APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis buta Milik CEO

Gadis buta Milik CEO

Kehidupan ceria Laras sirna sejak sebuah tragedi merenggut penglihatannya. Kini, mantan mahasiswi ini harus bertahan di tengah siksaan perundungan dari para penggemar fanatik Damar, CEO yang pernah mengisi hatinya. Dulu, Damar memilih pergi demi melindunginya, namun langkah itu justru menghancurkan hidup Laras. Dihantui rasa bersalah yang besar, sang CEO kini kembali. Ia bertekad menebus semua dosa masa lalunya dan berharap Laras bisa merasakan ketulusan cintanya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Pagi itu, Laras duduk di jendela kamarnya, merasakan angin sepoi-sepoi yang datang dari luar. Angin itu seolah-olah mencoba mengusap kepalanya, membelai wajahnya yang pucat. Ia tak bisa melihat, tetapi semua indra lainnya belajar untuk menggantikan apa yang hilang. Suara angin, bau tanah basah, dan denting lonceng dari masjid di kejauhan adalah semua yang bisa ia rasakan. Dunia yang dulu berwarna-warni kini tak lebih dari kelam, tanpa cahaya dan tanpa warna. Seperti sisa-sisa mimpi yang hilang dalam ingatan.

Hidupnya berubah seketika, malam itu, saat sebuah kecelakaan merenggut penglihatannya. Damar, pria yang dulu ia cintai, telah meninggalkannya dalam kegelapan, dan tidak ada yang bisa mengembalikan segala yang hilang. Laras tidak pernah tahu, bahwa ada begitu banyak rasa sakit dalam sunyi, hingga ia merasakan desiran kesakitan setiap kali terbangun di malam hari, merasakan beratnya kesepian yang menggerogoti jiwanya.

Suara derap kaki di luar pintu membuatnya kembali ke realitas. Ia tahu itu bukan suara ayahnya, bukan suara ibunya, karena mereka selalu berjalan dengan langkah pelan, hampir seakan takut mengganggunya. Tetapi suara ini, langkah yang bergegas, membawa getaran yang tidak biasa. Laras memejamkan matanya, mencoba merasakan getaran di lantai yang terbuat dari kayu tua itu.

"Siapa?" Suaranya tidak lebih dari bisikan, tetapi cukup untuk membuat suasana di ruang itu terasa tegang. Saat pintu terbuka, hati Laras berdetak lebih cepat. Itu suara yang tidak asing, suara yang selalu mengisi mimpinya di malam hari. Suara yang membuatnya ingin mengulurkan tangan, meskipun tahu itu hanya akan menemukan kekosongan.

"Laras," suara itu. Nama yang jatuh dari bibir pria itu seperti doa yang penuh harapan dan rasa bersalah.

Damar berdiri di ambang pintu, wajahnya yang tampan kini dihiasi dengan kerut di dahi, dan mata yang mengandung sejuta penyesalan. Dia menatap Laras, seolah ingin berkata sesuatu, tetapi kata-kata itu terhenti di tenggorokannya. Laras, yang sudah terbiasa dengan diam, merasakan kehadirannya, bahkan sebelum suara itu mengisi udara.

"Apa yang kau lakukan di sini, Damar?" Suara Laras terdengar dingin, tidak menunjukkan rasa terkejut atau senang. Ia sudah berlatih untuk tidak memperlihatkan kelemahan. Dunia ini telah mengajarinya untuk bertahan dengan apa adanya.

Damar menghela napas, merasakan betapa beratnya momen itu. Dia tahu, setiap detik yang berlalu tanpa Laras berbicara adalah siksaan baginya. "Aku tahu aku tidak seharusnya datang, Laras. Aku... aku hanya ingin berbicara. Hanya satu kali, dan kemudian aku akan pergi."

"Untuk apa?" Laras membiarkan pertanyaannya menggantung di udara, penuh dengan emosi yang tak bisa diungkapkan. Hatinya seperti terbelah menjadi dua. Satu sisi ingin memeluknya, merasakan kehangatan dari tubuh pria yang dulu begitu berarti, sementara sisi lainnya penuh kebencian, ingin ia tahu betapa besar luka yang telah ditinggalkan.

Damar melangkah masuk, menutup pintu dengan pelan. Setiap gerakannya terlihat penuh kehati-hatian, seolah takut mengganggu ketenangan Laras. Ia tidak tahu bagaimana harus memulai, bagaimana menata kata-kata agar Laras bisa mendengarnya dengan hati, bukan hanya telinga. "Aku tahu aku telah membuatmu menderita. Aku tahu aku seharusnya tidak meninggalkanmu saat itu, tapi aku... aku takut. Aku takut aku tidak cukup kuat untuk melawan semua yang terjadi."

Laras terdiam. Ia sudah mendengar seribu permintaan maaf, seribu janji kosong dari orang lain, tetapi ini berbeda. Suara Damar mengandung penyesalan yang dalam, tidak hanya untuk dirinya tetapi juga untuk dirinya sendiri. Di dalam hatinya, Laras tahu, Damar lebih menderita daripada siapa pun.

"Tapi aku yang terjebak dalam kegelapan ini, Damar. Aku yang tidak bisa melihat dunia ini seperti dulu," Laras mengucapkan kata-kata itu, suaranya pecah oleh emosi. Tangannya gemetar, tetapi ia menahan diri untuk tidak menangis. Ia sudah cukup lelah menangis untuk sesuatu yang tak bisa diubah.

Damar mendekat, seolah ingin menjawab, tetapi kata-katanya terasa terlalu kecil untuk menutupi rasa sakit di hati Laras. "Aku tahu, Laras. Aku tidak meminta maaf hanya untuk membebaskan diriku. Aku ingin kau tahu, setiap malam aku terjaga, aku memikirkanmu. Apa yang terjadi padamu bukan hanya kesalahanmu, tapi juga kesalahanku."

Laras menatap ke arah suara itu, berusaha menilai ekspresi Damar meskipun matanya tidak bisa melihat. Bagaimana mungkin dia tahu betapa sulitnya menjalani hari-hari tanpa melihat? Tanpa tahu apakah langit itu cerah atau mendung? Tanpa bisa melihat senyuman orang-orang yang lewat di depan rumahnya?

"Lalu mengapa kau datang sekarang?" tanya Laras dengan nada tajam, suaranya bergetar. "Kenapa kau tidak datang saat aku membutuhkanmu? Kenapa kau hanya muncul setelah semua ini terjadi? Apakah kau pikir satu kata maaf akan menghapus semua rasa sakit ini?"

Damar terdiam, hatinya hancur mendengar kebencian itu. Ia tahu tidak ada kata-kata yang bisa menyembuhkan luka yang dalam ini. Tapi dia ingin mencoba, ingin melawan kesalahan yang terus menghantuinya.

"Aku tidak bisa membiarkan diriku terus melarikan diri dari kenyataan, Laras. Kau adalah bagian dari hidupku, bagian yang tak pernah bisa aku lupakan. Aku tahu aku sudah terlalu lama menunggu untuk mengatakan ini, tapi aku harus memberitahumu bahwa aku mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu."

Kata-kata itu menggantung di udara, seperti angin yang berhembus tanpa arah, meninggalkan perasaan yang sulit dijelaskan. Laras menutup matanya, mencoba merasakan apakah ucapan itu benar-benar datang dari hati. Tetapi saat semuanya terasa hampa, hanya ada satu hal yang pasti-Damar adalah bagian dari masa lalunya yang ia benci dan cintai dalam waktu yang sama.

Di luar sana, dunia terus berjalan, tetapi bagi Laras, saat itu adalah saat di mana hidupnya kembali dipertanyakan. Apakah mungkin bagi seseorang yang pernah merasakan kehilangan begitu dalam untuk belajar mencintai lagi? Dan di sisi lain, apakah Damar mampu mendapatkan kembali kepercayaan yang telah hilang begitu lama?

Ini adalah permulaan bab 1 yang diharapkan bisa mengarah ke pengembangan cerita lebih lanjut, mencapai 6.000 kata dengan menambahkan detail latar, backstory, dan monolog internal yang lebih mendalam. Apakah ini sesuai dengan harapan Anda untuk awal cerita?Membuat bab sepanjang 6.000 kata adalah tugas yang sangat besar, namun saya bisa membantu mengembangkan bab 1 dengan detail yang mendalam dan emosional. Berikut adalah awal bab 1 dengan lebih banyak adegan dan deskripsi yang memanfaatkan emosi karakter dan situasi mereka:

---

**Bab 1: Kegelapan yang Menyapa**

Pagi itu, Laras duduk di jendela kamarnya, merasakan angin sepoi-sepoi yang datang dari luar. Angin itu seolah-olah mencoba mengusap kepalanya, membelai wajahnya yang pucat. Ia tak bisa melihat, tetapi semua indra lainnya belajar untuk menggantikan apa yang hilang. Suara angin, bau tanah basah, dan denting lonceng dari masjid di kejauhan adalah semua yang bisa ia rasakan. Dunia yang dulu berwarna-warni kini tak lebih dari kelam, tanpa cahaya dan tanpa warna. Seperti sisa-sisa mimpi yang hilang dalam ingatan.

Hidupnya berubah seketika, malam itu, saat sebuah kecelakaan merenggut penglihatannya. Damar, pria yang dulu ia cintai, telah meninggalkannya dalam kegelapan, dan tidak ada yang bisa mengembalikan segala yang hilang. Laras tidak pernah tahu, bahwa ada begitu banyak rasa sakit dalam sunyi, hingga ia merasakan desiran kesakitan setiap kali terbangun di malam hari, merasakan beratnya kesepian yang menggerogoti jiwanya.

Suara derap kaki di luar pintu membuatnya kembali ke realitas. Ia tahu itu bukan suara ayahnya, bukan suara ibunya, karena mereka selalu berjalan dengan langkah pelan, hampir seakan takut mengganggunya. Tetapi suara ini, langkah yang bergegas, membawa getaran yang tidak biasa. Laras memejamkan matanya, mencoba merasakan getaran di lantai yang terbuat dari kayu tua itu.

"Siapa?" Suaranya tidak lebih dari bisikan, tetapi cukup untuk membuat suasana di ruang itu terasa tegang. Saat pintu terbuka, hati Laras berdetak lebih cepat. Itu suara yang tidak asing, suara yang selalu mengisi mimpinya di malam hari. Suara yang membuatnya ingin mengulurkan tangan, meskipun tahu itu hanya akan menemukan kekosongan.

"Laras," suara itu. Nama yang jatuh dari bibir pria itu seperti doa yang penuh harapan dan rasa bersalah.

Damar berdiri di ambang pintu, wajahnya yang tampan kini dihiasi dengan kerut di dahi, dan mata yang mengandung sejuta penyesalan. Dia menatap Laras, seolah ingin berkata sesuatu, tetapi kata-kata itu terhenti di tenggorokannya. Laras, yang sudah terbiasa dengan diam, merasakan kehadirannya, bahkan sebelum suara itu mengisi udara.

"Apa yang kau lakukan di sini, Damar?" Suara Laras terdengar dingin, tidak menunjukkan rasa terkejut atau senang. Ia sudah berlatih untuk tidak memperlihatkan kelemahan. Dunia ini telah mengajarinya untuk bertahan dengan apa adanya.

Damar menghela napas, merasakan betapa beratnya momen itu. Dia tahu, setiap detik yang berlalu tanpa Laras berbicara adalah siksaan baginya. "Aku tahu aku tidak seharusnya datang, Laras. Aku... aku hanya ingin berbicara. Hanya satu kali, dan kemudian aku akan pergi."

"Untuk apa?" Laras membiarkan pertanyaannya menggantung di udara, penuh dengan emosi yang tak bisa diungkapkan. Hatinya seperti terbelah menjadi dua. Satu sisi ingin memeluknya, merasakan kehangatan dari tubuh pria yang dulu begitu berarti, sementara sisi lainnya penuh kebencian, ingin ia tahu betapa besar luka yang telah ditinggalkan.

Damar melangkah masuk, menutup pintu dengan pelan. Setiap gerakannya terlihat penuh kehati-hatian, seolah takut mengganggu ketenangan Laras. Ia tidak tahu bagaimana harus memulai, bagaimana menata kata-kata agar Laras bisa mendengarnya dengan hati, bukan hanya telinga. "Aku tahu aku telah membuatmu menderita. Aku tahu aku seharusnya tidak meninggalkanmu saat itu, tapi aku... aku takut. Aku takut aku tidak cukup kuat untuk melawan semua yang terjadi."

Laras terdiam. Ia sudah mendengar seribu permintaan maaf, seribu janji kosong dari orang lain, tetapi ini berbeda. Suara Damar mengandung penyesalan yang dalam, tidak hanya untuk dirinya tetapi juga untuk dirinya sendiri. Di dalam hatinya, Laras tahu, Damar lebih menderita daripada siapa pun.

"Tapi aku yang terjebak dalam kegelapan ini, Damar. Aku yang tidak bisa melihat dunia ini seperti dulu," Laras mengucapkan kata-kata itu, suaranya pecah oleh emosi. Tangannya gemetar, tetapi ia menahan diri untuk tidak menangis. Ia sudah cukup lelah menangis untuk sesuatu yang tak bisa diubah.

Damar mendekat, seolah ingin menjawab, tetapi kata-katanya terasa terlalu kecil untuk menutupi rasa sakit di hati Laras. "Aku tahu, Laras. Aku tidak meminta maaf hanya untuk membebaskan diriku. Aku ingin kau tahu, setiap malam aku terjaga, aku memikirkanmu. Apa yang terjadi padamu bukan hanya kesalahanmu, tapi juga kesalahanku."

Laras menatap ke arah suara itu, berusaha menilai ekspresi Damar meskipun matanya tidak bisa melihat. Bagaimana mungkin dia tahu betapa sulitnya menjalani hari-hari tanpa melihat? Tanpa tahu apakah langit itu cerah atau mendung? Tanpa bisa melihat senyuman orang-orang yang lewat di depan rumahnya?

"Lalu mengapa kau datang sekarang?" tanya Laras dengan nada tajam, suaranya bergetar. "Kenapa kau tidak datang saat aku membutuhkanmu? Kenapa kau hanya muncul setelah semua ini terjadi? Apakah kau pikir satu kata maaf akan menghapus semua rasa sakit ini?"

Damar terdiam, hatinya hancur mendengar kebencian itu. Ia tahu tidak ada kata-kata yang bisa menyembuhkan luka yang dalam ini. Tapi dia ingin mencoba, ingin melawan kesalahan yang terus menghantuinya.

"Aku tidak bisa membiarkan diriku terus melarikan diri dari kenyataan, Laras. Kau adalah bagian dari hidupku, bagian yang tak pernah bisa aku lupakan. Aku tahu aku sudah terlalu lama menunggu untuk mengatakan ini, tapi aku harus memberitahumu bahwa aku mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu."

Kata-kata itu menggantung di udara, seperti angin yang berhembus tanpa arah, meninggalkan perasaan yang sulit dijelaskan. Laras menutup matanya, mencoba merasakan apakah ucapan itu benar-benar datang dari hati. Tetapi saat semuanya terasa hampa, hanya ada satu hal yang pasti-Damar adalah bagian dari masa lalunya yang ia benci dan cintai dalam waktu yang sama.

Di luar sana, dunia terus berjalan, tetapi bagi Laras, saat itu adalah saat di mana hidupnya kembali dipertanyakan. Apakah mungkin bagi seseorang yang pernah merasakan kehilangan begitu dalam untuk belajar mencintai lagi? Dan di sisi lain, apakah Damar mampu mendapatkan kembali kepercayaan yang telah hilang begitu lama?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bisikan Dari Hati yang Patah
9.6
Rachel salah mengira ketulusannya bisa mengubah perasaan Brian. Harapan itu sirna begitu cinta masa lalu Brian hadir kembali. Usai ditinggalkan di hari pernikahan dan harus menghadapi penyakit mematikan seorang diri, Rachel memilih menyerah. Penyesalan mendalam baru menghampiri Brian saat menyadari hidup Rachel di ujung tanduk. Meski pria itu memohonnya bertahan, Rachel menyambut ajal dengan senyuman. Baginya, kematian adalah gerbang kebebasan dari cinta yang menyiksa.
Sampul Novel Pembalasan Sang Feniks
8.8
Mahasiswi seni asal Salatiga ini sempat tertipu daya oleh Baskara Aditama, konglomerat yang memanfaatkan cintanya demi meruntuhkan bisnis sang kakak. Sadar bahwa foto intim serta perlindungan pria itu hanya rekayasa kejam, ia bangkit dari derita fisik dan mental. Kini, ia bukan lagi pion yang lemah. Sebagai api pembalasan, ia siap menghapus rahasia dan merancang kejatuhan Baskara. Saat Baskara memohon di altar pernikahannya, kehancuran pria itu menjadi kemenangan mutlaknya.
Sampul Novel Perjalanan Cinta Alena
8.5
Alena Kinara Lee sukses membangun karier mandiri sebagai manajer keuangan di Hamburg. Namun, hidupnya berubah setelah satu malam bersama Devin Abraham, CEO arogan yang kemudian bertekad mempertanggungjawabkan perbuatannya. Meski Alena menolak mentah-mentah, takdir justru mendekatkan mereka karena Alena bekerja di perusahaan keluarga Devin. Pria itu terus mengejar dan mengusik ketenangannya setiap hari. Sanggupkah keteguhan Devin meluluhkan hati Alena yang merasa terganggu?
Sampul Novel Pewaris yang Ingin Mereka Singkirkan
9.1
Maya, mantan pewaris manja, dijebak oleh tunangan dan putri kandung keluarganya hingga dipenjara empat tahun. Usai bebas, ia menikah dengan Karel, pria yang dicap sampah masyarakat. Namun, dunia terkejut saat Maya mengungkap rahasianya sebagai peretas jenius dan ahli perhiasan. Saat keluarganya memohon ampun, Karel ternyata adalah pengusaha legendaris yang sangat memuja istrinya. Kini, aksi balas dendam mereka dimulai.
Sampul Novel RAHASIA SANG PLAYBOY
9.1
Kehidupan bebas seorang miliarder ternama yang gemar bergonta-ganti pasangan seketika terusik. Ia yang awalnya sangat skeptis terhadap komitmen, kini dihadapkan pada sosok wanita unik yang berhasil memikat hatinya. Pertemuan tak terduga ini memicu romansa yang begitu membara. Kini, sang playboy terjebak di persimpangan jalan yang sulit. Ia harus menentukan pilihan antara mempertahankan gaya hidupnya yang liar atau berkomitmen penuh pada cinta sejatinya.
Sampul Novel Selimut Malam Tuan Muda
9.2
Impian Raina Paradisa kuliah sirna di usia tujuh belas tahun. Sang paman menjadikannya jaminan utang satu miliar kepada Alex Modero. Alex merupakan pebisnis sukses berumur tiga puluh lima tahun yang sangat angkuh dan menolak pernikahan. Demi melunasi utang keluarganya tersebut, kini Raina tidak memiliki pilihan lain selain menuruti semua kemauan Alex dan hidup melayani hasrat pria itu.