APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dikira Miskin Oleh Keluarga

Dikira Miskin Oleh Keluarga

Gaya hidup Gunawan yang tampak biasa saja membuat orang tuanya keliru dan mengira dirinya jatuh miskin. Padahal, di balik kesederhanaan tersebut, ia menyembunyikan identitas aslinya yang sangat mengejutkan. Anggota keluarga yang kerap meremehkannya sama sekali tidak menyadari bahwa pria ini sebenarnya adalah seorang miliarder luar biasa dengan kekayaan yang sangat melimpah ruah.
Bab
Bagikan

Bab 2

Senja datang mengganti siang. Angin sepoi diiringi warna jingga langit menyuguhkan suasana asri khas pedesaan. Satu, dua kendaraan berlalu-lalang memecah kesunyian.

Kedua anak Gunawan tampak asik sendiri bermain di halaman ditemani sang kakek. Sesekali mereka mengajak kakeknya bermain bersama atau mengobrol saja. Tiba-tiba nenek datang dari dalam rumah.

"Riana, Gilang. Ayo, mandi terus ikut nenek."

"Kemana, Nek?"

"Ke rumah Mas Fajri."

Keduanya lantas beranjak dan masuk ke dalam rumah.

"Bunda, kita mau diajak Nenek ke rumah Mas Fajri. Bunda ikut gak?" tanya Gilang.

"Ikut, Nak. Gilang sama Ria berangkat dulu, ya. Nanti bunda sama Ayah nyusul."

"Horee."

Gilang dan Riana mandi bergantian. Setelah memakaikan baju Gilang, kini ia harus mendandani anak gadisnya. Riska sengaja memakaikan baju yang cukup bermerek. Hal ini ia lakukan untuk berjaga-jaga bila ada yang mengungkit penampilan anak-anaknya.

"Bunda, kita berangkat dulu, ya. Assalamualaikum." Kedua anak manis itu takzim kepada sang Bunda.

"Lho, Ris. Ini anak-anak udah pada mandi?" Ibu mertua muncul dari arah dapur.

"Iya, Bu. Anak-anak udah mandi."

"Kok, bajunya hampir sama kaya yang tadi?"

"Iya, Bu. Sama warnanya, tapi mereka ganti, kok, Bu."

"Ya, ampun, Riska. Pilihin baju buat anak itu yang bagusan dikit kenapa. Warnanya kok gelap gitu. Kalau milih baju itu yang terang dong, yang cerah biar kelihatan seger gitu wajahnya. Mana baju kumel gini. Pasti murahan, ya, ini?"

Riska hendak menjawab, tapi sudah didahului anak laki-lakinya.

"Enggak, Nek. Ini mahal. Belinya aja di Matahar*. Baju Gilang sama Riana itu belinya di mall semua, Nek. Gak ada yang belinya di pasar. Apalagi baju lebaran kemaren, pesennya di butik, lho, Nek." Ibu mertua Riska hanya melirik kesal sambil berlalu begitu saja tanpa berkata apa-apa.

"Gilang, jangan pamer gitu sama Nenek. Gak baik, Nak."

"Abis Bunda diejek terus sama Nenek. Gilang gak suka Bunda."

Riska menghela napas. Sebenarnya apa yang dilakukan sang anak, tidaklah salah. Memang sesekali, nenek Gilang perlulah dibalas agar tidak berbicara semaunya sendiri.

"Ya, udah berangkat sana. Inget, ya. Jangan buat Nenek marah."

"Siap Bunda."

Tiba-tiba Riska teringat masa di mana pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah ini. Waktu itu, ia sengaja dibawa Gunawan untuk berkenalan dengan kedua orang tua Gunawan. Hal pertama kali yang ditanya Ibu mertuanya adalah harta. Padahal, waktu itu keuangan perusahaan sang papa sedang sulit karena rupiah anjlok. Anjloknya nilai tukar berimbas hampir ke semua bidang termasuk perusahaan properti sang papa.

Cobaan datang ketika sang mama harus mengalami sakit kanker otak. Uang yang digelontorkan untuk berobat tidaklah sedikit. Bukan lagi rumah sakit lokal, namun juga internasional sudah dijajaki demi mencari kesembuhan.

Saat Riska dan Gunawan memantapkan hati maju ke jenjang pernikahan, keuangan sang papa benar-benar diuji. Rumah megah tiga lantai harus tergadai demi menutupi biaya pengobatan sang mama. Ucapan dan hinaan mulai terlontar oleh ibu Gunawan saat ia mendatangi rumah Riska.

"Ngakunya kaya, mana? Rumah cuma satu lantai. Mana yang katanya sampai lantai tiga. Mobil di garasi berjejer-jejer. Mobil cuma satu, butut pula. Ih, dasar penipu," umpatnya.

"Bu. Jangan begitu. Mama Riska itu lagi sakit. Biayanya gak murah, Bu. Rumah dia sementara dijual. Juga semua mobil."

"Oh, jadi calon besan ibu itu bangkrut?"

"Bu. Pak Suryo itu gak bangkrut. Di tengah kesusahan, beliau bahkan gak mau ambil uang perusahaan sedikit pun karena mikirin karyawan. Beliau mengalah menjual rumah dan aset-asetnya sendiri. Nyaris gak ada manusia seperti Pak Suryo, Bu."

"Alah, alesan. Bilang aja bangkrut. Awas, ya. Kalau pas kamu nikah nanti ada apa-apa. Ibu gak mau ikut campur."

Riska yang tak sengaja mendengar pembicaraan Gunawan dan ibunya menangis tersedu di pojok kamar. Ia tak menyangka, calon mertuanya begitu kasar kepada keluarganya. Ia bahkan sempat ragu akan melanjutkan hubungannya atau tidak.

"Aku gak nyangka ibu kamu bisa sepicik itu, Mas. Gak ada sama sekali rasa empati lihat mamaku sakit."

"Maafin ibu aku, ya. Aku juga gak nyangka dia bakal bicara begitu. Mas janji, kita akan tinggal di sini supaya kamu gak keganggu sama omongannya."

"Aku jadi ragu sama kamu, Mas."

"Ris. Kamu ngomong apa? Mas ini beda dengan ibu, Mas. Kenapa kamu jadi ragu sama Mas?"

"Gak tahu, Mas. Rasanya, gak dihargai sedikit pun sama ibu kamu itu bener--bener sakit."

Sayangnya, Pak Suryo dan istri sudah terlanjur suka dengan Gunawan meski calon menantunya itu hanya karyawan biasa dan seorang perantau pula. Mereka benar-benar menghargai kerja keras Gunawan di kantor.

Riska tak enak hati kepada orang tuanya. Ingin diceritakan ocehan ibu Gunawan, tapi rasanya tak sampai hati apalagi ketika melihat sang mama terbaring lemas di rumah sakit.

"Cobaan menjelang pernikahan itu memang banyak, Nak. Kamu harus kuat dan harus yakin. Papa lihat, Gunawan itu orangnya baik, penyayang, perhatian. Buktinya, dia juga mau biayai adiknya sekolah. Dia juga mau berhemat untuk diri sendiri supaya bisa mencukupi kebutuhan adiknya."

Papa Riska tahu segalanya tentang Gunawan meski sang adik sekolah di luar kota.

Naas, tepat sehari sebelum acara pernikahan, mama Riska meninggal dunia. Semua acara yang sudah diatur sejak jauh-jauh hari berantakan. Ibu Gunawan marah besar karena acara pernikahan terancam gagal.

"Apa ibu bilang, Gun. Sekarang keluarga Riska seenaknya mau batalin pernikahan kamu. Enak aja, ya. Ibu udah keluar modal banyak. Bolak-balik ke Jakarta, beli ini beli itu, sampai ikut nyumbang buat acara nikahan di sana, sekarang mereka main batalin gitu aja. Ibu gak terima."

"Bu. Mama Riska baru meninggal. Gak mungkin acara dilanjutin, Bu. Apa kata orang?"

"Terserah, Gun. Kalau kamu gak mau lanjutin sekarang, suatu saat ibu gak akan terima Riska sebagai mantu ibu. Satu lagi, kembalikan semua uang ibu."

"Ibu! Ibu ini kenapa? Itu uang bapak. Bapak jual sawah warisan dari kakeknya Gun. Bapak memang sengaja siapkan sawah itu untuk anak-anak. Kenapa Ibu bilang gitu? Kita itu harus mengerti kesusahan keluarga Riska, Bu. Istighfar. Mereka lagi berduka."

"Alah, Bapak ini sama aja."

Dengan terpaksa, pernikahan dilakukan di kediaman Gunawan dengan Papa Riska sebagai wali dari sang anak perempuan. Sejak kejadian ini, pak Suryo cukup mengerti sifat keluarga Gunawan. Sedikit banyak ia mulai paham bahwa sang besan tak ingin acara digagalkan begitu saja meski harus mundur beberapa hari.

Keluarga besar Suryo juga sengaja tak diberitahu. Hal ini bertujuan untuk menjaga nama baik sang besan yang tak ingin pernikahan mundur lebih lama lagi.

*****

Gunawan dan Riska baru datang ke kediaman bibi Maryam. Adik kandung ibu Gunawan. Di sana banyak sanak saudara yang baru datang karena lusa anak pertamanya akan menikah. Gilang dan Riana tampak bermain dengan sanak saudara lainnya.

"Assalamualaikum, sehat, Bi." Riska mengucap salam saat kakinya menginjak di rumah berwarna hijau tersebut. Ia langsung meraih tangan bibi Maryam dan memeluknya serta mencium kedua pipi sang bibi.

"Waalaikumsalam. Sini, Ris. Sini-sini masuk."

Riska masuk dan duduk bergabung dengan ibu mertua dan keponakan lain, juga dengan adik mertuanya yang lain. Setelah selesai menyalami semua orang di sana, Riska pun ikut berbaur. Tangannya cekatan mengambil daun pisang untuk ikut membungkus lemper.

"Pi, itu gelang kamu berapa gram? Lumayan gede, baru, ya?" tanya ibu Gunawan.

"Iya, Mbak Sur. Ini baru beli pas bapaknya Niko pulang dari Lampung. Ini sepuluh gram, emas dua empat, Mbak."

"Walah, emas dua empat, toh. Malah itu."

"Iya, Mbak. Lumayan sih kalo belinya di sini."

"Eh, Ris katanya punya usaha, ya, di Jakarta? Usaha apa?" tanya Elvi.

"Iya, Bi. Ada usaha properti."

"Wahh, lumayan itu. Banyak duit, dong kamu."

"Alah, banyak duit opo. Mobil aja butut kok, Pi. Mana, tangan sama jarinya gak ada pake emas. Jangankan dia, anak gadisnya aja gak dipakein apa-apa," sahut ibu mertua.

"Lho, Mbak. Usaha properti itu bagus lho. Artis-artis banyak yang punya usaha itu. Pada banyak duit."

"Wong pulang kampung aja gak bawa apa-apa kok banyak duit. Beda Pi sama si Eva, tiap ke rumah pasti bawa pizza, martabak, sate, buah. Macem-macem yang dibawa." Ibu mertua Rika melirik menantunya. Rasa benci tergambar jelas di kedua manik matanya.

Semua orang di sana diam dan tak menyahut. Elvi yang setengah membela Riska ikut diam karena takut salah bicara. Di tengah kesunyian, Yuni, anak dari bibi Maryam datang.

"Mbak Riska, apa kabar?" Riska tampak sedikit sumringah. Ia berjabat tangan dengan adik sepupu dan mencium kedua pipinya.

"Ayo, Mbak ke kamar aku sebentar."

Riska sedikit merasa lega. Rasa kesalnya berkurang sedikit karena memiliki alasan untuk pergi dari sana. Diliriknya ibu mertua yang tampak cuek saja. Bersikap sabar selalu ia lakukan meski ia sudah membelikan gamis beserta hijab terkini untuk hadiah kepada sang ibu mertua, nyatanya sama sekali tak terlihat di mata ibu Gunawan.

Makanan dan camilan juga tak lupa menjadi barang bawaan saat pulang kampung. Sayang, makanan yang ia bawa habis dimakan Eva beserta sang suami saat Riska baru saja tiba. Belum lagi amplop uang yang sengaja Riska siapkan untuk ibu mertuanya itu. Riska sebagai menantu hanya bisa berulang kali menghela napas karena memiliki mertua seperti ibu Gunawan.

"Lihat aja bajunya. Sama sekali gak bermerek." Ibu mertua masih saja mencaci saat Riska beranjak. Entah harus bersabar bagaimana lagi menghadapi ibu mertuanya itu.

Bersambung.......

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bercerai dengan Suami Miskin
8.2
Selama tiga tahun membina rumah tangga, aku memikul seluruh beban finansial karena mengira suamiku tidak berpenghasilan. Dia bahkan melarangku membeli tas murah seharga 400 ribu rupiah dengan alasan terlalu boros. Namun, kedoknya terbongkar saat aku mengetahui dia mempersembahkan kalung berlian senilai 8 miliar rupiah sebagai kado ulang tahun untuk cinta pertamanya. Lelaki yang kukira terlilit utang itu rupanya adalah pewaris tunggal dinasti konglomerat yang memiliki kekayaan triliunan rupiah.
Sampul Novel Gairah Liar Istri Kecilku
8.5
Nasib buruk menimpa Maia Vandini saat kencan butanya berubah menjadi jebakan berbahaya. Lulusan SMA ini diberi obat bius oleh teman kencannya, namun ia berhasil kabur demi menyelamatkan diri. Di tengah kondisi kritis dan kesadaran yang kian menipis, Maia bertemu seorang CEO asing. Demi bertahan, ia memohon pertolongan hingga memicu malam yang penuh gairah. Sang pria pun menegaskan bahwa Maia yang harus bertanggung jawab atas awal pertemuan tak terduga ini.
Sampul Novel Hello Wife The Tyran CEO!
8.5
Ellina meregang nyawa secara tragis akibat dikhianati keluarganya dan kekejaman sang suami. Saat terbangun, ia mendapati dirinya kembali ke masa lalu sebelum pertunangan terjadi. Bertekad mengubah nasib, Ellina memutuskan hubungan dengan keluarga angkatnya dan berusaha menjauhi pria kejam tersebut. Namun, sang CEO tirani justru menjadi sangat terobsesi padanya. Meski Ellina mencoba kabur, pria itu siap melakukan apa pun untuk mengurung dan mengikatnya selamanya.
Sampul Novel Istri Bodoh, Mantan Miliarder
8.1
Alisa menderita dalam pernikahan dengan Dion, suami kikir yang membatasi uang belanja hanya dua puluh lima ribu sehari untuk enam orang. Tak hanya kesulitan finansial, ia juga kenyang akan cacian ibu mertua. Penderitaannya memuncak ketika Dion kedapatan mendekati mantan pacarnya. Alisa lalu menemukan aplikasi penghasil uang rahasia. Sialnya, saat berusaha mengungkap borok suaminya, ia malah dituduh berselingkuh dengan ayah mertuanya sendiri.
Sampul Novel Istri Sang CEO yang Melarikan Diri
8.8
Jenessa mengabdi sebagai sekretaris sekaligus istri rahasia bagi CEO bernama Ryan. Namun, impian manisnya saat mengandung runtuh seketika karena Ryan lebih memilih fokus pada cinta pertamanya. Merasa dikhianati, Jenessa pun memilih pergi menjauh dan menghilang. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Ryan terkejut melihat kondisi perut Jenessa dan menuntut penjelasan. Dengan berani, Jenessa menegaskan bahwa mantan suaminya itu tidak lagi memiliki hak atas kehidupannya.
Sampul Novel Kubeli Kesombongan, Gundik Suamiku
8.7
Kehidupan Keysa, istri seorang abdi negara yang juga dosen dan influencer, mendadak terusik. Ia harus menghadapi Risa, perempuan kaya raya yang diduga menjadi selingkuhan suaminya. Di hadapan Risa yang kerap memamerkan hartanya dengan sombong, Keysa tidak tinggal diam. Ia justru bangkit menjadi sosok yang jauh lebih tangguh. Mampukah Keysa membungkam kesombongan Risa dan memenangkan persaingan sengit ini? Ikuti kisah perjuangan emosional Keysa.