APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dilema

Dilema

Kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar Doni Damara, memicu konflik batin yang pelik. Ia kini dihadapkan pada dilema besar: bertahan bersama Rina yang telah menolongnya serta Romeo yang menganggapnya ayah, atau pulang ke masa lalunya. Di masa lalu, ada Ibu Marmi, istrinya yang setia bernama Aida, dan Ajeng yang begitu merindukannya. Sanggupkah Doni pergi meninggalkan keluarga barunya? Lalu, bagaimana sikap Rina saat kebenaran tentang jati diri Doni akhirnya terbongkar?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Rina salah, Mah. Rina akui Rina teledor, karena Rina nyetir mobil sambil terima telpon." Kembali air mata tanpa permisi mulai menetes tak mampu Rina bendung.

Setiap dia mengingat kejadian itu dia hanya bisa menangis. Tangis penyesalan yang amat mendalam.

"Kok bisa? Memangnya kamu bawa mobil mau kemana? Bukankah kamu ada meeting sama klien yang mau booking resto untuk acara pernikahan? Makanya Mamah yang ke sekolah Romi untuk ambil raport?" Oma Netry tak habis pikir dengan cerita yang didengarnya barusan.

"Iya, Mah. Meetingnya sudah selesai. Terus enggak lama setelah itu Lusi sama Indah telpon, ngajak nengok kawan yang habis lahiran di RSIA Harapan Bunda," terang Rina penuh penyesalan.

"Waktu Rina mau balik ke restoran lagi tiba tiba hape Rina bunyi, tetap sambil nyetir Rina angkat telpon itu, tapi salahnya Rina gak pake headset Mah, jadi suaranya kurang jelas, pas Rina mau besarkan volume hape tiba tiba tanpa Rina sadari mobil sudah masuk di garis batas jalur pengendara lain,"

"Terus?" Oma menepuk punggung tangan Rina lembut memberi kekuatan pada anaknya yang saat ini sedang dalam keadaan kacau.

"Rina salah, Mah. Rina takut, Mah. Tolongin Rina, Mah. Huhuhu ... Rina enggak mau masuk penjara, Mah." Rina mulai menangis lagi.

"Mamah enggak bisa maksa Rina kalau Rina belum siap cerita sekarang. Tapi kalau Rina tunda terlalu lama maka kita bakal lama juga cari solusinya. Bagaimana kalau polisi mulai melacaknya?" ucapan oma membuat Rina makin kalut.

"Rina harus apa, Mah? Rina harus gimana? Huhuhu ... Rina takut, Mah,"

"Lanjutkanlah kalau Rina merasa kuat untuk melanjutkan ceritanya. Mamah siap mendengarkan." Oma Netry masih sabar menunggu Rina melanjutkan ceritanya.

"Saat Rina sadar mobil yang Rina kendarai sudah masuk jalur pengendara lain ternyata di depan mobil Rina sudah ada tronton muat mobil mobil baru dari berbagai type,"

"Menyadari hal itu akhirnya Rina spontan banting stir ke kiri, naasnya disebelah kiri Rina ada sepeda motor yang juga sedang melaju kencang. Tabrakan tidak terelakkan. Huhuhu,"

"Pengendara itu masih tergeletak di jalanan beraspal dengan helm yang masih melekat erat di kepalanya, tak ada apa pun atau siapa pun yang bisa Rina mintai tolong, Mah. Rina kalut, Mah. Huhuhu ..."

"Akhirnya Rina telpon Idrus agar datang ke lokasi sama Luki. Sampai mereka berdua datang jalanan masih sepi. Karena Rina memang mengambil jalan pintas untuk cepat sampai ke resto. Idrus sama Luki yang ngangkat korban ke mobil Rina," lanjut Rina. Kini suaranya sudah mulai sedikit agak tenang.

"Idrus yang nyetir sampai rumah sakit. Rina sudah enggak sanggup lagi. Setelahnya Luki sama Idrus langsung balik lagi ke resto. Mereka bawa mobil Rina. Rina bener bener kalut. Rina takut, Mah!"

"Sepeda motornya gimana?" tanya Oma, tangannya masih mengelus punggung anaknya, memberi ketenangan.

"Habis telpon Idrus, Rina langsung telpon orang bengkel langganan untuk membawa sepeda motor itu agar diperbaiki." Tangan Tina sibuk menghapus jejak air mata di wajahnya, walaulun masih terdengar sesekali sesenggukannya.

"Bagus, kamu sudah melakukan hal yang benar! Bagaimana kondisinya?" Ucap Oma. Dia menunjukkan dua jempolnya pada Rina.

"Motornya? Rina enggak tahu, Mah! Rina belum tanya lagi sama orang bengkel. Rina juga enggak sempat merhatikan kondisi motor itu saat di TKP," jawab Rina agak kesal. Kok bisa dalam kondisi begini mamah sempat sempatnya menanyakan tentang sepeda motor.

"Bukan, Rina! Kondisi orangnya, lah!" ujar Oma Netry. Tangannya masih setia mengusap usap punggung tangan Rina sebagai bentuk menguatkan.

"Gimana kondisi orang yang kamu tabrak itu?" ulang tanya Oma gemas.

"Oh ... Maaf, Mah. Rina stres, Mah. Rina sudah enggak bisa berpikir lagi." Ditarik tarik rambutnya sekedar untuk menghilangkan pusing di kepalanya dengan sebelah tangan.

"Iya, yang sabar, Mamah juga sedang berpikir, kita cari solusinya. Kalau bisa secepatnya kita temui keluarganya, kita selesaikan secara kekeluargaan saja."

"Semoga keluarganya bisa memahami. Ini musibah, siapapun tak menginginkan kejadian seperti ini." Oma Netry memberikan solusi yang membuatku sedikit agak tenang.

"Tapi musibah ini terjadi karena keteledoranku, Mah! Rina yang salah!"

"Iya, benar. Syukur kamu sudah menyadarinya. Jadikan ini pelajaran paling berharga dalam hidupmu. Apa yang kamu anggap sepele bisa jadi berbahaya bagi orang lain."

"Jangan pernah lagi nyetir mobil atau bawa sepeda motor sambil main hape!" nasehat Oma Netry masih dengan mengusap usap punggung Rina lembut.

"Sudah ... Jangan nangis terus. Kecuali bila dengan menangis semua urusan ini bisa selesai, maka menangislah! Diusapnya air mata yang masih setia mengalir membasahi wajah Rina dengan tisu yang dia keluarkan dati tas tenteng yang dibawanya.

"Kamu enggak mau kasih tunjuk Romi, kan?" tanya Oma Netry.

Serta merta Rina memberi respon dengan menggeleng gelengkan kepalanya saat Oma Netry menyinggung nama Romi.

Segera diusap wajahnya menggunakan tisu yang disodorkan oleh Mamah mertua rasa mamah kandungnya itu.

"Makasih, ya Mah. Rina enggak tahu bakal kayak mana kalau gak ada Mamah." Dipeluknya wanita paruh baya itu erat erat.

"Jadi keadaan korban, gimana?" Cecar Oma Netry ingin mengetahui keadaan korban yang sebenarnya.

"Itulah yang membuat Rina takut, Mah. Kalau kata Dokter sih kondisi fisiknya tak terlalu menghawatirkan, Mah. Tidak terlihat luka parah, hanya lecet lecet saja."

"Tapi sampai saat ini dia masih belum sadarkan diri. Jadi team dokter baru bisa melakukan observasi luar sambil menunggu pasien sadar," papar Rina dengan suara yang sudah mulai normal kembali.

"Tapi pasti identitas dirinya ada, kan? Tak mungkin dia tak membawa identitas diri dalam dompetnya, setidaknya SIM, diamengendarai sepeda motor, kan?" selidik Oma Netry.

"Juga setidaknya ada hapenya. Kita bisa lihat nomer kontak di hapenya, pasti ada nomer kontak keluarganya disana, misal istrinya bila sudah menikah atau minimal orang tua dan saudara saudaranya," lanjut Oma Netry membuat Rina tertegun.

"Kamu sudah memeriksanya, Rin?" Oma Netry mengusap pundak Rina lembut.

"Ii ... Iya ... Ada, Ma. Tapi ..." Jawab Rina gugup.

Ning ... Nong ...

Ning ... Nong ...

Belum sempat Rina melanjutkan ucapannya, terdengar gawai Oma Netry berbunyi pertanda ada panggilan video call masuk.

"Halloo ... Oma! Posisi dimana?"

"Sebentar ini Romi. Iya, halloo ... Romi. Ini Oma sudah sama Mamamu, di ruang ICU. Dari meja resepsionis lurus saja sampai di ruang fisioterapi belok kiri. Ruang ICU ada di sebelah kanan Apotek," papar Oma Netry memberi arahan pada Romi menuju ruang ICU.

"Hai ... Mama! Siap, Oma. Romi otewe. Assalamau'alaikum!" Romi segera menyapa Mamanya yang terlihat sedang duduk di sebelah Oma Netry kemudian segera menutup obrolan via gawainya untuk segera berjalan menuju ruang ICU sesuai arahan dari Oma.

"Jadi apakah sudah kamu hubungi keluarganya, Rin?" Tanya Oma Netry melanjutkan obrolan yang terjeda.

"Em ... Belum, Ma. Rina enggak kepikiran sampai kesana. Rina bingung, Ma!" Ucap Rina makin gugup.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alpha Damon
9.5
Sejak kecil, Damon hidup dalam bayang-bayang kutukan misterius. Meski sang ayah mengisolasinya dari dunia luar, ia justru tumbuh menjadi pemburu yang sangat mematikan. Ketiadaan serigala batin membuatnya menjadi sosok brutal yang enggan memimpin kawanan. Namun, takdirnya berputar arah ketika seorang putri rupawan datang ke hidupnya. Demi keselamatan perempuan tersebut, Damon harus menerima takdir sebagai Alpha terkuat yang pernah ia benci demi melindunginya.
Sampul Novel BRIDE OF THE MAFIA
8.1
Vicenzo, bos mafia kejam yang menguasai Milan, mendadak lenyap setelah misinya gagal. Bertahun-tahun berlalu, ia kembali untuk mencari Jill, seniman tunanetra yang kehilangan penglihatan akibat peluru nyasarnya. Pertemuan tak terduga di kota kecil membawa mereka masuk dalam pusaran cinta sekaligus dendam. Sembari melindungi Jill dari incaran musuh lama, Vicenzo harus menghadapi masa lalunya demi penebusan, sementara Jill berjuang memaafkan pria tersebut.
Sampul Novel Derita berujung bahagia
8.3
Arini harus berjuang keras membesarkan anaknya seorang diri. Begitu sang buah hati berhasil meraih kesuksesan, mantan suaminya yang dahulu mencampakkan mereka kembali hadir demi mengincar harta atas nama hubungan darah. Di tengah kemarahan dan luka masa lalu, takdir mempertemukan Arini dengan sosok jodoh tak terduga yang rupanya berhubungan erat dengan keluarga Hakam. Mampukah Arini menemukan kebahagiaan sejatinya kini?
Sampul Novel Kekasih itu Bosku
9.1
Kisah cinta Rina dan Arman terus diuji oleh berbagai rintangan yang menantang kesetiaan mereka. Di tengah dunia kerja, keduanya harus berjuang keras memisahkan profesionalisme dari perasaan pribadi. Bagi Rina, PT Jaya Abadi bukan lagi sekadar tempat bekerja biasa. Di perusahaan tersebut, ia tidak hanya sukses menggapai impian kariernya, tetapi juga berhasil menemukan cinta sejati yang tak terduga dalam diri bosnya yang sangat karismatik.
Sampul Novel Selamat Tinggal, Haris Gunawan
8.3
Aku tewas mengenaskan di tempat Haris Gunawan dan Lea Linata berselingkuh. Lea memanipulasi Haris untuk membedah perutku demi merebut bayi kami, lalu memfitnahku agar Haris berhenti mencariku. Setelah mengetahui kebenaran mengerikan bahwa jasad yang ia bedah adalah aku, Haris didera penyesalan. Namun, ia tetap menikahi Lea. Di hari pernikahan, Haris membongkar semua dosa Lea, lalu melompat bersamanya dari gedung. Lea tewas seketika, sementara Haris menjadi vegetatif seumur hidup.
Sampul Novel Skandal anak Sekolah
8.6
Kehidupan SMA Rani yang awalnya indah berubah menjadi mimpi buruk akibat kesalahan fatal. Terbawa oleh gelora cinta pertama bersama Alan, ia harus menghadapi kenyataan pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan hasil positif. Di usianya yang masih sangat muda dan berstatus sebagai pelajar, Rani kini terjebak dalam konsekuensi besar. Sanggupkah ia bertahan menjalani hari-harinya setelah skandal kehamilan ini terbongkar ke publik?