APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dilamar Mantan Depan Suami

Dilamar Mantan Depan Suami

Nisa harus menjalani pernikahan yang menyiksa bersama Arman, sosok suami kasar dan sangat pelit. Walau Nisa selalu mencoba menghormati mertua serta iparnya, Arman tetap menganggapnya tidak berbakti. Penderitaan Nisa kian mendalam ketika sang suami membatasi makanan bergizi untuk putra mereka, Ahmad, demi berhemat. Di tengah kekerasan dan tekanan hidup ini, Nisa hanya mampu berdoa agar suaminya mau menepati janji untuk tulus menerima anak mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Kamu jangan terlalu menuruti kemauan anakmu itu, Nisa! Apa kamu nggak tau, jaman sekarang mencari uang itu susah!" ujar Arman.

"Aku hanya membelikan ahmad tempat pensil,

kok Mas!" Nisa berusaha menjelaskan alasannya.

"Alah ... memangnya nggak bisa apa pakai kantong plastik?" tanya Arman tajam.

"Ingat Nisa! Jika ada uang lebih dari belanja, lebih baik kamu tabung! Agar saat kamu perlu sesuatu bisa kamu gunakan, nggak semata mata mengemis pada suami, paham!"

"Iya Mas!" Nisa hanya menarik napas pelan.

Lagi-lagi Nisa harus menahan kesal dengan segala perintah dan aturan yang diberikan.

"Oh ya Nisa, jika nanti Ibu atau Bella datang, jangan lupa kamu layani dengan baik?" ujar Arman.

"Aku nggak mau mereka ngadu tentang kamu, yang tak menghormati Ibuku!" ucap Arman lagi tanpa beban.

"Belajarlah untuk menjadi istri yang baik di mata Ibu! Kamu bisa 'kan?" Arman sedikit melunakkan suaranya.

"Ya Mas..! Tapi selama ini, aku itu sudah berusaha untuk selalu menghormati Ibumu, dan menuruti setiap perkataannya, lho! Dan aku juga selalu berlaku baik pada adikmu, Mas!" jawab Nisa.

"Kalau suami ngomong itu didengar Nisa, bukan dibantah! Buktikan dong, jika kamu itu memang istri yang baik di mata keluargaku. Bukan cuma pajangan!" Arman pun lantas berlalu begitu saja dengan raut wajah masam.

"Iya Mas," jawab Nisa dengan suara lembut. 'Apa selama ini, aku hanya istri pajangan?' Nisa mengusap dadanya perlahan.

"Bunda..Ahmad lapar!" Seorang anak laki laki berusia enam tahun berjalan menghampiri Nisa.

Nisa yang tersadar dari lamunannya, segera bangkit, "Ma'afin Bunda ya sayang, Bunda sampai lupa anak tampan Bunda belum makan siang! Ikut Bunda ke dapur yuk!" Nisa berjalan ke dapur, sambil menggiring putranya.

Saat sampai di dapur, kata yang tak pantas kembali terdengar, keluar dari mulut suaminya.

"Anak kecil itu nggak perlu makan makanan yang enak-enak, Nisa! Masa' sebagai Ibu, kamu nggak paham! Di usia mereka, hanya perlu gizi dan protein untuk pertumbuhannya, jadi biasakan saja anakmu itu, makan sama tahu atau tempe." Setelah berkata, Arman pun berlalu masuk ke kamar.

"Ya Allah! Ampuni hamba jika terlalu sering mengeluh dan mengadu! Hamba mohon, lunakkanlah hati suami hamba, dan buatlah ia menerima anak hamba, seperti janjinya saat ingin menikahi hamba dulu!" hanya do'a yang terucap dalam hati Nisa, sambil menyiapkan nasi putranya.

"Nggak usah Bun, Ahmad bisa makan sendiri kok!"

Ahmad pun mengambil alih piring dan sendok dari tangan bundanya, yang ingin menyuapkan nasi kemulutnya dan mulai memakannya sendiri.

"Pintar...anak Bunda udah bisa makan sendiri ya?" ucap Nisa sambil mengusap kepala putranya.

Ada perasaan pilu, di saat melihat anak yang ia besarkan, kini telah tumbuh menjadi anak yang penurut dan pengertian.

"Bun, nanti jika Ahmad udah besar, Ahmad akan bekerja seperti Ayah, cari uang yang banyak untuk Bunda! Agar Bunda bisa beli apa saja yang Bunda mau!" ujar bocah enam tahun itu semangat.

"Terimakasih sayang, Bunda do'akan jika Ahmad udah besar nanti, bisa jadi orang sukses ya? Sekarang makannya dihabisin, biar cepat besar seperti Ayah!"

"Iya Bun!" Ahmad pun melanjutkan makannya dengan lahap.

Hati Nisa terasa perih, jika membayangkan pendidikan putranya nanti "Untuk sekolah dasar saja sekarang sudah perhitungan, apalagi nanti," ujar Nisa pada diri sendiri.

"Aku harus usaha mencari uang sendiri, agar bisa memiliki tabungan untuk membiayai pendidikannya nanti, tapi usaha apa?" kata hati Nisa.

"Nisa!" panggil Arman dengan pakaian rapi keluar dari kamar mereka, kebiasaan yang akhir akhir ini dilakukan Arman, keluar dan pulang larut malam.

"Ya Mas!" Nisa bergegas beranjak begitu mendengar panggilan suaminya.

"Aku mau keluar, mungkin larut malam baru pulang! Jangan keluar rumah jika nggak benar benar penting!"

"Dan ingat pesanku tadi, jika Ibu datang sambut dengan baik!" Lagi-lagi perintah yang diberikan Arman, tak ubah seperti majikan pada pembantunya.

"Iya Mas!" hanya itulah, kata yang selalu terucap dari bibir Nisa jika tak ingin berujung perdebatan.

Nisa menemani anaknya kembali, setelah selesai, Ahmad berjalan mengambil buku ke kamarnya dan duduk kembali di tempat semula.

Nisa melanjutkan kembali kegiatannya membersihkan rumah yang berkali lipat lebih besar dari rumah orang tuanya waktu di desa.

Lelah setelah membersihkan rumah dan juga menyelesaikan urusan dapur, Nisa istirahat di kursi sejenak sambil menikmati segelas teh.

"Huhh...! Capeknya!" Terdengar hembusan kasar napas Nisa, sambil memikirkan masa depan rumahtangganya.

Suara bel yang terdengar menyadarkan Nisa dari lamunannya, ia pun beranjak dari duduknya dan membukakan pintu.

Tampak dua orang wanita dua generasi yang tiada lain adalah ibu mertua dan adik iparnya.

"Buka pintu aja kok lama!" Tanpa mengucap salam,

Kedua wanita itu pun langsung memasuki rumah tersebut.

"Biasa Ma, palingan juga lagi tiduran dan menikmati pasilitas mewah di rumah ini!" komentar Bella.

Bella berlalu bersama ibunya menuju ruang keluarga, sambil sesekali tertawa ngakak.

"Ibu sama Bella mau minum apa?" Walau sering direndahkan namun sebagai tuan rumah, Nisa tetap berusaha ramah.

"Aku minuman dingin aja, ingat jangan pakai es! Aku nggak mau jika nanti perut aku jadi gendut!" ucap Bella sambil memainkan kuku lancipnya.

Mendengar request dari adik iparnya, Nisa menarik napas dalam.

"Apa! Kamu nggak mau aku perintah ya?" Mendengar hembusan napas yang mengandung keberatan, Bella langsung tak terima! Dan berkata kasar tanpa merasa bersalah.

"Udahlah Bell, namanya juga orang kampung dan nggak berpendidikan! Mana tau sopan santun cara melayani tamu!" kata bu Susy terdengar menghina dan merendahkan.

"Kamu siapkan makan, aku dan anakku lapar! Dan ingat! Masak itu, harus masakan kota jangan masakan kampung!" titah bu Susy.

"Cuci bersih bahan masakannya ya? Jangan terlalu pedas, dan jangan terlalu banyak minyak, semuanya harus higienis! Awas aja kalau aku sampai sakit perut!" lanjutnya sambil melambaikan tangan mengusir.

"Iya Bu." Nisa pun beranjak ke dapur meninggalkan tamunya.

"Ibu kenapa sih larang aku ngerjain dia!" protes Bella.

"Sudahlah, kamu tenang saja, ibu punya rencana baru buat ngerjain dia!" jawab Bu Susy tersenyum smirk.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Barter libido yuk, say !
8.8
Kenny Reagen dikenal sebagai pemuda tampan, berimage baik, dan pewaris perusahaan ekspedisi terkemuka. Namun di balik itu, dia menyimpan hasrat yang tak terduga. Ketika bertemu Cherry, dokter spesialis kandungan yang cantik dan berbudi pekerti luhur, Kenny nekat mengajukan tawaran liar: barter seks. Masalahnya, Cherry tengah tunduk dan setia pada pacarnya. Akankah ide gila dan tak masuk akal itu diterima? Atau justru mengubah hidup mereka selamanya?
Sampul Novel Di Balik Kenangan
9.1
Tiga tahun lamanya Evelyn merawat Aidan yang berpura-pura hilang ingatan, bahkan bersedia menjadi pacar rahasianya. Namun, ia hancur saat tahu ingatan Aidan sebenarnya normal, dan pria itu bersama kekasihnya adalah pembunuh ayah Evelyn. Bertekad membalas dendam, Evelyn mengumpulkan bukti kuat hingga berhasil memenjarakan mereka di hari pernikahan mereka. Penyesalan Aidan yang baru menyadari cintanya kini sama sekali tidak berarti bagi Evelyn.
Sampul Novel Keperkasaan Sang Mertua
9.3
Hubungan terlarang yang menegangkan tersaji dalam novel modern Keperkasaan Sang Mertua. Di hadapan jendela kaca besar yang memperlihatkan keramaian orang di bawah, seorang menantu perempuan tidak berdaya menghadapi tindakan intim dan dominasi fisik dari ayah mertuanya sendiri. Meski sang menantu merasa sangat malu dan memohon untuk dihentikan, sang mertua justru mengabaikan rasa bersalah tersebut. Ia menganggap situasi berisiko ini sebagai hal yang mengasyikkan untuk dinikmati.
Sampul Novel Rumah Kosong Di Dusun Angker
8.2
Misteri kelam menyelimuti rumah tua berberingin di ujung Dusun Sentani. Teror Hantu Gaun Merah dan bisikan gaib kian mencekam setelah beberapa warga tewas secara misterius. Saat pulang ke kampung halamannya bersama sang kekasih, Clara justru dihadapkan pada penolakan penduduk serta berbagai kejadian ganjil. Kini, ia terjebak di antara kutukan desa dan rahasia masa lalu. Mampukah Clara membongkar semua kebenaran di balik rumah angker itu?
Sampul Novel Sinar di Balik Pengkhianatan
8.6
Tiga tahun membina rumah tangga dengan gembong jaringan gelap Kota Beirus, Suryanto Pradana, membuat Julianti Sahara harus lolos dari maut sebanyak enam puluh delapan kali. Musuh-musuh suaminya mengincar Julianti sebagai kelemahan terbesar Suryanto. Setelah sebuah ledakan bom hampir merenggut nyawanya, Julianti terbangun di rumah sakit dengan pendengaran yang mendadak pulih. Di sanalah ia mendengar rahasia kejam: pernikahannya hanyalah siasat Suryanto untuk menjadikan dirinya tameng demi melindungi wanita lain yang dicintainya.
Sampul Novel Tentang Kita.
8.1
Keharmonisan rumah tangga Adrian Admajaya hancur akibat ketiadaan buah hati dan hadirnya orang ketiga. Meski sangat mencintai pasangannya, Adrian terjebak dilema besar saat terpaksa memulai hubungan baru demi tanggung jawab tak terduga. Kini, ia harus berjuang membagi hati antara Naura Lideoni dan Asti Wulandari. Sanggupkah Adrian bertahan di tengah berbagai asumsi yang menguji komitmen pernikahan mereka?