APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Barbar dan Cowok Cupu

Gadis Barbar dan Cowok Cupu

Terbiasa hidup bebas tanpa kekangan, putri seorang bos mafia yang menawan justru jatuh hati pada teman sebangkunya di sekolah. Pemuda tersebut dikenal sangat culun dan kerap menjadi korban perundungan. Meski kepribadian mereka bertolak belakang, sang gadis barbar tetap terpikat pada sosok cowok cupu itu. Di tengah kerasnya dunia bawah dan lingkungan sekolah, kisah unik mereka pun terajut.
Bab
Bagikan

Bab 1

Warning, 21+

Mengandung kekerasan dan adegan dewasa..

***

Ameera berlari sekuat tenaga saat suara sirine mobil polisi memecah jalanan.

Baru saja ia ikut tawuran dengan sekolah anak SMA lain, ia yang merupakan anak gadis sendiri tak peduli dengan yang lain, yang ia pikirkan menyelamatkan diri.

Ia segera memutar kunci motor gedhenya, lalu segera meninggalkan jalanan yang baru saja buat mereka melakukan kesenangan ala anak muda, yaitu tawuran.

Ameera mengendarai sepeda motor dengan ugal-ugalan. Seragam biru putihnya sudah kotor dan ada sedikit bercak darah. Oh iya Ameera ini baru saja lulus SMP yah, ia salah satu murid SMP yang ikut dalam tawuran kakak kelas tersebut, dan ia adalah dalang dari terjadinya tawuran, bahasa kerennya provokator.

***

Pagi Menyapa di Kota Jakarta,

baru seminggu Ameera kembali dari Amerika, ia sempat mogok dua tahun nggak sekolah, sehingga dirinya yang kini hampir usia 19 tahun, baru kelas 11.

"Kak, pakai mobil aja, kita bertiga sekolah barengan." usul Nizar di sela sarapan mereka,

"Ogah. Kakak males bareng kalian. Ingat ya jan sampai tau kalian itu adik-adik gue," ucap Ameera memicingkan mata menatap dua bocah kembar yang begitu sangat mirip. Tapi itu hanyalah gurauan semata.

"Gue juga ogah, punya kakak brandal," ejek Nizam, lalu ia melangkah pergi setelah meminum susu coklatnya.

Mereka berempat di rumah, kedua orang tuanya pergi sejak subuh tadi, sedangkan Queen ia ada tes tengah semester. Sehingga berangkat lebih dulu dengan supir.

"Adik laknat lu!" maki Ameera. Namun Nizam hanya senyum mengejek.

"Tunggu Zam, yaelah. Main ninggalin gue aja." protes Nizar.

"Cabut, kuyy." Ajak Nizam,

"Balapan sampai sekolah." Ameera tak mau kalah, ia menyampirkan tas sekolahnya lalu berlari menuju pintu keluar.

"Gaskeeun." sambut Nizar yang memang punya hobi yang sama.

Nizam hanya geleng-geleng kepala. Melihat kakak dan juga saudara kembarnya.

Menit kemudian, ketiganya sudah di atas badan sepeda motornya,

Ameera di atas sepeda motor warna merah, Nizar dengan sepeda motor warna hijau dan Nizam dengan sepeda motor warna hitam.

"Pak, bukain gerbang!" teriak Ameera, kepada satpam yang menjaga rumah. Satpamnya hanya mengangguk patuh. Ketiganya sudah membleyer sepeda mereka masing-masing. Begitu gerbang terbuka lebar, ketiganya melesat keluar gerbang, lalu menambah kecepatan saat roda sudah berputar di jalan raya.

Hari ini adalah hari pertama Ameera masuk sekolah di SMA barunya. Tentunya sekolah milik keluarga Narendra, sebab sekolah itu sudah di beli keluarga Narendra dari pemilik sebelumnya.

Ameera begitu tangkas dalam berkendara, membuat kedua adiknya tertinggal. Ameera menyalip ke kanan dan ke kiri, tak mempedulikan pengendara lain yang terganggu.

Sampai di perempatan trafic light, Ameera bisa melewati sebelum lampu berubah merah, Nizar memukul tangki sepeda motor dengan kasar, sebab ia terpaksa berhenti karena lampu kuning berubah jadi merah.

"Gila. Kakak dari dulu susah di kalahkan." gerutu Nizam.

"Kakak saja yang lagi beruntung," balas Nizar. Nizam tak menanggapinya, sebab lampu sudah berubah hijau, lalu mereka kembali melajukan sepeda motornya.

Ameera masih mengendarai dengan kecepatan di atas rata-rata, jarak sekolah yang biasa di tempuh perjalanan 25 menitpun, hanya ia tempuh dalam waktu 10 menit.

Ciit...

Suara decitan roda beradu dengan aspal memekik telinga, saat tiba-tiba rem mendadak membuat sepeda motor berhenti.

"Anjing!" Umpat Ameera, menatap sepeda motor gede warna hitam belok kiri tanpa menyalakan lampu sein. Untung Ameera bisa mengendalikan laju sepeda motornya, sehingga tak sampai menabrak. Sepeda motor hitam lengkap dengan si pengendarapun berhenti, si pengendara menoleh, tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. "Bisa bawa motor nggak sih, goblok!" bentak Ameera sekali lagi.

"Oh maaf." jawab si pengendara saat menyadari kesalahannya, sebab ia lupa nyalain lampu sein saat berbelok.

Tanpa mempedulikan Si pengendara motor hitam, Ameera bergegas menyetarter sepedanya, sebab mesin sepeda motornya yang mati.

Namun yang terjadi sepeda motor tersebut, mati dan tak bisa di hidupkan kembali. Ia turun dari badan sepedanya, menendang sepeda motornya, sebab ia tahu kemungkinan motornya mogok, sebab sejak di tinggal di Amerika, sepeda itu tak ada yang menyentuh, sebab Ameera tak suka jika ada yang menyentuh barang miliknya. Dan baru kali ini ia memakainya setelah tadi pagi meminta tolong ke Ali untuk memanasi sepeda motornya, ingatkan siapa Ali? Semoga ingat ya, dia itu anak jalanan yan kemudian di jadikan adik angkat Rehan.

"Kenapa motormu, mogok?" Tanya si pengendara yang tadi hampir Ameera tabrak.

"Dah tau nanya lagi, gara-gara lu. Gue kalah balapan," Jawabnya judes, lalu terdengar suara pengendara motor, Ameera menatap dua motor yang beriringan, tentu saja ia kenal siapa sang pemilik sepeda motor tersebut.

Ia melambaikan tangan, membuat dua pengendara tersebut, berhenti.

"Gue nebeng." tanpa menunggu persetujuan dari sang adik, Ameera langsung naik ke belakang boncengan motor Nizam, Nizam pun tak banyak bertanya, ia kembali melajukan sepeda motornya.

"Bawa motor gue ke bengkel!" perintah Ameera, ia melemparkan kunci motor ke adiknya, Nizar.

"Ah, Kebiasaan!" gerutu sang adik.

"Biar aku aja yang bawa motor itu ke bengkel," ucap si pengendara motor hitam,

"Kak Arsya." Panggil Nizar, Lelaki yang di panggil Arsya mengangguk.

"Itu barusan kak Ameera loch." jawab Nizar, Arsya merasa tak bisa bernafas tiba-tiba. Gadis yang selama ini ia rindukan, sudah kembali dari Amerika.

"Kamu nggak bohong'kan, dik?" Tanya Arsya, Arsya kini kelas Tiga, Nizar menggeleng, Nizar tahu, hubungan keduanya sedang tak baik-baik saja.

"Kakak pangling sama sepeda merah kesayangan kak Ameera?" Tanya Nizar bingung,

"Ah iya. Gue lupa." jawabnya nyengir.

"Ya sudah biar kakak saja yang bawa ke bengkel," Ucapnya.

"Okey," jawab Nizar sambil mengacungkan jari jempol, bengkelnya tidak terlalu jauh dari jarak mereka saat ini, namun jika harus dorong motor gedhe, ia juga merasa kelelahan. Namun Arsya harus bertanggung jawab atas apa yang ia perbuat tadi, ia yang sedikit mengantuk sebab semalam susah tidur, sehingga pas berbelok lupa tidak menyalakan lampu sein, hampir saja membuat Arsya dan Ameera celaka. Ia adalagh gadis yang sudah mencuri hatinya.

Di parkiran sekolah, Ameera turun dari boncengan adik kembarnya, ia membuka helmet dan menaruh di spion speda motor adiknya, membenarkan rambut panjangnya yang tergerai, lalu menguncir kuda, lalu ia melangkah meninggalkan adiknya, namun sebelumnya ia memukul kepala adiknya cukup keras.

"ASYU!" Maki Nizam, saking terkejutnya, Ameera malah terkekeh, tak peduli dengan umpatan adiknya. Ia berjalan santai mencari kelas IPA2, yang akan menjadi kelas untuk dirinya, namun sebelumnya ia harus mencari di mana ruang guru.

"Dek, ruang guru di mana?" Tanya Ameera, ia menoleh sebentar ke adiknya.

"Tunggu. Biar gue anter." Jawab Nizam, Ameera hanya mengulum senyumnya, saat Nizam sudah berada di sampingnya.

Ameera sengaja merangkul pundak adiknya, yang tingginya lebih sedikit darinya. Ia sengaja melakukan itu, sebab banyak mata yang menyoroti mereka, Ameera sengaja melakukan itu supaya di kira pacarnya, dan adiknya tidak di incer gadis lain di sekolah ini, ia tahu adiknya memang tampan banyak yang menyukai, ia mendapat urutan tertampan nomor satu di sekolah ini, yang nomor dua tentu Nizar.

Meskipun kembar identik, namun ada sedikit perbedaan yang membuat Nizam lebih tampan dari Nizar. Nizam juga di kenal ramah meskipun terkesan cuek, beda dengan Nizar yang petakilan. Tapi dia juga tergolong bersikap dingin, tidak ramah. Hobinya bolos, tapi otaknya yang cerdas, tetap saja tak ada nilai ujian di bawah sembilan puluh.

"Kak, tadi itu kak Arsya loh yang kakak maki," Ucap Nizan, mendengar nama Arsya ia terbatuk, tersedak ludahnya sendiri. "Kenapa?" tanya Nizam, penasaran.

"Serius loe nggak bohong, dik?" Tanya Ameera. Nizam hanya mengangguk, mengamati gurat wajah kakaknya yang tiba-tiba berubah, ia nampak sedang berfikir.

"Ini ruang gurunya, gue ke kelas dulu ya, kak?" Pamit Nizam, ia mencium pipi cubby kakaknya, memang sudah menjadi kebiasaan sih, kalau nggak adiknya dulu yang nyium, biasanya kakaknya.

"Belajar yang bener dek, jan pacaran." pesan Ameera. Nizam menoleh menyunggingkan senyum manisnya, lalu mengacungkan jari jempolnya.

"Ok. Kakakku yang cantik," jawab Nizam, lalu tubuhnya hilang di balik belokan, kelas 10 ada di lantai dua.

Dengan santai ia berjalan menyusuri koridor kelas, tatapannya lurus ke depan, wajah tampannya tanpa ekspresi, melangkah santai dengan memasukan tangannya ke saku celana.

"Ini Nizar atau Nizam?" goda salah satu teman sekelasnya, saat ia masuk ke dalam kelasnya, Nizam tersenyum, sedikit yang bisa mengenali dirinya dengan jelas, padahal bedanya si Nizam ada tahi lalat di pelipis kirinya.

"Nizam sih gue rasa," Gumam Irsyad.

"Nizar," tebak Rachel. Cowok tampan berkulit kuning dengan gigi sedikit tak rapi, namun kelihatan sangat manis.

"Huahahaha..!" Tawa anak dari belakang membuat Nizam menoleh, lalu dengan cuek ia duduk di bangku tempat duduknya. Tawa Galang, sudah di duga paling ia habis ngerjain temannya lagi, Galangkan emang usil bin jahil.

"Eh, Loe tadi boncengan sama siapa? sumpah cantik banget," tanya Galang ke Nizam.

"Tebak aja," jawab Nizam, cuek.

"Idih mana gue tau, gue'kan bukan peramal, Ruk. Dasar beruk." jawab Galang, ia menaruh tas di dalam laci meja tempat duduknya.

"Hari ini yang jatah tugas upacara kelas berapa?" Tanya Isryad.

"Kelas 11 IPS3 keknya," jawab Rachel.

"Zam, kakak mana?" Tanya Nizar dari ambang pintu,

"Di ruang guru," jawab Nizam, acuh.

"Oh. Eh gue nyontek tugas Fisika donk," bisik Nizar, ke telinga Nizam.

"Loe belum ngerjain?" Tanya Nizam,

Nizar menggeleng pasrah, " sejak kapan otak loe jadi o'on?" sindir Nizam.

"Baru ingat kalo ada PR," Jawabnya nyengir.

Tet.. teet... tet...

Bel tanda masuk sekolah berbunyi, semua anak mengambil topi, dan berhambur ke luar kelas, sebab hari ini ada upacara kenaikan bendera, rutinitas hari senin. Bukan Nizar kalau nggak bolos untuk mengikuti upacara, yang lain upacara dirinya melipir pergi ke kantin. Tak lupa ia menarik tangan Galang, di ajak sekongkol menghindari upacara.

"Awas loe kalo bilang Mommy sama Daddy," Nizar melotot ke arah Nizam, Nizam tak peduli, ia bukan tukang ngadu juga.

Nizar dan Galang mengitari bangunan untuk menuju kantin, iapun melewati gudang yang jarang sekali di kunjungi, namun keduanya seakan mendengar suara desahan dari dalam gudang tersebut, Bukan Nizar kalau tidak jahil, ia dengan sengaja mengintip dan mengambil ponsel dalam saku celananya, berniat akan merekam adegan panas mereka.

"Gila bro, suaranya seksi banget, bikin punya gue tegang aja," ucap Galang, ia mengelus celananya, nampak tonjolan di balik celana yang ia pakai.

"Anjirr, malah sange loe," maki Nizar.

"Gue normal, Nyet." Jawab Galang, tentu mereka bicara dengan berbisik, sebab ia tak ingin mengganggu adegan panas mereka.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Hilang, Dia Mencariku Kemana-mana
9.1
Menjadi kekasih rahasia sekaligus restorator seni bos mafia Denis Sanggu adalah cara mahasiswi miskin sepertiku bertahan hidup. Namun, hubungan lima tahun ini retak saat Denis bertunangan dengan Bella Rosana. Aku tidak hanya dipaksa mengalah saat Bella melukaiku, tetapi Denis bahkan memaksaku menggantikan Bella bermain Rolet Rusia yang mematikan. Setelah mempertaruhkan nyawa demi membalas budi masa lalu, aku pun lenyap, meninggalkan sang mafia yang kini kehilangan akal sehatnya mencariku.
Sampul Novel Dipaksa Menikahi Mafia Kejam
9.1
Niat baik Grazella Elnara Wesley menolong orang asing berujung petaka. Dia dipaksa menikah oleh Gabriel Leonard Mattew, bos mafia kejam asal Italia yang terobsesi padanya karena kemiripan fisik dengan masa lalunya. Meski terjebak di dunia Leon yang keji, mahasiswi psikologi ini bertekad melindungi hatinya. Sembari berjuang demi kesembuhan sang adik, Grazella harus bertahan menghadapi kekejaman pria yang merasa dirinya tuhan tersebut.
Sampul Novel GAIRAH SANG MAFIA.
9.6
Hidup Veronika hancur seketika akibat pengkhianatan sang kekasih dan tindakan orang tuanya yang menjadikannya jaminan hutang. Kini, ia terkurung dalam kuasa seorang bos mafia kejam yang merenggut kemerdekaannya. Terjebak dalam situasi yang menyesakkan bak penjara, Veronika tidak memiliki pilihan lain demi merebut kembali kebebasannya. Ia terpaksa menyerahkan kesuciannya kepada sang penguasa kegelapan. Inilah kisah penuh intrik, pengkhianatan, dan gairah berbahaya.
Sampul Novel Mafia Kejam Jatuh Cinta
9.6
Menghindari paksaan nikah, Deo Morte Picasso, bos mafia Italia yang antipati pada wanita, bersembunyi di desa. Di sana, ia malah terjerat cinta satu malam dengan gadis setempat. Namun, kematian mendadak orang tuanya memaksa Deo pergi, meninggalkan gadis itu yang tengah mengandung anaknya. Dua tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Sayangnya, Deo kini telah memiliki keluarga baru, menggoreskan luka mendalam bagi sang ibu tunggal yang berjuang sendirian.
Sampul Novel Mengirim Tunangku ke Neraka
8.0
Kegagalan Cathy Begum tampil di kapal pesiar memicu kemarahan bos mafia, Nate Adams, yang mengancam akan merusak tangannya. Tunanganku, Chris Dobson, awalnya bersikap dingin sebelum akhirnya membiusku. Begitu tersadar, aku sudah terikat di kamar Nate demi menyelamatkan karier Cathy. Chris bahkan memohon agar aku menyerahkan diri pada Nate semalam saja sebagai pengganti. Meski dia berjanji akan menjemputku kembali, aku sangat ragu Nate akan meredakan dendamnya begitu saja.
Sampul Novel Obsesi Mafia Tampan
9.0
Terperangkap dalam dunia model dewasa, nasib Haruka Arsya kian malang setelah diculik oleh penggemar fanatiknya, Agaskara Angkasa. Demi memiliki Haruka, pria itu nekat memakai obat terlarang untuk merusak hubungan Haruka dengan kekasihnya. Upaya kabur Haruka justru membawanya ke dalam bahaya baru ketika ia disandera oleh musuh Agaskara. Kini, Haruka terjebak di tengah perseteruan kejam dunia mafia dan obsesi gila yang mengancam keselamatan jiwanya.