APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dulu Istri Bodoh, Sekarang Obsesi Abadi

Dulu Istri Bodoh, Sekarang Obsesi Abadi

Tiga tahun Cathryn bertahan dalam pernikahan dingin demi Liam, sebelum dikhianati bersama adik tirinya saat sang ibu tiada. Muak, ia memilih cerai meski dicibir. Tak disangka, Liam menyesal dan bersujud memohon di bawah hujan agar kembali. Namun, desas-desus rujuk itu diabaikan Cathryn. Kini, seorang taipan kuat berdiri di sisinya, siap melindungi istri tercintanya dan menghancurkan siapa saja yang berani mengusiknya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Karl mengikuti arah pandang Andrew, dan tatapannya tertuju pada Cathryn. Dia mengerutkan kening. Ada sesuatu yang aneh dengan kehadiran wanita itu yang tiba-tiba. Waktunya sungguh tepat.

"Pak Andrew, harap berhati-hati. Mungkin ada jebakan yang menanti," gumam Karl sambil merendahkan suaranya.

Ekspresi Andrew menjadi semakin tidak terbaca. "Cari tahu kenapa dia bisa muncul di sini."

Dengan anggukan diam, Karl berlalu.

Karena gagal mengenali Andrew, Cathryn berbalik untuk pergi.

Suara Andrew yang dibumbui sarkasme memanggil dari arah belakang. "Apa kamu bersikap jual mahal sekarang?"

Dahi Cathryn berkerut karena bingung. "Kamu salah orang," balasnya.

Andrew melangkah ke arahnya, tangannya dimasukkan ke dalam saku, menatapnya dengan pandangan jijik. "Lucu. Pagi ini, kamu berpura-pura tidak terjadi apa-apa di antara kita tadi malam. Dan sekarang, beberapa jam kemudian, kamu muncul di hadapanku dengan alasan pertemuan tak disengaja, apa kamu ingin menarik perhatianku?"

Jantung Cathryn mencelos. Jadi dia pria tadi malam. Orang yang telah mengambil keperawanannya!

Karl bergegas kembali, membungkuk untuk berbicara pelan di telinga Andrew. "Namanya Cathryn Moore, dia putri pertama Richard Moore. Ibunya menyayat pergelangan tangannya sendiri dan meninggal beberapa waktu yang lalu."

Rahang Andrew menegang, matanya tertuju pada tangan Cathryn untuk pertama kalinya. Bercak merah muncul di telapak tangannya, dan berdarah hingga ke kain gaunnya. "Bawa dia untuk membersihkan diri," ucapnya dengan tegas.

Cathryn dibawa ke tempat Andrew. Setelah mandi air panas dan mengenakan pakaian bersih, sedikit rona kehidupan akhirnya kembali merambat ke pipinya.

Andrew duduk di sofa, tanpa sadar memainkan pemantik api perak di antara jari-jarinya, tatapannya tak pernah meninggalkan Cathryn. "Katakan padaku, bagaimana kamu berhasil membodohi nenekku?"

Cathryn berdiri di hadapannya. "Aku bahkan tidak mengenal nenekmu. Aku menghargai apa yang kamu lakukan, Pak Brooks. Tapi kalau tidak ada hal lain lagi, aku akan pergi."

Tawa pendek dan tajam lolos dari bibir Andrew. Wanita ini mengetahui nama belakangnya, tapi tetap berpura-pura tidak tahu. Baik. Selama wanita ini bukan pion Cara, dia tidak keberatan dengan permainan kecil ini. "Ayo kita buat kesepakatan." Dia melemparkan korek api itu ke atas meja dan menatapnya dengan pandangan tajam.

Cathryn membeku. Sebuah kesepakatan? Atas apa? Dia tidak punya apa pun lagi—tidak ada uang, tidak ada koneksi. Apa yang diinginkan anggota Keluarga Brooks darinya?

Andrew menggeser sebuah dokumen melintasi permukaan kaca. "Baca ini dan tanda tangani."

Cathryn mengangkat dokumen itu dengan waspada. "Apa ini?"

"Perjanjian pranikah," ucap Andrew sambil menyilangkan kakinya, tampak seperti pria yang penuh percaya diri dan tak tergoyahkan.

Mata Cathryn melebar sesaat, ekspresi terkejut tampak di wajahnya.

Andrew menyeringai, matanya berbinar. "Bukankah ini persis seperti apa yang kamu inginkan? Kamu sudah lama mengincar untuk menjadi anggota Keluarga Brooks, bukan?"

Rahang Cathryn terkatup rapat, kejengkelannya memuncak. "Kamu salah paham, Pak Brooks. Aku sudah menikah."

Andrew bangkit dan menutup jarak di antara mereka, bayangan tubuhnya yang tinggi besar seketika menyelimuti Cathryn dalam kegelapan.

Jejak asap dan aroma cedar tertinggal di udara, tajam dan bersih, membuat denyut nadinya berdebar kencang.

Mulut Andrew melengkung membentuk senyum mengejek. "Kalau kamu begitu setia pada suamimu, kenapa kamu tidak menolak untuk menghabiskan malam bersamaku?"

Panas merambati leher Cathryn. Dia mabuk tadi malam, lambat bereaksi. Kalau saja dia melawan lebih keras, dia mungkin bisa lolos. Tapi dia tidak melakukannya ....

Andrew merendahkan suaranya, jari-jarinya menyentuh dagu wanita itu sehingga dia bisa mengamati wajahnya. "Nenekku memilihmu karena suatu alasan. Bercerailah dengan suamimu. Menikah denganku saja. Kamu tidak akan kekurangan apa pun."

Mata Cathryn mengerjap. Pria ini tampaknya memiliki beberapa pikiran keliru tentangnya. Mungkin, ya mungkin saja, dia bisa memanfaatkannya.

Cathryn mengakui bahwa peringatan Jordyn masuk akal. Sendirian, kekuatannya terbatas. Dengan nama Keluarga Brooks, segalanya mungkin berubah. Di sini berdiri seorang pria yang memancarkan kekuatan. Bahkan rumahnya memancarkan keistimewaan dan pengaruh. Pria ini bukan sekadar pewaris kaya biasa—dia adalah seseorang yang penting. Dengan kepergian ibunya dan semua pintu yang tertutup di hadapannya, dia tidak lagi takut untuk kehilangan apa pun.

Sambil menegakkan bahunya, Cathryn menatapnya balik. "Baiklah. Kamu sendiri yang menyodorkan kesepakatan ini."

Cathryn membolak-balik perjanjian pranikah. Matanya menelusuri baris-baris bahasa hukum, kata-kata itu kabur. Sambil menghela napas, dia mendorongnya kembali ke arahnya. "Bacalah dengan suara keras. Aku tidak bisa membaca semua itu."

Andrew mengangkat sebelah alisnya, tidak paham. Tidak seorang pun pernah memintanya melakukan sesuatu yang sepele seperti itu. Biasanya, orang-orang yang berlomba-lomba membacakan sesuatu untuknya.

"Aku menderita disleksia," ucap Cathryn menjelaskan, nadanya datar. "Semua kata-kata itu membuat kepalaku sakit."

Andrew ragu-ragu, kecurigaan tampak sekilas di wajahnya. Mungkin wanita ini tidak bisa membaca sama sekali. Namun kemudian, dia menepis pikiran itu. Neneknya tidak akan memilih seseorang tanpa pendidikan.

Andrew menyingkirkan perjanjian pranikah itu. "Kamu tidak perlu membaca setiap detailnya. Hanya tiga hal yang penting." Dia mengangkat satu jarinya. "Pertama, pernikahan ini hanya berlangsung selama satu tahun. Ketika waktunya habis, tidak peduli apa pun yang terjadi, pernikahan ini akan berakhir."

Alis Cathryn terangkat karena sedikit terkejut. Hanya setahun? Itu lebih mudah dari yang dia duga. "Aku tidak masalah dengan itu," ucapnya tanpa ragu sedikit pun.

Tatapan Andrew menajam. "Kedua, kalau kamu hamil, bayinya tetap tinggal, tapi kamu pergi. Kamu tidak berhak mengklaim anak itu."

Mata Cathryn menyipit. Tampak dingin. Namun, dia sudah memutuskan, dia tidak akan memiliki anak dengan pria ini. "Oke. Dan yang ketiga?"

Andrew menutup jarak, suaranya tenang dan tegas. "Yang terakhir, dan yang paling penting, aku tidak akan jatuh cinta padamu, dan kamu juga tidak boleh jatuh cinta padaku. Aku tidak mengharapkan apa pun darimu, dan kamu juga tidak boleh mengharapkan apa pun dariku."

Sekelebat sesuatu yang tak terbaca melintas di matanya, tapi hilang secepat kemunculannya. Tentu saja, pria ini menarik, intens, dan berwibawa. Namun baginya, dia hanya pria asing di dunia yang penuh dengan begitu banyak pria. Cinta tidak ada dalam daftarnya.

Tanpa ragu, Cathryn meraih pena dan menorehkan tanda tangannya. "Sesuai keinginanmu, Pak Brooks."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ada Cinta di Meja Hijau
8.7
Anita Putri, pengacara andal bertubuh gempal, dikhianati oleh Adrian Hartono. Putra pemilik firma hukum tempatnya bekerja itu hanya memanfaatkan kecerdasan Anita demi memenangkan berbagai kasus, meski Anita tulus mencintainya. Kecewa dengan perlakuan Adrian, Anita memutuskan bangkit dan mengubah penampilannya secara drastis. Ini menjadi awal perjuangannya membalas dendam sekaligus menemukan kembali harga diri yang sempat hilang di dunia hukum.
Sampul Novel Cintya Persusuan  Di Balik Tahta
8.3
Sebagai selir paling dimanja karena keunikan tubuhnya, Rona menarik perhatian penuh dari Kaisar dan Pangeran Surowi. Namun, malam-malam di kamarnya berubah menjadi ketegangan saat kedua pria berkuasa itu mengajukan rencana gila untuk membaginya bersama. Meski dijanjikan kenaikan status sosial oleh Pangeran Surowi, Rona yang ketakutan mencoba menolak tawaran tersebut dengan menegaskan asal-usulnya yang hanya seorang budak biasa di hadapan senyuman misterius sang Kaisar.
Sampul Novel I Love You, Om
8.2
Pasca ditinggal pergi sang ayah tanpa kejelasan, hidup Vina berubah. Mahasiswi ini dititipkan untuk magang di perusahaan milik sahabat ayahnya. Selama tinggal bersama, kedekatan yang terjalin justru memicu perasaan yang tidak biasa. Vina jatuh cinta pada pria berumur 29 tahun itu. Di tengah badai emosi dan perbedaan usia, ia kini dihadapkan pada pilihan sulit: akankah ia tetap bertahan memperjuangkan cintanya, atau memilih melangkah pergi?
Sampul Novel menikah lagi
9.1
Kini aku tinggal di sebuah rumah besar milikku sendiri bersama lima orang penyewa. Walau bangunan ini sudah lama kubeli dan kuperbaiki untuk dijadikan kos, aku selalu menjauhinya selama bertahun-tahun. Masa lalu kelam di sana menyisakan luka mendalam yang memicu amarah dan kesedihan setiap kali teringat. Namun sekarang, aku terpaksa menempati kamar utama di lantai bawah dan harus kembali menghadapi kenangan buruk yang tersimpan rapat di rumah ini.
Sampul Novel Mutiara yang Tersia-siakan
8.7
Empat tahun pernikahan terasa hampa bagi sang istri karena suaminya selalu menolak mengajaknya ke tempat-tempat romantis dengan dalih norak. Sikap dingin itu runtuh saat cinta lama sang suami kembali, bahkan pria itu rela membawanya ke gunung legendaris demi kebersamaan abadi. Sadar akan posisinya, sang istri memilih bercerai dan memulai hidup baru di luar negeri. Namun, penyesalan mendalam justru membuat mantan suaminya mengejarnya hingga mencari dirinya dengan putus asa di antara puing reruntuhan.
Sampul Novel Silent (Love, loyalty and hurt)
7.9
Kehancuran Nadin bermula saat perselingkuhan Nathan terungkap, dipicu oleh penyimpangan seksual yang tak tersalurkan. Di tengah upaya bertahan dari pengkhianatan itu, Nadin bertemu Devon. Meski menaruh hati, Devon enggan mengusik pernikahan mereka. Saat karma buruk mulai mendera Nathan, Nadin justru memilih tetap bungkam. Namun, keheningan ini menjadi awal keputusan besar yang tak terduga. Meski mencintai suaminya, ia tak akan membiarkan pengkhianatan berakhir manis.