
Fantasi Tersembunyi Bunga Kampus
Bab 2
Mataku membelalak. Selama bertahun-tahun, aku selalu menyukai Eric. Andai saja dia tidak terlalu sempurna...
"Memikirkan apa?"
"Ingin kakakku melihatmu seperti ini?"
"Lalu bermain bersamaku untuk menyenangkanmu?" Owen mencengkeram leherku dengan marah.
Begitu pintu didorong terbuka, aku buru-buru mendorong Owen lalu menyelinap ke dalam selimutnya.
"Kak, baru pulang kerja?" Owen berdiri di samping dengan tenang dan menggunakan buku untuk menutupi bagian bawahnya.
Aku menyembulkan kepala sedikit dan berpura-pura bersikap manis. "Ka, Kak Eric."
Eric terlihat makin tampan. Kacamata berbingkai emas di wajahnya memberi kesan pria yang sopan, tapi ternyata punya sisi liar. Kemejanya terkancing rapi sampai leher, auranya begitu menggoda.
Aku penasaran, akan seperti apa sikap lembut Kak Eric saat berhubungan dengan orang lain?
Apakah tetap selembut itu?
Jarinya begitu panjang, pasti sangat nyaman untuk membuka jalan...
Tangan di balik selimut diam-diam memelintir puting susuku...
Tidak akan ketahuan, 'kan?
Pikiran itu membuat tubuhku makin sensitif dan wajahku memerah.
Eric menatapku dan berkata dengan suara lembut, "Tia kenapa? Apa kamu nggak enak badan?"
Setelah mengatakannya, Eric mendekat dan mengelus kepalaku. Jantungku berdebar karena gugup, tapi lebih dari itu, aku sangat senang.
Dia menyentuhku...
Ini bahkan lebih menggairahkan daripada saat Owen mencubit puting susuku tadi. Aku menggeliat... sepertinya aku sudah basah...
"Aku sedikit nggak enak badan..." jawabku sambil menunduk, karena takut ketahuan.
Tante Ratna melintas di depan pintu sambil menyandang tas dan berkata, "Ibu mau belanja. Ada yang kalian inginkan untuk makan malam?"
Owen dan Eric tidak menjawab, jadi aku pun terpaksa menjawab, "Iga kecap."
Tante Ratna pun keluar rumah.
Sepasang mata Eric menatapku dengan lembut, tapi entah mengapa aku justru merasa sedikit tertekan. Saat aku hendak bicara.
Owen tiba-tiba mengunci pintu dan tersenyum tipis. "Kak, aku sudah kubilang, dia cuma ingin disetubuhi."
"Lihatlah, dia sudah kepanasan."
Aku sempat terpaku sejenak, lalu melihat Eric membuka dua kancing kemejanya. Jakunnya bahkan lebih besar dari Owen dan bergerak naik-turun seolah menahan sesuatu.
Eric berjalan mendekat. "Tia, ternyata kamu memang jalang, ya? Bahkan lebih liar daripada saat aku mengintipmu."
Seketika aku paham, Kak Eric ternyata selama juga ini mengintipku!
"Mahasiswa teladan? Kamu cuma wanita murahan yang ingin disetubuhi," hardik Owen sambil meraih tanganku, lalu membuka selimut dengan kasar.
Rokku pun juga ikut terlepas.
"Tunggu! Kak Eric, aku... bukan, aku nggak semurahan itu!" bantahku panik, air mataku mulai mengalir.
Tanganku yang menutupi tubuhku digenggam oleh Owen. Dia membalikkan tanganku dan membelengguku dengan cepat. "Tia, bukankah kamu selalu memanggil namaku sambil bermain sendiri? Aku sudah lama ingin memuaskanmu."
Eric memperbaiki kacamatanya, lalu memandangi bagian bawahku dengan mata menyipit, "Basah sekali? Mana mungkin Kakak percaya kamu nggak menginginkannya?"
"Aku... aku nggak bisa menahannya... Kukira hanya Owen yang mengintipku, nggak kusangka Kakak juga."
Kakiku diangkat oleh Eric. Dia menggigit leherku. "Kamu pakai apa? Wanginya memabukkan. Di luar tadi, kamu terus menatap bagian bawahku. Kenapa? Apa kamu ingin kusetubuhi di depan ibuku?"
Aku menggelengkan kepala, tapi kenikmatan di tubuhku tidak bisa dibohongi.
Pikiranku bahkan membayangkan, bagaimana reaksi Tante Ratna jika melihat kami seperti ini?
Pasti makin menggairahkan.
"Makin basah? Kamu memang jalang sekali," ujar Eric saat jarinya menyentuhnya. Aku langsung menegang dan berkata, "Jangan, jangan sentuh sana."
"Hmm? Sentuh mana?" Eric menatapku, tapi jari-jari panjangnya justru mengeksplorasi perlahan. Dia memainkan rumputku, sementara tangan satunya yang dingin merabaku...
Anda Mungkin Juga Suka





