APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Fulfi

Fulfi

Fulfi, model pintar berumur 20 tahun yang yatim piatu, mendirikan yayasan wanita untuk membantu sesama. Namun, nasib buruk menimpanya saat ia diperkosa hingga hamil. Ketika berupaya bangkit dan membangun kembali kariernya di tengah berbagai sabotase dari musuh-musuhnya, Fulfi justru dihadapkan pada bahaya besar yang membawanya bertemu dengan otak di balik tragedi masa lalunya itu. Sanggupkah ia bertahan hidup dan kembali bersinar di panggung modeling?
Bab
Bagikan

Bab 3

“Fi, kesempatan bagus. Kamu bisa mulai lagi karirmu di dunia modelling. Kamu masih bisa, kok, jadi penata rambut. Gajinya lumayan, kamu bisa dapet tambahan dua juta,” bisik Janet memberikan dukungan pada Fulfi.

"Tapi, Kak …." Fulfi masih ingin menolak.

"Kalau Bu Heny, pasti mendukungmu. Percaya padaku. Pergilah! Ikut kak Arif!" tambah Janet yang tak jemu membujuk Fulfi.

"Baiklah, Kak," jawab Fulfi pasrah.

"Oke, ya? Sip, kalau gitu. Ayo, ikut aku ganti baju! Nanti kamu akan aku gaji sama seperti model yang lain. Karena aku sudah tahu kemampuanmu." Arif mengantar Fulfi pergi ke ruang ganti khusus para model. Semua mata melihat wanita itu.

“Kenapa dia ada di sini?" tanya Dita

"Hei, Dit! Ini aku yang minta! Kita kekurangan model, soalnya si Riska nggak bisa datang," jelas Arif.

"Janganlah, Kak! Masa iya ada model yang punya reputasi buruk. Nanti memalukan agensi kita." Dita masih menatap Fulfi dengan sinis.

"Emang kamu bisa cari pengganti dalam waktu lima belas menit? Kalau bisa, aku beri kamu satu juta sekarang juga!" tantang Arif.

"His, Kak Arif, tuh!" Dita mulai kesal.

Kali ini kamu aku biarkan lolos! Aku tidak akan membiarkan kamu kembali lagi! geram Dita dalam hati.

Tak jarang, kisah kelam masa lalu kembali terlintas di pikiran Fulfi. Hatinya berkata, dia masih sangat trauma karena dunia modelling sungguh mengingatkannya tentang malam itu.

Kuatkan hatiku, Tuhan. Aku tidak ingin mengecewakan siapapun. Aku harus memberikan yang terbaik! batin Fulfi yang tak berhenti berdoa.

Setelah Fulfi selesai berganti busana, kini saatnya dia dirias. Janet dan Heny sangat kagum dengan kecantikannya yang begitu alami. Wanita beranak satu itu mengenakan gaun yang sangat cocok dengan bulu-bulu putih yang menghiasi lekuk tubuh rampingnya.

Setelah selesai di-make up, tibalah saatnya untuk menata rambut dan Janet yang menangani.

“Apa kamu tidak sadar, kamu sangat cantik? Aura modelmu masih ada. Kenapa kamu di salon dandan jelek sekali? Mulai besok, dandan seperti ini, ya. Kamu sudah berubah jadi Fulfi yang baru. Jangan berpikir ke belakang lagi!” Lagi-lagi Janet memberi dukungan kepada Fulfi di tengah-tengah menata rambut.

“Yes, sudah siap!" seru Janet setelah menyelesaikan tatanan rambut Fulfi.

"Iya, Kak. Makasih banyak, tapi aku masih takut karena trauma, Kak," ungkap Fulfi sambil menggigit bibir bawahnya.

"Anggap tidak ada penonton dan orang yang melihat hari ini. Tidak usah mendengar siapa pun. Kamu harus hadapi traumamu dengan keberanian. Aku yakin kamu bisa! Oh, ya. Aku dan Ibu akan menontonmu di depan,” tutur Janet. Raut wajah yang ditampilkan tampak begitu senang.

"Kamu memang sangat cantik, Fulfi. Aku mendukungmu!" puji Heny.

"Terima kasih banyak, Kak Janet dan Bu Heny. Aku bahagia bisa mengenal kalian." Fulfi sangat terharu.

"Sudah sana, bersiap!" imbuh Janet lima menit kemudian.

"Inilah karya Charles yang terakhir, Gaun Angsa Putih!” panggil MC dalam acara itu.

Fulfi mulai naik ke panggung. Wanita itu masih takut dengan trauma yang tak berhenti menghantui. Namun, dia tidak pernah habis mengucapkan doa di dalam hati.

Kemudian, Fulfi mulai melangkah perlahan dengan penuh percaya diri serta senyuman tersungging di bibirnya. Dia berjalan beriringan dengan irama musik rancak yang kian membuat suasana riuh dengan tepuk tangan.

“Wow ! Siapa dia?" tanya salah seorang desainer yang duduk di pinggir panggung

Karin yang hadir sebagai penonton di acara itu langsung menjawab pertanyaan orang di sebelahnya. "Dia itu Fulfi, model yang hamil di luar nikah itu." Karin mulai memprovokasi.

Hemm … jangan harap kamu bisa sukses lagi Fulfi! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi! Karin membatin seraya memandang sang desainer.

"Iyakah? Jujur, aku nggak peduli dengan masa lalunya. Besok aku akan panggil dia menjadi modelku!" Desainer itu pun membalas ucapan Karin.

"Kok gitu, sih? Jangan! Nanti karyamu bisa tercoreng, loh, kalau ada dia." Karin masih berusaha agar desainer itu berubah pikiran.

"Kamu siapanya, sih? Aku nggak butuh komentar kamu!" ketus orang itu.

Apa-apaan,sih, ini? Kok, malah dia dapet job? Ah, kesel! Karin menggerutu kesal dalam hati.

Di atas panggung itu, Fulfi meneteskan air mata. Namun, dia harus profesional dengan tetap mempertahankan senyumanya.

Fulfi, kamu harus kuat, tinggal sedikit lagi! Fulfi mencoba memberi semangat untuk dirinya sendiri.

“Bu, Fulfi memang berbakat jadi model. Dia begitu keren di atas panggung," ujar Janet seraya turut bertepuk tangan.

“Aku sangat salut dengan anak itu. Dia mampu bangkit dari kesulitannya dan semangatnya sangat luar biasa!" timpal Heny.

Fulfi selesai berjalan di catwalk. Lantas, dia melangkah menuju ke belakang panggung. Betapa terkejutnya wanita itu kala melihat suasana panggung yang berubah menjadi sangat horor. Semua mata para model melayangkan tatapan tajam ke arahnya, seakan tidak terima. Saat itu, Heny, Janet, beserta staf rias sedang tidak ada di tempat.

Tiba-tiba, tiga orang dari mereka dengan kasar menarik Fulfi masuk ke ruang ganti. Mereka melucutkan pakaian wanita itu secara paksa dan menghakiminya.

"Jangan harap kamu bisa kembali menjadi model lagi!" Salah seorang dari mereka menjambak rambut Fulfi.

“Aw, sakit! Maafkan aku, aku hanya model pengganti. Tidak mungkin kembali lagi." Fulfi mengerang kesakitan. Suaranya seakan angin lalu bagi mereka. Wanita itu seolah tak berdaya, hinggi kini tubuhnya tak tertutup sehelai kain pun.

"Ini aku beri kamu cenderamata, biar kamu nggak bisa kembali menjadi model lagi!" Dita, sang model itu mengambil penggaris besi, lantas mengempaskannya ke punggung Fulfi dengan sangat tidak manusiawi.

"Aw, sakit! Ampun! Jangan! Tolong! Sangat sakit! Berhenti!" Fulfi kian mengerang. Dia meronta-meronta untuk dilepaskan. Sampai akhirnya, mereka berhenti dan meninggalkan wanita itu sendiri di ruang ganti yang sengaja dikunci.

Fulfi merasakan sakit di punggung lantaran bagian tubuhnya itu tampak terluka cukup parah. Darah segar mengalir dari balik punggungnya. Wanita itu menangis sejadi-jadinya, hingga tak lama kemudian Fulfi tak sadarkan diri.

***

Janet dan Heny kebingungan karena ruang rias sudah sepi. "Bu, Fulfi ke mana, ya?" tanya Janet.

"Aneh. Dia, kan, tinggal terima gaji. Nggak mungkin dia pulang duluan, ‘kan?" Janet bertanya lagi.

“Iya, ya, Net. Coba kita ke kantor security buat melihat CCTV. Mungkin Pak Security bisa bantu," usul Heny memberikan ide.

"Ya udah, Bu. Coba kita ke sana!”

Janet dan Bu Heny pergi ke kantor security. Mereka mencoba melihat CCTV dan mencari keberadaan Fulfi. Tiba-tiba, security merasa ada hal yang ganjal karena terdapat satu kamera yang tidak muncul di CCTV dan hanya terlihat gelap.

"Bu, saya curiga dengan satu kamera ini. Kok, warnanya hitam? Sepertinya, ada yang sengaja menutupinya. Saya ingat ini kamera di ruang ganti. Coba kita cek ke sana!" ajak pria itu.

Ketiganya bergegas menuju ke ruang ganti. Mereka cukup terkejut melihat Fulfi tergolek lemas tanpa busana dan terluka parah. Benar saja dugaan satpam itu, kamera CCTV sengaja ditutup dengan lakban. Janet pun langsung mencari kain untuk menutupi tubuh wanita itu, lalu memeluknya.

"Fi, bangun! Fi, jangan membuatku takut!" Janet terus memeluk Fulfi yang masih tidak sadarkan diri.

"Pak, tolong! Panggilkan ambulans sekarang juga!" mohon Heny. Dia sangat panik.

Sepuluh menit kemudian, ambulans datang. Petugas medis mengangkat tubuh Fulfi dengan tandu dan mereka semua berangkat ke rumah sakit.

"Fi, siapa orang yang tega melakukan hal ini kepadamu? Tolong, cepatlah sadar!” Janet tak sanggup menahan air mata. Dia menangis di samping Fulfi yang kini berada di dalam ambulans.

“Fi, bertahan, ya, Fi!" Heny memohon.

Heny menelpon keluarga Fulfi melalui ponselnya. Galdin terkejut mendengar hal itu. Mereka sekeluarga segera menuju ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Fulfi segera ditangani oleh dokter di IGD. Lukanya dibersihkan dan dibalut perban. Punggung Fulfi penuh dengan luka memar dan goresan-goresan yang cukup dalam.

Keluarga Fulfi sudah sampai di rumah sakit. Mereka semua ikut menunggu pasien di depan ruang IGD. Setengah jam kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan IGD.

"Dokter, bagaimana dengan adik saya, Dok?" tanya Galdin. Air mukanya tampak begitu panik.

"Adik Anda baik-baik saja. Sekarang sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat, tapi sampai detik ini adik Anda belum sadar juga. Saya sudah melihat, tidak ada benturan sama sekali di kepalanya. Saya rasa dia hanya syok saja,” jelas sang dokter.

"Terima kasih, Dok," ucap Galdin.

Beberapa menit kemudian, Fulfi dipindahkan ke ruang rawat. Janet, Heny, beserta keluarga Fulfi menunggunya sadar.

Setelah menunggu begitu lama. Dua jam berikutnya, Fulfi mulai mengerjap-ngerjapkan mata dan melihat sekelilingnya banyak orang yang menunggu. Netranya masih berat untuk dibuka sempurna, bahkan kepala wanita itu masih terasa sangat pusing. Ditambah lagi rasa sakit dan perih di bagian punggungnya.

"Kak, aku di mana?" tanya Fulfi kepada Janet.

"Kamu di rumah sakit, Fi,” Janet menjawab.

"Sayang, bagaimana keadaanmu? Masih sakit, ya? Bilang sama Mbak kalau masih sakit,” pinta Galdin. Dia begitu khawatir dengan keadaan Fulfi.

"Nggak apa-apa, kok, Mbak. Bentar lagi juga Fulfi sembuh,” tutur Fulfi menenangkan semua yang ada di ruangan itu, meskipun dia harus menutupi rasa sakitnya yang kian menyerang.

"Mbak, aku ingin mencium Adi!" Galdin mengabulkan permintaan Fulfi.

"Maaf, ya, Mbak. Punggungku masih sakit, sepertinya aku masih sulit menggendong Adi,” jelas Fulfi kepada Galdin.

"Sudah, jangan berbicara lagi. Istirahatlah! Adi akan selalu aman bersamaku," kata Galdin seraya menimang Adi.

"Apakah dia anakmu, Fi?" tanya Heny.

"Iya, Bu. Dia anakku. Namanya Adi." Fulfi mencoba memperkenalkan anaknya.

“Anakmu lucu sekali." Janet berkomentar.

"Iya, Kak. Makasih,” sahut Fulfi yang masih menahan rasa sakit.

"Sayang, siapa yang tega melakukan semua ini kepadamu?" tanya Galdin sembari membelai rambut Fulfi.

"Salah satu dari ketiga orang itu yang kuingat namanya Dita. Jika aku punya uang, aku ingin sekali menuntut orang-orang itu, Mbak. Aku juga ingin tahu siapa yang menyebabkan aku diperkosa waktu itu. Aku curiga salah satunya dari mereka. Agensi itu sangat mengerikan buatku, Mbak,” jelas Fulfi sambil meneteskan air mata, lalu mengusapnya lagi.

"Maafkan aku, Fi. Maaf. Au yang memaksamu untuk naik ke atas panggung, Fi. Mungkin kalau kamu nggak naik, kejadiannya pasti nggak akan seperti ini. Aku sudah melaporkan hal ini ke polisi. Aku akan bantu menyelidiki siapa saja yang terlibat karena mereka menutup CCTV waktu itu pakai lakban. Jadi, nggak ada barang bukti." Janet sangat merasa bersalah.

Fulfi meraih tangan Janet yang duduk di sampingnya. "Nggak apa-apa, Kak. Ini bukan salahmu, Kak. Aku suka dunia modelling sejak kecil. Aku begini karena dunia itu memiliki persaingan yang sangat ketat. Sekarang yang kupikirkan hanya mencari uang untuk kelanjutan hidupku dan anakku.

Aku sangat berterima kasih karena Kak Janet mau mendukungku. Makasih banyak, Kak atas bantuannya. Ajarkan aku menata rambut yang lebih bagus lagi. Aku nggak akan kembali ke dunia modelling untuk sementara waktu. Lagian aku terluka parah. Aku ingin menjadi penata rambut saja." Fulfi meneteskan air matanya.

“Ya, Tuhan. Fi, aku mau jadi sahabatmu. Aku nggak akan membiarkanmu menderita lagi. Aku belum sehebat yang kamu pikir untuk menata rambut, tapi kita bisa berusaha bersama." Janet memeluk Fulfi dan mereka hanyut dalam tangis.

Fulfi memperoleh cuti selama satu minggu karena luka goresan yang belum kering. Mantan model itu mencoba melatih tubuhnya untuk berdiri tegap karena luka itu membuatnya kesakitan saat mengangkat bahu dan juga berjalan.

Galdin sedang pulang ke rumah untuk mengambilkan baju ganti milik Fulfi. Kemudian, Janet dan Heny pamit pulang. Kemungkinan, dua hari lagi mereka akan menjenguk Fulfi kembali.

Malam itu, suasana di rumah sakit sangat sepi dan cukup hening. Galdin belum juga kembali ke rumah sakit. Fulfi merasa sangat bosan, lantas wanita itu menyalakan televisi untuk mengobati rasa bosannya.

Selang lima belas menit, terdengar suara langkah kaki menuju kamar Fulfi. Wanita itu merasa sangat senang karena mungkin saja Galdin yang datang. Namun, tidak disangka-sangka. Ternyata yang datang bukanlah Galdin.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Thousand Tears of Sword
8.8
Di benua terkutuk yang penuh penindasan dan perdagangan manusia, dewa mengutus Dewi Kematian untuk menegakkan keadilan. Sialnya, sebuah insiden saat turun ke bumi melenyapkan seluruh kekuatannya. Ia justru bereinkarnasi sebagai gadis kecil bernama Hua Hua. Tanpa kekuatan dewa yang tersisa, mampukah ia menuntaskan misi sucinya untuk menyelamatkan mereka yang tertindas di tengah neraka dunia ini?
Sampul Novel Alfaro David
9.6
Kekejaman dunia mampu mengubah ketulusan menjadi kegelapan. Tanpa arahan orang tua, Alfaro tumbuh sebagai remaja pemberontak yang liar. Di balik kenakalannya, ia sebenarnya menyembunyikan luka batin yang pilu demi bertahan hidup. Ketika ia mulai menganggap sahabat dekatnya sebagai saudara kandung, bahaya besar datang mengintai. Sanggupkah persahabatan erat mereka bertahan saat benih pengkhianatan mulai menyusup dan mengancam hubungan tersebut?
Sampul Novel Alkisah Bunga Teratai
9.8
Tujuh pemuda berkekuatan mistik dahsyat dipersatukan dalam tim khusus yang terinspirasi dari simbol reinkarnasi teratai. Dipimpin Sagara Widyatama, mereka berlatih keras demi menertibkan dunia supranatural yang kian kacau. Namun, misi maut ini bukan sekadar laga fisik biasa. Sosok Sagara perlahan menyingkap tabir misteri tentang ikatan mendalam yang pernah menyatukan mereka semua di kehidupan masa lalu.
Sampul Novel Dipaksa Open BO
8.7
Kehidupan Amira, gadis remaja berusia tujuh belas tahun, hancur seketika akibat kekejaman ayah tirinya. Demi mengejar materi, pria tersebut tega memaksa dan mengeksploitasi Amira menjadi pemuas nafsu. Terjebak dalam tekanan fisik serta mental yang begitu hebat, Amira harus berjuang keras di tengah situasi yang menyiksa ini. Mampukah ia melepaskan diri dari lingkaran setan tersebut? Ikuti kisah perjuangan hidup Amira yang penuh rintangan dalam menghadapi nasib kelamnya.
Sampul Novel Gairah Membawa Petaka
8.3
Mengandung konten 21+ Harap bijak menentukan bacaan... Jangan lupa mampir juga cerita pertama "Mertua Hiperseks" Zakia Ananta Arman, gadis remaja yang masih sangat polos dan tidak pernah mengenal apa itu jatuh cinta sebelumnya. Dia terpesona dengan ketampanan pemuda tampan yang merupakan putra dari kyai pengasuh pesantren dikingkungannya. Malam itu gadis yang cakap dipanggil Kia itu secara sengaja masuk ke dalam kamar pria yang sering di panggil Gus Beren oleh para santri. Kia memasukkan obat perangsang dan alkohol secara bersamaan pada teh yang disajikan oleh Santri dan akan di minum oleh Gus Beren. Alhasil, malam itu tanpa sadar Gus Beren menyetubuhi Kia yang bersembunyi dibalik tirai gorden kamarnya, saat Gus Beren tengah membersihkan badan di kamar mandi setelah acara pengangkatan pengasuh baru di adakan di pesantren yang di miliki abahnya. Hubungan satu malam itu berakhir duka bagi Kia. Ia tidak pernah menyangka bahwa dari hubungan itu ia akan mengandung anak dari Gus Beren, tapi sayangnya Gus Beren tidak mau bertanggung jawab atas anak itu. Karena bagaimana pun anak itu tetap akan bernasab pada ibunya, sebab ia hadir sebelum terjadinya Ijab Qobul pernikahan. Apalagi Kia baru mengetahui, jika Gus Beren sudah memilik istri yang di nikahi secara siri, karena saat ini istri Gus Beren masih melanjutkan pendidikannya di Mesir. Kia teringat akan perbuatan papanya Arman beberapa waktu yang lalu, ia membawa Cantika yang merupakan wanita selingkuhannya ke rumah dan melakukan perbuatan mesum di depan mamanya Arini. Mungkinkah yang terjadi saat ini merupakan balasan atas perbuatan Arman, yang telah menyakiti Arini. Bukan hanya itu, Arman juga sering melampiaskan amarah pada mamanya dan juga kakaknya Zoni saat mereka memberontak kelakuan Arman untuk bermain panas dengan Cantika. Kata-kata Kia terngiang begitu dalam pada ingatan Arman, yang menyiratkan kebencian dari seorang putri yang sangat ia sayangi. Arman tak pernah begitu menyesal atas perlakuannya dan perkataannya yang sering menyakiti Arini dan Zoni, tapi untuk Kia, dia benar-benar menyesal karena telah membuat putri kesayangannya itu kecewa dan berkata kasar padanya. Teringat pada masa lalu kelam tentang Rania yang harus mati akibat ulah Ayah Arman, ia takut hal itu terulang kembali pada Kia. Akankah Kia bisa mendapatkan keadilan serta tanggung jawab dari Gus Beren untuk anak yang dikandung? Sedang usianya saat ini masih belum cukup umur untuk melangsungkan pernikahan karena ia baru 9 SMP. Ataukah ia akan menjalani sisa-sisa hidup dengan karma yang telah papanya perbuat selama ini? Siapakah Rania, yang menyisakan luka begitu dalam bagi Arman?
Sampul Novel Istri Kesayangan Tuan Mafia
9.5
Kepergian mendadak Reynand saat istrinya hamil berujung kepedihan. Setahun kemudian, sang bos mafia kembali dan mendapati kabar bahwa Keisha telah dipersunting oleh mantan kekasihnya. Didorong rasa murka, Reynand bersumpah membalas dendam pada Reza serta Bram, mertuanya sendiri. Di tengah terbongkarnya berbagai konspirasi masa lalu, ia bertekad melindungi sang istri dari ancaman siapa pun, termasuk dari pihak keluarganya sendiri.