APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dinikahi Suami Majikan

Dinikahi Suami Majikan

Masa muda Laili harus berakhir secara tak terduga demi sebuah pernikahan sakral. Pria berambut putih yang selama ini menjadi majikannya dan selalu ia panggil 'Tuan', kini telah resmi menjadi suaminya melalui akad nikah secara agama. Tak pernah terlintas dalam benak Laili bahwa takdir akan membawanya ke posisi ini. Kini, ia harus beradaptasi menjadi seorang istri dari pria yang dulu ia layani, memicu konflik batin yang mendalam akibat perbedaan status sosial mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Teh Laili! Kaus kaki Doni ke mana nih yang warna hitam?" teriak Doni, si sulung yang berusia tiga belas tahun pada Laili, pembantu rumah tangganya yang sedang sibuk memasak nasi goreng di dapur.

"Udah, sana gih! Cariin kaus kaki Doni," titah ibunya yang juga ART di rumah keluarga Arya Jovan dan Ririn Anastasia.

Laili mengangguk. Lalu dengan setengah berlari naik ke lantai dua. "Iya, sebentar Teteh carikan!" sahutnya dengan sedikit berteriak.

"Laili, obat nyonya yang harus diminum pagi hari sudah kamu berikan?" suara bariton berat membuat langkah Laili berhenti, lalu menoleh pada majikannya yang bernama Arya Jovan, suami dari Ibu Ririn Anastasia.

"Belum, Tuan. Sebentar lagi, saya mau cari kaus..."

"Teeh, cepaaat!" teriak Doni semakin kencang dari kamarnya.

"Permisi, Tuan," pamit Laili, lalu berlari masuk ke dalam kamar Doni.

Ternyata, kaus kaki yang diminta oleh Doni sudah ia masukkan ke dalam tas tadi malam. Pantas saja mencari hingga sepuluh menit tidak ketemu. Wajah Laili memucat saat Doni mulai marah-marah karena kaus kakinya tidak ditemukan.

"Maaf, Teh. Ternyata ada di dalam tas," ujar Doni sambil menyeringai.

"Teteh...tolong kuncirin rambut Anes!" suara anak kecil berusia enam tahun, memanggil Laili untuk meminta dirapikan rambutnya. Dengan tersenyum, Laili menghampiri gadis kecil itu, lalu membantunya mengikat rambut.

"Mau dikepang seperti teteh," pintanya menunjuk rambut Laili yang selalu saja dikepang dua.

"Tidak bisa, Anes sayang. Rambut Anes masih kurang panjang untuk dikepang. Nanti ya kalau sudah lebih panjang," terang Laili dengan lemah lembut.

"Ya sudah." Gadis kecil itu pun menurut.

"Laili, tolong buatkan susu Dira!" teriak Bu Ririm dari kamarnya. 

Dira, bayi berusia sepuluh bulan yang sangat lucu dan menggemaskan. Laili begitu betah berlama-lama bila bermain bersama bayi gembul itu. Jika semua minta tolong padanya, lalu ke mana ibu mereka, sang Nyonya rumah?. Bu Ririn mengalami lumpuh permanen sesaat setelah melahirkan bayi Dira, sepuluh bulan lalu. Sehingga untuk mengurus rumah tangganya, ia mempekerjakan Bu Laila dan juga puterinya Laili. 

"Laili, cepat! Dira nangis ini!" seri suara Bu Ririn lagi, menyadarkan Laili dari lamunnya.

"Ah, iya Nyonya."

Semua ia lakukan dengan semangat penuh dan suka cita. Karena apa? Karena keluarga Bu Ririn sudah mau membiayai sekolahnya hingga ia hampir lulus SMA satu bulan lagi. Laili dan ibunya, tentu saja tidak bisa membalas kebaikan keluarga Bu Ririn, selain dengan bekerja sebaik-baiknya.

****

Laili mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi menuju sekolah. Keringat mengucur deras membasahi baju seragam putih abunya. Tak pernah ia pedulikan penampilannya seperti teman-teman sekolah seusianya. Hanya mengenakan ransel besar milik Tuan Arya yang sudah tidak terpakai, serta rambut yang selalu saja dikepang dua. Tidak mengenakan jam tangan ataupun aksesoris yang lain. Ia berpenampilan apa adanya.

Senyumnya terbit tatkala berpapasan dengan Danu, teman sekolahnya yang sudah setahun ini menjadi pacarnya. Meskipun tidak pernah berkencan seperti teman-teman lainnya, tetapi hubungan mereka tetap baik.

"Hai, Danu," sapa Laili dengan senyum manisnya. Laili segera memarkirkan sepeda lipat milik Doni, anak majikannya yang selalu di pakai ke sekolah. Danu tidak menjawab, hanya tersenyum tipis saja. Laili terheran, kenapa Danu berwajah masam? Apa mungkin ada masalah di rumahnya? Laili bermonolog. Memperhatikan Danu yang berjalan lebih dulu menuju kelas, meninggalkan dirinya yang masih tergugu di parkiran.

Laili merapikan baju, poni, berikut membetulkan letak tas ranselnya. Kemudian berjalan penuh semangat masuk ke dalam kelas.

Dua jam pelajaran sudah berlangsung, sebenarnya hanya tinggal penyampaian materi yang tertinggal saja, karena minggu depan mereka sudah melaksanakan Ujian Nasional. Laili menoleh ke belakang, tempat Danu duduk bersama Faisal, teman sebangkunya. Pacarnya itu berwajah murung dan tanpa bicara sedikit pun padanya.

Laili menghela nafas panjang, lalu kembali memperhatikan penjelasan dari guru. Saat jam istrirahat tiba, seperti biasa, Laili membawakan bekal untuk Danu. Kakinya ringan melangkah ke kantin, karena saat jam istirahat seperti ini, mereka selalu makan bekal berdua di kantin.

"Danu, kamu sakit ya?" tanya Laili kini sudah duduk di samping Danu. Tangan kanannya menyerahkan kotak bekal pada Danu sambil tersenyum pada angin, karena Danu tidak sedikit pun menoleh padanya.

"Hari ini, ibu masak ayam goreng rempah. Enak deh, ayo makan!" Laili membukakan bekal makan untuk Danu.

Prraaak!

Danu menghempas kotak bekal pemberian Laili, membuat gadis itu tersentak kaget. Semua orang yang berada di dekat mereka juga ikut memperhatikan kotak bekal yang telah berhamburan isinya di lantai kantin.

"A-ada apa, Nu?'" tanya Laili dengan tergagap. Air matanya sudah turun dengan deras membasahi kedua pipinya.

"Aku bosan dengan kamu, Laili. Mulai hari ini kita putus!" Danu menghentakkan kursi kantin di depan Laili, lalu meninggalkannya. Gadis itu masih menangis sedih, butiran nasi yang berserakan membuat hatinya sakit. Ayam goreng rempah yang sangat enak itu, terlihat mengenaskan berada di bawah kolong meja kantin. Dengan kaki gemetar, ia mengambil sapu yang tak jauh dari mejanya. Tangannya yang juga gemetar, memungut satu per satu benda yang teronggok lantai. Mulai dari kotak bekal, tutup kotaknya, serta ayam goreng yang telah kotor.

Semua mata memandang Laili dengan iba, tetapi ada juga yang cuek saja.

"Laili, ada apa?" Suci teman sebangku Laili menghampiri Laili di kantin. Betapa kagetnya ia, saat melihat Laili menangis dengan kotak bekal yang ia pegang sambil bergetar.

"Danu memutuskan hubungan kami," lirih Laili begitu sedih. 

"Ya Allah, emangnya kenapa?" tanya Suci. Laili menggeleng tidak tahu. Lalu melanjutkan kegiatan menyapu membersihkan remah nasi di lantai kantin.

Air matanya susah sekali diajak berhenti, bahkan hingga jam pelajaran berakhir di pukul dua siang. Tidak berani kepalanya menoleh ke bangku belakang, hatinya begitu sakit saat ini. 

"Kamu bisa pulang dalam keadaan sedih begini?" tanya Suci saat mengantar Laili ke parkiran sepeda.

"Bisa, hiks... Aku ga papa , kok. Terimakasih Suci, aku pulang dulu ya," Laili mencoba tersenyum pada sahabatnya Suci. Lalu mulai mengayuh sepeda menuju rumah majikannya.

Dada Laili berdebar kencang, ia begitu sakit hati dan terpukul bila mengingat perlakuan Danu padanya di kantin tadi. Apa yang salah dengan dirinya? Bukannya dia menyukai Danu, begitu juga Danu. Ia setiap hari membawakan makanan untuk pacar ABGnya itu, bahkan ia juga membantu Danu mengerjakan PR. Apa yang salah dengan semua yang ia lakukan?

Air matanya tak kunjung berhenti saat ia sampai di rumah majikannya. Sudah ada Tuan Arya dan beberapa orang di dalam rumah majikannya dengan bendera kuning yang menempel di pagar rumah. Dada Laili semakin berdebar, apakah Nyonya Ririn? Ya Allah. Dengan wajah pucat, Laili mengayuh sepedanya memasuki pekarang rumah majikannya.

"Ya Allah, Laili. Untung kamu sudah pulang," ujar Tuan Alam, adik dari Tuan Arya.

"Ini ada apa, Tuan?" tanya Laili bingung.

"Laili, maaf. Bu Laila kena serangan jantung dan.."

"Apa?!"

****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ciuman Pengkhianat
8.4
Sebuah unggahan video memperlihatkan Arkan, suami yang sangat kupercayai, berciuman mesra dengan Lidya saat bermain kartu. Alih-alih merasa bersalah, Arkan justru membentak dan menuduhku terlalu sensitif saat aku memberikan ucapan selamat di unggahan tersebut. Pengkhianatan ini menyadarkan diriku bahwa pernikahan dan hubungan yang kami bina selama tujuh tahun kini tidak lagi memiliki arti. Sudah saatnya bagiku untuk melangkah pergi meninggalkan segalanya.
Sampul Novel Dulu Kau Buang Aku, Kini Aku Milik Pamanmu!
9.8
Silvia mengorbankan segalanya demi menikahi Sienzo Gunawan lewat investasi 20 triliun. Namun, di malam pernikahan, ia justru dijebak dan ditiduri belasan teman Sienzo hingga hamil dan tewas saat bersalin di ruang bawah tanah. Terbangun kembali di masa lalu tepat saat keluarga Gunawan memohon investasi dan pernikahan bisnis tersebut, Silvia memutuskan untuk mengubah takdirnya. Kali ini, ia tidak akan menjadi korban lagi, melainkan membuat Sienzo membayar semua kekejamannya di masa lalu.
Sampul Novel Perempuan Bersuami Tiga
8.1
Kegagalan pernikahan pertama akibat benturan kepribadian membawa Maya ke pelarian ekstrem. Ia nekat menikahi tiga lelaki berbeda secara rahasia. Namun, kebohongan rumit ini mulai goyah saat para suaminya mencium kejanggalan. Begitu kedoknya terbuka, Maya harus bersiap menerima konsekuensi fatal atas pengkhianatan tersebut. Di tengah hancurnya rasa percaya, ia kini dipaksa menentukan jalan hidup dan mempertanggungjawabkan semua tindakannya.
Sampul Novel Ranjang Kakak Ipar.
8.1
Pernikahan menjadi mimpi buruk bagi Ayudia saat ia dipaksa bersanding dengan Aidan, kakak iparnya. Aidan yang didera duka mendalam atas kematian istrinya—kakak kandung Ayudia—meluapkan dendam dan rasa sakit itu melalui siksaan kejam kepada Ayudia. Terperangkap dalam rumah tangga yang menyerupai neraka, Ayudia harus menghadapi trauma psikologis yang sangat berat akibat kebrutalan suaminya. Sanggupkah ia bertahan melewati penderitaan ini, ataukah ada kebahagiaan tersisa untuknya?
Sampul Novel Rara Series - Intimate Partner
9.1
Kehidupan Rara berubah drastis setelah bertemu Jo. Kasih sayang Jo membuatnya merasa sangat berharga, hingga ia patuh pada setiap keinginan pria itu. Namun, situasi menjadi rumit ketika Jo mengaku ingin mendekati Chatrin, sahabat dekat Rara. Bukannya merasa cemburu, kesetiaan Rara yang luar biasa justru mendorongnya untuk membantu Jo. Kini, Rara harus berjuang menghadapi batas kepercayaan dan jati dirinya di tengah hubungan mereka yang makin pelik.
Sampul Novel Wanita Dambaan Sang Bilionaire
9.7
Caid Walton, miliarder rupawan berumur 26 tahun, terkenal dengan julukan Lady-Killer karena kekuasaannya. Ia kerap berganti pasangan dan tak pernah berpacaran lebih dari tiga bulan. Namun, reputasi tersebut runtuh seketika saat ia mengenal Relova Luvena. Bukannya ditinggalkan seperti para wanita terdahulu, Lova justru berhasil mengacaukan hidup Caid dan menguji batas kesabarannya. Kini, sang penakluk wanita itu malah dibuat tak berdaya olehnya.