APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dinodai Calon Kakak Ipar

Dinodai Calon Kakak Ipar

Kesucianku direnggut oleh calon kakak ipar menjelang pernikahan. Tragisnya, aku malah dituduh menggoda dirinya hingga diusir keluarga. Demi bertahan hidup, aku terpaksa menjajakan diri pada pria kaya. Bertahun-tahun kemudian, pria brengsek yang menghancurkan hidupku itu mendadak kembali menjadi pelangganku. Ia bahkan menyewaku secara eksklusif selama satu bulan penuh. Rencana jahat apa lagi yang sedang ia persiapkan untukku?
Bab
Bagikan

Bab 3

“Sera, lo udah gila ya?!”

Sebuah tepukan mendarat di punggung, membuat kopi di mulutku menyembur. Untung saja tidak ada orang di depanku, hanya membasahi paha dan betis saja. Tanganku cepat menarik tisu untuk membersihkannya.

“Gila! Gila! Gila! Lo bener-bener gila!”

Gadis dengan hot pants dan tank top hitam itu berjalan mondar-mandir sambil menggerak-gerakkan tangannya ke sana kemari. Kepalanya bergoyang, mulutnya komat-kamit meracau tidak jelas. Aku masa bodoh, tidak mendengarkannya.

“Udah?” tanyaku lima menit berikutnya saat boneka Mampang itu berhenti bergerak. Tubuhnya lunglai di sampingku, berbagi sofa yang sama.

“Gila banget lo nolak tawaran bebas dari Madame Erina. Kalo itu gue, langsung gue terima detik itu juga. Gila asli!”

Aku terkekeh mendengar pendapat Renata yang sibuk menjambak rambutnya sendiri. Madame Erina pasti memintanya untuk membujukku. Aku yakin itu.

“Kalo gue gila, berarti lo selama ini tinggal sama orang gila, dong?” ketusku sambil melempar gumpalan tisu ke wajahnya.

“Yah, abisnya—”

“Pikiran lo bakal berubah kalau tahu cerita sebenarnya, Re.”

“Cerita apa? Dia psyco? Atau suka BDSM? Lo nggak apa-apa?”

Renata panik, memindai tubuhku. Dia takut ada goresan bekas tali, borgol, atau semacamnya seperti yang ada dalam bayangannya. Hal itu membuatku tertawa. Dia memang sahabat terbaikku sejak dulu.

“Fisik gue nggak apa-apa, Ra. Mental gue yang hancur!”

“Heih? Maksudnya?”

“Dia iblis yang udah ambil keperawanan gue. Lo rela gue nikah sama dia?”

“Hah?!” Raut wajah Renata berubah seperti orang linglung yang kehilangan memori di dalam kepala. Mulutnya terbuka lebar, tapi hanya bola matanya yang bergerak ke kanan kiri mencoba mencerna apa yang kukatakan.

“Adrian Mahendra Hutama,” lirihku sambil berjalan menjauhinya, menyembunyikan wajah menyedihkan dan genangan air tanpa warna yang terkumpul di pelupuk mata. “Dia klien sepesial yang dimaksud Madame Erina.”

“Ra, dia ….” Renata tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Sebuah anggukan kutunjukkan sebagai jawaban. 

Hening menyelimuti kami berdua. Langkahku terhenti di depan jendela kaca, mengamati jalanan di bawah sana dengan deretan mobil yang terlihat kecil karena apartemen kami ada di lantai lima belas.

“Gue nggak tahu dari mana dia dapat akses ke Madame Erina. Udah sebulan ini, dia tiap malam dateng, duduk diem berjam-jam cuma buat liatin wajah gue. Kemarin lusa, dia tiba-tiba ajak gue nikah. Hampir aja gue lempar vas bunga di atas meja.”

“Sera, lo nggak apa-apa?”

Aku berhasil menyeka mataku saat Renata menarik tubuhku untuk saling berhadapan dengannya.

“Tadi malem dia datang lagi. Akhirnya gue nekat goda dia, bahkan sengaja pakai baju paling terbuka yang gue punya. Gue nggak bisa diem aja, Re, harus bertindak kalau nggak mau diinjak-injak. Yah, walaupun gue belum pernah se-inisiatif itu sih sebelumnya.”

“Serius?! Kalian—”

“Gaklah! Otak lo ngeres aja!” Aku menoyor kepala Renata, menyembunyikan gemuruh di dalam dada dengan tawa.

“Tapi kata Madame dia puas sama pelayanan lo, makanya nggak rela kalau lo ngelayanin cowok lain.”

“Puas dari mana? Kissing aja nggak.”

“Hah? Kok bisa?”

“Bisalah. Dia kabur duluan.”

Lagi-lagi Renata ber-hah seperti sebelumnya. Kemampuan otaknya memang tidak terlalu mumpuni untuk berpikir hal-hal kompleks semacam itu.

“Astaga, Re. Wajah lo boleh glowing shining shimmering splendid, bahkan udah masuk level nge-glazed mengilap bercahaya. Tapi kok daya pikir otak lo masih rada-rada, ya? Buat apa oon dipiara? Piara kambing, tuh. Kalau gemuk bisa dijual pas lebaran haji!”

“Maksudnya?”

Aku semakin tergelak melihat wajah kebingungan Renata. Pembahasan tawaran Madame Erina justru berakhir ambigu. Aku berlalu ke kamar, tidak memedulikan wajah bodohnya yang masih berusaha mengerti candaanku.

“Sera, tadi kita ngomongin apa, sih? Gue nggak ngerti.”

“Udah, nggak usah dipikirin. Mau ke mall, nggak?” tanyaku mengeluarkan uang dari dompet, mengipaskannya di depan muka.

“Mall? Ngapain?”

“Beli kambing buat lo piara!”

Lagi-lagi aku tidak bisa menahan tawa. Terlebih sekarang Renata mengerucutkan bibirnya dengan kening berkeerut. Apa aku terlalu sering menoyor kepala dia, ya? Kemampuan berpikirnya makin menurun saja.

“Nggak lucu, ih. Kenapa jadi bahas kambing!”

“Aduh, sorry, Re. Sorry.” Aku memencet hidung untuk menghentikan tawa sebelum perutku semakin sakit. “Gue mau beli B Erl cosmetics. Krim malam gue tinggal dikit. Ntar gue traktir sekalian, deh.”

“Itu duit dari Rian?”

“Hmm … iya.”

“Lo mau pake?”

“Kenapa emangnya?”

“Kan lo benci sama dia.”

Aku tidak bisa langsung menjawab. Satu jarum tajam terasa menghunjam hatiku. Tanpa diingatkan sekalipun, aku sadar sesadar-sadarnya kalau kebencianku semakin bertambah padanya, tidak akan mudah dilupakan bagaimanapun caranya. Berapa pun uang yang dia berikan.

“Gue mau mandi dulu. Kita otw satu jam lagi, sekalian nyari sarapan. Lo mandi juga, gih.”

Aku melangkah ke arah kamar mandi, mengabaikan panggilan Renata yang mengkhawatirkan keadaanku. Punggungku bersandar di pintu setelah menguncinya, meredam gejolak yang timbul setiap mengingat kenangan buruk itu.

Tepat jam sebelas, aku dan Renata memasuki mall di kawasan M.H. Thamrin. Sama seperti biasanya, kami berkeliling keluar masuk outlet. Kalau ada yang cocok, beli. Semudah itu. Sejak menjadi pekerja malam, gaya hidupku berubah drastis. Hedonis dan boros.

Hanya dengan cara itu aku bisa pura-pura bahagia, membeli apa saja yang kusuka. Padahal sebenarnya, itu untuk menutupi luka yang tiap hari semakin besar efeknya pada kesehatan mentalku. Terlebih setelah munculnya laki-laki itu. Aku hampir gila rasanya.

“Lo mau beli lingerie, nggak?” tawarku pada Renata, iseng mengambil gaun tidur transparan warna merah muda yang ada di hanger.

“Gue?”

“Iyalah. Siapa lagi?”

“Buat apa? Lo aja sana buat godain Adrian.”

“Ih, geli!”

Aku tertawa hambar, pura-pura bisa menerima candaannya. Nyatanya, hatiku sakit luar biasa mendengar nama itu. Tak ingin membahasnya lebih lanjut, aku melangkah cepat mengembalikan gaun menjijikkan itu ke tempatnya.

Tanpa kuketahui, dari arah lain seorang pria berjalan terburu-buru dengan ponsel di telinganya. Kami sama-sama tidak menyadari satu sama lain sampai bertabrakan.  Aku jatuh terduduk di lantai. Tubuhku yang kecil jelas kalah jauh dengannya yang tegap dan atletis.

“Aduh maaf, Mbak. Saya nggak sengaja.”

Tubuhku menegang seketika saat mendengar suara itu. Suara yang amat sangat kukenal. Suara yang selalu kurindukan setiap malamnya, bahkan tidak jarang membuatku tertidur lebih dulu saat dia masih bercerita melalui telepon suara. Dulu, saat kami masih bersama sebagai pasangan kekasih.

Kuyakin dia juga sama terkejutnya denganku. Matanya membola saat kami bertatap muka. Dadanya naik turun dengan cepat, kesulitan meraup oksigen yang seolah hilang dari sekitarnya.

“Se … Sera?” Suaranya tercekat di tenggorokan. Ini pertama kalinya kami bertemu sejak kejadian memilukan hari itu. Saat aku terusir dari keluargaku, juga keluarganya.

Renata segera membantuku berdiri, berusaha membawaku pergi dari sana.

“Tunggu!”

Langkahku dan Renata terhenti. Kaki kami seolah terpancang bumi, tidak bisa digerakkan sedikit pun.

“Bisa kita bicara, Ra?”

Dan di sinilah kami sekarang, duduk berhadapan di sebuah restoran. Renata entah pergi ke mana, sengaja memberikan ruang untukku dan Dika agar bicara empat mata. Pertemuan tak terduga ini sungguh tidak pernah terbayang di kepalaku sebelumnya.

“Apa kabar, Ra?”

Kali ini napasku yang tercekat, tidak bisa meloloskan kata ‘baik’ dari mulut. Nyatanya, keadaanku buruk. Amat sangat buruk.

“Aku pangling. Kamu beda.”

Komentar singkat itu semakin menohok ulu hatiku. Setelah kejadian memilukan itu, aku memang menanggalkan jilbab yang dulu tidak pernah lepas dari kepalaku. Sebaliknya, sekarang aku terbiasa memakai baju you can see yang memperlihatkan setiap lekuk tubuhku.

“Pakai ini, ya. Takutnya kamu masuk angin.”

Dika melepas jas yang melekat di tubuhnya, sengaja menyodorkannya padaku. Aku tahu, alasannya bukan itu. Dia hanya tidak ingin aku merendahkan diriku sendiri dan menjadi santapan liar para pria. Haruskah aku menerimanya?

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh
8.1
Kepergian Mbah Tini mendorong Amara meninggalkan Solo menuju Jakarta. Selain ingin menghapus cap anak haram, ia bertekad menemukan ayah kandungnya. Amara lalu bekerja merawat Arya, cucu pengusaha kaya Hadi Pratama yang kurang mendapat perhatian. Di rumah itu, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang masih terpukul akibat dikhianati istrinya. Sembari mengasuh sang bayi dan memulihkan trauma Fathir, Amara terus mencari asal-usul dirinya di tengah keluarga yang retak.
Sampul Novel Biaya Pengkhianatan
8.2
Tujuh tahun lalu, Lorna, seorang ahli waris kaya raya, menyelamatkan bisnis Rhett dari kebangkrutan total. Berkat bantuan penuh dari Lorna, Rhett mampu bangkit hingga keduanya berujung di pelaminan. Namun, kebahagiaan malam pernikahan mereka hancur seketika. Di momen romantis tersebut, Rhett secara mengejutkan menunjukkan sebuah kontrak misterius yang membongkar niat terselubung di balik pernikahan manis mereka selama ini.
Sampul Novel CEO with Pole Dancer
7.9
Hidup yatim piatu Zia Zovanka berubah drastis setelah insiden sepele membuatnya jadi target buruan Sagara Pratama. Amarah pria berkuasa itu berujung pada direnggutnya hal paling berharga milik Zia. Sagara yang biasanya dingin pada wanita justru terus dihantui bayang-bayang Zia setelah kejadian itu. Takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali secara tidak sengaja ketika Sagara melihat Zia sedang menari di sebuah klub malam yang biasa ia kunjungi.
Sampul Novel Cinta di Jalur Cepat
7.8
Nayla rela menikahi Deddy yang koma demi balas budi masa lalu. Setelah sembuh, Deddy justru menceraikannya demi cinta pertamanya. Meski kerap dihina, Nayla sebenarnya sosok luar biasa: peretas jenius, pembalap tangguh, dan dokter ahli. Saat penyesalan datang dan Deddy memohonnya kembali, seorang CEO tampan tiba-tiba muncul dan mengklaim Nayla sebagai istrinya. Nayla pun terkejut di tengah perjuangan membuktikan jati dirinya.
Sampul Novel Cinta Yang Terenggut
7.9
Satu dekade membina rumah tangga, pernikahan Jonathan dan Theresia hancur akibat depresi karena belum dikaruniai anak. Lelah menghadapi siksaan fisik serta mental, Jonathan memutuskan menggugat cerai istrinya. Saat proses perceraian berlangsung, ia terpikat pada Karin, sekretarisnya yang berhati lembut. Namun, Theresia enggan menyerah dan berjuang mempertahankan pernikahan mereka. Sanggupkah Jonathan lepas dari sang istri, ataukah ada maksud terselubung di balik ketulusan Karin?
Sampul Novel Di Ranjang Majikanku
8.3
Binar baru memulai pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga di kediaman keluarga kaya raya. Namun, ia justru tidak sengaja menyaksikan sang tuan sedang memuaskan diri di kamar. Ketegangan meningkat saat Binar kembali tertangkap basah menguping pertengkaran sang majikan dengan istrinya. Kemarahan pria itu memicu serangkaian kebetulan yang tak terduga. Binar pun kini semakin terjerat dalam pusaran hubungan terlarang yang melibatkan dirinya dan sang majikan.