APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel FENGYING LIE

FENGYING LIE

Dua lelaki misterius tiba-tiba menyergap Fengying tanpa diduga. Akibat hantaman keras salah satu penyerang, ia jatuh terjerembap hingga melukai pergelangan tangannya. Meski didera rasa sakit, Fengying bangkit berdiri dan meluapkan kemarahannya pada kedua pelaku. Namun, situasi justru kian genting saat lawan melayangkan ancaman mati. Mereka mendesak Fengying menyerahkan pedang pusakanya saat itu juga, atau nyawanya akan dihabisi tanpa belas kasihan.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Maaf, Paman. Aku ingin membicarakan sesuatu kepada Paman," desis seorang pemuda kepada Pamannya.

Pemuda itu adalah Fengying Lie, dan pria paruh baya yang ada di hadapannya adalah pamannya bernama Tau Chun Lie, adik kandung mendiang ayah Fengying—Tau Miao Lie.

"Mau bicara tentang apa, Fengying? Katakan saja!" sahut pria paruh baya itu, menatap tajam wajah keponakannya.

"Aku hendak meminta izin kepada Paman," jawab Fengying. "Aku harap Paman memberikan izin kepadaku untuk melakukan perjalanan jauh menuju kerajaan Nusa," sambungnya penuh harap.

Pria paruh baya itu tampak ragu untuk memberikan izin kepada keponakannya. Karena ia khawatir jika terjadi sesuatu pada diri Fengying yang masih belum memiliki pengalaman luas.

"Apa yang hendak kau cari di sana, Fengying?" tanya Tau Chun Lie menatap wajah keponakannya yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.

"Aku berkeinginan untuk berkelana, mencari perguruan silat di sana. Sebagaimana yang telah Paman ceritakan kepadaku, bahwa para pendekar di negri Nusa banyak yang memiliki ilmu tenaga dalam yang hebat," jawab Fengying meluruskan dua bola matanya ke wajah Tau Chun Lie.

Fengying memiliki ketertarikan untuk berangkat berkelana ke negri Nusa, berdasarkan apa yang pernah diceritakan oleh pamannya itu. Tau Chun Lie pernah berkata bahwa di negri Nusa terdapat banyak para pendekar sakti yang memiliki tingkat kepandaian ilmu kanuragan yang sangat tinggi. Hal tersebut, menjadikan Fengying tertarik untuk datang ke negri tersebut.

"Bukannya Paman tidak mau mengizinkanmu berkelana jauh. Namun, Paman khawatir kau mendapatkan kesulitan dalam perjalananmu."

Fengying menarik napas dalam-dalam, ia terdiam sejenak. Dalam batinnya berkata, "Kenapa pamanku tidak mengizinkan aku untuk berkelana? Apakah dia ragu dengan kemampuanku?"

Fengying meluruskan dua bola matanya ke wajah pria paruh baya itu. Lalu, ia berkata lagi, "Kenapa Paman tidak mengizinkan aku untuk pergi berkelana ke sana? Apa alasannya Paman?" tanya Pandu.

"Paman khawatir terhadap dirimu, Fengying," jawab Tau Chun Lie sambil tersenyum lebar.

Fengying mengerutkan kening menatap tajam wajah pamannya. Lalu berkata, "Dulu bukannya Paman sendiri yang pernah bilang, kalau aku ingin menjadi seorang pendekar yang sakti, aku harus memiliki pengalaman luas?"

"Apa yang kau katakan itu memang benar. Tapi kau masih perlu memperdalam ilmu bela diri terlebih dahulu sebelum berangkat berkelana ke negri sebrang," jawab Tau Chun Lie sambil menarik napas dalam-dalam. Kemudian, ia berkata lagi, "Negri Nusa bukanlah negri sembarangan. Di sana banyak para pendekar sakti yang sewaktu-waktu akan menjajal kemampuanmu."

"Lantas, bagaimana jika aku tetap ingin pergi ke sana, Paman?"

"Belum saatnya untukmu pergi!" pungkas Tau Chun Lie, bangkit dan langsung berlalu dari hadapan Fengying.

Fengying tidak dapat berkata apa-apa lagi, ia hanya diam dan tidak berani melakukan protes terhadap keputusan pamannya.

"Paman memang belum mempercayai kemampuanku. Sepertinya, dia sangat khawatir jika aku tidak dapat menjaga diri," desis Fengying sambil memandangi langkah pamannya yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah.

Meskipun demikian, Fengying tetap ngotot dengan keinginannya. Ia memutuskan untuk berangkat secara diam-diam tanpa pamit lagi kepada pamannya.

"Aku harus tetap berangkat ke negri Nusa, agar aku mendapatkan pengalaman seperti yang aku inginkan," kata Fengying dalam hati.

Fengying nekat akan berangkat ke negri Nusa, meskipun keputusannya itu bertentangan dengan kehendak pamannya yang secara jelas sudah melarang dirinya.

Malam harinya, ketika Tau Chun Lie sudah terlelap tidur. Secara diam-diam, Fengying sudah bersiap-siap untuk berangkat dari rumah pamannya itu, ia benar-benar nekat, meskipun keinginannya ditentang oleh sang paman.

"Aku harus berangkat malam ini. Maafkan aku, Paman," desis Fengying bangkit dari tempat tidurnya, ia langsung meraih pedang dan beberapa helai pakaian lalu membungkusnya dengan kain.

Kemudian melangkah mengendap-endap keluar dari rumah tersebut. Setelah berada di luar rumah, ia langsung berlari menembus gelapnya malam.

Sejatinya, Fengying merasa sangat bersalah terhadap pamannya yang selama ini sudah merawat dirinya. Namun, keinginannya yang kuat mengharuskan dia berontak dan tidak mematuhi apa yang dilarang oleh Tau Chun Lie.

* * *

Pagi harinya....

"Fengying! Bangun, Nak. Hari sudah siang!" teriak Tau Chun Lie di balik pintu kamar keponakannya itu.

"Fengying, lekas bangun!"

Namun, setelah beberapa kali memanggil Fengying. Tak ada sahutan sekalipun dari dalam kamar tersebut, sehingga Tau Chun Lie pun mulai curiga.

"Jangan-jangan, Fengying tidak ada di dalam kamarnya," desis pria paruh baya itu.

Karena penasaran, Tau Chun Lie langsung mendorong pintu kamar Fengying.

"Benar sekali dugaanku, ternyata Fengying sudah tidak ada di kamarnya. Jangan-jangan dia nekat berangkat ke negri Nusa?" desis Tau Chun Lie bertanya-tanya.

Ia sangat khawatir dengan keselamatan keponakannya itu. Namun, hal tersebut sudah menjadi pilihan Fengying, Tau Chun Lie hanya pasrah dan berdoa agar keponakannya itu diberi keselamatan dalam perjalanan.

* * *

Ketika Fengying sudah tiba di pesisir selatan wilayah kekaisaran Waifu. Ia langsung beristirahat sejenak di tepi pantai tersebut.

"Semoga ada nelayan yang baik hati yang mau memberikan tumpangan untukku," desis Fengying penuh harap.

Beberapa saat kemudian, Fengying didatangi oleh dua orang pria bertubuh kekar, entah siapa mereka? Fengying pun tidak mengenali dua orang pria itu.

"Hai, Anak muda! Sedang apa kau di sini?" tanya salah seorang dari mereka menatap sinis ke arah Fengying.

Fengying langsung bangkit, kemudian menjawab pertanyaan dari orang itu, "Aku sedang beristirahat." Suara Fengying sedikit membentak. Sehingga kedua orang itu tampak tersinggung mendengarnya.

"Lancang sekali kau ini, berani-beraninya membentak kami!"

Fengying tersenyum sinis memandangi wajah dua orang pria yang berdiri di hadapannya. Ia sadar bahwa kedua orang itu pasti memiliki niat jahat terhadap dirinya.

Secara mengejutkan, salah satu dari dua orang pria itu langsung melakukan pemukulan terhadap Fengying. Sehingga Fengying jatuh tersungkur, dan mengalami sedikit luka di pergelangan tangan dan keningnya.

"Bedebah! Kenapa kau memukulku?" bentak Fengying langsung bangkit.

"Kau sudah lancang, Anak muda. Serahkan pedangmu! Jika tidak, tentu kau akan kami binasakan!" ancam pria yang baru saja memukul Fengying.

Tanpa banyak bicara lagi, pria tersebut kembali memukul kepala Fengying. Hingga menyebabkan, Fengying jatuh lagi. Fengying berusaha bangkit kembali, namun dua orang pria itu tidak membiarkan Fengying berdiri tegak. Salah satu dari mereka kembali menyambut dengan sebuah pukulan keras.

Namun, Fengying sangat gesit dalam melakukan pergerakan. Sehingga dirinya berhasil menghindari pukulan tersebut. Demikianlah, Fengying mulai tersulut emosi, ia langsung mengayunkan kaki kirinya hingga menyentuh perut salah seorang lawannya.

"Aku harap kalian tidak meneruskan perbuatan kalian ini!" bentak Fengying. "Aku tidak menghendaki pertarungan ini berlanjut," tambahnya langsung berlari meninggalkan kedua orang tersebut.

* * *

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alkisah Bunga Teratai
9.8
Tujuh pemuda berkekuatan mistik dahsyat dipersatukan dalam tim khusus yang terinspirasi dari simbol reinkarnasi teratai. Dipimpin Sagara Widyatama, mereka berlatih keras demi menertibkan dunia supranatural yang kian kacau. Namun, misi maut ini bukan sekadar laga fisik biasa. Sosok Sagara perlahan menyingkap tabir misteri tentang ikatan mendalam yang pernah menyatukan mereka semua di kehidupan masa lalu.
Sampul Novel Cintya Persusuan  Di Balik Tahta
8.3
Sebagai selir paling dimanja karena keunikan tubuhnya, Rona menarik perhatian penuh dari Kaisar dan Pangeran Surowi. Namun, malam-malam di kamarnya berubah menjadi ketegangan saat kedua pria berkuasa itu mengajukan rencana gila untuk membaginya bersama. Meski dijanjikan kenaikan status sosial oleh Pangeran Surowi, Rona yang ketakutan mencoba menolak tawaran tersebut dengan menegaskan asal-usulnya yang hanya seorang budak biasa di hadapan senyuman misterius sang Kaisar.
Sampul Novel Indra, Reinkarnasi Tiga Dewa
9.6
Dunia sihir Nobel terancam punah akibat virus mematikan kiriman Raja Iblis untuk membasmi manusia. Indra, seorang yatim piatu yang tumbuh di kalangan ras Triton, harus kehilangan tempat tinggalnya yang hancur diserang monster terinfeksi. Demi melawan kegelapan, ia memulai perjalanan bersama Aruna yang misterius dan Rai, pendekar yang bertekad membangun kembali kerajaannya. Akankah Indra berhasil menguak jati dirinya sekaligus menghentikan wabah iblis ini?
Sampul Novel Jasper dan Misteri Sang Raja Kerajaan Almekia
8.7
Di Almekia, kerajaan futuristik yang dikuasai seorang ratu, Pangeran Jasper menyimpan rasa penasaran mendalam tentang mendiang ayahnya. Identitas sang raja sengaja dirahasiakan rapat oleh pihak istana. Demi mengungkap kebenaran, Jasper bersama Diamond, Zircon, dan Opal nekat melanggar hukum kerajaan. Meski kini berstatus buronan dan menghadapi berbagai bahaya, mereka terus berjuang menembus misteri besar yang menyelimuti Almekia.
Sampul Novel Pengendali Sistem Terkuat
8.9
Di dunia yang mewajibkan kebangkitan kekuatan khusus saat anak berusia tujuh tahun, Martis justru dianggap cacat. Hingga berumur lima belas tahun, ia tidak memiliki kemampuan apa pun dan kerap dihina teman-temannya. Walau dicemooh, pemuda dari keluarga sederhana ini mendapat kasih sayang penuh dari orang tuanya yang selalu siap membelanya. Di tengah tekanan sosial yang berat, Martis terus memegang keyakinan teguh bahwa dirinya bukanlah sosok yang lemah.
Sampul Novel The Cruel Prince
8.4
Nathasya terjebak dalam penderitaan akibat cinta pertama yang kini berubah menjadi obsesi kelam. Kehidupannya kini dikuasai oleh seorang pria kejam yang gila kendali dan pemenuhan hasrat seksual. Demi memilikinya seutuhnya, sosok maniak itu tidak ragu menggunakan kekerasan fisik maupun batin. Di tengah siksaan keji yang terus menderanya, seluruh impian masa depan Nathasya perlahan hancur dan lenyap. Akankah ia sanggup bertahan melewati segala penderitaan tanpa akhir ini?