APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dijual Ibu Tiri Dijadikan Tuan Putri

Dijual Ibu Tiri Dijadikan Tuan Putri

Zhea Logari, siswi SMA, dijual oleh ibu tirinya kepada germo yang juga bos mafia penguasa Malta. Di luar dugaan, sang mafia justru memperlakukan Zhea dengan sangat terhormat layaknya seorang putri. Perubahan nasib yang drastis ini memicu rasa iri yang mendalam pada kakak tiri Zhea. Kini, sang kakak mulai merancang rencana licik dan menghalalkan segala cara untuk merebut posisi istimewa tersebut dari tangan Zhea.
Bab
Bagikan

Bab 2

Club Devil

Di sinilah Deymond sekarang di club miliknya sendiri.

Selain rutinitas, Deymond selalu bermain ke clubnya untuk melakukan kerjaannya.

Yah hanya kerja sampingan dengan bonus senang- senang.

Terlebih bisa bermain dengan teman- temannya.

Deymond memasuki ruangan diskotik itu dengan penuh pesona dan aura yang begitu memancar.

Semua mata tertuju padanya, terlebih para kaum hawa.

Namun sayang sekali, mereka hanya bisa mengamati Deymond dari jauh tanpa berani mendekat.

"Halo sayang!"

Tampak seorang pria dengan wajah yang terkesan tampan namun menggemaskan melambaikan tangannya pada Deymond.

Dia adalah Arka, perakit bom yang paling Deymond sayang.

Maksudnya ia anggap sebagai adik kecilnya, pasalnya dia yang paling muda.

"Wah bandar keuangan kita sudah datang."

Sambut seorang pria tinggi dengan rambut sedikit keriting dengan wajah blasteran Amerika Korea.

Dia adalah Matt, peretas paling handal di kelompok mereka.

"Kalian sudah lama?"

Deymond mendudukkan pantatnya di sofa kebesarannya.

"Baru dateng."

Jawab seorang pria dingin, tampan dan raut wajah yang sangat- sangat datar namun begitu menawan.

Dia adalah Calvin, mantan agen CIA yang dikeluarkan karena memiliki amarah yang mudah meledak.

"Mana kekasihmu?"

Arka tampak celingukan untuk bisa menemukan orang yang dia maksud.

Kekasih yang Arka maksud ialah Zero.

"Ada di parkiran."

Deymond menjawab singkat, meraih bungkus rokok di depan Gavin.

Dan benar saja tak lama dari itu tampak terlihat Zero datang menghampiri meja mereka dengan bibir yang mengerucut ke depan dan wajah yang terlihat begitu di tekuk.

"Ada apa dengan wajahmu itu? Apa kau baru saja dipukuli orang?"

Arka langsung mengintrogasi Zero kala melihat teman sebayanya itu terlihat kesal.

"Aku lebih senang dipukuli dibanding harus menyelesaikan masalah yang ia buat."

Semua mata memandang Deymond dengan penuh penasaran.

"Apalagi yang dia buat?" tanya Matt penasaran.

Deymond hanya tersenyum sekilas lalu menghembuskan asap rokoknya.

"Kau tahu wanita yang kemarin kuwawancarai di sini untuk kujadikan penggantiku sementara?"

Semua mengangguk kecuali Deymond.

"Dia membunuhnya!"

Lagi- lagi mereka semua dibuat terkejut bukan main dengan kabar yang Zero berikan.

Namun hanya Calvin yang terlihat biasa saja tanpa ada rasa keterkejutan.

"Memangnya apa yang wanita itu lakukan? Kulihat dia tidak begitu eksentrik."

Matt mencoba berkomentar, menilai wanita yang kemarin Zero wawancarai.

"Dia jual diri!"

Sarkas Calvin singkat namun begitu tepat.

"Serius?" tanya Arka yang diangguki oleh Deymond tipis.

"Wah ternyata dia tak hanya agen CIA, dia juga cenayang."

Matt memberikan tepuk tangan pada Calvin.

Deymond mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.

"Bagaimana dengan klien kalian?" Matt memberikan tanda OK, "Beres semua."

Deymond mengangguk lalu meraih sebotol alkohol.

"Permisi tuan."

Seorang pengawal Deymond tiba- tiba datang dan berdiri di depan meja mereka.

"Ya, ada apa?"

Deymond meletakkan botol alkoholnya.

"Ada seorang wanita ingin bertemu dengan tuan."

Zero langsung berdiri dengan cepat, "Biar aku saja yang menemuinya. Aku kesal mengubur mayat hari ini."

"Maaf tuan Zero, wanita ini ingin melakukan transaksi."

Zero langsung kembali duduk kala mendengar kata 'Transaksi'

Transaksi sendiri diartikan sebagai jualbeli.

Dan hal itu hanya ditangani oleh Deymond sendiri.

Tidak ada seorangpun yang bisa mewakilinya termasuk Zero.

Selain Deymond menyeleksi mereka, ia selalu menginginkan sesuatu yang berkualitas tanpa mengecewakan pelanggannya.

Karena itu, ia tak membiarkan siapapun menangani Transaksi ini.

Deymond langsung beranjak dari sofanya, berjalan ke lantai atas untuk menemui wanita tersebut.

Mereka lalu memasuki ruangan yang bertuliskan VVIP.

Terlihat seorang wanita duduk di sofa bersama dengan gadis cantik berpakaian anggun.

"Beri hormat!"

Pengawal yang berdiri di samping Veni memberinya aba- aba.

Veni langsung berdiri dan membungkukkan tubuhnya sekilas pada Deymond.

Deymond melihat gadis itu enggan bergeming dari tempat duduknya.

Veni yang melihat tatapan itu sontak langsung menarik tangan Zhea untuk berdiri.

Ya, gadis cantik nan anggun itu adalah Zhea.

"Cepat beri salam."

Veni mencubit lengan Zhea untuk membungkukkan tubuhnya pada Deymond.

Deymond menahan senyumnya, mendaratkan pantatnya di sofa merah nan besar tersebut.

Entah kenapa sejak tadi tatapan Deymond tidak bisa teralihkan dari gadis cantik nan anggun tersebut.

Rasanya seperti ada magnet pada wajahnya.

"Maaf tuan, saya kemari untuk melakukan transaksi."

Deymond hanya mengangguk, menghisap rokoknya tenang lalu menghembuskannya dengan panjang.

"Berapa yang kamu inginkan?"

Deymond langsung menanyakan berapa nilai yang Veni inginkan.

Veni terlihat begitu terkejut, bingung juga senang bukan main.

Zhea yang sedari tadi menahan tangis dan takut sontak langsung angkat bicara.

"Bu, jangan jual Zhea. Zhea janji akan kerja keras dan menghasilkan banyak uang."

Zhea memegangi lengan Veni dengan penuh harap agar dirinya tidak dijual.

Sayang sekali, Veni sudah dibutakan dengan uang yang Deymond tawarkan.

Deymond mengamati Zhea dengan begitu dalam dan penuh kekaguman.

Tidak maksudnya Deymond tenggelam dalam pesona kecantikan Zhea.

Beberapa pengawal di sana sepertinya menyadari tentang tatapan Deymond pada Zhea.

Mereka terlihat menahan senyumnya saat ini kala tatapan Deymond tidak sedikitpun teralihkan dari Zhea.

"Hanya aku atau memang tuan Deymond sedang terpesona dengan kecantikan gadis kecil ini?" tanya pengawal sedikit berbisik.

"Aku juga merasakan hal itu, belum pernah kita melihat tuan Deymond menatap wanita sedalam dan setenggelam ini," timpali temannya.

Veni berdeham sekilas, sedikit memajukan tubuhnya ke meja.

"Kalau tuan sendiri, berapa harga yang anda berikan?" tanya Veni ingin tahu seberapa besar hasil yang akan ia dapatkan dari menjual Zhea.

Deymond tersenyum miring menghisap rokoknya.

Deymond memberikan kode pada pengawalnya.

Sebuah cek diletakkan di depan Veni.

"Anda isi sendiri nominalnya."

Veni dibuat terbelalak dengan ucapan Deymond barusan.

Tidak hanya Veni, Zhea serta pengawal yang berada di sana dibuat terkejut dengan perintah Deymond.

"Tunggu, minggu kemarin aku sudah membersihkan telingaku, apa di dalam masih tersisa sesuatu," gumam pengawal yang tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.

Zhea yang melihat Veni tampak berbinar dan begitu antusias meraih bolpoin hendak menuliskan nominal di atas cek sontak langsung menahan lengan Veni.

"Bu tolong jangan jual Zhea, Zhea janji akan bekerja dengan keras dan membayar semua hutang- hutang ibu, tolong jangan jual Zhea bu, Zhea mohon."

Zhea memohon dengan begitu pilu di mana air matanya terus menderai membuat Deymond sedikit tersentuh dengan hal itu.

PLAK

"DIAM KAMU! ANAK TIRI AJA NYUSAHIN BANGET!"

Veni langsung menuliskan nominal yang dia inginkan.

Deymond mematahkan putung rokoknya yang tinggal sejari manis di mana itu masih menyala.

Para pengawal yang melihat hal itu, paham betul bagaimana perasaan Deymond.

Ia sedang menahan amarah saat ini.

"Ini tuan."

Deymond meraih cek tersebut, melihat nominal yang Veni inginkan.

1 juta dollar.

Deymond hanya mengangguk memberikan isyarat pada pengawalnya untuk membawa Zhea pergi.

"Ibu tolong Zhea."

Zea terus berteriak memohon, memberikan janji serta meminta maaf pada Veni dengan harapan ia tida dijual.

Namun Veni terlihat acuh dan tidak memedulikan hal itu.

Deymond menatap datar Veni, tidak bukan datar, melainkan tatapan menghunus yang membunuh.

Tak lama pengawal meletakkan koper di atas meja.

Dengan cepat Veni langsung membukanya.

Kedua matanya begitu berbinar sekali kala melihat gepokan uang dollar.

"Terima kasih tuan."

Veni langsung bangkit dari kursinya, memeluk erat kopernya dengan senyum yang lebar dan hati yang girang.

Deymond memberikan isyarat pada pengawal untuk menghalangi pintunya.

Veni berhenti di tempatnya, berbalik menatap Deymond.

Alangkah terkejutnya ia kala Deymond menodongkan pistol ke arahnya.

"Apa salah saya tuan, kenapa anda menodongkan pistol?" Veni terlihat begitu gemetaran.

Deymond melangkah mendekati Veni.

"Tembakan atau berikan separuh uangnya?"

Deymond memberikan tawaran pada Veni tanpa menyebutkan alasannya.

Veni yang tak ingin mati konyol sontak langsung mengeluarkan setengah uangnya.

500 ribu dollar telah dikeluarkan.

"Kenapa dikurangi dari setengah harga tuan? Bukankah anda bilang saya bisa menulis berapapun nominalnya?" tanya Veni ingin tahu alasan Deymond mengurangi uangnya.

Deymond melangkah mendekati Veni.

"Itu untuk membayar perlakuanmu terhadap wanitaku."

Deymond menekankan setiap katanya.

Veni dan para pengawal dibuat terkejut dengan pengakuan Deymond barusan.

"Dia wanitaku sekarang! Bersyukurlah hanya uangmu yang kukurangi, bukan kedua tangan atau kakimu."

Deymond lalu melenggang pergi untuk menemui Zhea.

Bruk

Veni terjerembab di lantai, kakinya terasa lemas setelah mendengar penuturan Deymond barusan.

Ternyata benar kata Lomes, dia bukanlah sembarang orang.

Dia dijuluki manusia dengan nyanyian neraka.

Ucapannya begitu menakutkan hingga mampu membangunkan bulu kuduk Veni.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku yang Dinikahi, Selingkuhannya yang Dimanja
9.6
Hari pernikahan berubah kacau saat cinta pertama sang suami datang memakai gaun pengantin yang sama. Alih-alih marah melihat mereka menyambut tamu bersama, sang istri justru memuji keserasian mereka. Hal ini membuat wanita itu menangis lalu kabur, hingga sang suami memaki istrinya pelit. Setelah pesta usai, sang suami malah membawa cinta pertamanya pergi bulan madu. Tanpa memicu keributan, sang istri langsung mengambil keputusan dingin untuk menjadwalkan aborsi.
Sampul Novel Bertemu Karena Jodoh
8.2
Kehidupan mewah Nasyira sebagai anak konglomerat seketika sirna saat keluarganya jatuh miskin. Sang papa mengalami kebangkrutan total akibat dikhianati secara kejam oleh adik kandungnya sendiri. Kini, Nasyira harus menerima kenyataan pahit bahwa sosok terdekat dalam keluarganyalah yang telah menghancurkan seluruh harta dan kejayaan mereka tanpa sisa.
Sampul Novel Mr. Devil
8.1
Hidup Ellena hancur setelah ayah kandungnya sendiri tega menjualnya demi ambisi bisnis yang kotor. Kini, ia menjadi tawanan di mansion megah milik Hogue, sosok vampir kejam dengan hasrat menyimpang yang kerap menyiksa fisiknya. Diperlakukan layaknya budak tanpa harga diri di bawah kekuasaan pria sadis tersebut, Ellena terjebak dalam penderitaan yang tiada akhir. Mampukah ia bertahan hidup menghadapi segala kekejaman Hogue?
Sampul Novel Setelah Pernikahan
9.5
Kebahagiaan Aurel Salsabila hancur lebur hanya dalam waktu tiga bulan sejak ia resmi menikah dengan Reno Sebastian, kekasihnya selama dua tahun. Di balik pernikahan yang ia dambakan, terungkap fakta pahit bahwa Reno telah berpoligami secara rahasia bersama mantan pacarnya, Ayunda. Kini, Aurel menyadari dirinya cuma dijadikan pelarian tanpa ketulusan. Ia pun dirundung dilema besar antara tetap bertahan dalam ikatan beracun ini atau memilih pergi meninggalkan Reno.
Sampul Novel Tak Lagi Menua Bersama
8.1
Saat menjalani pemeriksaan bayi tabung keempatnya, Jennie justru memergoki suaminya, Erwin Sentosa, sedang mendampingi wanita hamil di rumah sakit. Padahal, Erwin mengaku sedang berada di luar kota. Demi mendapatkan pewaris keluarga, Erwin meminta Jennie memaklumi situasi tersebut dan berjanji hubungan mereka akan kembali normal setelah bayi itu lahir. Alih-alih marah, Jennie berpura-pura setuju sambil menyembunyikan hasil tesnya sendiri. Begitu hari persalinan wanita itu tiba, Jennie langsung meninggalkan surat cerai dan pergi selamanya.
Sampul Novel Terpaut Cinta Dua Pria
9.6
Setahun berpacaran, Mario berkeras menikahi Rhea. Namun, rencana ini ditentang keras keluarga konglomeratnya yang tak sudi menerima status Rhea sebagai ibu tunggal. Ayah Mario bahkan menyembunyikan identitas sang putra demi menggagalkan pernikahan. Konflik kian rumit saat masa lalu Rhea hadir kembali. Brandon menuntut penjelasan tentang Kaisan, anak yang selama ini dirahasiakan. Begitu Rhea jujur, Brandon pun syok mengetahui dirinya memiliki darah daging.