APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Fanboy Romantis

Fanboy Romantis

Di depan kamera, Fayrin adalah aktris idola yang tampak sempurna. Namun, di balik layar, ia memiliki kepribadian angkuh yang membuat Kiky merasa sangat muak. Hubungan mereka berubah saat Kiky mulai mengenal sisi kelam sang artis lebih dalam. Rasa benci itu perlahan terkikis, berganti menjadi perasaan cinta yang kuat. Kini, Kiky bertekad untuk mendekati Fayrin dan memenangkan hatinya, meski ia harus menghadapi kenyataan sulit tentang perbedaan dunia mereka yang begitu besar.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pukul lima sore.

Fayrin mengemudi mobil sendirian di jalan besar ibukota, jalan protokol milik negara. Biasanya Annya yang menjadi sopir artis ini. Duduk diam di kursi belakang sambil membaca majalah. Fayrin seorang yang suka ketenangan.

Namun kali ini tidak ada Annya yang bersamanya. Pergi mengurus harta kekayaan kakek di bank cabang. Kala itu matahari nyaris tenggelam di ufuk barat, langit kota berwarna jingga. Jalan agak macet ketika menuju pulang ke rumah.

Fayrin tersenyum getir ketika ingat pria menggemaskan tadi. Walau sempat jengkel pada Kiky yang selalu membuatnya kesal, tapi Fayrin tidak bisa untuk tidak mengakui kalau Kiky pemuda yang menggemaskan. Pipinya enak untuk dicubit macam bayi. Rambutnya terlihat lembut dan halus, cocok buat diusap. Apalagi bau harumnya yang khas, alamak, Fayrin jadi bernafsu ingin membuat pria itu bertekuk lutut dihadapannya.

Tapi sore ini karma bakal dibayar tunai. Sebab mobil Fayrin mendadak oleng. Terpaksa dia mengurangi kecepatan kendaraan, menepikan mobilnya di pinggir jalan. Sekeluarnya dari tol dalam kota, Fayrin memilih lewat jalan umum. Sayangnya, jalan ini agaknya sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Fayrin mendesis kesal setelah melihat apa yang terjadi pada kendaraannya. Ya Tuhan, Fayrin sampai harus dibuat sakit kepala. Bisa-bisanya ban mobil bocor di jalan yang sepi, jauh dari bengkel.

“Oh ..., Astaga.” Fayrin mendesah lelah. Kekesalan sejak siang tadi terbawa sampai sore ini. Sudah berkali-kali perempuan itu menyebut nama Tuhan, mengutuk dirinya yang selalu sial. Tapi lebih sial lagi kalau berdebat dengan Kiky yang galak.

Fayrin memijit keningnya. Pening mendadak melanda. Saat ini Fayrin butuh Annya. Dalam situasi sulit apapun, Annya pasti bisa menyelesaikannya. Termasuk urusan ban bocor yang menurut perempuan itu hal sepele. Tapi bagi Fayrin yang terlahir sebagai anak Sultan sejak kecil adalah pekerjaan paling kotor, tidak mau menyentuh ban berdebu dengan berbagai alasan. Bodohnya Fayrin, pergi kali ini tidak membawa sepupu andalannya itu. Kalau begini kan yang repot dia sendiri.

Saking kesal, Fayrin menendang ban mobil pakai heels merah. Sayangnya, ban itu terbuat dari velg besi. Jelas dia akan mengaduh kesakitan. Lagian, orang tolol mana yang sudah tahu kalau velg ban itu keras, tapi malah ditendang macam menendang bola.

Fayrin mencoba mengatur emosinya, sesaat setelah rasa sakit itu menghilang. Oke, memang masih agak nyilu, tapi ini tidak akan menyelesaikan apapun. Fayrin ingin meminta bantuan siapapun itu, yang penting mobilnya bisa jalan lagi. Soal menghubungi orang-orang dari bengkel, Fayrin bahkan tidak tahu nomor layanan pelanggan mereka.

Fayrin melambaikan tangan, meminta bantuan pada mobil-mobil yang malang melintang lewat di jalan yang sama dengannya. Perempuan itu berdiri samping mobil. Setidaknya, ini opsi kedua yang dilakukan alih-alih mengeluh. Tetapi, faktanya tidak mudah membuat satu atau dua kendaraan mau menepikan mobil mereka dihadapan Fayrin.

Perempuan itu mendesah kesal. Mulai merutuk dan menuntut keadilan. “Tuhan, bisakah engkau berikan hambamu ini bantuan? Atau berbaik hatilah dengan mengirimkan aku satu malaikat tampan keluar dari kesulitan ini? Please, jangan uji lagi kesabaranku. Kau pasti masih mendengarkan aku, kan? Kau pasti masih menyayangi hambamu yang penuh dosa ini, kan? Jadi tolong, dengarkanlah permintaanku. Aku janji bakal jadi wanita yang berbudi luhur jika kau mengabulkan keinginanku ini. Malaikat penolongku tidak harus tampan. Jelek pun tidak apa-apa, asal dia bukan jodohku, oke!”

Fayrin mengangkat bahunya setelah itu. Apa? Sudah bicara begitu, memohon pada Tuhan minta dikabulkan keluhannya, bahkan Fayrin tidak melihat akan ada tanda-tanda jika ada yang bakal membantunya. Maka dari itu, Fayrin pernah sesumbar kalau Tuhan tidak pernah adil padanya. Kenapa Tuhan selalu menguji aktris cantik ini dengan cobaan aneh dan nyeleneh.

Di ujung jalan lurus, ada motor besar yang melintas. Di belakang mobil Fayrin. Perempuan ini menyungging tersenyum. Barangkali ini pertolongan yang datang untuknya, Fayrin mencoba melambaikan lagi tangannya. Urusan berhenti tidaknya kendaraan itu, dipikirkan belakangan.

Syukurlah, pemotor besar itu menghentikan si kuda besi, menepi di depan mobil Fayrin. Melepas helm, turun dari kendaraan. Tapi bantuan itu tidak sesuai harapan. Yang dikira akan menolongnya saat ini tidak sama seperti yang dibayangkannya. Justru Kiky yang ditemui. Muka Fayrin jadi mupeng. Tuhan telah mengabulkan doa Fayrin, minta didatangkan satu malaikat penolong yang tampan, berparas rupawan. Namun kenapa harus Kiky dari banyaknya umat manusia berkelamin pria?

Iya Kiky memang tampan, sesuai deskripsi imajinasi Fayrin. Tapi tidak bisakah Tuhan memberikan model malaikat penolong yang lain? Misalnya, aktor pemeran Titanic (1997) itu.

Ini kenapa malah yang datang pemuda dengan kemeja putih, ada cap bibir Fayrin di sana. Belum terhapus. Masih tertera jelas. Fayrin jadi sebal sendiri. Niat hati mempermalukan Kiky, tapi dia sendiri yang malu karena terlihat turun harga diri. Atau barangkali tidak punya harga diri sama sekali di depan pria ini.

“Mogok?”

Fayrin mengangguk, bibirnya menyungging tidak ramah. Raut wajah jadi masam. Saat ini, Fayrin hanya mau jaga citra baik dan tegas supaya tidak dikalahkan oleh Kiky. Mengingat, perdebatan sebelum-sebelumnya, Fayrin selalu kalah bicara.

“Ini bukan mogok, tapi bannya bocor.” Kiky memeriksa kendaraan, duduk di depan ban mobil yang mengempis. Fayrin tahu itu bannya bocor. Tapi anehnya dia malah iya-iya saja pas ditanya mobil mogok. “Kalau sudah begini, jangan diam saja. Telepon orang-orang bengkel, minta datang ke sini supaya cepat ditangani.”

Kiky masih sebel dengan Fayrin, sejujurnya. Tapi Kiky paling anti melihat orang lain kesusahan. Apalagi jika itu wanita. Kiky lemah. Karena Kiky punya ibu dan Mbak Tyas yang harus dihormati. Maka perempuan yang dilihatnya juga harus diperlakukan sama seperti ibu dan sepupunya itu. Perempuan bukan untuk dilecehkan, tapi harus dihormati.

Kiky melirik Fayrin. “Ada ban gantinya?” tanyanya.

Fayrin mengangguk, sebisa mungkin dia bersikap biasa saja meski hatinya sudah malu. Semburat merah berhias di pipi. Ini semua karena Kiky. Lelaki itu berhasil membuat Fayrin malu untuk pertama kalinya seumur hidup. “Di bagasi belakang. Cek sendiri!”

Wajah Fayrin meninggi, berlagak sombong. Tapi dapat desisan sebal dari bibir Kiky, sebab di saat seperti ini, perempuan itu masih saja sok menjaga citra tak mau mengalah. Kiky yakin, setelah ini dia takkan mengatakan terima kasih. Karena Kiky sudah hafal dengan perangai orang-orang sombong macam perempuan itu.

Kiky mengeluarkan ban serep, membawanya ke ban yang bocor beserta alat pembuka baut. Mengganti ban tanpa disuruh Fayrin. Kiky bisa mengganti ban, jelas jawabannya iya. Karena memasang ban tidaklah sulit. Kiky juga punya pengetahuan sedikit di bidang otomotif. Kiky sering mengganti suku cadang motor gedenya sendiri di bagasi rumah. Yang kadangkala dapat teguran dari ibunya karena oli mengotori lantai.

Sepanjang memerhatikan Kiky dengan tugas otomotifnya, Fayrin hanya diam. Melihat takzim dan seksama. Sesekali pria menggemaskan itu mengusap peluh di wajah. Beberapa saat setelahnya, pekerjaan Kiky beres. Ban ganti telah terpasang sempurna. Mobil itu siap untuk bergerak lagi.

“Selesai.”

“Berapa?” tanya Fayrin. Merespon cepat begitu Kiky menatapnya.

Kiky mengernyitkan dahi. “Apanya yang berapa?”

“Harga perbaikan mobilku!”

“Memangnya aku meminta imbalan?” Kiky masih menatap heran Fayrin si gadis angkuh sembari memasukkan semua peralatan obeng-obengan dan lainnya ke dalam kotak mekanik.

“Aku tahu kamu tidak meminta. Tapi aku menetapkan tarif untukmu. Berapa? Sepuluh juta, dua puluh juta atau ....”

“Tidak perlu!” Kiky memotong kalimat.

Kiky mengambil ballpoint dari tangan Fayrin yang sedang menuliskan sesuatu di secarik kertas. Bisa jadi cek kosong yang akan ditulis nominal. Hendak protes, tetapi tertahan. Melihat wajah serius Kiky sudah cukup menjelaskan kalau pemuda menggemaskan itu tidak akan mendengarkan keluhannya sama sekali.

“Tidak perlu bayar apapun. Aku tidak butuh uang sama sekali. Tapi kamu perlu mengembalikan kemeja putihku seperti sedia kala.” Kiky menyerahkan ballpoint ke Fayrin. Lalu melepaskan kemeja putihnya, kemudian diserahkan kepada Fayrin. Ada noda di baju putih bersih itu. Untung Kiky membawa hoodie yang disimpan di dalam tas. Dia memakai itu. Walau saat telanjang dada tadi, Fayrin sempat melihat bentuk tubuh si pemuda manis nan menggemaskan. Tipenya sekali bentuk tubuh indah itu.

Apalagi perutnya yang berbentuk. Alamak, makin indah sudah badan si pemuda jangkung. Tetapi, kesal tetap kesal. Sekagum apapun Fayrin pada Kiky, nyatanya kesal pada pemuda itu tidak akan berubah.

“Kamu kira aku pembantumu, hah?” Fayrin protes. Kiky melepaskan helm yang dipakai, baru saja akan menyalakan motornya, hendak pergi duluan meninggalkan Fayrin yang berseru lantang padanya.

“Aku tahunya bajuku kembali bersih, tidak ada noda bekas bibir dan kotor. Jalan Bougenville nomor tiga belas, komplek Magnolia residence. Itu alamat rumahku. Jika tidak bertemu denganku, titipkan saja pada orang rumah. Ingat, besok sore sudah harus aku terima. Tidak perlu berterimakasih, aku bisa memakluminya kalau bibir kamu nggak bisa bilang kata itu.”

Kiky menyalakan motornya lagi. Detik berikutnya, kendaraan itu melaju cepat, melesat, dalam sekejap mata lenyap dari pandangan Fayrin betulan. Fayrin masih berdiri mematung. Mulutnya mendadak kelu, tidak bisa bicara apapun.

Fayrin sadar kalau dia telah diinjak harga dirinya semena-mena oleh si pria menggemaskan itu. Kesal dilecehkan, Fayrin melampiaskan amarahnya dengan melempar kemeja putih Kiky ke jalan aspal. Diinjak-injak, menendang baju itu sampai keluar dari markah jalan. Anggaplah Fayrin sedang menginjak harga diri Kiky yang tidak turun ego.

Fayrin masuk mobil, menyalakan kendaraan. Mobil itu mulai melaju, tancap gas. Namun beberapa meter mobil berjalan, Fayrin menghentikan kendaraan, malah mundur lagi ke belakang. Keluar mobil hanya untuk memungut baju milik Kiky. Entah kenapa, Fayrin tidak bisa untuk membuang baju itu meski dia terlihat tidak peduli pada secarik kain yang telah lusuh.

“Oke. Baru kali ini ada seseorang yang berani menentangku, menginjak harga diriku dan tidak menghormatiku. Kita lihat, apakah kamu bisa mengalahkan aku kali ini. Aku akan buat hidupmu jauh lebih menderita dari apa yang aku rasakan sekarang.”

••••

Malamnya, Kiky baru tiba di rumah.

“Kiky pulang Pak, Bu!” kata Kiky berseru di depan pintu rumah. Melepaskan sepatu di sana. Dia mampir sebentar di tempat tongkrongan sebelum sampai di rumah, sore tadi. Satu jam lalu.

“Langsung ke dapur, Ky. Makan bareng Bapak, dia lagi makan.” Ibu menegur di ruang tengah.

Kiky menggeleng. “Masih kenyang, bu.”

“Kamu makan di luar?”

“Ya, bareng teman-teman.”

Kiky telah naik ke lantai atas menuju ke kamarnya. Ibunya duduk di meja makan, menemani Bapak.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata yang Kutumpahkan
9.0
Demi menjaga nama baik keluarganya, Keira Prawirajaya bersedia menikahi Panji Wicaksana setelah kembaran identiknya, Keisha, melarikan diri. Namun, situasi berubah pelik ketika Keisha kembali dan menyebarkan fitnah kejam. Panji, yang masih terpikat oleh cinta masa lalunya, tega menuduh Keira berselingkuh demi bisa bercerai. Di tengah kepungan dusta, Keira kini dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan kehormatan keluarga atau memperjuangkan harga dirinya dari kekejaman suami dan saudaranya.
Sampul Novel Cinta Bersemi Di Lokasi Proyek
8.1
Kehadiran seorang wanita di lokasi proyek memicu kesalahpahaman besar di antara para pekerja. Karena prasangka sepihak, semua orang di sana salah mengira dirinya sebagai wanita murahan yang bisa dipermainkan. Anggapan keliru tersebut membuat para pria di tempat kerja itu mencoba mendekatinya hanya demi mencari kesenangan pribadi. Di tengah lingkungan yang keras ini, ia harus bertahan menghadapi berbagai pandangan merendahkan dan godaan dari orang-orang di sekelilingnya.
Sampul Novel CINTA DI ANTARA TASBIH DAN ROSARIO
8.5
Pertemuan dua insan ini harus berhadapan dengan takdir yang rumit. Hubungan cinta yang mendalam di antara mereka terhalang oleh jurang perbedaan keyakinan yang begitu kokoh. Meski sang pria terus mendekap erat dan meyakinkan kekasihnya bahwa cinta mereka tulus, benturan dogma agama tetap menjadi ujian yang sangat berat. Di tengah kepasrahan pada garis jodoh yang telah digariskan Tuhan, mampukah cinta mereka bertahan saat takdir justru perlahan memaksa keduanya untuk saling melepaskan?
Sampul Novel Godaan Ranjang Sang CEO-tamat
8.0
Gwen Florine terdesak oleh biaya operasi kanker paru-paru ayahnya yang mencapai lima puluh ribu dolar. Di situasi sulit ini, Nicholas Kennedy, sang mantan kekasih yang pergi sepuluh tahun lalu, datang menawarkan bantuan keuangan. Namun, CEO tersebut mengajukan syarat pernikahan. Gwen pun sepakat demi sang ayah, dengan menegaskan bahwa ini hanyalah pernikahan kontrak. Di tengah bayang masa lalu, mampukah Gwen membentengi hatinya dari pesona Nicholas?
Sampul Novel Jodoh Serigala Putih yang Ditolak Sang Alpha
8.2
Pameran seni perdanaku hancur saat Baskara, Alpha pasanganku, melindungi wanita lain di media. Demi aliansi baru, dia mengabaikan ikatan kami, meremehkan karyaku, dan mencuri ide bisnis triliunanku. Setelah empat tahun dihina sebagai Omega penurut, kesabaranku habis. Melalui dokumen palsu yang dikira pengalihan hak seni, aku menjebaknya untuk menandatangani Ritual Penolakan. Kesombongan sang Alpha akan menjadi senjata yang menghancurkan dirinya sendiri.
Sampul Novel Taruhan Nasib: Suamiku yang Tak Terduga
9.8
Kirani terpaksa menikah dengan Devon, pria yang dikenal sebagai preman menakutkan. Walau kerap dicibir sebagai anak angkat bernasib malang, keberuntungan selalu memihaknya hingga ia berhasil mendapatkan rumah mewah. Siapa sangka, Devon sebenarnya adalah miliarder terkaya di dunia yang menyamar. Ketika kebenaran terkuak dan Kirani yang merasa terancam ingin bercerai, Devon menolak. Sang konglomerat justru rela memberikan semua kekayaannya demi menjaga pernikahan mereka.