APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dinodai Calon Kakak Ipar

Dinodai Calon Kakak Ipar

Kesucianku direnggut oleh calon kakak ipar menjelang pernikahan. Tragisnya, aku malah dituduh menggoda dirinya hingga diusir keluarga. Demi bertahan hidup, aku terpaksa menjajakan diri pada pria kaya. Bertahun-tahun kemudian, pria brengsek yang menghancurkan hidupku itu mendadak kembali menjadi pelangganku. Ia bahkan menyewaku secara eksklusif selama satu bulan penuh. Rencana jahat apa lagi yang sedang ia persiapkan untukku?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Ini yang namanya Sera? Calon istri kamu?”

Aku tersenyum, menyalami wanita paruh baya yang baru datang, langsung mendekatiku dan Dika yang duduk di beranda. Seorang laki-laki menyusul di belakangnya, juga dua anak remaja yang langsung masuk membawa tas besar di punggungnya.

“Salam kenal, Tante. Saya Sera.”

“Masya Allah, cantiknya.”

Sebuah pelukan menjadi salam perkenalan kami. Meski aku belum tahu apa hubungan wanita ini dengan kekasihku, aku membalas dekapan hangatnya.

“Dika nggak salah pilih kan, Tan?”

“Nggak, dong. Tante langsung setuju kalau ini, sih. Cocok sama kamu.”

“Cocok? Aku ganteng kaya malaikat, dia cantik kayak bidadari surga?”

“Kayak udah pernah lihat malaikat sama bidadari aja!” Aku menyikut perut Dika, memintanya jangan terlalu narsis dan sembarangan bicara.

Tante Mira dan suaminya tertawa, juga Papa Adli dan Mama Nia yang sekarang berdiri di dekat kami. Mereka ikut bergabung, menyambut kerabat yang datang dari luar kota itu.

“Saudara kamu banyak ya?” tanyaku saat berdua saja di dapur dengan Dika, menyiapkan piring gelas dan peralatan makan lainnya. Meskipun ada asisten rumah tangga, Mama Nia memang membiasakan anak-anaknya mengerjakan hal-hal kecil agar bisa mandiri ke depannya. Tetap saja, Dika sebagai anak terakhir tergolong manja.

“Banyak, tapi semuanya di luar kota. Hari ini Tante Mira sengaja datang, sekalian liburan anak-anak sekolah. Nanti mungkin Mas Rian juga pulang.”

“Mas Rian siapa? Kok aku baru denger namanya? Waktu lamaran, dia nggak ikut ya?”

“Iya.”

Dika menggaruk tengkuknya, sedikit salah tingkah. Sepertinya hubungan mereka tidak begitu baik.

“Dia jarang pulang. Udah punya usaha sendiri di Jakarta. Lebih sering di sana, paling sesekali pulang kalau Tante Mira pas ada di sini.”

“Ooh.”

Mulutku membulat, tapi tak berkomentar apa-apa. Sepertinya Dika tidak nyaman membicarakan topik itu, jadi lebih baik aku melewatkannya. Tanganku sigap menata piring bulat dan menelungkupkannya satu persatu di atas meja.

Sesaat sebelum makan malam dimulai, sebuah mobil berhenti di pelataran rumah. Semua orang menoleh ke arah pintu, termasuk aku. Tampak seorang pria dengan tubuh tegap memasuki rumah, mengucapkan salam dengan suara dingin dan dalam.

“Rian, alhamdulillah. Akhirnya Tante bisa ketemu kamu lagi. Apa kabar?”

Tante Mira berdiri dari kursinya, memeluk keponakan laki-lakinya seperti saat dia memelukku tadi. Mereka tampak akrab. Namun, pemandangan berbeda tampak jelas di wajah Mama Nia. Jangankan menyambutnya dengan gembira, menatap saja enggan rasanya.

“Ayo duduk, kita makan sama-sama.”

Pria dengan cambang tipis di dagunya duduk tepat di depanku. Kami sempat bertatap mata selama sepersekian detik, sebelum aku menundukkan kepala. Entah kenapa, tatapannya terlihat begitu tajam, seolah tidak suka dengan keberadaanku di sana.

“Sera, ini kakaknya Dika, namanya Adrian.” Tante Mira dengan senang hati memperkenalkan pria di sampingnya, membuatku mau tak mau kembali mengangkat kepala.

“Rian, itu calon adik ipar kamu, Sera. Cantik banget, ya?”

“Ekhm!” Papa Adli berdeham, menyudahi sesi ramah tamah kami berdua. Nada bicaranya terdengar dingin, seolah tidak suka dengan kehadiran salah satu putranya.

Makan malam berlangsung canggung, tak ada yang bersuara. Hanya denting sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring. Sisanya, tak ada obrolan apa-apa. Aku bertanya-tanya, apa yang terjadi sebenarnya? Siapa Adrian ini? Kenapa kedatangannya membawa suasana yang berbeda?

“Mas Rian, ini Sera.”

Dika membawaku menemui Adrian yang duduk santai di taman belakang. Tubuhnya yang semula bersandar pada bangku, segera ditegakkan. Rokok di tangannya dilempar ke tanah dan diinjak dengan sepatu untuk memadamkannya.

“Sera Adriana,” lirihku sambil mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan. Saat di meja makan tadi, aku tidak memiliki kesempatan untuk menyapanya.

“Hmm,” gumam Rian sambil memindai penampilanku dari ujung kaki sampai kepala. Matanya begitu tajam, seperti elang yang mengintai mangsanya.

“Bener kata Tante Mira, cantik,” pujinya dengan wajah tanpa ekspresi. Tidak ada ketulusan di sana, sekadar sanjungan di bibir saja.

Pria itu berdiri. Lima detik berlalu, tapi tanganku masih belum bersambut. Sepertinya dia sama sekali tidak berniat membalas keramahanku. Kedua tangannya justru masuk ke dalam saku celana. Sebagai gantinya, dia mencondongkan tubuhnya ke arahku, membuat wajah kami hampir bersentuhan.

Seketika Dika menarik tubuhku untuk berlindung di balik punggungnya. Entah kenapa, aku merasa tidak nyaman berdekatan dengan pria itu. Terlebih seringai miring terlihat di sudut bibirnya.

“Kalau takut, kenapa dekat-dekat? Gimana kalau aku culik tunanganmu, kubawa ke Jakarta, hah?”

Kulihat Dika meneguk ludah untuk membasahi kerongkongannya. Dia gugup berbicara dengan kakaknya sendiri.

“Ini nggak ada hubungannya sama Sera. Aku cuma mau ngomong kalau kondisi kesehatan Papa memburuk. Kemarin dia batuk darah.”

Aku terkesiap, tidak tahu menahu informasi itu. Papa Aldi terlihat sehat.

“Apa urusannya sama aku? Kamu anak kesayangannya, kamulah yang harusnya urus pria itu sama kebun tehnya. Kenapa aku?”

“Mas—”

“Aku pulang karena kebetulan ada klien yang minta ketemu. Daripada tinggal di hotel, mending pulang. Irit ongkos. Bener kan, Se … ra?”

Pria bernama Adrian itu melongokkan kepala, berusaha melihat wajahku lebih dekat dan sengaja mengeja namaku di akhir kalimat. Entah apa maksudnya. Kurasakan genggaman Dika semakin erat. Dugaanku benar, hubungan mereka memang bermasalah. Dika mengajakku kemari untuk menemaninya menghadapi Adrian. Wajahku ikut tegang seketika.

Menyadari hal itu, Adrian tertawa dan melewati kami berdua. Namun, langkahnya terhenti di hitungan ketiga. Aku menolehkan kepala, saling bertatapan dengannya.

“Sera Adriana, semoga kamu nggak nyesel tunangan sama Dika,” ucapnya dengan nada mengejek, lengkap dengan seringai menyebalkan di bibirnya.

Sosok Adrian menjauh setelah mengatakannya, naik ke kamar di lantai dua yang terpisah dengan bangunan utama. Beberapa kamar di bawahnya ditempati asisten rumah tangga yang bekerja di sana. Bentuknya seperti kamar kontrakan di kota.

“Aneh,” batinku, merasa ada yang janggal. Sikap Adrian yang semena-mena, ketakutan Dika, juga peringatan semog aku tidak menyesal. Apa maksudnya?

“Bukan apa-apa.” Begitu jawaban Dika saat aku bertanya.

“Lain kali kamu jauh-jauh dari dia. Bahaya,” imbuhnya saat aku terus menuntut penjelasan.

“Kalian kenapa, sih? Emang nggak akur dari dulu?”

Dika menghentikan mobilnya di tepi jalan, menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca.

“Lebih baik kamu nggak tahu.”

“Kita udah tunangan, Sayang. Sebentar lagi aku jadi istri kamu, cerita aja masalahnya. Mungkin aku bisa bantu.”

Dika menggeleng.

“Rumit. Dua hari dua malam baru kelar kalau diceritain.”

“Astaga, Bagas Mahardika!” seruku kesal, “Tinggal cerita singkatnya aja kenapa, sih? Repot amat. Aku cuma penasaran, kenapa Papa sama Mama keliatannya nggak suka Mas Adrian pulang?”

Kulihat Dika menggigit bibir bawahnya, kebiasaan saat takut mengatakan sesuatu. Bola matanya bergerak gelisah, mencari penjelasan paling singkat yang bisa memuaskan rasa penasaranku.

“Dahlah, lupain aja."

Aku tidak tega melihat wajah tertekan Dika. Tangannya berkali-kali membenahi kacamata di atas hidungnya yang melorot.

“Jalan lagi, anterin aku pulang. Udah malem.”

Aku menatap jam mungil di pergelangan tangan kiriku yang menunjukkan pukul sembilan malam.

Sepanjang perjalanan, Dika terus bungkam. Berbagai hal pasti memenuhi kepalanya, sama seperti kepalaku yang dipadati berbagai prasangka. Aku bahkan tidak menyadari kalau mobil silver ini sudah berhenti di depan rumahku.

“Sayang,” Dika memanggil saat satu kakiku sudah melangkah turun dari mobil. Aku terpaksa menoleh kembali ke arahnya.

“Ya?”

“Aku bisa cerita sedikit tentang Mas Rian.”

Beberapa detik berlalu tanpa suara. Dika mengambil napas dalam-dalam, sibuk merangkai kata yang akan keluar dari mulutnya. Dia gugup, terlihat dari keringat yang membasahi pelipis dan keningnya. Padahal, AC mobil menyala.

“Jangan dipaksa. Kamu cerita kalau udah siap aja.” Aku menepuk lengannya, tersenyum memaklumi kebiasaan buruknya yang sulit bicara saat gugup.

“Kata Mama, Mas Rian anak pembawa sial!”

Senyum di wajahku luruh seketika, bersama denyut jantung yang terasa tidak nyaman detik itu juga.

“Astaghfirullah. Apa maksudnya?”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balada Sang Pemuas
9.3
Di balik citra santun yang mereka tunjukkan pada dunia, Andre dan Nadia diam-diam memendam gairah serta fantasi intim yang begitu membara. Pernikahan mereka pun beralih fungsi menjadi wadah rahasia untuk membebaskan segala hasrat terlarang yang selama ini terkekang oleh norma sosial masyarakat. Kisah ini menyoroti perjuangan sepasang kekasih dalam menjelajahi sisi terdalam diri mereka demi meraih kepuasan sejati, tanpa harus merusak batasan moral yang ada.
Sampul Novel Cute Pumpkin & The Badboy ( Indonesia )
8.9
Aryan Mada Kusumo, pewaris Kusumo Grup yang tampan dan berjiwa bebas, terdesak oleh tuntutan pernikahan melalui perjodohan dari orang tuanya. Sementara itu, Nur Callia Maharani, seorang chef profesional, hanya ingin fokus pada kariernya. Siapa sangka, calon suami pilihan keluarganya adalah musuh bebuyutan masa kecil yang sangat ia benci. Akankah pernikahan antara wanita serius dan pria playboy ini berhasil di tengah bayang-bayang konflik masa lalu mereka?
Sampul Novel Penantian Yang Tak Kunjung Kembali
9.2
Enam tahun pernikahan rahasia dengan seorang direktur menyisakan luka bagi sang istri, terutama karena suaminya menolak dipanggil ayah oleh putra mereka. Ketika sang suami kembali mengabaikan ulang tahun anak mereka demi sekretaris wanitanya, ia memutuskan pergi membawa putranya dan mengajukan cerai. Kehilangan ini membuat sang suami yang biasanya tenang menjadi lepas kendali dan mencarinya ke mana-mana bagai orang gila. Namun, kali ini sang istri dan putranya benar-benar tidak akan pernah kembali lagi.
Sampul Novel Perceraian: Jangan Berharap Kembali
8.3
Tari memutuskan bercerai demi fokus mengurus toko kuenya setelah menangkap basah perselingkuhan Deo. Walau Deo memohon rujuk hingga rela menanggung malu, Tari tetap bergeming. Di sela gangguan sang mantan suami, hadir Noah, tetangga baru yang langsung terpikat padanya. Tari pun memanfaatkan Noah agar terhindar dari kejaran Deo. Namun, sebuah kejadian tak terduga di ranjang mengubah segalanya, hingga kini giliran Noah yang menuntut pertanggungjawaban darinya.
Sampul Novel Taaruf dengan Anak Wanita Malam
9.6
Kebahagiaan Selina melambung ketika Aqsa, pemuda saleh dambaannya yang juga putra sahabat ayahnya, Ustaz Bashor, datang mengajak taaruf. Namun, impian indahnya runtuh seketika saat rahasia kelahirannya terbongkar. Selina ternyata anak angkat yang lahir dari rahim seorang wanita malam. Kenyataan pahit ini membuat keluarga Aqsa membatalkan lamaran sepihak. Di balik kepedihan mendalam itu, sanggupkah Selina menemukan ketulusan cinta yang menerima dirinya apa adanya?
Sampul Novel Terjebak Nostalgia
8.0
Marilyn terpaksa berhadapan lagi dengan Alvaro, pria dari masa lalunya yang enggan ia temui. Sebagai cinta pertama, Alvaro tidak hanya meluluhkan hati Marilyn, tetapi juga menghancurkannya lewat kenyataan pahit sepuluh tahun lalu. Setelah satu dekade Marilyn memilih pergi untuk menjauh, takdir kini justru mempertemukan mereka kembali. Apakah pertemuan ini hanya sekadar gurauan semesta, ataukah sebuah pembuktian tentang cinta sejati yang sesungguhnya?