APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Diminta Menjadi Madu

Diminta Menjadi Madu

Kecewa pada suaminya, Ningroem kerap mencurahkan isi hati kepada Ratna, tetangganya. Merasa iba dengan perjuangan hidup Ningroem, Ratna justru memintanya menjadi istri kedua Dani, suaminya. Walau awalnya enggan, Ningroem akhirnya menerima tawaran itu. Saat Ningroem mengandung, persaingan batin mulai membara di antara kedua istri demi merebut hati Dani. Namun setelah kematian Ratna, Dani yang enggan beristri satu berniat menikah lagi. Menolak dimadu kembali, Ningroem pun memilih menjanda.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Ma --- maaaaa."

Suara Fahmi mengagetkan Ningroem. Fahmi ---anak pertamanya bangun kemudian mencari Ningroem ----ibunya yang tidak terlihat di dalam kamar.

Padahal usianya sudah lima tahun, tapi ia masih saja mencari ibunya jika baru saja bangun tidur.

"Sini Aa, mama di depan," sahut Ningroem memberitahukan keberadaannya.

Terdengar Fahmi turun dari tempat tidur, berjalan menghampiri Ningroem yang berada di ruang utama. Fahmi berjalan menuju kursi kemudian merebahkan tubuhnya kembali, sepertinya anak pertama Ningroem masih mengantuk.

Melihat anaknya ---Fahmi bersikap seperti itu. Ningroem bertanya,

"Aa, masih ngantuk?"

"Iya," jawab Fahmi singkat seolah enggan untuk menjawab pertanyaan dari ibunya.

"Aa, Mama hari ini tidak masak itu,  ada nasi uduk buat Aa di dapur. Makan sekarang gih. Jika sudah dingin nanti rasanya tidak enak."

Ningroem menunjukan nasi uduk yang baru saja dibelinya. Yang  masih berada di dalam kantong plastik. Baru ia taruh beberapa menit lalu di atas meja dapur.

"Aa makan ya, laper."

Fahmi perlahan bangkit kemudian ia melangkah ke dapur, untuk mengambil nasi uduk yang ditunjukkan oleh ibunya.

"Iya makan memang beliin buat Aa, kalau kurang buka yang satu lagi, ya?

Fahmi membawa nasi uduk yang masih berada di dalam kantong plastik. Membawanya kemudian duduk di lantai yang beralaskan karpet. Tangannya perlahan membuka kantong plastik dan membuka bungkusan kertas. Fahmi makan dengan lahap mungkin memang dia lapar.

"Mas Bram kok belum kembali ya? Jangan-jangan dia pergi gitu aja ninggalin Aku disini sama anak-anak. Duh jika benar seperti itu bagaimana nasibku dan kedua anakku? Ya Allah semoga saja tidak. Kembalikan Bram padaku ya Allah rasanya aku belum siap jika harus hidup tanpanya," rintih Ningroem di dalam hatinya. Hingga tak terasa air mata menetes dari sudut  kedua matanya.

Ningroem beranjak dari duduknya, untuk mengerjakan rutinitas sore yaitu memandikan kedua anaknya.

Setelah selesai, seperti biasanya ibu-ibu nongkrong, ngerumpi di depan kontrakan Ningroem di teras salah satu kontrakan yang berderet di situ.

"Mbak ada yang punya info lowongan kerja enggak?" tanyaada ibu-ibu kontrakan.

"Ada di tempatku Ning, lagi butuhin buat nyuci gosok tapi bayar bulanan mau?" sahut Yesi tetangga kontrakan menjelaskan jika di tempatnya bekerja sedang membutuhkan pegawai baru.

"Tapi aku bingung kan punya bayi."

"Tumben kamu ingin kerja lagi?" tanya Ratna yang ingin tahu alasan dari tetangganya itu.

"Aku bingung Mas Bram sekarang jarang sekali ngasih uang," jelas Ningroem memberikan alasan mengapa dirinya ingin kerja lagi.

"Yang sabar ya, mungkin kamu sedang di uji," ucap Yesi mengusap punggung Ningroem.

"Kalau tahu dia seperti itu gak mungkin aku mau sama dia, walaupun ganteng."

"Hus, Disyukuri saja Ning. Aku saja menikah sudah lama belum punya-punya anak tapi suamiku tetap sayang sama aku," ucap Ratna menimpali ucapan Ningroem.

"Iya Mbak, tapi bagaimana dengan kedua anakku jijaMas Bram marah keterusan. Aku sih bisa saja puasa tapi kedua anakku tidak bisa keduanya masih sangat kecil."

"Masing-masing rumah tangga itu masing-masing masalahnya. pasti ada jalan keluarnya pula," ucap Mbak Yesi menimpali ucapan Mirna.

"Anakku tidur, aku masuk dulu ya."

Ningroem pamit pada ibu-ibu yang masih berkumpul di teras rumahnya. Ia menggendong putra kecilnya masuk ke dalam rumah, kemudian diletakkan di tempat tidur yang dijagain oleh bantal di bagian tubuh Denis supaya anaknya tidak jatuh dari atas tempat tidur.

Ningroem adalah penghuni rumah petak delapan pintu yang satu pintunya dihargai satu bulannya lima ratus ribu rupiah.

Malam harinya pintu diketuk keras oleh seseorang dari luar. Ningroem buru-buru bangun dari tempat tidur, ia tak ingin jika kedua anaknya terbangun. Setelah mengintip dari kaca jendela dengan menyingkap tirai gorden. Ia melihat Bram yang sedang mengetuk pintu dengan tangan terkepal. Wanita berlesung pipit segera membuka pintu. Begitu pintu terbuka Bram langsung  masuk ke dalam rumah dengan berjalan sempoyongan.

Bram menabrak tubuh Ningroem hingga wanita berlesung pipit itu menahan tubuhnya supaya tidak jatuh. Tapi Bram malah memeluk tubuh Ningroem, menghujani pipinya dengan ciuman yang bertubi-tubi. Ningroem berusaha menghindar namun Bram malah semakin kuat memeluknya, mendorong tubuh indah Ningroem ke kursi panjang. Sehingga Wanita berlesung pipit itu berontak. Tidak sudi disentuh oleh suaminya yang sedang mabuk karena Ningroem mencium bau minuman beralkohol dari mulut Suaminya.

Tenaga Ningroem tidak kuasa melawan tenaga pria kalah oleh nafsu Bram yang begitu brutal. Pada akhirnya Ningroem hanya bisa pasrah walaupun tak terima dengan perlakuan Suaminya. Yang sudah bersikap kasar dalam melakukan sunah rasul tanpa pemanasan terlebih dahulu.

Setelahnya Ningroem hanya bisa menangis meratapi nasib diri yang buruk. Wanita berlesung pipit tidak diberikan nafkah berhari-hari kemudian Suaminya datang hanya untuk menuntaskan nafsunya saja.

"Sungguh keterlaluan. Rintih Ningroem di dalam hatinya.

Untung kedua anaknya sedang tidur dengan pulasnya, sehingga tidak mendengar tangisannya yang memeluk lututnya sendiri di lantai.

Sedangkan Bram tertidur pulas di lantai setelah tadi memaksa Ningroem untuk melayani birahinya.

Wanita berlesung pipi itu terduduk di lantai tanpa pakaian yang menutupi tubuhnya. Dengan sisa kekuatannya ia perlahan bangkit untuk memunguti pakaian yang tercecer di lantai, dengan sisa tenaga perlahan dikenakannya kembali pakaiannya.

Setelah itu Ningroem melangkah ke dalam kamar mengambil selimut. Untuk menutupi tubuh suaminya. Bagaimanapun ia tidak tega membiarkan tubuh suaminya kedinginan tanpa sehelai benang yang menutupinya. Yang sudah tertidur pulas tanpa sehelai pakaian di lantai.

Pagi harinya 

"Mam makan," pinta Bram dari ruang keluarga.

"Aku gak masak Mas, gak ada uang untuk belanja," sahut Ningroem menjelaskan jika dirinya tidak memasak makanan hari ini.

"Kemarin kamu makan apa? Kok gak kelaparan?" tanya Bram heran dengan kening yang mengkerut.

"Ada yang memberikan kami nasi uduk," sahut Ningroem sedikit berbohong.

"Oh baguslah gak usah bersusah-susah tapi tetap bisa makan," timpal Bram dengan nada menghina Ningroem.

"Mas, kok bicaranya seperti itu. Mencari nafkah itu kewajiban suami walaupun istri bekerja. Itu hanya untuk membantu bukan kewajiban. Bukankah ada hadisnya di dalam Al-Qur'an." Ningroem menjelaskan panjang lebar tentang kewajiban suami menafkahi anak-istrinya.

"DIAM!! kamu ini bicara yang tidak-tidak saja." hardik Bram mulai emosi dengan perkataan yang baru terlontar dari bibir istrinya.

Plak 

Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Ningroem, otomatis wanita berlesung pipit itu berteriak,

"Ahh,  sakit Mas! bisa-bisanya menamparku," ucap Ningroem memegangi pipinya yang baru saja ditampar oleh suaminya. Terasa panas sekaligus sakit, hingga meninggalkan bekas tangan berwarna merah di pipinya mulusnya.

"Ceraikan aku! Mas sudah berani menamparku. Jika memang Mas sudah tidak bisa memberikan nafkah  untukku dan kedua anakku!" pinta Ningroem terisak karena dadanya terasa sesak seketika seperti terhimpit batu besar sehingga susah untuk bernafas. Ningroem tidak terima karena Suaminya telah berani melayangkan tangan untuk menamparnya. Oleh sebab itu Ningroem berani meminta cerai tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.

Ningroem sudah terlanjur meminta cerai dalam keadaan marah. Bagaimanapun dirinya tidak terima jika harus mendampinginya tanpa diberikan nafkah. Itu dosa untuk Bram. Wanita berlesung pipit tidak ingin membenarkan tindakan suaminya yang jelas-jelas salah. Bram sangat marah pintu dibanting sangat keras sehingga membangunkan kedua anaknya yang sedang tertidur dengan pulas.

"Ma ---ma," jerit Fahmi yang terbangun karena kaget berlari ke arah Ningroem.

"Sini sayang, maaf kaget ya," tanya Ningroem pada kedua anaknya.

Wanita berlesung pipi meraih tubuh mungil Fahmi kemudian menggendong Denis yang menangis, menghapus sisa air mata kedua anaknya dengan jemari lentiknya.

Biarlah suaminya pergi tidak di rumah hari ini. Itu akan lebih baik untuk menjaga kewarasan dirinya. Ningroem mencoba mengambil nafas untuk mengurangi rasa sesak di dadanya yang terasa sakit, hingga menyebabkan susah untuk bernafas.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO My Husband
8.6
Kehidupan damai Tasya seketika sirna sejak kedatangan Revan, bos barunya yang sangat menyebalkan. Sebagai CEO muda yang baru saja memimpin perusahaan milik sang ayah, Revan tidak pernah berhenti mengusik dan mengganggu hari-hari Tasya di tempat kerja. Tasya pun harus bertahan menghadapi tekanan setiap hari dari atasannya yang dominan tersebut. Kisah ini menyoroti dinamika penuh ketegangan antara seorang karyawan yang kewalahan dan bos miliarder yang terus menekannya.
Sampul Novel Cinta yang Tak Mungkin Kembali
8.0
Kematian sang ayah mendorong seorang wanita mengakhiri pernikahannya dengan Declan, seorang komandan batalion. Setelah mengelabui Declan agar menandatangani surat cerai dan keluar dari pekerjaannya, ia menyajikan hidangan perpisahan. Bukannya berterima kasih, Declan justru mencelanya karena makanan itu tidak disukai cinta pertamanya. Tanpa ragu, ia bersulang lalu pergi ke desa pegunungan. Dua minggu kemudian, mereka bertemu kembali di desa tersebut, memperlihatkan Declan yang dilingkupi penyesalan.
Sampul Novel Hilangnya Masa Muda
9.7
Safira Ayu Andini harus merelakan masa mudanya demi pernikahan paksa dengan Danu Pratama. Danu, seorang duda satu anak berusia tiga puluh tahun yang bersikap dingin dan ketus, bersedia menikah hanya untuk memenuhi desakan ibunya, Bu Rina. Tanpa adanya rasa cinta di antara mereka, Safira kini terperangkap dalam kehidupan rumah tangga yang penuh tekanan bersama suami yang sama sekali tidak memedulikannya.
Sampul Novel Ketika Karma Berbicara
8.2
Setelah delapan tahun menempuh pendidikan di Jerman, kepulanganku untuk memimpin Cakra Group justru disambut kekacauan. Seorang wanita tiba-tiba menyerangku secara fisik di lobi perusahaan, menuduhku sebagai wanita penggoda yang mengejar kekasihnya, Bakti Rahadi, yang kini menjabat sebagai direktur. Tak hanya mendapat kekerasan fisik dan fitnah dari orang-orang sekitar, tas edisi terbatas serta segel berharga pemberian ayahku pun dirusak. Mereka meremehkanku dan mengira barang-barang berhargaku palsu, tanpa menyadari identitas asliku serta nilai ganti rugi yang tak akan sanggup mereka bayar seumur hidup.
Sampul Novel Love In Bandung
9.2
Di balik romansa Bandung, Lisa memendam rasa pada Reyhan, sahabatnya. Namun, kehadiran Louis dari Singapura mengubah segalanya dan berhasil memikat hati Lisa. Ketika hubungan Lisa dan Louis terjalin, Reyhan baru menyadari perasaannya sendiri. Sayang, sebuah rintangan pahit menghadang cinta Lisa dan Louis. Meski Reyhan berusaha mendekat, sosok Louis tetap tak tergantikan. Akankah Lisa bersatu dengan salah satu dari mereka, atau justru kehilangan keduanya?
Sampul Novel Mencintai Anak Kakakku
8.0
Sejak kecil, Ara Qubilah Iskander, gadis keturunan Turki, sangat mengagumi pamannya sendiri, Chandra Syauqi Abimana. Bagi Ara, adik ibunya itu adalah pahlawan impian. Namun, Chandra justru merasa sangat terganggu dengan keberadaan Ara. Hubungan mereka kian memburuk saat sebuah kesalahpahaman fatal di suatu malam memicu kebencian mendalam di hati Chandra. Akankah Ara tetap bertahan dengan kekagumannya, ataukah hubungan paman dan keponakan ini akan hancur selamanya?