APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel FENGYING LIE

FENGYING LIE

Dua lelaki misterius tiba-tiba menyergap Fengying tanpa diduga. Akibat hantaman keras salah satu penyerang, ia jatuh terjerembap hingga melukai pergelangan tangannya. Meski didera rasa sakit, Fengying bangkit berdiri dan meluapkan kemarahannya pada kedua pelaku. Namun, situasi justru kian genting saat lawan melayangkan ancaman mati. Mereka mendesak Fengying menyerahkan pedang pusakanya saat itu juga, atau nyawanya akan dihabisi tanpa belas kasihan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Makhluk itu tampak bingung, ia terus memandangi tubuh Fengying yang tergeletak. Namun, ia tidak dapat berbuat apa-apa karena takut dengan pedang yang menyanggul di punggung Fengying.

Pedang tersebut, merupakan pedang pusaka peninggalan Tau Miao Lie yang diwariskan kepada Fengying. Pedang tersebut terbuat dari batu meteor yang sangat ditakuti oleh makhluk-makhluk gaib.

Lama kelamaan, makhluk itu pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Fengying dalam kondisi seperti itu. Karena tubuhnya sudah terasa panas ketika pedang itu memancarkan sinar dan menyebarkan aura negatif baginya.

"Aku tidak dapat bertahan lama di tempat ini," desis makhluk menyeramkan itu, ia mulai merasakan adanya hawa panas yang keluar dari pedang milik Fengying.

"Maafkan aku anak muda. Aku tak dapat berbuat apa-apa terhadapmu," desisnya langsung menghilang dari tempat tersebut.

* * *

Satu hari kemudian, Fengying ditemukan oleh dua orang anak muda yang tinggal di sebuah desa tidak jauh dari pantai tersebut.

Mereka menemukan Fengying dalam kondisi mengenaskan, kepala dan bahunya terluka parah dipenuhi noda darah. Sebagian wajahnya tertutup darah yang sudah hampir mengering bercampur pasir pantai.

Dua pemuda itu adalah Yuan Shao dan Fak Tau. Mereka tampak kaget melihat tubuh Fengying yang tergeletak di atas pasir pantai tersebut, kedua pemuda itu mengira jika Fengying sudah dalam keadaan meninggal.

"Siapa dia? Apakah dia sudah mati?" tanya Yuan Shao kepada Fak Tau.

"Sepertinya dia itu seorang pendekar," jawab Fak Tau terus memandangi tubuh Fengying yang tergeletak. "Aku rasa orang itu memang sudah mati," sambungnya lirih.

Yuan Shao tampak penasaran sekali dengan kondisi Fengying. Lantas, ia pun melangkah menghampiri Fengying yang tergeletak tidak berdaya.

Yuan Shao langsung memeriksa denyut nadi Fengying, dan meletakkan jarinya di atas mulut Fengying untuk meyakinkan apakah Fengying sudah mati atau masih hidup.

"Dia masih hidup, sebaiknya kita bawa saja ke rumah!" desis Yuan Shao berpaling ke arah Fak Tau yang berdiri di belakangnya.

Fak Tau hanya mengangguk, kemudian mereka langsung membopong tubuh Fengying untuk dibawa langsung ke tempat tinggal mereka yang ada di perkampungan nelayan tidak jauh dari lokasi ditemukannya Fengying.

Setibanya di perkampungan, warga tampak kaget melihat kedua pemuda itu yang membawa orang dalam kondisi tak sadarkan diri yang wajahnya penuh dengan noda darah.

"Siapa yang kalian bawa itu?" tanya seorang pria paruh baya kepada Yuan Shao dan Fak Tau.

"Entahlah, Paman. Kami menemukan dia dalam kondisi pingsan di tepi pantai yang ada di ujung sana," jawab Fak Tau lirih.

Pria paruh baya itu adalah Cuen, dia merupakan paman Yuan Shao dan Fak Tau. Mereka adalah penduduk asli desa tersebut.

"Ayo, langsung masukkan ke dalam saja!" perintah Cuen turut membantu membopong Fengying.

"Sebaiknya kalian bubar, jangan berkerumun! Kami akan mengobati orang ini!" seru Yuan Shao kepada warga yang berkerumun di depan rumahnya.

"Baik, Yuan. Semoga pemuda itu baik-baik saja!" sahut salah seorang warga.

Yuan Shao, Fak Tau, dan pamannya langsung membawa Fengying ke dalam rumah tempat tinggal mereka. Tubuh Fengying langsung dibaringkan di atas lantai tanah yang hanya beralaskan tikar saja.

"Tubuh orang ini sangat berat sekali," desis pria paruh baya itu. "Sepertinya orang ini sudah satu malam berada di tepi muara itu," sambungnya sambil meletakkan telapak tangannya di atas kening Fengying.

"Aku rasa memang seperti itu, Paman," sahut Fak Tau.

Kemudian, ia melepaskan tali pedang yang menyanggul di punggung Fengying, dan meletakkan pedang tersebut di samping pembaringan Fengying.

"Dari penampilannya, pemuda ini seperti seorang pendekar pengelana," imbuh pria paruh baya itu sambil mengamati wajah Fengying yang dipenuhi noda darah yang sudah mengering bercampur pasir putih.

"Pedang miliknya sangat istimewa," desis Yuan Shao menyentuh pedang pusaka milik Fengying.

Alangkah kagetnya Yuan Shao ketika tangannya menempel di bagian selongsong pedang tersebut. Ada rasa panas dan getaran yang sangat dahsyat yang ia rasakan, sehingga darahnya seperti tersedot oleh kekuatan gaib dari pedang itu.

"Hai, Yuan Shao! Jangan gegabah kau, pedang itu memiliki energi negatif jika dipegang orang lain!" bentak pria paruh baya itu.

"Iya, Paman. Aku merasakan getaran yang sangat hebat ketika tanganku menyentuh pedang ini," sahut Yuan Shao mundur beberapa langkah.

"Sebaiknya kita bersihkan dulu noda darah di wajah pemuda ini. Setelah itu, langsung berikan obat, aku akan membuat ramuan dulu!" perintah Cuen kepada Yuan Shao dan Fak Tau.

"Baik, Paman," jawab kedua pemuda itu serentak.

Dengan demikian, Yuan Shao dan Fak Tau langsung merobek pakaian yang melekat di tubuh Fengying, mereka langsung membersihkan noda darah di wajah dan kepala Fengying.

Sementara itu, Cuen yang merupakan paman dari kedua pemuda tersebut, langsung berlalu menuju ke ruang dapur hendak mengolah ramuan tradisional untuk mengobati luka Fengying.

Beberapa saat kemudian, pria paruh baya itu sudah kembali ke ruang tengah. Yuan Shao dan Fak Tau baru saja selesai membersihkan tubuh Fengying dan mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih milik Yuan Shao.

"Balurkan ramuan obat ini ke bagian lukanya! Setelah itu, balut dengan kain bersih!" perintah Cuen kepada kedua keponakannya.

Fak Tau langsung meraih cawan yang berisi ramuan obat dari tangan pria paruh baya itu. Kemudian langsung membalurkan tumbukkan dedaunan tersebut ke bagian luka Fengying, dan langsung membalutnya dengan sobekan kain bersih.

"Naas sekali nasib pemuda ini," desis Cuen memandangi wajah Fengying yang masih dalam kondisi tak sadarkan diri. "Kira-kira, siapakah orang yang sudah tega menganiaya pemuda ini?" sambungnya berpaling ke arah Fak Tau dan Yuan Shao.

"Entahlah, Paman. Kami menemukan orang ini sudah dalam kondisi terluka parah di ujung muara pantai Lom Ing Hue," jawab Fak Tau.

"Paman curiga dengan anak buah Lau Tie, karena mereka adalah orang-orang yang gemar mengganggu ketentraman warga. Apalagi kalau ada pendatang singgah di desa ini," desis pria paruh baya itu mulai menduga-duga.

"Apakah Paman Cuen tahu tempat mereka?" timpal Yuan Shao menatap wajah pamannya.

"Maksudmu markas Lau Tie?"

"Benar, Paman." Yuan Shao menyahut.

Cuen tersenyum, kemudian menjawab, "Untuk apa kau tanya itu? Apakah kau mau ke sana untuk menghajar mereka?" Cuen balas bertanya sambil tersenyum-senyum.

"Tidak, Paman. Aku hanya menanyakan saja, siapa tahu—" jawab Yuan Shao terpotong oleh suara rintihan Fengying yang baru sadar dari pingsannya.

Ia pun menghentikan perbincangan tersebut, dan segera berpaling ke arah Fengying yang sudah siuman.

"Aku di mana? Kenapa kepalaku sakit sekali?" tanya Fengying sambil memegangi kepalanya yang terbalut kain putih.

Fengying berusaha bangkit. Namun, Cuen mencegahnya, "Jangan banyak bergerak dulu, Anak muda! Lukamu masih belum kering!"

Fengying kembali merebahkan tubuhnya. Dua bola matanya terus bergulir mengamati tiga orang asing yang ada di hadapannya itu. Lantas, ia pun bertanya, "Kalian siapa? Aku ada di mana?"

* * *

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta di Ranjang Jenderal
8.7
Demi kesembuhan sang ayah, Navila rela mengorbankan kesuciannya kepada seorang prajurit Erdan. Transaksi satu malam itu rupanya berbuntut panjang saat sang Jenderal justru terpikat dan menginginkannya lebih jauh. Sayang, romansa mereka terbentur konflik berdarah antara dua kerajaan yang berseteru. Di tengah sempitnya waktu dan kecamuk perang besar yang melanda kedua kubu, mampukah ketulusan cinta mereka bertahan dan tersampaikan?
Sampul Novel Dendam seorang Janda
9.5
Kehidupan Mutia hancur setelah suaminya tewas dalam kecelakaan. Alih-alih mendapat simpati, ia malah difitnah menggoda pria beristri oleh keluarga mendiang suaminya, lalu diusir hingga mengalami insiden tragis yang merusak wajahnya. Lewat operasi rekonstruksi wajah, Mutia terlahir kembali dengan identitas baru. Kini, ia siap menuntut keadilan dan membalaskan dendamnya kepada setiap orang yang telah merusak hidupnya. Simak aksi berani Mutia dalam membalas rasa sakitnya.
Sampul Novel Dewa Alkemis
8.9
Tian Fan, pemuda berbakat dari keluarga bangsawan rendah, bercita-cita menjadi alkemis hebat. Namun, kejeniusannya memicu kebencian para tuan muda kelas atas yang terus menekannya. Di tengah intimidasi tersebut, sebuah peristiwa besar mengubah segalanya. Kejadian tak terduga ini membuka jalan baru yang memperbesar peluang Tian Fan untuk mewujudkan ambisinya menjadi Grandmaster Alkemis.
Sampul Novel Love and Virus
8.1
Dunia terancam oleh kehancuran akibat Summer Erithropenia Syndrome, virus mematikan yang mengubah manusia menjadi seperti zombie. Di tengah situasi genting ini, Wizard berhasil menciptakan obat penawar, namun proses produksi massalnya menghadapi rintangan berat. Bersama Alvaro dan Emma, mereka berjuang menyelesaikan misi penyelamatan bumi ini. Sayangnya, konflik asmara segitiga yang rumit justru menguji profesionalisme ketiganya di sela pertarungan melawan wabah berbahaya tersebut.
Sampul Novel MAGIC CARD
8.8
Isamu Kenichi, sang bajak laut penakluk delapan samudra, ditelan paus raksasa di Samudra Hitam yang misterius. Di sana, ia menemukan buku pusaka Magic Card dan memperoleh kekuatan Weredragon dari para penjaga kartu. Namun, kekuatan ini menuntut bayaran besar. Kini, Isamu memikul tugas berat untuk membasmi pasukan Werewolf haus darah. Mengerikannya, monster-monster tersebut merupakan mantan awak kapalnya sendiri yang telah disihir oleh iblis jahat.
Sampul Novel PANGERAN AGUNG
9.6
Kerajaan Mandala dipimpin oleh sosok luar biasa, Pangeran Agung. Penguasa ini sangat disegani berkat keadilan dan kearifannya dalam memimpin rakyat. Saat bahaya mengancam, keberaniannya yang kokoh selalu menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kisah ini menyoroti perjuangan sang raja bijaksana dalam mempertahankan kedamaian negerinya, mengandalkan keteguhan jiwa serta dedikasi tanpa batas untuk menghadapi segala rintangan.