
Diperlakukan Bak Orang Asing Oleh Suami Anakku
Bab 5
Ricardo duduk bersama Fiona dan Ivany, dikelilingi beberapa orang lain yang tidak dikenali oleh Eva.
Hari ini adalah ulang tahun Fiona. Di kepalanya terpasang topi ulang tahun dan dia duduk manja bersandar di sisi Ricardo.
Orang-orang di meja itu bercanda dengan riang. "Pak Ricardo dan Fiona benar-benar pasangan serasi! Pria tampan dan wanita cantik, bagaikan jodoh dari surga. Kira-kira kapan nih kami bisa minum di pesta pernikahan kalian?"
Fiona tersipu malu, sesekali melirik Ricardo dengan tatapan manja.
Melihat Ricardo tidak menyangkal apa pun, bahkan tampak mengiyakan dengan tenang, senyum di wajah Fiona semakin semringah.
Meja itu dipenuhi gelak tawa dan suasana hangat. Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa tak jauh dari sana, Eva sedang duduk seorang diri dan diam-diam menyaksikan semuanya.
Namun, hati Eva tetap tidak terpengaruh. Tak ada lagi rasa sakit ataupun kemarahan. Ketiga orang itu memang terlihat seperti satu keluarga yang harmonis.
Ketika Fiona menoleh ke belakang, dia menangkap sosok Eva.
Dengan sengaja, Fiona memiringkan kepala dan bersandar manja di bahu Ricardo, lalu berkata dengan suara manja, "Terima kasih, kamu sudah memberiku ulang tahun yang tak terlupakan."
Ricardo menatapnya dengan penuh kelembutan. "Di antara kita, nggak perlu pakai kata terima kasih."
Saat Ricardo berbicara, Fiona berpura-pura mabuk, lalu melingkarkan tangannya ke leher pria itu. Matanya setengah tertutup, penuh hasrat dan kemesraan. bOrang-orang di sekitar mulai bersorak riuh, menggoda dan ikut membuat suasana semakin meriah.
Ricardo tak ragu sedikit pun, dia langsung menunduk dan mencium Fiona. Ciuman yang panjang dan penuh gairah. Dia memeluk Fiona erat, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Sorak-sorai dan siulan dari teman-teman di meja semakin keras menyemangati mereka.
Sementara itu, Eva hanya menyaksikan semuanya dengan tatapan datar. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia bangkit dan beranjak pergi.
Namun tanpa sengaja, dia menyenggol sebuah gelas di meja. Gelas itu jatuh ke lantai dan pecah dengan suara yang cukup nyaring sehingga menarik perhatian semua orang di restoran.
Ricardo tidak sengaja melirik ke arah suara pecahan gelas itu dan seketika matanya membelalak. Dia terpaku sesaat, terlihat jelas ada kegugupan melintas di sorot matanya. Dia tidak menyangka bahwa Eva akan berada di tempat itu juga.
Ketika dia menatap ke arah kepergian Eva, Fiona yang menyadarinya menahan rasa cemburu di hatinya. Dia pura-pura bersikap perhatian dan berkata dengan lembut, "Kak Ricardo, sepertinya tadi itu Eva, ya? Apa dia melihat kita barusan? Maaf, tadi aku agak mabuk, mungkin dia salah paham. Bisa jadi dia akan marah dan mulai ribut lagi sama kamu."
Ricardo mendengus pelan, lalu berusaha bersikap tenang. "Lalu kenapa kalau dia lihat? Kalau kita memang ada apa-apa, masa iya kita akan tunjukkan di depan banyak orang?"
Ricardo berbicara seakan tidak peduli, lalu menenggak minumannya dengan santai. Namun saat pergi ke toilet, dia diam-diam mengirim pesan ke Eva.
[ Kamu lagi makan hotpot? ]
Kalau itu dulu, Eva pasti akan langsung membalas dalam satu menit setelah pesan dikirim. Namun sampai acara makan selesai, balasan itu tak pernah datang.
Ricardo pulang ke rumah bersama Ivany. Saat sedang berganti sepatu di pintu, dia sudah bersiap-siap mengira Eva pasti akan menangis, marah, atau paling tidak protes dengan nada tinggi.
Namun ketika masuk ke ruang tamu, dia malah melihat Eva sudah duduk sambil meringkuk di sofa. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun, bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah Ricardo.
Eva yang seperti ini terasa sangat berbeda.
Anda Mungkin Juga Suka





