APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Fulfi

Fulfi

Fulfi, model pintar berumur 20 tahun yang yatim piatu, mendirikan yayasan wanita untuk membantu sesama. Namun, nasib buruk menimpanya saat ia diperkosa hingga hamil. Ketika berupaya bangkit dan membangun kembali kariernya di tengah berbagai sabotase dari musuh-musuhnya, Fulfi justru dihadapkan pada bahaya besar yang membawanya bertemu dengan otak di balik tragedi masa lalunya itu. Sanggupkah ia bertahan hidup dan kembali bersinar di panggung modeling?
Bab
Bagikan

Bab 2

Sepasang kaki jejang yang dibalut high heels dengan anggun melangkah menuju salon di mana Fulfi bekerja. Fulfi sudah menatapnya dari jauh sebelum dia turun dari mobil. Wanita beranak satu itu tampak begitu bersemangat untuk membukakan pintu mobil.

"Hai, Karin!" Fulfi langsung menyapa sahabatnya yang sesama model juga.

"Siapa, ya? Oh, manusia udik? Kerja di sini kamu?" tanya Karin dengan nada sombong.

Dahi Fulfi mengernyit, merasa ada yang aneh dengan sahabatnya ini. Kok, seperti tidak mengenalku? batin wanita itu. Setelah melihat penampilannya sendiri, Fulfi baru tersadar. Inilah penampilan yang paling dibenci oleh model.

“Masa kamu nggak inget sama aku? Aku Fulfi, Karin!" jelas Fulfi, masih sangat heran.

"Sorry, aku nggak selevel dengan wanita rendahan seperti kamu. Kamu hamil di luar nikah, sekarang jadi miskin dan udik seperti ini. Jangan harap kamu sok kenal denganku!" tegas Karin dengan santainya sambil melenggang menuju ke resepsionis.

Kamu sungguh berubah. Kamu seperti bukan sahabatku yang dulu. Fulfi membatin. Lantas, dia mencoba mengabaikan dan kembali menyapu lantai.

"Mbak, aku ingin creambath, ngecat rambut, dan pokoknya rambutku harus ditata dengan rapi dan bagus. Pokoknya penata rambut yang paling recommended siapa di sini? Aku mau dia!" pinta Karin, seperti seorang selebriti yang sudah terkenal seantero negeri.

"Fulfi, kamu tangani mbak Karin, ya," kata resepsionis itu memanggil Fulfi.

"Loh, kok, dia? Bisa apa dia? Masa dia yang paling bagus di sini? Orang udik seperti dia bisa membuatku alergi," komentar Karin yang cukup pedas terlontar dari mulutnya.

Dia benar-benar sudah berbeda, aku bersyukur keluar dari dunia modelling. Aku baru tahu mereka suka merendahkan orang lain. Fulfi terus menggerutu di dalam hatinya.

“Mbak Karin bisa lihat hasil karya Fulfi tertempel di beberapa pigura. Jika aku berikan penata rambut yang lain, apakah Mbak Karin tidak akan kecewa?" tanya resepsionis itu, berusaha meyakinkan.

Bisa-bisanya orang seperti dia menjadi terbaik di salon besar seperti ini. Kenapa dia selalu unggul di segala bidang? Aku semakin geram dengan anak ini, batin Karin sambil melirik Fulfi dan melihat pigura yang tertempel di dinding.

"Jika kamu tidak mau aku yang menangani, aku akan panggil penata rambut yang lain." Fulfi mencoba menjadi orang yang paling sabar.

"Tidak! Tidak! Baiklah, kamu saja yang tangani! Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus segera ke peragaan busana," sahut Karin yang menghentikan langkah Fulfi.

Dasar, Labil! Fulfi sedikit kesal.

"Silakan duduk, Mbak Karin!" Fulfi mencoba untuk profesional.

Setiap gerakan yang dilakukan Fulfi selalu membuat Karin kesal. Sebab, Fulfi begitu cekatan dan dia selalu mengerjakan sesuatu dengan serius.

"Kok gitu, sih? Aku nggak suka pake rol rambut itu. Ganti!" Karin memerintah dengan meninggikan nadanya. Fulfi hanya terdiam dan selalu menuruti apa pun yang model cantik itu katakan.

“Jangan terlalu lurus, aku suka yang curly!" Karin berkomentar lagi. Setelah Fulfi menuruti kemauanya, lagi-lagi Karin protes.

"Kamu gimana, sih? Kok, kayak gini? Kurang lurus, jangan kayak mi!" omel Karin, sengaja membuat Fulfi geram.

"Mbak Karin, bukankah Anda orang yang sangat sibuk? Apakah jadwal Anda begitu luang sampai bisa mengulur banyak waktu di sini?" Fulfi mencoba menahan emosinya.

Dasar! Semakin berani saja dia!

Fulfi menyisir rambut Karin dengan begitu kasar lantaran sudah telanjur geram. "Aw, sakit! Kamu ini nggak becus kerjanya, ya!" Karin mulai berteriak.

Seisi ruangan itu melihat Karin yang cukup berlebihan memperlihatkan rasa sakitnya.

"Aduh! Maaf, ya, Mbak Karin. Aku nggak sengaja, kok, tadi. Aku perbaiki pelan-pelan, ya?" tawar Fulfi dengan nada bicara yang lembut dan sangat dibuat-buat.

Anak ini benar-benar kurang ajar! Karina mulai menggerutu.

Bak pekerja professional, Fulfi sangat piawai dalam menata rambut. Dia mampu mengubah gaya rambut Karin menjadi begitu anggun.

Sebenarnya, Karin tidak meragukan kemampuan Fulfi. Namun, hal itu hanya tersampaikan dalam hati. Sebab, dia tidak akan pernah sudi mengakui bahwa Fulfi memang hebat. Setelah selesai, wanita itu membayar biaya salon ke kasir dan segera pergi dari tempat itu.

"Fi, kamu kenal Mbak Karin? Sepertinya, aku mendengar kamu kenal dekat dengannya?" tanya Dira, karyawan lain yang bekerja di salon itu.

"Mungkin kamu salah dengar dan sepertinya aku salah orang." Fulfi mencoba menutupi apa yang sebenarnya terjadi karena dia malas untuk kembali mengingat masa lalu.

Tiba waktunya Fulfi kembali ke rumah. “Hai, Mbak Galdin! Aku pulang,” sapanya. Wanita itu terlihat begitu lemas saat sampai di rumah.

“Sepertinya, kamu lelah sekali, Fi," ujar Galdin yang sedang menimang Adi.

"Iya, Mbak. Sini, sayangku!" pinta Fulfi sambil mengambil alih anaknya dari Galdin.

"Sayang, pekerjaanmu lancar, ‘kan?" tanya Galdin.

"Iya, Mbak. Hanya ada satu pelanggan yang menyebalkan. Mbak Galdin tahu Karin, ‘kan?" Fulfi bertanya balik setelah menjelaskan sedikit alasannya.

“Iya, aku tahu. Bukannya dia sahabatmu, ya?" Galdin menyiapkan hidangan di meja makan.

"Ah, jangan sebut dia sahabat! Tadi Karin datang menghinaku, bahkan tidak mau mengenalku. Yang paling menyebalkan, dia sempat mengerjaiku. Aku baru tahu sifat yang sebenarnya, setelah aku keluar dari dunia modelling. Sekarang aku jadi bersyukur karena keluar dari dunia modelling. Iya, ‘kan, sayangku?" Fulfi tersenyum kepada anaknya.

"Sudah kuduga, dia hanya baik di depan saja. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Sekarang kamu sudah hidup lebih baik. Siapa tahu pekerjaanmu ini bisa jadi batu loncatan untuk kamu kembali sukses," tutur Galdin, setelah selesai menyiapkan piring.

"Iya juga, sih, Mbak. Sekarang aku juga, seperti punya keluarga. Tidak hidup sendiri lagi. Aku juga punya Adi, mungkin Tuhan ingin memberiku teman jadi dia memberikan aku anak ini," ucap Fulfi mensyukuri keadaannya saat ini.

"Aku selalu bangga dengan kamu, Fi. Kamu itu wanita yang kuat. Ya, sudah. Ayo, cepat makan! Keburu dingin," ajak Galdin.

"Iya, Mbak. Aku taruh Adi di boks dulu, ya."

Akhirnya, Fulfi dan Galdin mulai menyantap makanan yang ada di meja sambil bercengkerama. Ada saja hal yang mereka bahas di sela-sela kegiatan makan.

***

Keesokan harinya, Fulfi kembali bekerja di salon. Seperti biasa, dia akan selalu bersemangat demi memenuhi kebutuhan sang anak.

“Fi, nanti jam sepuluh kamu temenin aku, ya, jadi penata rambut peragaan busana di Mal H. Ini event lumayan besar. Kamu bisa menata rambut para model papan atas di sana!" ajak Heny.

"Benarkah, Bu?" Fulfi terlihat sangat bahagia.

Puji Tuhan, aku bisa menambah pengalamanku di sana, gumam Fulfi dalam hati.

"Iya, nanti kamu akan berangkat bareng Janet," ucap Heny.

"Siapa Janet, Bu?" tanya Fulfi penasaran.

Tiba-tiba, datanglah seorang wanita cantik berambut curly. Wanita itu mengenakan gaun selutut lengkap dengan blazer dan high heels yang meninggalkan kesan anggun.

"Hai! Kamu Fulfi, ‘kan? Aku sudah mendengar banyak tentangmu dari Bu Heny. Kenalin, aku Janet.” Sang pemilik nama memperkenalkan diri seraya cipika-cipiki dengan Fulfi.

"Hai, Kak! Aduh, kamu cantik banget, Kak!" Fulfi mencoba akrab wanita yang baru saja datang itu.

"Udah tahu, kan, Janet itu siapa? Kalian nanti akan kerja sama untuk menjadi penata rambut di sana. Net, bantu Fulfi mengganti penampilannya!" suruh Heny.

"Kak, emangnya harus ganti baju?" Fulfi bertanya-tanya. Dia masih sedikit bingung.

“Nggak mungkin kamu pake baju kaya gini ke event besar. Di sana kita menangani model papan atas. Jadi, kamu juga harus dandan profesional. Oh, ya. Kita dapet gaji tiga kali lipat dari biasanya," jelas Janet sambil mendorong pelan tubuh Fulfi ke ruang ganti.

"Serius, Kak?" tanya Fulfi yang masih saja tidak percaya dengan penjelasan Janet.

"Sudah, jangan banyak tanya! Kamu perlu di-make over," imbuh Janet.

Dalam waktu lima belas menit, Fulfi berubah penampilan. Dia sudah memakai riasan di wajahnya. Pun rambutnya sudah di-blow, membuat wanita single itu terlihat lebih cerah. Apalagi ketika dipadukan dengan gaun selutut dan blazer merah. Sungguh, sangat cocok dengan kulit Fulfi yang putih.

Semua karyawan terkagum-kagum melihat penampilan Fulfi saat itu. Ketika dia melihat pantulan dirinya di sebuah cermin, sontak air mata menetes di pipinya.

"Loh, kenapa nangis?" tanya kak Janet.

"Aku mengingat masa laluku yang suram ketika aku berdandan seperti ini," jawab Fulfi sambil mengusap air matanya.

Janet cukup penasaran. Dia pun bertanya, "Kenapa?”

“Aku pernah menjadi model dan aku pernah diperkosa. Setiap aku berdandan seperti ini, aku merasa takut." Fulfi berusaha menahan air matanya yang siap menetes lagi. Wanita itu tak menolak kala Janet mendekapnya erat dan berusaha menenangkan.

"Fi, sorry. Aku nggak tahu kenapa kamu bisa mengalami hal setragis itu, tapi yang perlu kamu tahu … kamu itu cantik, pintar, dan kuat. Apapun yang kamu alami, kamu akan tetap menjadi Fulfi. Kamu harus percaya diri dengan dirimu sendiri. Kamu kembali menjadi cantik bukan untuk kembali ke masa lalu, tapi kamu menjadi Fulfi yang baru.” Lupakan kejadian masa lalu dan hadapi masa depan! Ada semua temen-temen di sini. Mereka mendukung kamu karena kamu hebat. Senyum, ya, Fi dan jangan nangis lagi!" jelas Janet, mencoba menghibur Fulfi.

"Makasih banyak, ya, Kak. Aku akan mencoba untuk semangat dan lebih kuat lagi!" Fulfi yakin terhadap dirinya.

"Ayo, Girls, kita berangkat! Kalian udah siap, ‘kan?" tanya Heny yang sedang menenteng tas hitamnya.

"Sudah, Bu." Fulfi dan Janet menjawab bersamaan.

Heny, Fulfi, dan Janet berangkat ke tempat event peragaan busana diselenggarakan. Sekarang Fulfi tampak lebih ceria dan percaya diri.

Tiga puluh menit kemudian. Mereka sampai di ruang rias event peragaan busana. Betapa terkejutnya Fulfi ketika yang ditemui adalah model binaan agensinya dahulu. Mereka semua menatap wanita itu dengan raut wajah yang tak bersahabat.

"Oh, kamu wanita murahan itu? Masih berani muncul di sini?" tanya Dita, salah seorang model yang duduk di sebelah pintu ruang rias.

"Emang nggak tahu malu. Udah hamil, nggak ada bapaknya pula. Oh, iya. Bukan nggak ada bapaknya, tapi nggak jelas siapa bapaknya!" ejek Desi, model yang lainnya.

Seisi ruangan itu tertawa mendengar ucapan Desi. Mata Fulfi kian memerah. Dia mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh.

"Fi, ingat kata-kataku tadi. Kamu masih punya aku dan teman-teman di salon. Kamu cantik, kamu hebat, dan kamu pintar. Kalau kamu pingin hidup baru, jangan hidup dengan masa lalu! Kamu harus bertahan!" Janet berbisik di telinga Fulfi. Sang empu merasakan ada semangat yang datang di dalam dirinya karena mendengar perkataan Janet.

Aku bisa melalui semua ini. Aku harus bisa menghadapinya, batin Fulfi menguatkan.

Heny memperkenalkan Fulfi dan Janet kepada seluruh model di ruangan itu. “Perhatian semuanya, perkenalkan ini Janet dan Fulfi. Mereka akan menjadi penata rambut kalian untuk peragaan busana pada hari ini. Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan professional," jelas Heny.

"Dia penata rambut? Nggak salah?" Tanya Sari dengan nada remeh. Dia merupakan salah satu model di sana juga.

"Kalian boleh berkomentar setelah melihat hasilnya. Oke, semuanya mulai rias! Sekitar jam dua belas kalian harus sudah siap!" tambah Heny.

Tiba-tiba kepala agensi mendatangi Fulfi. "Hei, Fi! Loh, kok, kamu ada di sini?" tanyanya terkejut melihat Fulfi menata rambut.

“Dia partnerku, Kak Arif. Dia penata rambut di salon kita. Hasil karyanya bagus-bagus, loh." Janet mencoba menjelaskan sambil menata rambut seorang model.

"Kamu ternyata hebat juga. Nggak cuma sebagai model. Coba aja kamu nggak hamil waktu itu, mungkin kamu sudah jadi Top Model sekarang,” ujar Arif.

"Kak, aku nggak mau melihat ke belakang lagi. Aku lebih bahagia sekarang. Mungkin jadi Top Model bukanlah rezekiku," sahut Fulfi sambil menangani seorang model.

“Loh, kamu sudah lahiran?" tanya Arif melihat perut Fulfi sudah kembali langsing.

“Sudah, Kak," jawab Fulfi singkat.

"Apa kamu mau hari ini memperagakan satu gaun Charles? Kebetulan sekali aku kekurangan satu model," tawar Arif.

Ya, Tuhan. Apa aku masih berani catwalk seperti dulu? batin Fulfi kala kembali mengingat traumanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Thousand Tears of Sword
8.8
Di benua terkutuk yang penuh penindasan dan perdagangan manusia, dewa mengutus Dewi Kematian untuk menegakkan keadilan. Sialnya, sebuah insiden saat turun ke bumi melenyapkan seluruh kekuatannya. Ia justru bereinkarnasi sebagai gadis kecil bernama Hua Hua. Tanpa kekuatan dewa yang tersisa, mampukah ia menuntaskan misi sucinya untuk menyelamatkan mereka yang tertindas di tengah neraka dunia ini?
Sampul Novel Alfaro David
9.6
Kekejaman dunia mampu mengubah ketulusan menjadi kegelapan. Tanpa arahan orang tua, Alfaro tumbuh sebagai remaja pemberontak yang liar. Di balik kenakalannya, ia sebenarnya menyembunyikan luka batin yang pilu demi bertahan hidup. Ketika ia mulai menganggap sahabat dekatnya sebagai saudara kandung, bahaya besar datang mengintai. Sanggupkah persahabatan erat mereka bertahan saat benih pengkhianatan mulai menyusup dan mengancam hubungan tersebut?
Sampul Novel Alkisah Bunga Teratai
9.8
Tujuh pemuda berkekuatan mistik dahsyat dipersatukan dalam tim khusus yang terinspirasi dari simbol reinkarnasi teratai. Dipimpin Sagara Widyatama, mereka berlatih keras demi menertibkan dunia supranatural yang kian kacau. Namun, misi maut ini bukan sekadar laga fisik biasa. Sosok Sagara perlahan menyingkap tabir misteri tentang ikatan mendalam yang pernah menyatukan mereka semua di kehidupan masa lalu.
Sampul Novel Dipaksa Open BO
8.7
Kehidupan Amira, gadis remaja berusia tujuh belas tahun, hancur seketika akibat kekejaman ayah tirinya. Demi mengejar materi, pria tersebut tega memaksa dan mengeksploitasi Amira menjadi pemuas nafsu. Terjebak dalam tekanan fisik serta mental yang begitu hebat, Amira harus berjuang keras di tengah situasi yang menyiksa ini. Mampukah ia melepaskan diri dari lingkaran setan tersebut? Ikuti kisah perjuangan hidup Amira yang penuh rintangan dalam menghadapi nasib kelamnya.
Sampul Novel Gairah Membawa Petaka
8.3
Mengandung konten 21+ Harap bijak menentukan bacaan... Jangan lupa mampir juga cerita pertama "Mertua Hiperseks" Zakia Ananta Arman, gadis remaja yang masih sangat polos dan tidak pernah mengenal apa itu jatuh cinta sebelumnya. Dia terpesona dengan ketampanan pemuda tampan yang merupakan putra dari kyai pengasuh pesantren dikingkungannya. Malam itu gadis yang cakap dipanggil Kia itu secara sengaja masuk ke dalam kamar pria yang sering di panggil Gus Beren oleh para santri. Kia memasukkan obat perangsang dan alkohol secara bersamaan pada teh yang disajikan oleh Santri dan akan di minum oleh Gus Beren. Alhasil, malam itu tanpa sadar Gus Beren menyetubuhi Kia yang bersembunyi dibalik tirai gorden kamarnya, saat Gus Beren tengah membersihkan badan di kamar mandi setelah acara pengangkatan pengasuh baru di adakan di pesantren yang di miliki abahnya. Hubungan satu malam itu berakhir duka bagi Kia. Ia tidak pernah menyangka bahwa dari hubungan itu ia akan mengandung anak dari Gus Beren, tapi sayangnya Gus Beren tidak mau bertanggung jawab atas anak itu. Karena bagaimana pun anak itu tetap akan bernasab pada ibunya, sebab ia hadir sebelum terjadinya Ijab Qobul pernikahan. Apalagi Kia baru mengetahui, jika Gus Beren sudah memilik istri yang di nikahi secara siri, karena saat ini istri Gus Beren masih melanjutkan pendidikannya di Mesir. Kia teringat akan perbuatan papanya Arman beberapa waktu yang lalu, ia membawa Cantika yang merupakan wanita selingkuhannya ke rumah dan melakukan perbuatan mesum di depan mamanya Arini. Mungkinkah yang terjadi saat ini merupakan balasan atas perbuatan Arman, yang telah menyakiti Arini. Bukan hanya itu, Arman juga sering melampiaskan amarah pada mamanya dan juga kakaknya Zoni saat mereka memberontak kelakuan Arman untuk bermain panas dengan Cantika. Kata-kata Kia terngiang begitu dalam pada ingatan Arman, yang menyiratkan kebencian dari seorang putri yang sangat ia sayangi. Arman tak pernah begitu menyesal atas perlakuannya dan perkataannya yang sering menyakiti Arini dan Zoni, tapi untuk Kia, dia benar-benar menyesal karena telah membuat putri kesayangannya itu kecewa dan berkata kasar padanya. Teringat pada masa lalu kelam tentang Rania yang harus mati akibat ulah Ayah Arman, ia takut hal itu terulang kembali pada Kia. Akankah Kia bisa mendapatkan keadilan serta tanggung jawab dari Gus Beren untuk anak yang dikandung? Sedang usianya saat ini masih belum cukup umur untuk melangsungkan pernikahan karena ia baru 9 SMP. Ataukah ia akan menjalani sisa-sisa hidup dengan karma yang telah papanya perbuat selama ini? Siapakah Rania, yang menyisakan luka begitu dalam bagi Arman?
Sampul Novel Istri Kesayangan Tuan Mafia
9.5
Kepergian mendadak Reynand saat istrinya hamil berujung kepedihan. Setahun kemudian, sang bos mafia kembali dan mendapati kabar bahwa Keisha telah dipersunting oleh mantan kekasihnya. Didorong rasa murka, Reynand bersumpah membalas dendam pada Reza serta Bram, mertuanya sendiri. Di tengah terbongkarnya berbagai konspirasi masa lalu, ia bertekad melindungi sang istri dari ancaman siapa pun, termasuk dari pihak keluarganya sendiri.