APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dilamar Mantan Depan Suami

Dilamar Mantan Depan Suami

Nisa harus menjalani pernikahan yang menyiksa bersama Arman, sosok suami kasar dan sangat pelit. Walau Nisa selalu mencoba menghormati mertua serta iparnya, Arman tetap menganggapnya tidak berbakti. Penderitaan Nisa kian mendalam ketika sang suami membatasi makanan bergizi untuk putra mereka, Ahmad, demi berhemat. Di tengah kekerasan dan tekanan hidup ini, Nisa hanya mampu berdoa agar suaminya mau menepati janji untuk tulus menerima anak mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Iya Bu!" jawab Nisa.

Nisa segera menyiapkan semua pesanan dan permintaan mertua dan adik iparnya dengan begitu teliti.

Setelah mengantarkan minuman untuk keduanya, Nisa kembali ke dapur.

Nisa menyuruh Ahmad yang menemaninya sambil belajar di meja makan, masuk ke kamar. Dan dia pun melanjutkan kembali, kegiatannya di dapur.

Setelah kurang lebih satu jam, semua masakan pun telah selesai disajikan. Nisa pun beranjak menemui mertua dan adik iparnya kembali.

"Bu, makanan sudah saya siapkan! Apa Ibu ingin makan sekarang?" kata Nisa.

"Masak begitu saja kok lama! Kenapa sih Arman mau menikah sama kamu! Kerja aja lelet begitu!" Bukannya menghargai, justru hinaan yang terlontar dari bibir bu Susy.

Bu Susy dan Bella beranjak dan berjalan ke arah dapur, duduk di kursi meja makan. Tanpa basa-basi untuk mengajak menantunya makan bersama, sepasang ibu dan anak tersebut, menikmati makanan yang tersaji.

Sementara Nisa hanya duduk memperhatikan keduanya, yang sama tak menganggap keberadaannya.

"Lain kali, kalau masak jangan terlalu banyak minyak, biar nggak nambah kalori dan bikin kolesterol," ujar bu Susy mengomentari masakan, menantunya.

"Iya Bu!" jawaban simpel dan aman itulah yang digunakan Nisa, jika menjawab ocehan mertuanya.

"Jangan iya iya aja! Apa yang dikatakan Mama itu di dengar bukan dilupakan, dasar orang kampung! Begitu saja nggak becus!" sarkas Bella ketus.

Kata kata pedas pun seolah sudah menjadi resep bagi Nisa, dalam mengolah kesabarannya.

"Iya Bell, lain kali akan saya kurangi minyaknya!" jawaban yang sama dari Nisa untuk menjaga telinganya dari bentakan Bella.

"Kami mau pulang tapi nggak ada ongkos taxi! Jadi berikan uang Arman untuk ongkos kami pulang satu juta!" ungkap Bu Susy sambil tersenyum ke arah putrinya.

"Maaf Bu, jika uang aku nggak punya. Aku cuma pegang uang belanja untuk sepuluh hari, dan jumlahnya juga tidak seberapa lagi!" jawab Nisa jujur tanpa maksud menjelekkan suaminya.

"Kamu jangan bohong ya! Arman itu uangnya banyak. Gak mungkin kamu hanya dikasih uang belanja sepuluh hari sekali! Apa kamu pikir aku percaya?" ucap bu Susy membela anaknya.

"Iya Bu, Mas Arman hanya memberikan uang belanja satu juta untuk sepuluh hari, dan hari ini adalah hari kedelapan, jadi sisa uang belanja, udah nggak cukup jika Ibu meminta satu juta!" jelas Nisa hati-hati.

"Alaah, kamu itu memang pelit, bilang saja kamu nggak mau memberi kami uang 'kan? Awas saja, kamu akan aku adukan pada Arman, biar jadi janda untuk kedua kalinya kamu!" ujar bu Susy tersenyum smirk.

"Saya berani sumpah Bu, jika apa yang saya katakan adalah benar!" Nisa merasa percuma menjelaskan tapi tak juga dipercaya.

"Ayo Bella kita pulang saja!" ucap bu Susy pada putrinya.

"Heh kamu, wanita kampung yang beruntung menjadi istri kakakku! Jangan pernah kamu memfitnah kakakku untuk menutupi kebohonganmu itu!" ucap Bella ikutan menghujat, sambil mengarahkan jari telunjuknya pada Nisa.

"Benar Bella, kamu bisa tanyakan pada Mas Arman jika kamu nggak percaya!" jawab Nisa sambil menurunkan jari Bella.

Nisa berusaha sabar menelan semua hinaan, yang selalu ia terima bila bertemu mereka.

"Alaah, sok meyakinkan! Padahal hati kamu itu busuk! Dasar nggak tau diri!"

"Sudah Bella, jangan bicara sama orang nggak berpendidikan, percuma! Nanti kamu bisa ikut-ikutan bodoh!" Bu Susy menarik tangan putrinya dan pergi meninggalkan rumah, dan berlalu begitu saja.

Hari sudah mulai magrib, Nisa kembali masuk ke kamarnya dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah.

Melihat baju kerja suaminya yang belum di bawa kebelakang, Nisa pun mengambilnya. Betapa kagetnya Nisa, saat melihat jika ada beberapa tanda bibir, di kemeja putih tersebut.

"Ini bibir siapa? Apa Mas Arman telah selingkuh?" Nisa bicara sendiri sambil menatap kosong baju kemeja di tangannya.

Nisa pun langsung menyimpan baju tersebut di tempat semula, menunggu waktu yang tepat untuk bertanya.

Nisa keluar kamar dan menghampiri kamar putranya lagi.

"Ahmad....??" Sambil membuka pintu kamar Nisa memanggil, dilihatnya putranya sedang menghapal ayat ayat pendek suci Al-Qur'an di kamarnya.

" Ya Bunda!" jawab Ahmad sopan, sambil beranjak dan menghampiri Bundanya.

" Kita makan dulu yuk? Nanti belajarnya dilanjutkan lagi!" ujar Nisa sambil mengusap kepala putranya lembut.

"Baik Bun, kebetulan Ahmad juga udah lapar, hehe!" jawab Ahmad sambil berjalan ke dapur mengikuti langkah bundanya.

Mereka makan dengan lauk seadanya! Beruntung, Ahmad anak yang tidak cerewet, dan pemilih masalah makanan.

"Bun? Kenapa sekarang Ayah kalau bicara, kok suka bentak-bentak ya Bun?" tanya Ahmad di tengah suasana makan malam mereka.

"Nggak kok sayang. Cuma sekarang itu, telinga Ayah lagi bermasalah dan masih dalam masa penyembuhan, jadi kalau bicara harus lebih kencang agar kedengaran!" jawab Nisa berbohong.

"Berarti telinga Ayah sakit ya Bun?" tanya Ahmad lagi penasaran.

"Sekarang udah sembuh sayang, cuma tinggal pemulihan saja?" jelas Nisa.

"Oh syukurlah, Ahmad nggak mau lihat Ayah sakit Bun!"

Perhatian putranya pada Ayah sambungnya itu, membuat miris hati Nisa. Anaknya yang begitu perhatian namun tak pernah dianggap.

"Udah, cepat habiskan makanannya, habis itu masuk kamar lagi ya! Belajar yang rajin? Jangan lupa kalau mau tidur gosok gigi, cuci kaki dan baca do'a tidur ya, sayang!"

"Iya Bun!" jawab Ahmad sambil memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.

Setelah mereka selesai makan, Ahmad langsung meninggalkan meja makan, dan masuk ke kamar melanjutkan kegiatannya.

Nisa membereskan sisa makannya dan membersihkan dapur seperti semula. Nisa membuat segelas kopi kesukaannya. Nisa duduk di kursi sambil menyesap kopi buatannya sambil menerawang jauh.

Baru saja Nisa ingin memikirkan, bagaimana caranya agar ia bisa menghasilkan uang, tiba-tiba kembali sebuah panggilan masuk ke handphonenya.

Sejenak, Nisa melihat nomor yang tidak dikenalnya. Namun karena penasaran, Nisa pun menerima "Hallo...! Siapa ini?" Jawab Nisa.

"Hallo, Nisa..! Assalamualaikum!" Terdengar suara seseorang laki-laki.

Mendengar suara dari seberang, tubuh Nisa menegang kaku. Ia seakan tak percaya jika saat ini, ia kembali mendengar suara yang begitu ia kenal.

"Hallo... Nisa!" Kembali suara itu memanggil.

"Ha..hallo..!" jawab Nisa gugup.

"Bagaimana kabar kalian, Nis?" tanya pria tersebut lembut.

Nisa terdiam mendengar suara lembut, dari laki-laki yang pernah mengisi hatinya di masa lalu.

"Alhamdulillah, baik!" Nisa menjawab kaku pertanyaan.

"Nis..! Apa aku bisa bertemu dengan kamu dan anak kita?" tanya laki-laki tersebut penuh harap.

"Indra..!" panggil Nisa pelan, menyebut nama dari laki-laki yang begitu ia cintai pada saat itu.

"Ya sayang!" jawab Indra dengan semangat.

"Apa kita bisa bertemu, Nis? Aku rindu sama kamu dan anak kita!" Indra sangat bahagia bisa berbicara langsung dengan wanita yang selama sekian tahun ini, ia cari.

Mendengar permintaan dari Indra, Nisa tak mampu berkata-kata.

Karena tak mendapat jawaban, indra kembali memanggil "Hallo Nisa! Kamu mendengar suaraku 'kan?"

"I..iya!" Jawab Nisa gugup sambil memikirkan permintaan dari Indra tadi.

"Nisa, aku tau kamu pasti mendengar ucapanku tadi! Dan aku mohon Nisa, sebutkan alamatmu dan aku akan menemuimu, segera!" jawab Indra penuh harap.

Karena tak tau harus mengatakan apapun, Nisa pun menyebutkan alamat rumah Arman.

"Terimakasih Nisa, aku akan segera menemui kalian!" tegas indra.

Setelah beberapa saat, panggilan pun terputus.

Nisa masih terdiam, ia sama sekali tak menyangka, jika ayah kandung dari anaknya saat ini menghubunginya kembali.

Lama Nisa kembali larut dalam kisah masa lalunya yang tragis. Dimana ia dipaksa cerai, sehari setelah ijab kabul pernikahan yang tak direstui ibu dari suaminya.

Keesokan paginya, Arman duduk sambil menikmati kopi. Tiba-tiba suara handphonenya terdengar, Arman bergegas menerima panggilan dan berbicara dengan orang di sebrang sana.

Tampak kegelisahan dari raut wajah Arman. Setelah panggilan terputus, Arman pun langsung beranjak pergi tanpa berpamitan pada istrinya.

Nisa yang baru saja datang dari mengantar putranya sekolah, mendengar suara mobil suaminya bergegas menyusul keluar dan ternyata benar, bahwa suaminya kali ini pergi tanpa berpamitan lagi.

Nisa berjalan ke dapur dan melihat jika tas kerja suaminya tertinggal di meja makan.

Baru saja Nisa ingin meletakkan tas suaminya di ruang kerja, terdengar suara bel pintu.

"Assalamualaikum, Nisa!"

"I... Indra?" ucap Nisa pelan menyebut nama tamu, yang ternyata adalah mantan suaminya tersebut.

"Waalaikumsalam!" Nisa menjawab pelan salam yang diucapkan Indra.

"Apa kabar, Nisa?" tanya Indra masih berdiri di depan pintu sambil tersenyum.

"Ba..baik!" jawab Nisa gugup.

"Kamu kenapa gugup gitu, Nis?" tanya Indra tersenyum, sambil meraih tangan Nisa.

"Gak apa-apa kok!" ujar Nisa sambil melepaskan tangannya dari genggaman Indra.

"Apa aku boleh masuk, Nis?" pinta indra penuh harap.

Nisa pun tersadar jika tamunya saat ini masih berdiri di pintu "Maaf, suamiku gak ada di rumah!" tolak Nisa sambil menundukkan kepalanya.

"Oh...! Gak apa-apa. Apa kita bisa bicara sebentar, Nis!" ungkap Indra dengan wajah memohon.

Nisa pun memandang wajah Indra, yang tak nampak perubahan berarti dari mereka remaja dulu.

"Apa lagi yang ingin dibicarakan! Bukankah semua sudah berakhir seperti harapan orangtuamu? Jadi biarkan aku dan anakku menjalani kehidupan kami sendiri!" jawab Nisa dengan wajah tegas.

"Nisa..! Kumohon Nis, beri aku kesempatan untuk membuktikan cintaku padamu!" ungkap Indra mencoba tuk menarik simpati dari mantan istrinya tersebut.

"Kesempatan yang sudah kamu buang percuma, demi menjadi anak yang berbakti, 'kan?" tegas Nisa lagi.

"Nggak Nis, aku gak pernah membuang kesempatan itu, aku hanya menundanya untuk saat ini!"

"Setelah aku menjadi istri orang lain, begitu?" tanya Nisa tegas.

"Ceraikan suamimu dan menikahlah denganku!" ucap Indra tak menyerah.

"Apa semudah itu, Indra? Apa kamu pikir aku piala bergilir, yang bisa kalian perebutkan saat merasa mampu, dan dilepaskan jika merasa sulit?" ungkap Nisa nanar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikahi Kakak Pembunuh
8.6
Malam pengantin yang tragis berujung maut ketika Carlos Fowler membiarkan aku mati di tangan penculik demi perempuan lain. Namun, Vincent, kakak laki-lakinya yang lumpuh, datang membalas dendamku di detik-detik terakhir. Saat terbangun, aku telah kembali ke masa lalu untuk mengubah nasib. Di depan altar, secara tak terduga kubatalkan pernikahan dengan Carlos. Aku justru melamar Vincent yang duduk di kursi roda. Carlos mengira aku cuma menggertak, tetapi ia akan segera kehilangan segalanya.
Sampul Novel Istri Kontrak Tuan CEO
8.4
Pasca dijebak ayah dan ibu tirinya untuk dijual kepada duda kaya, hidup Scarlett Piers hancur. Dalam situasi genting, pengusaha misterius berwatak dingin bernama Xanders Rilley datang menolong. Xanders menawarkan perlindungan, namun mengajukan syarat berupa pernikahan kontrak selama setahun. Scarlett kini dihadapkan pada dilema besar: menyetujui kesepakatan itu demi membalas dendam pada keluarganya, atau justru masuk ke dalam pusaran bahaya yang jauh lebih mengancam.
Sampul Novel KEMBALI DALAM SENJA
9.7
Pernikahan tanpa cinta membuat seorang istri terjebak dalam kepedihan mendalam. Meski selalu berusaha bertahan dan menghormati suaminya, Mas Fairuz justru bersikap dingin serta tidak peduli. Setiap pertanyaan tulus yang ia ajukan selalu dibalas dengan ucapan kasar yang menyayat hati. Hal ini menegaskan bahwa ikatan pernikahan mereka hanyalah beban tanpa kebahagiaan. Di tengah sikap abai sang suami, ia pun harus berjuang sendirian menghadapi kenyataan hidup yang menyesakkan.
Sampul Novel Menikah Dengan CEO Posesif
8.9
Mimpi indah Sheila bersanding dengan Bryan hancur lebur. Kini, ia terpaksa menikahi Bara Alexander Rodriguez, pria berkuasa yang menjadikannya sebagai jaminan atas utang sang mantan kekasih. Sheila pun terjebak dalam kehidupan pernikahan yang rumit, menghadapi obsesi Bara yang sangat posesif dan mengklaim dirinya sepenuhnya. Di tengah badai kebencian dan kekecewaan, mampukah Sheila bertahan, atau justru menemukan kebahagiaan tak terduga?
Sampul Novel Mr Cool On My Bed
9.8
Dalam sekuel My Sexy Lady ini, Alina Davidson harus menerima kenyataan pahit bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Hati Thomas masih sepenuhnya milik Erika, membuat segala pengorbanan Alina sia-sia. Karena frustrasi terus diabaikan, Alina mengambil langkah nekat dengan menanggalkan pakaiannya demi memohon kehangatan Thomas. Sempat menepis, pertahanan Thomas akhirnya runtuh oleh godaan tersebut. Lewat tatapan tajam, ia menyerah pada gairah dan siap menuruti keinginan Alina.
Sampul Novel PACAR SEWAAN UNTUK SEPEKAN
8.2
Anggia bertekad membuang image culun masa lalunya di acara reuni SMA. Ia mengubah total penampilannya dan menggunakan jasa biro jodoh untuk menyewa kekasih bayaran. Tak disangka, Axel yang bertugas menjadi pacar sewaannya justru jatuh hati pada kepolosan Anggia yang begitu unik. Terpikat oleh pesona sang klien, Axel memutuskan keluar dari pekerjaannya demi bisa memperjuangkan cinta Anggia secara nyata dan menjadi kekasih aslinya.