APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dosa Dalam Pelukan Brondong

Dosa Dalam Pelukan Brondong

Kehidupan Sheana, wanita 35 tahun yang bersuamikan miliarder, terasa sepi dan hampa. Demi mengusir kesunyian, ia nekat menjalin hubungan terlarang dengan pemuda menawan berusia 23 tahun bernama Ellandra yang ditemuinya di klub malam. Meski pernikahan taruhannya, Sheana kian terjerat pesona sang brondong. Namun, romansa ini dihantui rahasia gelap suaminya, masa lalu kelam, serta pacar Ellandra. Kini ia harus memilih antara bertahan atau mengikuti gairah baru yang menghidupkan jiwanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Beberapa hari setelah malam itu, Sheana mengira kehidupannya akan kembali normal. Dia bahkan mengira pertemuan dengan Ellan hanya akan jadi satu cerita absurd yang akan ia simpan di sudut paling gelap dalam pikirannya-dan dilupakan.

Dia salah.

Pagi itu, Sheana berdiri di samping Dirga, suaminya, di depan pintu sebuah rumah mewah bergaya kolonial modern. Pekarangan luas, pohon palem simetris, dan seorang satpam berjas hitam yang membungkuk hormat ketika membuka pintu gerbang otomatis. Sejak awal, Sheana sudah merasa tidak nyaman.

"Kenapa aku harus ikut, Ga?" gumamnya sambil membetulkan scarf tipis di leher.

Dirga tersenyum singkat. "Pak Alvino itu orang penting. Beliau pemilik salah satu perusahaan farmasi terbesar di Asia Tenggara. Beliau juga sangat menghargai gesture kekeluargaan. Kalau aku datang sendiri, itu terasa terlalu formal."

"Dan membawa istri akan membuatnya tampak lebih... hangat?"

"Lebih manusiawi," jawab Dirga, sebelum mengetuk pintu besar dengan ukiran khas Eropa itu.

Seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi membukakan pintu. "Silakan masuk. Tuan sedang di ruang tengah."

Interior rumah itu tak kalah megahnya. Langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal, lukisan cat minyak di setiap dinding, dan aroma lembut sandalwood yang menguar dari diffuser mahal.

Di ruang tengah, Alvino duduk bersandar di kursi empuk, selimut tipis menutupi kaki. Wajahnya tampak pucat, tapi senyum yang ia berikan cukup hangat.

"Sheana, ini Pak Alvino," Dirga memperkenalkan.

"Senang berkenalan, Nyonya Sheana," ucap Pak Alvino dengan suara serak namun berwibawa.

Sheana membalas dengan senyum sopan. "Saya juga, Pak."

Mereka berbincang cukup lama. Pak Alvino sempat tertawa pelan ketika Dirga bercerita soal kampanye sosial yang melibatkan perusahaan media mereka. Tapi kemudian suasana menjadi lebih tenang, bahkan sedikit berat, saat Pak Alvino mengalihkan topik.

"Kadang saya berpikir, buat apa semua ini kalau anak sendiri malah seperti orang asing."

Dirga tertawa pelan. "Yang mana? Yang bungsu atau-"

"Yang satu-satunya," potong Alvino dengan nada getir. "Ellandra. Dia lebih suka jadi seniman jalanan ketimbang meneruskan bisnis yang sudah kubangun tiga puluh tahun ini."

Sheana yang sedari tadi menatap jendela berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ellandra?

"Dia jarang pulang. Lebih sering hidup entah di mana. Katanya ingin 'menemukan dirinya'. Kalau bukan anakku sendiri, pasti sudah kutendang keluar dari hidupku," lanjut Alvino.

Dirga menanggapi dengan hati-hati, "Anak Anda belum ingin mengurus perusahaan?"

"Dia bahkan nggak mau pulang."

Sheana memperhatikan perubahan ekspresi Pak Alvino. Ada rasa kecewa yang tak ia tutupi. "Dia bilang ingin hidup bebas, menjelajah dunia. Tapi saya tahu... dia hanya kabur dari tanggung jawab."

Belum sempat Sheana merespons, seorang asisten rumah tangga datang dengan langkah tergesa.

"Maaf, Tuan... Tuan muda sudah pulang."

Pak Alvino mendongak. "Suruh dia ke sini. Sekarang."

Semua kepala menoleh.

Langkah kaki terdengar menyusuri lorong marmer. Dan kemudian, pintu dibuka perlahan. Ellan masuk dengan jaket kulit disampirkan di bahu dan rambut sedikit acak seperti baru bangun tidur. Matanya yang tajam segera menangkap sosok Sheana-yang sama terkejutnya.

"Ellan," panggil Alvino.

Ia mengangguk. "Dad."

Matanya sekilas beradu pandang dengan Sheana. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk menyampaikan ribuan kalimat yang tak bisa diucapkan di ruangan itu.

Sheana seketika menolak irama normal jantungnya.

Itu benar-benar Ellan yang ia kenal beberapa malam lalu.

Wajah pemuda itu tampak sedikit lelah, tapi masih sama. Matanya menyapu ruangan dengan tenang.

Keduanya terdiam. Mata mereka terkunci satu sama lain. Sekilas, napas Sheana tertahan. Ellan pun tampak membeku di tempat, seolah waktu di sekitarnya berhenti berdetak.

Dirga menoleh, heran melihat keheningan yang aneh itu.

"Kamu kenal?" tanyanya pelan pada Sheana.

Sheana cepat-cepat menggeleng. "Nggak. Cuma... kaget aja."

Ellan tersenyum. Bukan senyum gigolo. Tapi senyum anak muda yang baru saja menemukan sesuatu yang tak terduga. Ia melangkah masuk, menyapa ayahnya dengan cepat, lalu-dengan penuh kesadaran-berdiri tepat di depan Sheana.

Dirga bangkit, menjabat tangan Ellan. "Akhirnya bisa bertemu juga. Aku Dirga, sahabat ayahmu."

Elan mengangguk sopan. "Ellandra."

Lalu ia menoleh ke Sheana.

"Tante?" gumamnya pelan.

Sheana menegang.

Ellan tersenyum tipis, lalu buru-buru menambahkan, "Ah, maaf, saya kira Anda ibu teman saya. Mirip sekali."

Dirga tertawa. "Istriku. Sheana."

"Pantas," bisik Elan, matanya tak lepas dari Sheana. "Pantas... terlalu cantik untuk seorang ibu teman."

Sheana menyunggingkan senyum datar.

Alvino kembali sibuk bicara dengan Dirga, menuntunnya untuk melihat koleksi lukisan di ruang tengah. "Kamu ikut, Ell?"

"Nanti nyusul," sahut Ellan santai. Begitu dua pria itu berjalan menjauh, keheningan menggantung.

Sheana memalingkan wajah, berdiri sambil merapikan roknya. "Kecil dunia ini, ya?"

Ellan menyeringai. "Sheana... dramatik banget. Aku suka," katanya pelan, seperti mengomentari dialog film.

"Biasa aja," sahut Sheana, agak ketus.

Ellan menyandarkan diri di dinding, menyilangkan tangan. "Kau kelihatan gugup. Tapi tenang, aku jago jaga rahasia."

Sheana mendesah. "Bagus. Karena kalau kau buka mulut, aku juga bisa buka semuanya."

"Oh?" Ellan menaikkan alis. "Maksudmu... kamu akan bilang ke Daddy kalau aku kerja sambilan?"

Sheana menatapnya tajam. "Kalau perlu, iya."

Ellan melangkah pelan, memperkecil jarak. "Dan aku akan bilang... kamu salah satu klienku. Gimana? Mau sama-sama hancur atau-kita main aman?"

Sheana tercekat. Ini bukan lagi permainan biasa.

"Kamu brengsek," bisiknya, tapi tak bergeming.

"Dan kamu cantik sekali waktu marah," gumam Ellan, lebih rendah. "Ayo, kasih nomormu. Biar aku pastikan kamu nggak nyasar lagi ke tempat begitu."

Sheana mendelik. "Jangan berharap aku akan datang lagi."

"Aku nggak berharap," Ellan tersenyum miring. "Tapi... berharap itu gratis."

Ia menyodorkan ponsel. Dengan kesal, Sheana mengetik nomornya, lalu menyerahkan kembali tanpa berkata apa-apa.

"Terima kasih, Nyonya Dirga," bisik Ellan, lalu berbalik pergi, meninggalkan aroma parfum mahal dan jejak tawa di balik bibirnya yang tak sepenuhnya ramah.

Di luar sana, suara Alvino dan Dirga mulai terdengar kembali, menghapus keintiman singkat yang barusan terjadi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gadis Nakal Itu Milikku
9.4
Grace terduduk tak berdaya, hancur setelah dipermalukan oleh Edward. Keangkuhan yang biasa ia miliki kini sirna sepenuhnya. Di sela tangisan Grace, Edward datang mendekat, mendekapnya dengan erat sembari meminta maaf. Ia berterus terang bahwa amarahnya tersulut akibat cemburu melihat kebersamaan Grace dengan Kevin. Walau sempat kehilangan kendali, Edward akhirnya menyadari kekacauan hatinya. Ia pun mengecup kening Grace, mencoba mengutarakan rasa sesak di dada yang selama ini tak ia mengerti.
Sampul Novel PRIME MINISTRE'S DAUGHTER
8.2
Demi menikahi Eleanore, putri perdana menteri yang berhati dingin, Ken rela menghalalkan segala cara. Sayangnya, pernikahan impian keponakan raja ini berubah menjadi mimpi buruk saat Ken mengungkap sebuah rahasia kelam masa lalu istrinya. Rasa cinta Ken seketika berubah menjadi kebencian yang mendalam. Meski menderita dan terus disakiti akibat perubahan sikap suaminya yang sangat drastis, Eleanore memilih bertahan demi cinta di tengah konflik masa lalu yang sulit termaafkan.
Sampul Novel Rahasia Gelap Sang Kekasih
9.5
Kehidupan tenang sang protagonis terusik di tengah malam saat sebuah notifikasi pesan membangunkannya dari tidur. Kiriman video dari sahabatnya memperlihatkan seorang wanita bergaun tipis ketat yang menari dengan anggun. Namun, perhatiannya teralihkan ketika ia melihat sekilas warna ungu di balik gaun tersebut. Keingintahuan berubah menjadi keterkejutan yang mendalam saat ia menyadari bahwa pakaian dalam yang dikenakan wanita dalam video itu sangat identik dengan milik kekasihnya sendiri.
Sampul Novel Satu Atap Dengan Bos
8.7
Dua puluh tahun hidup dalam kekangan keluarga Prajanata membuat Anjeli nekat melarikan diri demi kebebasan. Sialnya, ia justru dijebak utang raksasa oleh keluarganya sendiri. Di tengah keputusasaan, Anjeli terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan Ghatan, pewaris tunggal Prajanata Group yang terkenal kejam dan dingin. Kini, ia harus tinggal serumah dengan bosnya tersebut. Sanggupkah Anjeli bertahan menghadapi tekanan pernikahan paksa ini?
Sampul Novel Terjebak Cinta Sang Casanova
8.9
Maisya Indira, gadis SMA berusia 17 tahun, tidak sengaja berpapasan dengan Zifran Alanta, seorang CEO Casanova mesum. Guna menghindari rencana perjodohan dari Mama Sarah yang sangat berambisi menikahkan putranya, keduanya sepakat berpura-pura pacaran. Namun, kedekatan yang intens justru menumbuhkan rasa nyaman yang mendalam. Sandiwara mereka perlahan berubah menjadi jeratan hasrat terlarang tanpa ikatan status yang berisiko. Akankah jalinan cinta palsu ini berujung nyata?
Sampul Novel Unspoken Pain (Luka yang Tak Terucap)
8.5
Demi melindungi sahabat yang dicintainya, Alle rela menikahi Earl Sanders guna menutupi hubungan terlarang pria itu dengan wanita lain. Meski terus terluka, Alle tetap bertahan demi memenangkan hati Earl. Namun, kemarahan Earl meledak saat mengetahui perasaan tulus Alle, hingga tega mengusirnya dalam kondisi hamil. Kini, Alle harus berjuang bertahan hidup sendirian, sementara Earl mulai menghadapi dampak buruk dari kekejamannya. Akankah penyesalan datang terlambat?