APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel FAMILIAR PLACES

FAMILIAR PLACES

Pertemuan emosional di bawah rintik hujan menyatukan kembali Byan dan Gemi setelah lima belas tahun berpisah. Didorong kerinduan mendalam, Byan berusaha memberikan kenyamanan terbaik untuk Gemi tanpa menyadari sebuah rahasia pahit. Ternyata, perempuan yang teramat dicintainya itu kini telah berstatus sebagai istri orang lain. Hubungan rahasia pun terjalin di antara mereka, menjadi pelampiasan atas rasa rindu yang terlarang.
Bab
Bagikan

Bab 2

Gemi pulang bekerja pada pukul dua siang, ia berjalan dengan lesu menuju rumahnya. Namun, entah mengapa ia merasa begitu sedih. Di tinggal oleh kakak dan keponakannya itu membuat Gemi benar-benar merasa sebatang kara. Tatapannya tak sengaja menemukan sebuah kursi di dekat pekarangan rumah Byan. Kursi putih hasil buatan Byan itu lumayan bagus. Ia tak menyangka jika tetangganya itu juga mahir menciptakan karya mabel.

Gemi melhat ke arah rumah Byan yang nampak sepi. Ia yang begitu ingin mencoba kursi itu pun berjalan ke pekarangan rumah Byan. Nuansa putih sepertinya tema dari rumah itu. Byan mendekor rumahnya dengan indah dan nyaman. Ada lonceng angin juga di gantung di pintu utama, membuat Gemi merasa damai mendengarnya.

Dengan hati-hati Gemi mendudukan tubuhnya di kursi kayu itu, ia merebahkan punggungnya seraya memandangi pantai. Gemi tak menyangka, jika di lihat dari tempatnya duduk, pantai itu akan terlihat sangat indah. Ia tak sabar menunggu untuk memandangi senja.

Tiba saatnya langit berubah senja, Gemi menengok ke kanan dan kiri memastikan kalau Byan belum pulang bekerja. Ia sangat ingin duduk di kursi kayu itu dan memandangi matahari terbenam. Gemi bergegas menuruni tangga dan berjalan ke pekarangan Byan.

Dengan senyum lebar, Gemi berhasil duduk di kursi Byan, dan memandangi langit yang berubah jingga. Suara ombak, juga pohon-pohon kelapa yang tenang, rasa rindu Gemi seketika terobati. Ia yang tengah bosan itu merasa menemukan ketenangannya.

"Uhuk!"

Gemi menoleh kaget, ia melihat Byan keluar dari rumahnya. Gemi pun beranjak dari duduknya dan mundur beberapa langkah.

"Maaf, aku melewati pagar rumahmu. Aku merasa di sini sangat indah untuk melihat matahari terbenam. Jadi...."

Byan tersenyum, dan mempersilahkan Gemi untuk bersantai di kursinya.

"Aku tidak pernah melarang siapapun untuk duduk di kursi ini, juga masuk ke halaman rumahku. Santai saja!" seru Byan.

Gemi pun merasa malu, dan memilih untuk kembali ke rumahnya.

"Kamu mau kemana? Di sini saja, sebentar lagi mataharinya akan tenggelam. Kita lihat sama-sama."

Gemi yang memang sangat ingin menyaksikan matahari terbenam pun, akhirnya duduk sesuai perintah Byan. Dengan canggung ia duduk di kursi sebelah Byan, dan memandangi pantai dengan ekspresi kaku.

"Namamu Gemintang? Cocok denganmu, seperti bintang," ucap Byan.

Gemi tersenyum kaku, ia merasa begitu canggung berduaan dengan pria tampan itu. Terlebih, Byan tiba-tiba memuji namanya.

Sedangkan Byan, sesekali memandangi wajah Gemi yang polos. "Mau teh hangat?" tanyanya memecah keheningan.

"Tidak, terima kasih."

"Kamu sudah lama tinggal di sini?" tanya Byan lagi. Ia merasa sangat tertarik menggoda Gemi yang mendadak pendiam itu. Padahal sebelumnya, dengan jelas ia selalu melihat ekspresi judes ketika dirinya memutar musik rock. Dan ia tahu kalau Gemi merasa terganggu dengan kebisingannya itu.

"Hmm, sejak aku lulus SMA, aku datang bersama Kakakku," jawab Gemi.

Byan mengangguk mengerti, ia menatap ekspresi lembut di wajah perempuan itu. Ia cantik, pemalu cenderung tegas, bibirnya mungil dan merah seperti stroberi. Gadis cantik dan menarik yang ia temui di pesisir pantai. Seketika jantungnya berdebar-debar, entah mengapa ia merasa kalau Gemi telah mencuri hatinya.

***

Beberapa hari telah berlalu, kini Gemi sudah cukup akrab dengan Byan. Ia terlihat tengah menikmati teh bersama dengan lelaki arsitek itu.

"Dari mana kamu belajar membuat kue cokelat ini?" tanya Byan.

"Saat kami kecil, Ibuku selalu mengajari kami memasak. Dia bilang, kalau anak perempuan wajib bisa memasak."

Byan menatap Gemi dalam, rasanya perempuan itu memiliki banyak luka di hidupnya. Dan hal itu membuatnya ingin melindunginya.

"Besok lusa keluargaku akan datang, bagaimana kalau kamu membuat beberapa camilan? Tenang saja, aku bayar," tawar Byan.

Gemi tertawa remeh, lalu menyetujuinya.

"Aku menghargai mahal kue-kue buatanku," sahut Gemi bercanda.

"Tentu saja! Kue buatanmu sangat lezat. Tiada tandingannya!" seru Byan ikut tertawa.

Malam harinya, Gemi mengajak Byan berbelanja bahan-bahan membuat kue. Ia mengajak Byan ke sebuah toko di perkampungan. Malam yang dingin itu, tak begitu terasa untuk keduanya. Lantaran Byan maupun Gemi lebih banyak tertawa, dan tak memperdulikan angin laut yang akan membuat mereka sakit.

"Mau alkohol?" tawar Byan seraya menunjuk bir yang berjajar.

Gemi terdiam sesaat. Kemudian mengangguk. "Boleh juga," katanya.

Setelah berbelanja banyak, keduanya pulang dengan berboncengan sepeda. Byan mengencangkan jaketnya, menerobos dinginnya angin malam. Sedang, Gemi tengah menikmati sebatang es krim. Tangannya memeluk erat pinggang Byan, seraya menggoda lelaki itu.

"Kamu sungguh tidak mau mencobanya? Kamu bisa berolahraga lagi nanti, sekarang nikmati saja es krim cokelat ini," kata Gemi.

"Susah payah aku membesarkan ototku. Aku tidak mau kehilangan karismaku, hanya karena sepotong es ekrim."

Gemi mendengus kesal, ia pun memukul punggung Byan yang membelakanginya.

Sesampainya di rumah, Byan membantu Gemi membawa kantong belanjaan. Untuk pertama kalinya ia masuk ke rumah gadis itu. Byan melihat seekor kucing kecil di pojokan ruang tamu, dan sebuah foto keluarga yang terpajang dengan bingkai usang. Warna cokelat kayu mendominasi tema rumah itu, dan beberapa tanaman bunga di simpan di sudut ruangan.

"Aku hanya mengkoleksi bunga yang bisa tumbuh di dalam ruangan," sahut Gemi.

"Kenapa?" tanya Byan heran.

"Wanginya menenangkan, aku suka." Gemi tersenyum seraya menghirup bunga lily yang ia simpan di dapur.

Byan menatap, senyum Gemi langsung menular padanya. Ia praktis melangkah menghampiri gadis itu.

"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanyanya.

"Sebaiknya kamu duduk saja. Kamu akan mengacau jika membantu."

Byan kembali tertawa, rasanya ucapan Gemi benar. Ahlinya adalah membuat bangunan, bukan mengadon kue.

Selama Gemi mengadon bahan-bahan kue, Byan memperhatikannya dengan seksama. Ia duduk manis di meja makan, dan menatap lembut pada wajah gadis itu. Byan merasa tak pernah merasakan perasaan seperti itu sebelumnya. Sejak pertama melihat ekspresi judes Gemi, dan pandangan curiga saat ia berhasil menangkap ular, ia merasa Gemi adalah perempuan yang dapat memahami hatinya. Apalagi setelah berteman akrab dengannya, ia merasakan nyaman dan tenang. Seolah tak ada sesuatu yang perlu ia khawatirkan.

"Gem, bagaimana kesan pertamamu saat melihatku?" tanyanya.

"Kamu?" Gemi mencoba mengingat saat Byan pertama kali memarkirkan mobilnya di samping rumahnya. Dan di setiap malam Byan selalu duduk di kursi putihnya. Ia nampak mempesona.

"Kamu tampan... Aku menyukainya, ups!" seru Gemi, seketika meralat ucapannya.

Byan senang mendengarnya, matanya berbinar. Namun, jantungnya bergedup kencang.

"Apa?" tanyanya meminta konfirmasi.

"Maksudku... Penampilanmu cukup asyik. Tidak seperti ...." Lidah Gemi tertahan, matanya membulat saat wajah Byan mendekati bibirnya.

Tangan pria itu meraih lengan Gemi, dan menahannya. "Aku menyukaimu," kata Byan mengakui.

Gemi mengedipkan matanya, mendengar pengakuan Byan yang tiba-tiba. "Apa?"

"Kesan pertamaku melihatmu adalah... Aku menyukaimu, sangat menyukaimu," kata Byan tegas.

Gemi dan Byan saling menatap, lelaki itu membawa tubuh Gemi bersandar pada meja. Ia meraih wajah mungil gadisnya itu, lalu mendekatkan hidungnya. Keduanya terpejam, merasakan hangatnya hembusan nafas di antara keduanya.

"Aku menyukaimu," lirih Byan sekali lagi, tenggorokannya bergerak naik turun saat bibirnya hendak menyentuh bibir Gemi.

Kejadiannya sangat cepat, dan tanpa terasa Byan sudah melumat bibir perempuan itu. Sedang Gemi, terlihat meremas pinggang baju Byan. Ia tersentak, namun menikmatinya.

Byan merenggut kuat bibir Gemi, seraya kedua tangannya memeluk tubuh perempuan itu. Lalu mengangkatnya ke atas meja.

Bersambung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 49 Hari Bersama Tawanan Sexy
7.9
Model terkenal Tamara Levinka, tunangan dari CEO pembuat senjata Roger Jenandra, tiba-tiba lenyap secara misterius. Walau pencarian berskala besar dikerahkan, ia tak kunjung ditemukan. Setelah 49 hari berlalu, Tamara mendadak kembali dan membawa kabar mengejutkan. Di balik misteri hilangnya Tamara, ada Jeff yang sangat terobsesi padanya. Di sisi lain, Tamara pun siap mengorbankan apa saja demi Jeff. Hubungan asmara mereka bersemi di tengah pusaran konflik yang penuh bahaya.
Sampul Novel Cinta Yang Tak Pantas Kupertahankan
8.9
Seminggu menjelang pernikahan, Jimmy mendadak memutuskan menikahi cinta pertamanya, Mia, demi memenuhi wasiat terakhir mendiang ibunya. Jimmy bahkan tega meremehkan proyek perhiasan bernilai triliunan rupiah milik bersama yang dijadwalkan rilis di hari pernikahan mereka. Karena sang tunangan justru menyuruhnya mencari orang lain jika hanya mengincar keuntungan bisnis tersebut, kesadaran sang protagonis pun pulih sepenuhnya. Ia segera menghubungi kakaknya untuk mencarikannya calon suami baru.
Sampul Novel Kecanduan Istriku yang Bermuka Dua
9.7
Julien mengira Kelsey adalah perempuan lemah yang harus selalu ia lindungi. Namun, sang istri ternyata sangat tangguh dan gemar terlibat perkelahian, hingga Julien kewalahan mengurus berbagai laporan kekerasan akibat ulahnya. Walau lelah, Julien justru terobsesi dan tak bisa melepaskan perempuan itu. Konflik memuncak ketika Kelsey nekat melarikan diri bersama anak mereka. Mampukah obsesi Julien pada istrinya yang bermuka dua ini berujung pada akhir bahagia?
Sampul Novel Ketika Istri Sah Hanya Dijadikan Pengasuh Anakmu
8.4
Pasca dirundung duka selama dua tahun, Reno Adiprana memutuskan pindah tugas ke Yogyakarta demi memulihkan diri. Ia tinggal di kediaman Bude Ratna yang asri di lereng Merapi. Di sana, Reno tak sengaja berjumpa dengan Mira Pradipta, seorang sarjana gizi yang tulus berdagang bubur demi mengurus sang ayah yang mengidap demensia. Pertemuan rutin tersebut perlahan mendekatkan dua hati yang sama-sama terluka, memicu getaran cinta, dan mendefinisikan ulang arti kebahagiaan sejati.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Perpisahan yang telah terjadi meninggalkan penyesalan mendalam dan duka yang tak bisa diubah oleh air mata. Kehadiranmu dahulu telah memberi warna, mengajarkan arti kesetiaan serta pengorbanan yang tulus. Meski hubungan ini membawa rasa sakit dan kesedihan, bersamamu pula kebahagiaan sejati berhasil kutemukan. Kini, jika saja waktu dapat berputar kembali, keinginan terbesarku hanyalah mengulang setiap detik berharga yang pernah kita lalui bersama.
Sampul Novel Paman, Silakan Tanda Tangani Surat Cerainya
8.6
Delis sangat mencintai Kelven dan berhasil menjadi istrinya. Namun, kebahagiaan saat ingin mengabarkan kehamilannya hancur ketika Kelven pulang membawa wanita lain yang merebut segalanya. Setelah berulang kali tersakiti, Delis memutuskan menyerahkan surat cerai lalu pergi jauh. Kelven yang tidak menyangka mantan istrinya akan menghilang tanpa jejak kini bagaikan orang gila yang menjelajahi seluruh dunia demi mencarinya kembali.