
Gadis Kereta Api
Bab 3
Frederick? Aku terperangah. Apa yang ingin dia lakukan?
Aku sontak panik karena kebenaran terungkap. Aku takut kecanduanku terbongkar. Pada saat yang sama, aku merasa senang dengan tindakan Frederick ini. Aku juga ingin dia membongkar semuanya supaya aku tidak perlu berpura-pura lagi!
Perasaanku dilema. Tubuh dan kakiku bergetar tanpa kendali. Di belakang, Frederick terkekeh-kekeh merasakan reaksi tubuhku. Sambil mendorongku ke depan, dia diam-diam menyibakkan terusanku dan menjulurkan tangannya ke dalam.
"Gimana? Enak nggak?" Suara Frederick terdengar lirih. Gerakan tangannya lembut dan pelan.
Sejak awal, aku sudah berahi. Ditambah lagi sekarang aku sesak pipis. Situasi ini sangat mematikan! Apalagi, aku dan Frederick baru kenal kurang dari 20 menit!
Namun, aku tidak berani mendorongnya karena takut ada yang menyadari sesuatu. Aku hanya bisa merendahkan suaraku dan memohon, "Jangan ... kumohon. Aku sudah nggak tahan ...."
"Kamu menolak? Dasar munafik." Ucapan Frederick ini sontak membuat wajah dan telingaku merah. Aku sampai tidak berani mendongak karena takut melihat reaksi orang-orang di sekitar.
Harus diakui bahwa teknik tangan Frederick sangat luar biasa. Hanya dalam beberapa menit, aku merasakan sensasi baru.
Namun, ini sungguh memalukan. Di tengah kereta api, aku digoda oleh seorang pria asing di depan publik. Berbagai adegan panas di otakku membuat tubuhku makin terangsang.
Namun, Frederick tiba-tiba menarik tangannya dan pergi. Mataku berkaca-kaca. Seketika, hatiku diliputi kekecewaan dan kehampaan.
Jika aku tidak segera memegang dinding, mungkin orang-orang di sekitar sudah menyadari sesuatu dan mentertawakanku.
Setelah membersihkan kemaluanku, aku kembali dengan gelisah. Untungnya, langit sudah gelap dan Frederick sudah tidur.
Aku menghela napas lega dan kembali ke ranjangku. Pikiranku dipenuhi adegan di depan toilet tadi. Saat ini, aku tidak tertarik pada tubuh kekar Om Theo lagi.
Aku tidak tahu apa tujuan Frederick. Kami juga baru kenal dan dia tidak mengambil tindakan selanjutnya. Jadi, anggap saja masalah itu tidak pernah terjadi.
Setelah berpikir demikian, aku merasa jauh lebih lega. Ketika aku hendak tidur, tiba-tiba ada pesan masuk. Aku membuka ponselku.
Ternyata itu adalah videoku? Bahkan, terdengar jelas suaraku saat memohon tadi. Aku terperangah. Apa Frederick yang mengirimnya? Namun, bagaimana dia bisa tahu nomorku? Apa tujuannya?
Seketika, ketakutan melanda hatiku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku mendongak memandang Frederick, tetapi dia hanya tidur.
Saat berikutnya, masuk lagi pesan. Aku membukanya dan membaca pesan yang mengerikan itu.
[ Kamu nggak ingin ada yang tahu betapa liarnya kamu, 'kan? Kuberi kamu waktu tiga menit. Kalau nggak mulai ... tanggung sendiri konsekuensinya! ]
Anda Mungkin Juga Suka





