
Dimanja Tiga Majikan Cantik
Bab 6
“Pu-putih, mulus, agak ramping, da-dan sedikit tepos! Ta-tapi, punggungnya bagus banget, sumpah, i-ini bidadari apa gimana? Tapi kok bidadari agak mungil kayak botol yakult?”
Nona Sora menunduk sedikit, satu kakinya dinaikkan ke atas kursi kecil berlapis beludru, sementara tangannya sibuk mengoleskan body lotion ke betisnya yang jenjang dan mulus bak pualam.
“Waduh Gusti… ini mata saya yang salah lihat atau memang bidadari lagi turun mandi? Kulitnya itu lho, merah-merah muda kayak bayi baru lahir, emang sih belahannya ga segede kakaknya, ta-tapi…”
Gerakan tangannya yang lambat dan sensual saat meratakan krim putih itu dari pergelangan kaki naik ke betis, lalu ke lutut, dan terus naik ke paha bagian belakang yang sedikit terekspos karena handuknya terangkat, benar-benar pemandangan yang sanggup meruntuhkan iman ustad sekalipun, apalagi iman sopir sepertiku.
Aku terpaku di ambang pintu, tangan masih memegang gagang pintu yang terbuka setengah.
Otakku memintaku untuk lari, tapi kakiku seolah dipaku ke lantai, dan mataku menolak berpaling dari pemandangan surga dunia di depan sana.
“Sumpah mati, iri kali aku sama krim putih yang lagi dia olesin itu. Krim itu beruntung banget bisa nempel, lumer, terus diratain tangan halusnya dari betis naik ke paha. Ah, sial, kenapa tangannya kenapa harus pelan banget sih geraknya?
Si Gatot yang tadi sempat tenang di perjalanan pulang, kini langsung bangun tegak, memberi hormat ala militer pada pemandangan indah di depannya.
Mungkin karena merasakan hembusan angin dingin dari pintu yang terbuka, atau mungkin insting wanitanya merasakan ada sepasang mata lapar yang sedang menelanjanginya, gerakan tangan Nona Sora tiba-tiba berhenti.
Dia menoleh perlahan ke arah cermin besar di depannya.
Dan di sana, di pantulan cermin yang sedikit berembun itu, mata kami bertemu. Mata bulat Nona Sora melebar kaget saat melihat sosok laki-laki berdiri di belakangnya dengan mulut ternganga.
"AAAA...!!!"
Mulut Nona Sora terbuka untuk menjerit.
Sadar kalau jeritan itu bisa memanggil Mbak Inem dan membuatku berakhir dipecat, refleksku kembali bekerja lebih cepat dari otakku.
Aku melompat masuk ke dalam kamar mandi, membanting pintu hingga tertutup kembali, lalu menerjang ke arah Nona Sora.
"Sssshhh!!! Jangan teriak, Nonaa, Ini saya, Ramli!" bisikku panik sambil membekap mulut mungilnya dengan telapak tanganku yang besar dan kasar.
Tubuh kami bertabrakan.
Nona Sora meronta kaget, membuat lilitan handuknya yang memang sudah longgar itu melorot sedikit di bagian dada, memperlihatkan belahan dadanya yang putih mulus dan lembab.
Kami terkunci di dalam kamar mandi sempit yang penuh uap mawar.
Aku membekapnya dari belakang, sementara tubuh bagian depanku menempel rapat di punggungnya. Dan sialnya, si Gatot yang sedang keras-kerasnya itu menusuk tepat di bokongnya yang hanya terbalut handuk tipis.
Nona Sora berhenti meronta.
Matanya menatapku lewat pantulan cermin dengan napas memburu. Dia bisa merasakan dengan jelas benda keras yang mengancam di bagian belakang tubuhnya.
Tubuhnya menggeliat liar dalam kungkunganku, membuat gesekan antara tubuh kami semakin intens. Kulit punggungnya yang terekspos di atas garis handuk bergesekan dengan kancing seragamku, sementara bokongnya bergoyang gelisah tepat di area berbahaya.
Aku memejamkan mata, menahan desahan nikmat yang nyaris lolos dari tenggorokan.
Perlahan, aku membuka mata dan melihat pantulan kami di cermin besar yang berembun di depan sana. Dia melirik sedikit ke bawah, ke arah perutku yang menempel di punggungnya, lalu kembali menatap mataku.
Dia pasti merasakannya.
Dia pasti tahu ada sesuatu yang keras sedang menusuknya dari belakang.
Nona Sora mengangkat tangannya perlahan, lalu menyentuh pergelangan tanganku yang masih membekap mulutnya. Jari-jarinya yang halus dan hangat menggenggam tanganku, memberi isyarat lembut agar aku melepaskannya.
"J-jangan teriak ya, Non? Sumpah mati saya nggak niat ngapa-ngapain. Saya kira kamar mandinya kosong, saya cuma mau numpang mandi karena di belakang penuh," bisikku memohon tepat di samping telinganya, suaraku terdengar serak dan parau karena tenggorokan yang kering kerontang.
Nona Sora mengangguk pelan.
Begitu tanganku terlepas, Nona Sora tidak langsung berbalik.
"Kamu ngapain masuk sini?" tanyanya lirih.
"Anu, Non, i-itu, saya gerah banget habis nyuci mobil sama jemput Nona Claudia. Mau mandi di belakang, eh Mbak Inem lagi nyuci gorden. Saya pikir Nona Sora lagi kuliah di kamar atas, jadi saya inisiatif ke sini," jelasku terbata-bata.
"Mas Rafli, kamu tahu kan, kalau ini kamar mandi tamu? Kalau Mama atau Kak Shella tahu kamu di sini sama aku, nanti Mas Ramli dipecat gimana?"
"Non, tolong, jangan diaduin ya, saya masih butuh kerjaan ini buat pengobatan Emak di kampung," ratapku dengan wajah memelas paling maksimal.
"Boleh aja, aku nggak aduin," ucapnya pelan, lalu dia melangkah maju satu langkah kecil. Gerakan itu membuat ujung handuknya yang terselip di dada semakin longgar.
Dan benar saja, di depan mataku yang melotot nyaris keluar, lilitan handuk itu melorot turun sekitar lima sentimeter.
Pemandangan dua bukit putih yang menyembul malu-malu, dengan belahan yang dalam dan padat, terpampang jelas di depan mataku. “Mati aku, mati sumpah. Itu apa, yak! Itu beneran nggak sih? Putih, mulus, punel, kayaknya pas digenggaman tanganku. Sialan! Jadi tegang lagi si Otongku yang pemalu!”
Aku menelan ludah kasar, jakunku naik turun tak terkendali. "Non, i-itu, handuknya…”
Nona Sora justru terkikik geli melihat kepanikanku, getaran tawanya membuat rambut basah Nona Sora turun, menutup bahunya yang mulus. "Kenapa? Kamu nggak suka lihat kayak gini? Atau kamu pura-pura polos aja, Mas?"
"Bukan nggak suka, Non! Suka banget… eh, maksudnya, nggak boleh lihat! Pamali kalau pelayan kayak saya lancang lihat punya majikan!" ralatku cepat, meski mata keranjangku sama sekali tidak mau berpaling dari pemandangan indah itu.
Si Gatot di bawah sana rasanya sudah mau meledak, berdenyut-denyut sakit karena dipaksa menahan hasrat di depan bidadari yang baru saja selesai mandi uap.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah ruang tengah, diikuti suara hak sepatu yang mengetuk lantai marmer.
Tak!
Tak!
Tak!
"Sora? Kamu di mana? Ini Kakak bawain buah yang kamu titip tadi," suara Nona Shella terdengar samar-samar, semakin lama semakin dekat ke arah kamar mandi tamu.
Wajah Nona Sora berubah panik seketika.
Kami berdua terjebak.
Kalau Nyonya Alika membuka pintu ini dan melihat kami berdua, tamatlah riwayatku sebagai manusia.
Nona Sora buru-buru menahan handuknya dengan satu tangan di dada, lalu matanya melirik ke sekeliling kamar mandi yang sempit itu. Tidak ada tempat sembunyi di kamar mandi ini, dan hanya ada shower box kaca transparan dan wastafel.
"Kunci pintunya!" perintah Nona Sora berbisik tajam.
Aku yang panik langsung memutar kunci slot pintu dengan tangan gemetar. Tepat sedetik kemudian, gagang pintu bergerak diputar dari luar.
Klik!
"Lho? Bentar? Siapa yang di kamar mandi tamu? Apa Sora ada di sana, yaa?” Nona Shella tampak kebingungan dan dia berdiri, tepat di depan pintu.
Anda Mungkin Juga Suka





