APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DILEMA CINTA SEGITIGA

DILEMA CINTA SEGITIGA

Pernikahan Marlon dan Sarah terikat oleh urusan bisnis, tanpa cinta. Diam-diam, keduanya memiliki kekasih gelap. Demi bercerai cepat, Sarah berencana menghancurkan nama baik Marlon. Namun, ia malah terbakar cemburu saat melihat suaminya bermesraan dengan Natalia. Kini, Marlon berada di posisi sulit karena istri dan selingkuhannya sama-sama menolak untuk pergi. Ia pun didera kebimbangan besar dalam menentukan pilihan hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Keringat terus membasahi dua tubuh yang saling menyatu dan beradu. Meskipun AC cukup dingin, tapi tidak mampu menghilangkan keringat mereka yang mengucur deras.

"Akhhh!" pekik keduanya saat mencapai puncaknya. Nafas mereka terengah-engah, rasanya sedikit kehilangan oksigen karena energi mereka terkuras habis.

"Sayang, tadi itu sungguh sangat luar biasa. Terima kasih banyak ya, aku sangat sayang dan cinta padamu," ucap Marlon lalu mencium kening Natalia dengan lembut.

Natalia tersenyum tertahan, sebenarnya Natalia sedang memikirkan sesuatu setelah pergulatannya dengan Marlon beberapa kali belakangan ini.

"Baby? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Marlon menyidik sambil mengelus puncak kepalanya gemas.

Pasalnya wajah Natalia terlihat mendadak mendung. Amat berbeda dengan beberapa menit lalu, yang terlihat sangat menggairahkan. Dan biasanya Natalia akan membalas ciumannya dengan panas, walaupun permainan telah berakhir.

"Aku hanya minta kepastian darimu. Kita sudah lima tahun lamanya berpacaran, lalu kapan kamu akan mengenalkan aku pada keluargamu?" tanya Natalia dengan wajah penuh harap. Jemarinya memainkan dada bidang milik Marlon.

Natalia benar-benar tidak pernah berhasil mendapatkan jawaban pasti selama ini jika dirinya menanyakan perihal tersebut. Natalia selalu gagal dalam mendapatkan kepastian hubungan mereka ke depannya.

Seketika Marlon terlihat gugup lantas Marlon beranjak dari tempat tidur dan berjalan membelakangi Natalia yang masih polos tanpa pakaian di atas ranjang.

"Sepertinya aku harus segera pergi bekerja, aku akan kirimkan beberapa nominal uang untuk kamu belanja hari ini. Malam ini aku tidak bisa temani kamu makan, kamu bisa ajak teman-temanmu untuk menemanimu." Marlon memunguti pakaiannya lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Natalia hanya membisu.

Dan seperti dugaannya, Marlon selalu menghindar dan tidak pernah memberikan jawaban untuk Natalia. Wanita mana yang bisa hidup dengan ketidakpastian? Mungkin itulah Natalia.

"Sebenarnya aku bisa saja menyelidiki untuk tau alasan dia. Tapi misal aku cari tau, dia pasti akan marah karena dia dulu pernah memperingatkan akan hal itu. Tapi apakah aku harus terus menunggu dan menunggu sampai dia benar-benar siap?" gumam Natalia sambil terus memandang ke arah pintu kamar mandi yang telah tertutup.

Sesaat hening, yang terdengar hanya suara air dari dalam kamar mandi.

"Apa aku harus hamil terlebih dahulu agar aku bisa menikah dengannya? Lagipula mama dan papa juga sudah lama menginginkan agar aku menikah karena ingin menimang cucu."

Kini Natalia membayangkan bagaimana reaksi Marlon jika dirinya mengandung anaknya, pastilah Marlon tidak memiliki pilihan lain selain mengenalkan Natalia pada kedua orang tuanya lalu menikahinya. Tidak akan ada drama Marlon untuk menghindari kepastian hubungan mereka lagi.

Lamunan Natalia buyar seketika setelah mendengar suara dering telepon ponsel milik Marlon

Kedua bola mata Natalia menatap layar ponsel Marlon yang berada di atas nakas. Di sana terlihat dengan jelas kontak nama yang telah memanggil Marlon.

"Pa-pa?" Natalia mengeja.

***

CV. ADI JAYA

Seperti hari biasanya, kesibukan pagi menjadi rutinitas semua karyawan kantor. Dari mulai cleaning servis sampai manager, mereka bekerja dengan penuh semangat.

"Selamat pagi, Boss," sapa tukang parkir. Marlon sedikit mengangguk dan menyerahkan kunci mobilnya.

Marlon melihat karyawan itu tidak lekas mengambil kunci di tangannya dan justru malah memperhatikan Marlon, walaupun dengan cara melirik saja.

"Kau lihat apa? Ambil ini, cepat! Mau ku pecat?" tegur Marlon.

Seperti biasanya, Marlon akan sangat marah jika karyawannya tidak sigap. Apalagi terkesan tidak konsentrasi pada saat bekerja.

"Iy-iya, Boss. Ampun, Boss. Jangan pecat saya," sahutnya dengan ketakutan.

Tanpa banyak kata, dia pun menerima kunci dari Marlon dan tukang parkir itu pun langsung bergegas memindahkan mobil bossnya tersebut sesuai prosedur kendaran harus terparkir dengan rapi di tempatnya masing-masing.

"Heran sama karyawan yang lelet seperti dia, aku harus bicara dengan HRD. Bego banget menerima karyawan seperti itu, jangan sampai dia menerima karyawan macam itu lagi. Bisa-bisa nanti kantor ini bukan lagi menjadi kantor tapi menjadi panti sosial yang menampung orang lelet!" omel Marlon sepanjang perjalanannya.

"Selamat pagi, Boss. Kenapa Boss baru datang? Ini sudah pukul 10 pagi lebih, tadi boss besar datang dan sempat marah," ujar Melly---sekretaris Marlon. Hanya Melly karyawan yang berani banyak bicara, karena dia bekerja atas kehendak papanya Marlon. Tentunya Marlon tidak bisa memecat Melly dengan sesuka hatinya hanya, karena banyak omong dan Marlon tidak menyukainya.

Sesaat Melly tidak dapat mengalihkan pandangannya, pasalnya boss yang ada di hadapannya itu sungguh menyita perhatian siapapun jika melihatnya.

"Aku tidak peduli dengan hal itu, sekarang siapkan baju untukku. Aku harus pergi setelah ini," ujar Marlon.

Melly memperhatikan dokumen yang ada di tangannya.

"Tapi, Boss. Boss besar berpesan, beliau akan datang ke kantor setengah jam lagi. Sebaiknya Boss menunggu, karena itu pesan dari beliau tadi dan---"

Melly tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat Marlon mengacungkan jari telunjuknya, menandakan bahwa Melly disuruh untuk diam.

"Kamu bisa gak, kalau gak cerewet dan mengaturku sekali saja? Aku ini boss, lho. Aku hanya mau kamu siapkan baju untukku saja, karena aku mau pergi. Ku tunggu di ruanganku. Jika dalam waktu 10 menit tidak kamu antar, kamu akan aku pecat!" tekan Marlon.

Setelah mengucapkan hal tersebut, Marlon langsung pergi meninggalkan Melly yang masih cengo dengan ancaman Marlon.

Sudah berapa puluh kali Marlon mengancam Melly, tapi sekali lagi Melly tidak mungkin bisa dipecat tanpa persetujuan dari papa Marlon.

Melly hanya bisa diam dan segera menjalankan perintah sang bossnya tersebut. Melly tidak habis pikir kenapa baju bossnya itu lusuh, padahal Marlon sudah memiliki istri di rumah. Melly tidak tahu saja jika baju yang Marlon kenakan adalah baju kemarin.

Marlon menutup pintunya dengan gerakan cepat. Matanya menyapu seluruh isi ruang kerja dengan malas.

Pria bertubuh tegap yang tingginya mencapai 185 cm tersebut berjalan ke arah meja kerjanya, kemudian dia menjatuhkan diri di atas kursinya yang empuk. Kursi seorang CEO pastilah amat nyaman.

Marlon mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Dilihatnya ada beberapa kontak nomor telah menghubungi beberapa kali.

Ada papanya yaitu tuan Carlos, pemilik resmi perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan internasional. Perusahaannya telah berdiri hampir 40 tahun yang lalu dan berkembang sangat pesat, hingga mampu membuka cabang di perbatasan negara.

Ada juga kontak 'mak lampir' yang tak lain adalah Sarah---istri Marlon. Marlon telah menikah dengan Sarah sekitar 3 tahun yang lalu. Meskipun begitu, sekalipun Marlon belum pernah menyentuhnya.

Alasannya sangat sederhana, Marlon tidak mencintai Sarah. Bagi Marlon, pernikahannya dengan Sarah hanyalah sebuah permainan bisnis.

Akibat perjodohan Marlon dan Sarah yang tidak dapat dihindarkan, keduanya terpaksa menikah hanya karena urusan berbakti pada orang tua mereka masing-masing.

Untuk bercerai tentu saja tidak mungkin, meskipun kini mereka tinggal bersama, tapi tetap mereka tidur masing-masing.

"Kita buat perjanjian, kita tidak berhak saling mengatur dan saling merasa memiliki. Jadi apapun yang kita lakukan, kita bebas melakukannya tanpa harus ada ikut campur satu sama lain," ujar Sarah 3 tahun yang lalu.

"Oke, aku setuju. Dan kamu juga tidak berhak ikut campur urusanku, apalagi mengadu ini itu tentang aku yang akan menghabiskan waktu di luar pada orang tua kita, karena pernikahan ini hanyalah mimpi buruk," kata Marlon.

Akhirnya mereka pun saling menyetujui dan kehidupan rumah tangga mereka selama ini teramat dingin, seperti orang asing yang hidup satu atap tanpa sapaan dan kepedulian. Mereka hidup sendiri-sendiri. Mereka akan terlihat seperti pasangan suami-isteri yang ideal kala di depan kedua orang tua mereka saja.

Marlon menyenderkan punggungnya di kursi. Bayangan Natalia terus menerus menari di pelupuk matanya.

Rasanya begitu berat harus selalu menghindar dari kejaran Natalia yang meminta kepastian akan hubungan mereka. Sesungguhnya Marlon sangat mencintainya, tapi untuk menikah? Marlon harus menguras pikirannya.

Rasanya tidak mungkin, meskipun Natalia telah menyerahkan mahkotanya sekalipun pada Marlon.

"Aku memang laki-laki brengsek dan bodoh, kenapa hidupku seperti ini!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dari Pion Milik Pria, Menjadi Ratu Milik Wanita
9.5
Kania Halim, jurnalis pemberontak, dikhianati oleh kekasih rahasianya, CEO Elang Solehudin. Elang menjadikannya tameng demi melindungi Clara, hingga membiarkan Kania dipenjara dan celaka dalam kecelakaan. Sadar hanya menjadi pion yang dikorbankan, Kania bangkit dari keterpurukan. Ia bertekad menghancurkan hidup Elang, lalu memulai lembaran baru dengan menikahi seorang miliarder lain.
Sampul Novel Demi Selingkuh, Suamiku Meracuni Anakku
8.6
Pernikahan tujuh tahun hancur seketika saat seorang suami tega mencampur obat tidur ke susu anaknya demi berkencan dengan sang asisten, Nelly, di malam Natal. Saat sang istri melarikan anak mereka yang demam tinggi ke rumah sakit, ia justru memergoki suaminya sedang menggendong Nelly yang mengaku kakinya terkilir. Di tengah ketidakpedulian suaminya terhadap kondisi kritis sang anak di ruang gawat darurat, sang istri yang menggenggam tiket lotre di sakunya kini mantap untuk bercerai.
Sampul Novel Kesempatan Kedua dengan Istriku yang Seorang Taipan
9.5
Tiga tahun pernikahan hanya memberi Stephanie sikap dingin dari Erik. Ketika niat buruk suaminya menghancurkan harapannya, ia bangkit hingga menjadi wanita terkaya di dunia. Erik terkejut melihat transformasi sang mantan istri dan mencoba mengejarnya kembali. Namun, bagi Stephanie, pria kini hanyalah penghambat kesuksesan. Erik Palmer yang dulu angkuh kini rela merendahkan diri di depan umum demi membujuk Stephanie agar mau membangun kembali rumah tangga bersamanya.
Sampul Novel Penjara Bos Gila
9.6
Tumbuh di lingkungan kejam paman mafianya setelah keluarganya hancur, Sean Anderson menjelma jadi pria berdarah dingin. Namun, dinding pertahanannya goyah seketika sejak kehadiran seorang gadis misterius. Walau cintanya terus-menerus ditolak, Sean tidak tinggal diam. Ia menghalalkan segala cara untuk mengurung dan mengendalikan gadis tersebut. Simak kisah penuh intrik, ketegangan, dan obsesi gelap yang membara di tengah kejamnya dunia bawah.
Sampul Novel Sebuah Pengabdian
9.3
Impian Hamid menjadi tentara pupus seketika saat orang tuanya memaksa dirinya menjalani pernikahan dini yang tak pernah ia inginkan. Walau diselimuti amarah karena harus menikahi wanita asing, ia akhirnya mengalah demi berbakti. Siapa sangka, kehidupan pernikahan ini justru mendewasakan Hamid dan menuntunnya memahami arti pengabdian kepada Tuhan. Namun, badai ujian kini mulai mengancam komitmen mereka. Mampukah Hamid dan sang istri bertahan melewati cobaan demi menjadi abdi sejati?
Sampul Novel Wanita Yang dulu kau Sia-Siakan
8.0
Setelah delapan tahun berlalu, Arini kembali dipertemukan dengan Bima, mantan kekasih masa SMA yang dahulu tiba-tiba lenyap setelah menghancurkan hidupnya. Pertemuan tak terduga ini membuka kembali luka lama yang belum sembuh. Kini, Arini menuntut jawaban atas keputusan Bima yang tega meninggalkannya tanpa kabar sekian lama. Padahal, saat pria itu pergi menjauh, Arini tengah berjuang mengandung anak mereka sendirian. Ini adalah kisah pencarian kebenaran di balik sebuah penantian panjang.