebelumnya,” ucap Martin setelah dia mempelajari dan orang-orang perkebunannya membuktikan dalam ratusan buah lemon yang sudah di beli oleh Pierre sangat tidak layak jual. Buahnya berbusa di bagian dalamnya sehingga daging lemonnya hanya sedikit juga kering kurang air.

Melihat Camille sudah menyusun minuman dan camilan di atas meja, “Cammie, ini Martin dan Patrick, asistennya. Mereka adalah pemasok buah lemon di café kita,” tutur Pierre memperkenalkan Martin pada Camille.

Kepala Camille mengangguk dan tersenyum sopan menatap Martin dan Patrick namun dalam hatinya menggerutu kesal karena Martin tidak henti-hentinya mengunci tatapan ke arahnya.

“Aromanya sama seperti orang yang menciumku semalam,” bathin Martin yang berkali-kali terlihat mengusap ujung hidungnya.

Patrick mengira perbuatan Martin adalah kode reaksi penyakit alergi yang akan terjadi padanya, segera pria itu berdiri mengulurkan tangan pada Pierre, “Jika Anda sudah sepakat, kami akan meneruskan info ini kepada para pekerja. Mohon maaf, kami harus segera pergi untuk memenuhi janji temu lainnya.” ujar Patrick namun dia terbatuk kecil ketika Martin menatapnya dengan kening berkerut.

“Aku akan menikmati camilan dan kopi ini dulu. Jika kamu ingin pergi, pergilah dan sampai bertemu di rumah,” cetus Martin cuek sambil menarik piring berisi cake keju di depannya dan menyendoknya masuk ke dalam mulutnya.

Patrick kehilangan kata-kata, matanya menatap Martin lalu mengerjap beberapa kali, mencuri pandang melirik gadis yang masih berdiri di samping Pierre.

“Tentu! Tidak ada alasan bagi kami untuk tidak menyetujuinya. Tanpa lemon, café ini bukanlah Lemoncello! Kami harap, panen perkebunan kalian berikutnya tidak terkendala apapun,” Pierre menjawab perkataan Patrick sambil tertawa kecil lalu permisi kembali pada pekerjaannya membawa Camille bersamanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amanda Rhea
9.1
Terlempar ke masa lalu, Amanda Rhea kembali dipertemukan dengan Hagana. Takdir unik kemudian menjalin ikatan misterius antara Amanda dan putri dari pria tersebut. Namun, kedamaian mereka terancam ketika iblis mimpi mulai muncul dan mencelakai orang-orang terdekat Amanda. Di tengah teror mencekam yang terus mengintai, mampukah cinta lama antara Amanda dan Hagana tumbuh kembali seiring takdir yang terus mempersatukan mereka?
Sampul Novel Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu
7.9
Pascaserangan brutal tiga pemuda di Gunung Lawu, Alana yang sekarat di dasar jurang diselamatkan oleh Arga. Penyelamatnya adalah eks anggota Kopassus yang kini menjadi buronan di hutan tersebut. Selagi memulihkan trauma dan luka fisiknya, Alana bimbang untuk membalas dendam atau menata ulang hidupnya. Kedekatannya dengan Arga yang berwatak keras namun sangat protektif lambat laun menumbuhkan perasaan baru yang tak terduga di antara mereka.
Sampul Novel Beyond the Song
9.0
Aku menyembunyikan identitas asliku sebagai monster di balik rupa manusia. Namun, ketenanganku terusik saat lagu mematikan Siren memicu beruntunnya kasus bunuh diri misterius. Situasi kian rumit ketika Kenneth, seorang pemburu, hadir dan membawaku masuk ke dunia supernatural yang penuh ancaman. Demi melindungi orang terdekat, aku harus turun tangan walau penyamaranku terancam terbongkar. Ironisnya, aku justru terpikat pada Kenneth, pria yang ditakdirkan untuk memburuku.
Sampul Novel BURONAN
9.5
Sammy, eks-militer yang kabur dari penjara akibat fitnah keji, kini menjadi buronan Interpol demi melacak adik angkatnya. Di tengah pelarian, ia terpaksa bertahan hidup sebagai pembunuh bayaran berdarah dingin. Kehidupannya mulai berubah saat ia jatuh hati pada Rheyna. Namun, dilema besar menghantam Sammy ketika ia mendapati bahwa target eliminasi berikutnya merupakan sosok penting yang sangat dekat dengan wanita yang dicintainya tersebut.
Sampul Novel Cinta di Ranjang Jenderal
8.7
Demi kesembuhan sang ayah, Navila rela mengorbankan kesuciannya kepada seorang prajurit Erdan. Transaksi satu malam itu rupanya berbuntut panjang saat sang Jenderal justru terpikat dan menginginkannya lebih jauh. Sayang, romansa mereka terbentur konflik berdarah antara dua kerajaan yang berseteru. Di tengah sempitnya waktu dan kecamuk perang besar yang melanda kedua kubu, mampukah ketulusan cinta mereka bertahan dan tersampaikan?
Sampul Novel Goyangan Pohon Beringin
8.2
Hubungan erat Adrian dan Wandi kini renggang sejak kemunculan Hesta. Gadis penuh misteri itu begitu memikat Adrian, tetapi Wandi justru melihat sosok mengerikan dalam dirinya. Wandi berjuang keras memperingatkan sahabatnya bahwa Hesta bukanlah manusia. Sejak mereka mengunjungi beringin tua yang angker, teror mistis mulai membayangi. Di tengah ancaman bahaya, sanggupkah Adrian menyadari kenyataan? Apakah asmara beda alam ini akan terwujud, atau malah berujung pada kehancuran?