
Dituduh sebagai Menantu Durhaka
Bab 3
"Berlutut! Kamu cari-cari ayahmu, 'kan? Dia ada di sini! Kamu bodoh atau tolol? Buat apa kami menipumu? Dasar nggak tahu malu!"
Bayu terlalu emosional. Istrinya segera menepuk-nepuk lengannya untuk menenangkan.
Tapi entah karena terlalu kewalahan atau kenapa, istrinya berhenti berusaha menenangkan dan berjalan menjauh dengan kaku.
Brian terjatuh ke lantai memandangi abu itu, lalu foto di tanganku.
Dia menjambak rambutnya sendiri dan berteriak.
Tiba-tiba, dia mendongak dan menatapku dengan tatapan menyeramkan.
Seperti binatang buas, dia mengaum dan menerkamku.
"Ini semua salahmu! Ayahku sudah sangat tua, tapi kamu nggak merawatnya dengan baik! Kamu gagal berbakti padanya saat dia masih hidup, jadi matilah dan lanjutkan tugasmu sebagai menantu di alam kubur! Mati! Mati!"
Tangannya mencekik leherku. Aku tidak berdaya, tidak bisa mendorongnya meski telah mengeluarkan segenap tenagaku. Tepat saat kupikir aku akan mati lagi, tangan yang mencekik leherku mengendur.
Aku berjuang untuk bangun dan bernapas terengah-engah.
Baru saat itu aku menyadari bahwa Brian ditarik oleh Bayu dan seorang pemuda.
Aku menyeka air mata dari mataku dengan gemetar.
Bayu meninju wajah Brian.
"Bangun!"
Mata Brian merah kesetanan. Ketika dia bangkit untuk berkelahi dengan Bayu, telepon genggamnya berdering.
Nada dering itu adalah suara rekaman Laudya.
Itu adalah dering panggilan khusus nomor Laudya.
Brian sepertinya sangat mencintai Laudya. Bahkan dalam situasi marah seperti itu, dia bisa menjawab telepon dari Laudya dengan tenang.
"Halo, iya. Aku ke sana sekarang, jangan takut!"
Dia menutup telepon dan hendak keluar.
"Mau pergi ke mana kamu? Sebagai anak Paman, kamu nggak mau mengantar kepergiannya?"
Bayu menatap Brian dengan wajah tidak percaya.
"Sudah ada kalian semua di sini. Nggak ada pengaruhnya kalau aku nggak ada. Laudya sedang butuh aku sekarang, aku harus pergi!"
Brian hendak lanjut berjalan keluar.
"Apa kamu sudah gila?! Kamu nggak boleh pergi! Nggak masalah kalau kamu nggak pulang sama sekali, tapi kamu sudah pulang! Kamu nggak boleh pergi ke mana-mana!"
"Kalau kamu berani pergi, kami nggak akan menganggapmu keluarga lagi! Kamu rela putus hubungan dengan keluarga demi perempuan?"
"Buka matamu! Orang berusaha keras saat ayahmu sekarat itu istrimu!"
Entah kata apa yang menohok Brian, langkahnya lambat laun melambat.
Setelah melirik guci berisi abu ayahnya, dia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan kepada Laudya.
Anda Mungkin Juga Suka





