APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Duka Sang Putri Tertawan

Duka Sang Putri Tertawan

Tiga tahun setelah malam bersama Vincent, sang pewaris mafia, hidupku hancur saat cinta pertamanya kembali. Demi wanita itu, Vincent tega mencelakaiku, membuang pusaka ibuku, hingga menjebloskanku ke penjara. Namun, setelah aku bebas dan terbang ke Arunika untuk menikahi pria lain dalam kondisi tak berdaya, Vincent justru murka. Ia nekat mengobrak-abrik seluruh Mandala Jaya demi merebutku kembali ke pelukannya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Isabel berdiri di bawah tangga dengan gaun putih sederhana, gambaran sempurna kepolosan yang rapuh.

Dia melihatku, lalu senyum cerah mengembang di wajahnya. "Kamu pasti Sofia. Aku Isabel. Senang sekali akhirnya bisa bertemu denganmu."

Aku tidak menjawab, hanya menatapnya dari atas.

Hendra keluar dari ruang tamu. Melihat Isabel, wajahnya menampilkan raut sayang yang jarang kulihat.

"Isabel, pasti kamu lelah setelah perjalanan. Biar Sofia mengantarkanmu ke kamarmu."

"Terima kasih, Om Hendra," jawab Isabel manis.

"Ambil saja kamar Sofia. Cahayanya paling bagus, cocok untuk pemulihanmu," kata Hendra.

Aku menoleh padanya. "Kamarku?"

"Mulai sekarang, itu kamar Isabel. Kamu bisa pindah ke lantai tiga. Ada kamar tamu kosong di sana."

Tawa dingin lolos dari bibirku. "Tidak, terima kasih."

Aku kembali ke atas dan mulai berkemas.

Tiga puluh menit kemudian, aku menurunkan koperku ke bawah.

Hendra melihat bagasiku dan mengerutkan kening. "Mau ke mana kamu?"

"Aku pergi," jawabku tanpa menoleh. "Karena aku sudah bukan lagi anggota Keluarga Permana, tidak ada alasan untuk tetap di sini."

"Sofia!" teriaknya dari belakang. "Pernikahanmu dua minggu lagi! Jangan konyol!"

"Aku tahu." Aku membuka pintu. "Aku akan ada di pernikahan untuk memenuhi perjanjian kita."

Pintu tertutup keras di belakangku. Aku mengemudi meninggalkan kediaman Permana tanpa sedikit pun menoleh.

Tujuan pertamaku adalah hotel termahal di Kota Pradipta, Hotel Graha Sentral.

"Aku mau kamar termahal yang kalian punya," kataku pada resepsionis.

"Untuk berapa malam?"

"Dua minggu."

Saat membayar, aku menggunakan kartu kredit tambahan yang diberikan Hendra padaku. Limitnya delapan puluh miliar dan jarang kusentuh.

Hari ini, aku akan menghabiskannya.

Begitu masuk ke kamar, aku langsung memulai balas dendam lewat belanja.

Aku menghubungi perancang busana privat Anindya Kusuma dan memesan tiga gaun pengantin khusus, masing-masing bernilai 1,6 miliar.

Lalu aku membeli sepuluh set perhiasan mewah dan dua jam tangan Rolex edisi terbatas.

Dalam satu hari, aku menghabiskan hampir enam puluh empat miliar.

Tak lama kemudian, telepon dari Hendra masuk.

"Sofia! Apa kamu sudah gila? Kamu menghabiskan enam puluh empat miliar dalam satu hari!"

"Ada apa?" tanyaku sambil bersantai di sofa kulit mewah hotel. "Aku akan dikirim ke Arunika. Seorang gadis harus memberi kesan yang baik, kan?"

"Kamu harus menghabiskan sebanyak itu hanya untuk memberi kesan?"

"Tentu saja," jawabku sambil menyesap sampanye. "Aku akan menikah dengan pewaris Keluarga Nugraha. Aku tidak boleh terlihat murahan, kan? Lagipula, Keluarga Nugraha membayar delapan triliun untuk aliansi ini. Beberapa miliar itu uang receh."

"Kamu..." Hendra sampai terengah karena marah.

"Ayah… oh, tunggu, seharusnya aku memanggilmu Tuan Hendra sekarang." Aku tertawa. "Kamu sudah menghapus statusku sebagai anakmu, jadi rasanya tidak pantas aku menghabiskan uangmu. Bagaimana kalau begini, begitu dana aliansi masuk, aku akan langsung mengembalikannya padamu?"

Aku langsung menutup telepon dan melanjutkan pesta belanjaku.

Rencanaku sederhana, menguras aset likuid Keluarga Permana sebelum uang aliansi masuk. Lalu, delapan triliun itu akan langsung masuk ke rekeningku. Kalau Hendra menginginkannya, dia harus datang memohon.

Kita lihat nanti apakah dia masih akan memihak ibu dan anak itu.

Saat aku hendak melakukan babak terakhir belanja, ponselku bergetar.

Pesan dari Vincent, [Kamu sudah tiga hari tidak datang ke markas. Ada masalah?]

Aku menatap pesan itu, jantungku tiba-tiba berdegup kencang.

Tapi aku cepat-cepat menenangkan diri. Vincent hanya benci kalau perintahnya dilanggar. Itu saja.

Aku membalas: [Ada urusan keluarga. Akan selesai dalam beberapa hari.]

Vincent tidak membalas lagi.

Keesokan paginya, saat aku hendak keluar untuk melanjutkan serangan belanja busanaku, resepsionis hotel menghentikanku.

"Nona Sofia, maaf sekali, tapi akun Anda telah dibekukan. Anda tidak bisa lagi membebankan biaya kamar."

"Maksudmu apa?"

"Anda harus segera melunasi tagihan, atau..." Dia berhenti sejenak, ragu. "Kami akan terpaksa meminta Anda meninggalkan hotel."

Satu jam kemudian, aku sudah berdiri di trotoar depan Hotel Graha Sentral dengan koper di sisiku.

Tanpa uang, tanpa tempat tinggal.

Aku tidak sanggup menjual barang-barang mewah yang sudah kubeli. Aku membutuhkannya sebagai perisai saat ke Arunika nanti.

Aku sempat terpikir menelepon teman, lalu sadar aku tidak punya siapa-siapa. Orang-orang yang dulu mengerumuniku hanya tertarik pada kekuasaan dan pengaruh Keluarga Permana.

Sekarang aku sudah diusir, siapa yang mau repot-repot peduli padaku?

Menjelang senja, aku menyeret koper tanpa tujuan di jalanan.

Akhirnya, aku menemukan bangku kosong di Taman Raya dan duduk di sana.

Malam semakin larut. Taman menjadi sunyi, hanya suara samar lalu lintas terdengar di kejauhan.

Aku memeluk lutut, menghitung mundur lima hari sampai hari pernikahan. Aku tidak mungkin hidup di jalanan selama itu.

Saat aku sedang resah, beberapa pria mabuk berjalan sempoyongan ke arahku.

"Hai, cantik. Sendirian?" Salah satu dari mereka meracau, bau alkohol murahan menyengat.

Aku berdiri dengan waspada. "Menjauh dariku."

"Jangan begitu, dong," katanya sambil mengulurkan tangan. "Ayo, minum bareng kami."

Aku mundur selangkah, tapi bangku di belakang menghalangi jalanku.

Tiba-tiba, suara berat dan mengancam memotong udara.

"Dia bersamaku."

Aku menoleh. Vincent muncul dari balik bayangan, wajahnya seperti topeng murka yang menggelegar.

Para pemabuk itu hanya butuh sekali melihat sosoknya yang mengintimidasi, lalu langsung kabur.

Vincent melangkah mendekat, tatapannya menyapu koperku, lalu bangku di belakangku.

"Tanpa rumah, dan masih juga menolak untuk datang mencariku?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Affair
8.8
Dinginnya hubungan pernikahan saat ini membuat kenangan manis bersama Hany, sang mantan kekasih, kembali membayangi hari-hariku. Nostalgia masa lalu itu terus hadir hingga menjadi beban berat yang mengancam keutuhan rumah tangga yang sedang kujalani. Di tengah godaan memori indah yang tak kunjung sirna, mampukah pernikahan ini bertahan dari kehancuran?
Sampul Novel Dikhianati Di Hari Pernikahan
9.2
Hari tenang Aurelia Callista hancur seketika saat dipaksa menikahi Kaelan Castor. Mengira hanya menjadi tamu biasa, Rhea syok mendengar namanya disebut sang direktur muda dalam akad nikah. Dia baru menyadari dirinya dijadikan pengantin pengganti demi menutupi kelicikan keluarga Kaelan. Kini, Rhea terperangkap dalam pernikahan megah tanpa landasan cinta, sekaligus harus bertahan menghadapi berbagai konspirasi dan rahasia kelam di balik status barunya.
Sampul Novel Istri Gelap Tuan Arrogant
8.8
Tak pernah terlintas di benak Kinanti bahwa ia akan berakhir sebagai istri rahasia dari majikannya sendiri, Adam. Padahal, pria kaya tersebut telah memiliki seorang istri bernama Renata yang sangat ia cintai. Situasi menjadi kian rumit ketika Kinanti menyadari dirinya tengah mengandung anak Adam. Akankah Adam menerima janin tersebut? Dan bagaimana reaksi Renata saat mengetahui pengkhianatan suaminya yang menyembunyikan istri gelap selama ini?
Sampul Novel Puncak Nafsu Ayah Mertua
7.9
Aku masih menatap tubuh tegapnya, otot dadanya bergerak seirama napas berat. Kulitnya mengilat memanggil jemariku, membuat tubuhku bergetar hanya dengan memandang. Saat dia mendekat, aura panas menyapu seluruh tubuh. Tangannya menyentuh pahaku, membuka kakiku pelan. Aku menahan napas—tubuhku sudah siap sebelum dia benar-benar menyentuhku. Bibirnya mendarat di perutku, menggoda, lalu naik perlahan. Dadaku menunggu. Ciumannya hangat dan basah, lidahnya melingkar di putingku dengan gerakan lambat. Aku mencengkeram sprei, desahku memenuhi ruangan. Dia berbisik, menyedot kuat hingga aku mengerang. Setiap jilatan terasa seperti aliran listrik. Aku tak sanggup menahannya lagi. 'Jangan berhenti,' bisikku, sementara dia tertawa pelan dan semakin dalam, membuatku lupa segalanya.
Sampul Novel Tinggal Bersama Mantan Suamiku
8.0
Tiga tahun berpisah, takdir mempertemukan kembali Sarah dengan Michael, mantan suaminya, di ruang operasi. Michael berhasil diselamatkan, namun ia kehilangan ingatannya dan mengira mereka masih terikat pernikahan yang manis. Demi memenuhi permohonan mantan mertuanya, Sarah terpaksa berpura-pura menjadi istri Michael. Seiring berjalannya waktu, kelembutan Michael yang baru mulai menyentuh hati Sarah. Akankah ini menjadi awal yang indah, atau justru luka lama kembali membekas?
Sampul Novel Wanita Bayaran Tuan Muda
8.4
Akibat jebakan licik Eveline, kakak tirinya, Olivia terpaksa menikah dengan Jordan untuk menggantikan posisi sang kakak. Jordan yang merasa tertipu kemudian termakan oleh fitnah kejam Eveline yang menyudutkan Olivia. Tanpa perlindungan dari keluarganya, Olivia pun terpaksa menyetujui tawaran pernikahan kontrak berbayar dari Jordan. Di tengah sandiwara pernikahan ini, akankah hubungan mereka benar-benar berakhir saat kontrak selesai, atau justru benih cinta mulai tumbuh di antara keduanya?