APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dinikahi Mas Pandu

Dinikahi Mas Pandu

Zita memulai hidup baru di kota tempat Pandu bekerja setelah lamaran kilat dan pernikahan kilat dalam empat jam. Meski sering dibuat kesal, Zita bertekad mengabaikan godaan sang suami yang masih sabar menanti malam pertama mereka. Namun, prinsipnya goyah saat melihat Pandu bersikap kelewat ramah pada orang lain. Cemburu mulai membakar hatinya. Akankah pertahanan Zita runtuh oleh rasa cemburu, atau ia sanggup bertahan?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Mas! Ini serius boleh di tanamin bunga sama aku?" teriak Zita sambil memegang skop kecil dan bibit bunga di tangannya.

"Hm," jawab Pandu sembari bermain game di ruang tengah rumah mereka di kota Dumai.

"Bibit bunganya hidup nggak di tanam di sini?! Nanti mati belum keluar pucuknya?" Masih berdiri di pintu ruang tamu, Zita menatap suaminya yang mengangguk.

"Mas!" Panggil Zita lebih kencang. Pandu menoleh.

"Tanam aja, kalau mati, tanam lagi yang baru." Sahutnya santai dengan nada suara beratnya.

"Aku tanam bunga bangke sekalian aja kalau gitu." Ambek Zita.

"Ide bagus, Zit! Kamu bisa masuk TV karena rumah kita viral, ada bunga bangkenya." Sahut Pandu lagi. Zita kesal, baru pindah setelah satu minggu menetap di hotel, mendadak ia emosi karena Pandu terlalu cuek, santai dan masa bodoh dengan apa saja yang istrinya lakukan itu dengan semua yang ada di rumah.

Zita senang menanam bunga, beruntung halaman rumah itu masih bisa ditumbuhi rerumputan walau cuacanya panas terik. Ia belum sempat berkenalan dengan tetangga, karena lagi-lagi, Pandu mager kalau udah di rumah.

Tak lama kemudian....

"Zit! Zita!" Panggil Pandu dari dalam rumah. Wanita yang sadar namanya di panggil, sontak mematikan keran yang tersambung dengan selang, karena ia sedang menyiram bibit tanamannya.

"Ya," jawab Zita sudah berdiri di dekat suaminya itu.

"Makan, Zit, laper." Tatap Pandu sembari tersenyum. Pandu tak lagi brewokan, sesuai janji, suaminya itu mencukur hal yang membuat Zita sebal.

"Makan mie instan mau? Kamu tau kan aku--"

"Nggak bisa masak. Tau, yaudah bikinin, pake telor, cabe rawitnya tiga."

"Ya." Zita lalu berjalan melewati Pandu yang melirik seraya mengulum senyum. Kegiatan Zita di dapur masih bisa dilihat Pandu, rumah itu tak besar. Ruang tamu kecil, ruang tengah yang jadi satu dengan ruang makan, lalu dapur, ruang jemur baju di dekat dapur, dan dua kamar, rumah type 36 itu cukup bagi mereka.

"Zit, aku udah ngurus surat numpang nikah, tapi nggak bisa bulan depan ke Yogyanya, gimana?" Pandu bertanya dengan mata menatap layar televisi 52 inch dengan stik PS di tangannya.

"Gimana apanya?" Zita balik bertanya. Pandu menekan tanda henti sementara dibenda yang sedang ia pegang.

Saatnya isengin Zita. Ucap Pandu dalam hati.

Grep.

Tangan Pandu memeluk pinggang istrinya dari belakang. Zita berdiri mematung.

"Lepas. Mas! jangan sampai nih air kuah mienya tumpah ke mana-mana." Kesal. Zita jelas kesal, karena perjanjiannya kan, harus nikah sah di negara baru ada kegiatan enak-enak. Lagi pula, surat keterangan nikah agama dan sementara itu, juga tak bisa dilaporkan ke kantor untuk catatan fasilitas kesehatan dari kantor Pandu untuk Zita.

"Terus kapan, Zita sayang," ledek Pandu. Ujung hidung bangir Pandu menggesek wajah Zita yang memilih menjauhkan wajahnya dari hadapan Pandu.

"Mas! Ih! Jangan ngarep sebelum aku pegang buku nikah." Ia melepaskan pelukan tangan Pandu.

"Oke. Gini aja kalau gitu." Pandu menangkup wajah Zita. Dengan cepat pria itu mengecup berkali-kali bibir Zita. Dasar modus. Awalnya iseng, ujung-ujungnya nyosor. Zita protes, ia menghapus jejak bibir suaminya dengan punggung tangan. Kedua matanya menatap tajam. Ia menginjak kaki Pandu sekuat tenaga lalu membawa mangku berisi mie rebus telor extra rawit tiga ke meja makan. Pandu cekikikan, tapi seketika ia syok. Zita menikmati mie rebus requesannya dengan santai. Mengabaikan dirinya yang lapar.

"Heh anak kecil! Aku yang minta. Sini!" tegur Pandu. Zita melirik sinis, ia memunggungi suaminya. Menikmati mie rebus yang buru-buru ia tiup lalu menikmatinya. Pandu menelan ludahnya, ia lapar, auto ngiler.

"Zita..." bujuknya.

"Ngalah sama anak kecil, bikin sendiri sana." Oceh Zita. Pandu bersedekap.

"Oh, gitu. Dosa kamu lho, nyuruh-nyuruh suami."

Mulai, seminggu ini senjata andalan Pandu kalau Zita menolak ini itu bawa-bawa dosa. Zita yang tau, ia pun kesal. Di sodorkannya mie yang masih banyak isinya ke arah Pandu, ia melirik sinis lalu beranjak. Beralih ke panci bekas membuat mie yang ia cuci bersih, tak lupa merapikan piring-piring juga.

Pandu tersenyum sembari menikmati mie rebusnya. Zita akan membalas keisengan Pandu. Ia sudah menyediakan air minum juga untuk suaminya itu, semakin membuat Pandu tersenyum. Istrinya melangkah menjauh, tapi mendekat ke PS 5 yang sedang dimainkan suaminya.

"Zita, jangan coba-coba..." tegur Pandu. Zita berjalan santai, lalu,

Sret.

Dengan santai mencabut sambungan listrik yang otomatis mematikan televisi dan PS 5 itu. Ia berjalan cepat ke teras. "Rasain! Balasa dendam itu menyakitkan, kapten!" teriaknya. Pandu hanya bisa pasrah sembari mengusak rambutnya kasar. Kesal dengan balas dendam istrinya itu, tapi ia tak menampik jika level kematangan mie rebus dan telor buatan Zita, baginya sempurna dan sesuai seleranya.

***

"Belanja seperlunya. Jangan boros." Belum apa-apa Pandu udah bawel, padahan Zita mengambil barang sesuai dengan daftar yang sudah ia catat dari rumah. Pandu merangkul bahu Zita yang tinggi tubuhnya hanya seketiaknya. Tapi hal itu yang membuat Pandu gemas.

"Jangan pegang-pegang, belum halal seratus persen." Tegur Zita.

Pandu cuek, ia justru kembali modus dengan berdiri di belakang istrinya yang lagi memilih deodoran untuknya, dengan meletakkan dagu di atas kepala Zita.

"Berat, Mas," keluh wanita itu yang menghindarkan kepalanya dari dagu Pandu.

"Pendek, sih. Kirain ganjelan dagu." Lalu Pandu berjalan sambil mendoring keranjang belanjaan.

"Pindik sih, kiriin ginjilin digi. Modus banget!" Dumel Zita. Ia sudah memilih deodoran yang wanginya ia sukai. Pandu udah bilang kalah ia suka merek R, tapi Zita tak suka, ia mau Pandu memakai merek N. Pandu ngalah karena Zita berbicara ...

Emang kamu suami siapa? Yang nanti tiap hari tidur sambil peluk kamu siapa? Yang usel-usel siapa? Cewek lain? Nggak kan, aku. Yaudah, ini aku suka wanginya.

Pandu ngalah, dari pada misi mencoblos Zita gagal tanpa menunggung buku nikah, maka ia turuti kemauan istrinya itu. Mereka sudah berdiri di kasir, keranjang cukup penuh, kedua mata Pandu melirik ke kotak durex dan sutera. Ia kembali iseng.

"Zit," bisik Pandu ke telinga Zita. Wanita itu menoleh, begitu dekat jarak wajahnya dengan wajah tampan juga dewasa suaminya itu. "Ada kondom. Beli, yuk. Kita cobain, kata orang-orang, masih bisa kerasa enak kok, yuk, cobain."

Usaha terusss, Mas Pandu emang. Membuat Zita goyah, namun ia ingat ucapannya.

"Boleh, Mas, tapi, tunjukin buku nikahnya, mana?!" Pelotot Zita dengan suara penuh penekanan.

Gagal modusnya, Pandu hanya membuang napas kasar. Kedua matanya menangkap sorot mata Zita yang melihat video boyband korea yang sedang diputar di layar televisi besar. Istrinya senyum-senyum, membuat gerah Pandu. Lagi-lagi, ide iseng Pandu muncul. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Zita.

"Joged-joged doang aku juga bisa, apalagi goyang-goyang gitu, mau cobain nggak, Zit, yuk, di atas kasur kita."

Usaha lagi, namun Zita bergeming, ia seolah budeg mendadak dengan ocehan suaminya. Pandu kesal, ia menatap sinis ke layar televisi, dan seolah para anggota boyband itu bernyanyi dan berjoged meledeknya puas dengan goyangan pinggul ke bawah.

Asyem. Keluh Pandu dalam hati.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Cinta Dan Obsesi
7.8
Sebagai kelanjutan kisah Ikhlasku dengan takdirku, Laras diasuh keluarga kaya setelah yatim piatu. Tragisnya, sang pengadopsi adalah dalang kematian ibunya yang kini berpura-pura bertanggung jawab. Bukannya bahagia dalam kemewahan, Laras justru menjadi target obsesi gelap dari kakak angkatnya sendiri. Di tengah pusaran konflik dan rintangan yang begitu rumit, mampukah perasaan obsesif tersebut terkikis dan berubah menjadi ketulusan cinta sejati?
Sampul Novel Hasrat Istriku
8.4
Naya menghadapi pilihan sulit antara mengejar mimpi dalam karier atau menjaga keutuhan rumah tangganya. Demi mempertahankan posisi di tempat kerja, ia terpaksa menyembunyikan status pernikahannya dari semua rekan kerja. Walau sangat menyayangi Ghiyas, ambisi besar Naya terus menguji kesetiaan cintanya. Di awal pernikahan mereka yang masih seumur jagung, ia kini dituntut untuk mengambil keputusan besar. Apakah ia akan memilih pekerjaannya atau mempertahankan suaminya?
Sampul Novel HIGH SCHOOL LOVE ON
8.7
Devano, murid pintar yang terkekang ambisi orang tuanya, menemukan warna baru saat bertetangga dengan Bea Miller, siswi pindahan yang pemberontak. Di balik perbedaan mereka, keduanya kerap menghabiskan malam bersama untuk saling mencurahkan isi hati. Sayangnya, sebuah liburan pantai membuat orang tua Devano murka dan memisahkan mereka. Waktu berlalu, kenangan akan Bea menuntun Devano menjadi fotografer sukses, sementara Bea berhasil meraih impiannya sebagai menteri luar negeri.
Sampul Novel Kau Layak Menderita
8.1
Pernikahan paksa akibat jebakan Rafael Donovan menghancurkan hidup Selina. Ketika kecelakaan membuat Rafael lumpuh, Selina melihatnya sebagai karma. Ia pun bertahan demi membalas dendam dan merebut kekayaan suaminya. Namun, kebencian Selina goyah saat ia mulai melihat kerapuhan serta penyesalan mendalam dalam diri Rafael. Kini, ia terjebak dilema besar antara menuntaskan dendamnya atau menerima perasaan asing yang mulai tumbuh untuk pria yang seharusnya ia benci.
Sampul Novel RAHASIA DI BALIK KEBAHAGIAAN
9.3
Rumah tangga yang tampak sempurna ini seketika runtuh saat perselingkuhan sang suami dengan rekan kerjanya mulai terendus. Didorong rasa curiga, sang istri memutuskan untuk menyelidiki sendiri kebenaran tersebut. Namun, pencarian bukti itu justru membawanya pada penemuan konspirasi kelam yang jauh lebih mengerikan hingga mengancam keselamatan jiwanya. Kini, ia harus bertahan dan menghadapi kenyataan pahit di balik topeng kebahagiaan semu pernikahan mereka.
Sampul Novel Rahasia Mantan Istriku
8.9
Pasca bercerai, Dewi membalas penghinaan Kresna dengan cara tak terduga: menjadi tunangan musuh bebuyutan mantan suaminya itu. Saat Kresna meremehkan aksi balas dendam ini, identitas rahasia Dewi mulai terungkap. Ternyata ia adalah pianis kelas dunia, desainer Kumala, hingga investor misterius. Kresna terkejut menyadari bahwa wanita yang ia sia-siakan adalah sosok impiannya. Namun, mampukah ia memenangkan hati Dewi kembali saat rahasia besar lainnya mulai muncul?