APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dinikahi Suami Majikan

Dinikahi Suami Majikan

Masa muda Laili harus berakhir secara tak terduga demi sebuah pernikahan sakral. Pria berambut putih yang selama ini menjadi majikannya dan selalu ia panggil 'Tuan', kini telah resmi menjadi suaminya melalui akad nikah secara agama. Tak pernah terlintas dalam benak Laili bahwa takdir akan membawanya ke posisi ini. Kini, ia harus beradaptasi menjadi seorang istri dari pria yang dulu ia layani, memicu konflik batin yang mendalam akibat perbedaan status sosial mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Laili berusaha fokus mengerjakan soal Ujian Nasional, di tengah kedukaan yang menghampirinya. Ini hari ketujuh kepergian sang ibu untuk selama-lamanya. Air mata Laili terus saja mengalir, saat sedikit saja menunduk untuk membaca soal ujian tersebut. Matanya berkabut, beberapa kali ia harus mengusap air mata dan air hidung yang turun bersamaan.

"Laili, kalau masih tidak bisa tenang, kamu boleh ke kamar mandi dahulu!" suara Pak Yudi yang kebetulan mengawas di ruangan X tempat Laili kini berada.

"Maaf, Pak. Saya bisa," ucap Laili dengan suara bergetar. 

Ia kemudian berusaha kembali fokus, mencoba mengatur nafas naik dan turun secara teratur. Mengusap air matanya dengan tisu yang memang ia sudah sediakan. Laili melirik jam di dinding, masih empat puluh lima menit lagi dan ia baru menyelesaikan lima belas soal. Berkali-kali Laili beristigfar agar hatinya tenang.

Alhamdulilah, pukul dua belas siang, Laili keluar dari ruangan sebagai peserta terakhir. Untung saja Bu Amar yang saat itu kebetulan mengawas di ujian kedua, mau menunggu Laili hingga selesai. Bu Amar begitu memahami kesedihan yang dialamai Laili, yang kini benar-benar menjadi yatim piatu.

"Pulang dengan apa, Li?" tanya Bu Amar.

"Naik angkutan, Bu. Sepeda anak majikan saya sedang rusak," jawab Laili tanpa semangat.

"Ada ongkos tidak?" tanya Bu Amar lagi.

"Ada, Bu. Saya permisi ya, Bu," pamit Laili sambil mencium punggung tangan Bu Amar.

"Yang sabar ya," bisik Bu Amar sambil mengusap lengan Laili.

"Iya, Bu. Terimakasih." Laili menunduk, lalu segera berlalu dari hadapan Bu Amar, wali kelasnya. Ia tidak ingin semua orang iba padanya, ia harus kuat. Walaupun ia sendiri tak yakin, bisa atau tidak.

Kakinya seakan melayang di udara saat menapaki tanah. Laili sudah kehilangan semangat hidupnya, untuk apa ia sekolah tinggi, jika ibunya telah tiada. Semuanya sia-sia. Pandangannya menoleh, saat suara parau lelaki yang ia kenal, berada tidak jauh dari tempat ia berdiri saat ini. Benar saja, ada Danu di sana. Mantan pacarnya yang kini sedang bersenda gurau dengan seorang siswi kelas dua. Berwajah cantik, berkulit putih dan terlihat energik. Senyum keduanya tak lekang, bahkan saling menggenggam jemari satu sama lain. Hal yang tidak pernah ia lakukan dulu, saat masih menjalin hubungan dengan Danu. 

Danu dan sang pacar menoleh pada Laili yang kini tersenyum tipis pada keduanya. Namun, bukannya dibalas dengan senyuman, mereka malah terlihat canggung sepersekian detik, untuk selanjutnya mereka melewati Laili seperti orang yang tidak dikenal. Air mata Laili yang belum kering, kini turun kembali. Kenapa Tuhan memberikan cobaan padanya di saat yang sama? Dua orang yang ia sayangi, pergi meninggalkan dirinya. 

"Teh Laili!" suara Doni, anak majikannya terdengar dari arah depan. Benar saja, Doni sedang berada di dalam mobil sang papa, tengah melambaikan tangan padanya. Laili menghapus air mata, lalu bergegas menghampiri mobil majikannya yang sudah menunggu di depan gerbang sekolah.

"Kenapa, Don?" tanya Laili.

"Eh, kok malah nanya. Ini lho, kita emang mau jemput Teteh," sahut Doni sambil memerintah Laili membuka pintu penumpang belakang. Laili menurut, ia membuka pintu penumpang belakang, lalu duduk dengan sedikit risih. Ini adalah pertama kalinya sang majikan menjemputnya. Ada apa ya? Laili bermonolog.

Mobil berjalan dengen kecepatan sedang membelah jalan ibu kota. Tidak ada pembicaraan di dalamnya, Laili kini memejamkan mata. Jujur, hati, pikiran, dan tubuhnya begitu lelah selama sepekan kepergian sang ibu. Sedangkan Doni asik bermain gadgetnya. Sesekali Arya melirik Laili yang masih saja berwajah sembab, dan mata tertutup. Jelas sekali terlihat, bahwa gadis remaja ini masih berkabung atas kematian sang ibu. Keluarga satu-satunya yang ia punya. Ada air mata yang tampak menetes di sudut matanya. 

Arya Jovan, lelaki dewasa berusia tiga puluh delapan tahun menarik nafas panjang, lalu menghembuskan cepat, sambil mengusap wajahnya kasar ia kembali fokus pada jalanan padat merayap di depan sana. Tak lama, mobil berhenti di sebuah toko roti. Laili terbangun dari tidurnya, sambil mengucek kedua matanya, mencoba memperhatikan sekeliing. 

"Li, tolong belikan roti untuk Nyonya!" ujar Arya sambil memberikan uang seratus ribu rupiah.

"Baik, Tuan. Roti yang biasakan?"

"Iya. Cepat ya!" pesan Arya pada Laili.

Laili turun dari mobil, lalu dengan setengah berlari masuk ke dalam toko roti langganan keluarga majikannya ini. Ia memilih beberapa roti yang biasa dibeli oleh majikannya. Lalu mengantre di kasir untuk membayar belanjaannya. Setelah membayar di kasir, Laili kembali berlari masuk ke dalam mobil.

"Ada semua?"

"Ada, Tuan."

Mobil kembali melanjutkan perjalan ke rumah keluarga Arya. Hanya perlu waktu lima belas menit, mereka telah sampai di pekarangan rumah. Ada seorang wanita paruh baya yang tengah menyuapi Dira, di teras rumah.

"Teh, itu Bik Kokom. Dia yang akan membantu Teteh mengerjakan pekerjaan rumah, betulkan, Pa?" ujar Doni sambil bertanya pada sang papa.

"Iya."

Ketiganya turun, Laili berjalan di belakang sang majikan, membiarkan lelaki di depannya lebih dulu masuk ke dalam rumah. Sedangkan ia berhenti sebentar berkenalan dengan Bik Kokom, serta menggoda Dira yang sangat mengenalinya.

"Assalamualaikum, Bik. Saya Laili." Laili mengulurkan tangan untuk bersalam.

"Wa'alaykumussalam. Saya Bik Kokom." Keduanya berbasa-basi sebentar, kemudian Laili pamit masuk ke dalam rumah. Ia masuk ke dalam kamar yang kini harus berbagi dengan Bik Kokom. Cepat Laili mengambil pakaian ganti, lalu ia bawa ke kamar mandi. Setelah mandi, bersih, dan segar. Laili melanjutkan pekerjaan rumah yang biasa ia lakukan sepulang sekolah, yaitu mencuci piring, mengangkat pakaian dari jemuran, serta menjaga Dira.

"Teh Laili, dipanggil papa dan mama!" seru Anes dari lantai atas.

"Iya, De. Sebentar," sahut Laili sambil mematikan kran air dan mengeringkan tangannya. Kakinya melangkah ringan naik ke lantai atas, tempat di mana kamar majikan dan anak majikannya berada.

Tuk!

Tuk!

"Masuk."

Laili membuka pintu kamar majikannya perlahan, sudah ada kedua majikannya di sana dengan wajah terlihat cukup serius.

"Duduk di sini saja!" Bu Ririn menepuk kursi kecil di samping tempat tidurnya. Laili yang tadinya ingin duduk di lantai, kini sudah berdiri dan duduk dengan kaku tepat di depan majikannya. Tuan Arya berwajah masam, sedangkan Nyonya Ririn tersenyum padanya.

"Ada apa ya, Nyonya?" tanya Laili sambil menunduk, ia tidak berani mengangkat wajahnya.

"Kamu mau tidak, menjadi maduku?"

"M-madu apa, Nya?" kali ini Laili menatap Bu Ririn dengan penuh tanda tanya.

"Istri kedua suamiku."

"A-apa?"

****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DILEMA KARENA CINTA
9.2
Pasca pertengkaran besar dengan Raka, Adam memutuskan menceraikan Fani Santika. Perpisahan itu mengubah kepribadian Adam menjadi sosok yang dingin dan angkuh. Ketenangannya mulai terusik sejak kehadiran Ririn, gadis desa pencari kerja yang akhirnya menjadi pengasuh putrinya, Sasa. Walau perasaan Ririn sebenarnya tertuju pada Bagas, ia justru menemukan kenyamanan luar biasa saat berada di dekat Adam. Kini, Ririn didera dilema batin untuk menentukan pilihan cinta sejatinya.
Sampul Novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami
8.9
Jasmine Bintang, yang memiliki keterbatasan fisik sejak lahir, kerap mengecewakan sang ibu. Harapan indahnya untuk bahagia bersama Ardan Mahendra, suaminya yang sukses, sirna ketika keluarga Ardan terus merendahkannya. Kehadiran Anindya, mantan kekasih Ardan yang membongkar kepalsuan pernikahan mereka, kian memperparah penderitaan Jasmine. Saat Jasmine memilih bercerai demi harga dirinya, Ardan justru menolak keras dan mengancam tidak akan melepaskannya.
Sampul Novel Godaan Teknisi AC
9.1
Kehadiran seorang teknisi AC di rumah pada larut malam membawa perubahan drastis yang tak terduga. Sentuhan jemari pria asing itu membangkitkan sensasi intens yang belum pernah dirasakan sang istri sebelumnya. Di tengah pergolakan gairah yang terlarang, sang teknisi bertindak nekat dengan menarik rambutnya dan memaksa wanita itu menghubungi suaminya sendiri. Meski telah memohon demi menyelamatkan pernikahannya, panggilan telepon tersebut telanjur tersambung, mengancam membongkar rahasia malam itu.
Sampul Novel Guruku Suamiku
8.4
Demi menyelamatkan warisan keluarga Darmawan, Arjuna harus memenuhi wasiat mendiang ayahnya untuk menikahi Asmara, siswi SMK berumur 17 tahun. Penolakan akan membuatnya kehilangan segalanya, sementara ayah Asmara, Pak Banu, terancam bui akibat kasus kecurangan bisnis masa lalu. Kini, Arjuna harus membujuk gadis muda tersebut agar bersedia menikah demi masa depan mereka berdua. Mampukah pernikahan akibat paksaan ini berjalan dengan lancar?
Sampul Novel Menikah Dengan Keponakan
9.0
Satu kekeliruan fatal memaksa Aeris dan Leon terikat dalam pernikahan tanpa rasa cinta. Perbedaan umur yang jauh serta watak yang bertolak belakang membuat rumah tangga mereka terus diwarnai perselisihan. Leon yang bersikap dingin kini harus bersabar menghadapi perilaku aneh Aeris sehari-hari. Situasi kian rumit ketika cinta pertama Leon mendadak kembali hadir. Akankah Leon sanggup bertahan menjaga komitmen pernikahannya, atau justru memilih kembali pada masa lalunya?
Sampul Novel Pudarnya Pesona Janji
8.5
Kehidupan Iman berubah total setelah dilamar oleh Haji Junaedi untuk menikahi putrinya, Intan. Rupanya, Intan sudah lama mengagumi Iman sejak mereka masih di bangku SMP. Walaupun jarak usia keduanya terpaut jauh dengan Iman yang lima tahun lebih tua, pernikahan mereka tetap dilangsungkan. Bagaimana kelanjutan biduk rumah tangga Iman setelah menerima lamaran mengejutkan dari sang juragan? Inilah kisah cinta penuh ujian tentang janji yang mulai memudar.