
Dosa Di Lautan
Bab 2
Mendengar kata-kata kotor mereka, wajahku memerah.
Dua pelaut yang berbicara itu adalah orang yang kulihat kemarin.
Saat melihatku, mulut mereka terus menelan ludah, membuatku ingin memarahi mereka sejak awal.
Kali ini, aku tak tahan lagi dan melangkah keluar. Melihat tindakan mereka, aku langsung memaki,
"Bercermin dulu kalian! Bahkan kalau aku punya pilihan, aku lebih memilih anjing daripada kalian!"
Usai bicara demikian, aku pergi dengan penuh amarah.
Saat suamiku kembali, aku pun menceritakan semuanya padanya. Aku juga bertanya mengapa orang-orang di kapal ini bisa begitu tidak sopan.
Namun, dia malah tertawa dan tampak tidak peduli.
"Lusi, beginilah kehidupan di kapal, kamu harus terbiasa."
"Lagipula, nggak banyak hiburan di kapal, jadi mereka juga sangat kesepian."
"Pria memang hanya punya kesenangan seperti ini, lain kali jauhi mereka saja."
Aku pun menjawab, "Aku ini istrimu! Mereka memperlakukanku seperti ini, kamu nggak marah?"
"Sudah terbiasa. Lusi, lagipula mereka hanya membicarakannya saja, nggak melakukan apa-apa."
"Sudahlah, aku sudah tahu, jangan bahas lagi."
Setelah mengatakan itu, dia langsung berbaring dan tidur.
Padahal aku berharap setelah curhat, kami bisa bermesraan. Aku adalah wanita dengan kebutuhan besar setiap malam.
"Sayang, aku mau," ujarku meletakkan tanganku di dadanya.
"Lusi, jangan hanya memikirkan hal itu setiap hari, apa kamu terlalu santai?"
"Besok aku harus bekerja, mencari uang tambahan untuk kebutuhan rumah tangga dan meringankan bebanku."
Aku langsung terdiam dan merasa sangat kesal.
Sebelum menikah, dia tahu aku adalah wanita dengan kebutuhan besar.
Dia bahkan berkata akan menanggung hidupku dan melarangku bekerja.
Sekarang dia malah berkata aku terlalu santai dan memarahiku.
Padahal semua pekerjaan rumah, mencuci pakaian dan memasak setiap hari kulakukan sendiri.
Tapi sekarang, aku justru disalahkan. Dengan hati penuh amarah, aku berbaring di ranjang.
Teringat kata-kata kotor para pelaut siang tadi, aku benar-benar sangat marah tadi.
Namun sekarang, entah kenapa ada sedikit perasaan berdebar.
Jika mereka ada di sisiku sekarang, apa aku benar-benar bisa menolak mereka?
Keesokan harinya, aku bangun agak siang.
Baru saja melangkah ke geladak, tiba-tiba alarm berbunyi. Ini adalah pertama kalinya aku mengalaminya, aku tidak tahu apa yang terjadi.
Tiba-tiba, aku mendengar seseorang berteriak, "Cepat masuk ke ruang aman, ada perompak!"
Melihat semua orang berlarian panik menuju ruang bawah, aku ikut berlari sambil memanggil Jefri.
Namun, setelah berteriak lama, aku tidak juga menemukannya.
Ketika sampai di pintu ruang aman, tiba-tiba seseorang menarikku masuk ke sebuah ruangan kecil di sebelahnya.
Semua orang diam, takut membuat suara yang bisa menarik perhatian perompak.
Ruangan itu gelap gulita.
Tiba-tiba, aku merasakan sebuah tangan menyentuh punggungku, bergerak ke atas dan ke bawah.
Aku hampir menjerit, tetapi hanya berbisik dengan suara gemetar, "Kamu siapa? Jangan sentuh aku."
Awalnya aku berpikir itu tidak sengaja, mungkin karena ruangannya sempit.
Aku mencoba menjauh, tetapi tangan itu justru semakin berani
Tangan itu menyusup ke dalam bajuku dan saat menyentuh kulitku, tubuhku mulai gemetar.
"Ja ... jangan ... " Aku tidak berani berteriak, takut suara itu terdengar oleh perompak di luar.
Lalu terdengar suara yang familiar di belakang, "Sayang ... "
"Kamu pernah memakiku sebelumnya, bilang anjing pun lebih baik daripada kami."
"Hari ini aku akan jadi anjing untukmu," katanya sambil tertawa dingin, tubuhnya semakin menempel erat padaku ...
Anda Mungkin Juga Suka





