APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Donat Penyelamat

Donat Penyelamat

Kehidupan pernikahan Cita dan Danang, yang terpaut usia sepuluh tahun, kini didera cobaan berat. Akibat kecelakaan tragis yang dialaminya, Danang mengalami kelumpuhan total pada kakinya. Kondisi ini memaksa Cita berjuang sendirian sebagai tulang punggung demi menopang ekonomi keluarga mereka. Di tengah kesulitan tersebut, ia juga harus menghadapi penolakan keras dari sang mertua. Mampukah kekuatan cinta mereka bertahan melewati badai ujian ini demi meraih kebahagiaan?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Cit, donatnya berapa satu dus itu?" Aku membuka kaca helm, tanganku gemetar menahan dingin.

Hujan memang sudah turun sejak pagi tadi. Biasanya jelang siang hujan reda. Namun akhir-akhir ini cuaca nggak bisa diprediksi. Sebentar panas, sebentar hujan. Kadang hujan seharian. Seperti hari ini. Namun sebagai pedagang yang baru merintis jualan donat, terpaksa harus kutembus hujan demi mengantar pesanan donat tepat waktu ke tangan pembeli.

"Dua puluh lima ribu, Bu. Isinya ada dua belas." Sahutku. Kantong kresek yang kupegang basah kuyup. Namun kupastikan isinya aman.

"Ibu mau dong. Tiga box buat nanti sore. Itu punya siapa?" Tanyanya lagi.

"Ini punya bukde Laksmi. Baik Bu, nanti Cita antar ke rumah ibu ya." Senyumku mengembang. Ini yang namanya rezeki di tengah badai.

Air hujan masih turun dari langit dengan derasnya. Sudah hampir setengah jam aku menunggu kedatangan Bude Lasmi, namun belum juga datang. Kami memang sepakat COD di depan minimarket ini.

Drrt rrrttt

Ponsel dalam saku jaketku bergetar. Mungkin dari bude Lasmi. Segera kuletakkan kantong berisi dua box donat di lantai, kemudian kurogoh ponselku.

Mas Danang...

"Halo, mas."

"Cit, kamu belum balik? Ini Tia rewel dari tadi nyariin kamu!" Terdengar suara suamiku menyatu dengan air hujan.

"Aduh gimana dong, mas. Bude Lasmi belum datang, ini!" Sahutku.

"Ya udah. Kalo sepuluh menit lagi dia nggak nongol, kamu pulang aja! Janji kok nggak ditepati!" Ujarnya.

Ya Allah...

Mas Danang mematikan telepon. Kugenggam erat ponselku. Sambil berpikir apakah aku harus menghubungi bude Lasmi atau nggak.

"Kenapa, Cit?" Tanya Bu Yanti. Kami sama-sama tengah berteduh. Namun Bu Yanti sudah lebih dulu berada disini saat aku datang tadi.

"Anu, Tia rewel. Bude Lasmi nya belum datang juga. Mungkin nunggu hujan reda." Jawabku.

"Hati-hati lho, Cit. Bu Laksmi kadang suka gitu." Gumam Bu Yanti. Aku mengernyit.

"Gitu gimana, Bu?"

"Kemarin ada kurir antar barang pesanan ke rumahnya. Eeeh dia ngumpet di rumah ibu. Bilangnya nggak ada duit buat Nebus." Jawabnya lagi membuat lututku terasa lemas. Mudah-mudahan saja ucapan Bu Yanti nggak berlaku padaku.

"Coba, sebaiknya kamu telpon dia. Buat mastiin beneran mau diambil apa nggak." Usulnya. Aku mengangguk, kemudian ku usap layar ponselku dan mencari kontak Bu Laksmi.

Kebetulan terlihat dari layar bagian atas, bude Lasmi tengah online.

Tuuuut tuuuut

Suara panggilan dariku tidak jawabnya. Sementara Bu Yanti tak lepas menatapku dan ponsel di tangan secara bergantian.

"Gimana?" Aku menggeleng lemas.

"Apa ibu bilang! Coba kirim pesan." Aku lagi-lagi mengangguk.

[Assalamualaikum, bude. Ini Cita udah di depan Ind*mart. Bude jadi datang 'kan?]

Terkirim.

Selang beberapa menit kemudian, ponselku bergetar.

[Masih hujan. Kamu tunggu aja.]

Balasnya.

Lalu kusampaikan pada Bu Yanti.

"Hamdalah, sebaiknya kamu bilang ta antar saja ke rumahnya." Usul Bu Yanti kemudian. Dan lagi-lagi ku anggukan kepala.

[Bude kalau sekiranya hujan, biar Kita antar ke rumah bude saja, ya.]

Aku menatap cemas layar ponselku. Tanpa keluar dari chat bude Lasmi.

[Ndak usah. Bude lagi dijalan, mungkin baru sampai dua jam lagi. Kamu bawa pulang lagi aja donatnya. Nanti bude ambil ke rumahmu.]

Jawaban bude Lasmi membuat persendian di tubuhku terasa lemas. Ingin rasanya menangis, namun tentu saja itu nggak mungkin.

"Apa katanya?"

Aku tak menjawab, malah kuulurkan ponselku pada Bu Yanti agar dia membacanya sendiri. Bu Yanti menggelengkan kepala sambil menyerahkan ponselku kembali.

"Apa ibu bilang! Di jalan mana, coba! Orang dari semalam dia mengeluh suaminya belum gajian, kok! Ya sudah, itu donat biar ibu aja yang beli. Kasihan kamu, belum tentu dia beneran datang." Bu Yanti merogoh dompet dari dalam tasnya, kemudian mengeluarkan selembar uang seratus ribuan.

"Ini." Lalu menyerahkannya padaku.

"Tapi Bu, Cita nggak ada kembalian. Sebentar Cita tukar dulu ke kasir." Sahutku.

"Ndak usah. Kamu pegang aja, buat nanti kalau-kalau ibu pesan lagi. Nanti sore Ndak jadi bikin ya. Kan udah ada, ini." Jawabnya. Kemudian mengambil kantong kresek donat pesanan bude Lasmi.

"Masha Allah Bu, matur nuwun sanget. Makasih banyak ya Bu. Mudah-mudahan ibu suka sama donatnya." Ujarku sambil menyeka air mata yang tiba-tiba meluncur dari mata ini.

"Iya sama-sama. Ya udah, sana pulang. Kasihan anakmu." Senyum Bu Yanti. Aku mengangguk.

Hujan masih turun dengan derasnya. Namun aku harus segera pulang sebelum mas Danang kehilangan kesabarannya.

*

Namaku Cita. Seorang ibu rumah tangga dengan satu anak yang masih berusia dua tahun. Usiaku belum genap dua puluh tahun, ketika mas Danang menikahi aku. Suamiku sendiri sudah berusia tiga puluh tahun kala itu. Mas Danang adalah anak ketiga dari saudagar cengkeh yang ternama di kampung kami.

Banyak yang menebak, pernikahan kami semata karena aku hanya mengincar kekayaannya. Meski nyatanya, kami memang saling mencintai meski usia kami terpaut cukup jauh.

Kami hidup bahagia. Mas Danang bekerja memantau kebun cengkeh milik orangtuanya. Dan kebahagiaan kami semakin bertambah ketika hadirnya Tia dalam rahimku, di usia pernikahan kami yang ke empat tahun. Penantian yang cukup panjang. Bahkan tak sekali dua kali, ibu mertua dan kakak iparku menyarankan mas Danang untuk menikah lagi.

Namun kekuatan cinta kami mengalahkan ujian itu. Sekaligus menghentikan usaha keluarga mas Danang yang mengompori agar ia menikahi wanita lain.

*

Aku tiba di rumah dengan tubuh sangat menggigil. Dari luar terdengar Tia menangis hingga suaranya parau. Segera kulepas helm serta jaket hujan. Dan menaruhnya sembarang. Tak lupa ku tenteng kantong kresek berisi sayur dan telur. Tadi, sempatkan mampir ke warung untuk belanja.

"Ya Allah mas, itu Tia Sampai kejer gitu!" Segera aku berlari ke kamar. Tia berlari menghambur ke dalam pelukanku. Seluruh wajahnya basah oleh keringat dan airmata.

"Cup cup sayang. Ini mama. Tadi Ade bobo makanya nggak mama ajak. Di luar juga hujan. Cup sayang." Kuangkat tubuh kecil Tia lalu kugendong dan membawanya keluar kamar.

Mas Danang melirik pada kami sekilas, lalu kembali membuang muka. Menatap keluar rumah dengan wajah sendu.

Kuhela napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya pelan. Kutinggalkan suamiku ke dapur. Untuk memasak bakal makan malam kami.

"Ade tunggu disini ya, kita masak-masakan." Kubujuk Tia dan mendudukkannya di atas ubin yang sebelumnya kuhamparkan karpet busa bergambar Masha and the bear. Awalnya Tia menolak, memeluk leherku begitu kuat. Tapi kemudian mengangguk setelah dipotong ujung batang kangkung dan menaruhnya di wadah plastik.

Tak butuh waktu lama, Tia terlihat riang menirukan gerakan tanganku. Memotong batang kangkung dengan pisau mainannya.

"Cita! Aku mau ke kamar mandi!" Seruan mas Danang terdengar. Ku Kecilkan kompor, lantas memberitahu Tia agar menunggu. Tia mengangguk.

Putriku sebetulnya tidak rewel. Hanya sesekali waktu ia merajuk, jika bangun tidur tak melihat keberadaanku.

Kuhampiri mas Danang, lalu ku ukir senyum meski jiwa raga ini begitu lelah. Kemudian segera aku berjongkok. Tangan mas Danang terulur meraih pundakku. Dengan segenap tenaga, aku berdiri setelah tubuh mas Danang berada di punggungku. Kuseret langkah tertatih membawa suamiku ke kamar mandi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Barunya Adalah Taipan Misterius
8.9
Charlee hancur setelah dikhianati tunangan dan saudara tirinya tepat di hari pernikahan. Di tengah rasa sakit, ia melewati malam penuh gairah dengan seorang pria asing yang misterius. Tak diduga, pria tampan nan kaya ini selalu pasang badan melindunginya sekaligus membantunya membalas dendam. Namun, saat cinta baru mulai tumbuh, sang mantan pacar datang lagi meminta balikan. Kini, sang taipan menuntut ketegasan Charlee untuk memilih siapa pria yang berhak memilikinya.
Sampul Novel Dear Clarissa
7.9
Dua tahun Clarissa bertahan di kerasnya dunia malam Jakarta demi menjaga dirinya. Namun, ketenangannya terusik oleh Arga, pelanggan tetap yang sangat terobsesi padanya. Meski Clarissa benci pria dan terus menghindar, kuasa Arga membuatnya tak berkutik. Di sisi lain, perjuangan Arga meluluhkan Clarissa terhalang penolakan keras saudaranya yang memicu konflik besar. Akankah Clarissa akhirnya takluk pada pria yang kini terus membayangi hidupnya itu?
Sampul Novel Hingga Menjadi Kita
9.7
Nissa, seorang siswi SMA, jatuh cinta pada guru Bahasa Indonesianya yang tampan, Ilyas. Ia melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian sang guru di sekolah. Namun, akankah Ilyas membalas perasaan muridnya? Ataukah perbedaan usia dan status sosial menjadi penghalang mereka? Di tengah keraguan ini, Ilyas dihadapkan pada pilihan untuk menikahi wanita dewasa. Akankah cinta remaja Nissa berbalas manis atau berakhir bertepuk sebelah tangan?
Sampul Novel Istri Lugu Presdir Dingin
8.4
Dunia Nia runtuh saat kehamilannya diketahui publik. Di tengah keputusasaan, seorang wanita yang pernah ditolongnya menawarkan pernikahan dengan Dion, seorang duda beranak satu. Nia menerima demi menyelamatkan masa depannya. Namun, takdir berkata lain ketika ia menyadari bahwa keluarga suami barunya ternyata berhubungan erat dengan pria yang telah menghamilinya. Kini, Nia terjebak dalam dilema besar mengenai kejujuran dan penerimaan sang suami terhadap janin di rahimnya.
Sampul Novel Ternyata Kau Injak Dua Perahu
8.1
Memasuki tahun kelima pernikahan, Julia Trevon curiga pada rasa pahit vitamin C pemberian suaminya, Victor Camden. Saat botol itu diperiksa di rumah sakit tempat Victor bekerja, hasilnya mengejutkan: isinya adalah mifepristone yang memicu kemandulan. Julia mencoba menjelaskan bahwa Victor adalah suaminya, tetapi dokter di sana malah menyuruhnya menemui psikiater. Bagi mereka, istri sah Victor baru saja melahirkan bayi dua bulan lalu, membuat keberadaan Julia dianggap sebagai khayalan belaka.
Sampul Novel The Unshackled: Pembalasan Seorang Peretas
8.7
Di malam ulang tahunnya, Eliana Walker mencari Lucien Lane, tetapi ia justru menghadapi kenyataan pahit di kantor polisi. Lucien menghina dan merasa terbebani oleh kelumpuhan Eliana selama sepuluh tahun. Sakit hati oleh ucapan kejam dan luka fisik, Eliana bangkit melawan. Sebagai pemimpin kelompok peretas Anonymous, ia mencabut seluruh proteksi perusahaan Lucien dan mengundang peretas dunia untuk meruntuhkan sistem keamanan Lane Corporation.